
Lyla hanya bisa pasrah dengan ancaman yang Morgan berikan. Gadis itu tidak mau jika sampai panti asuhan yang telah membesarkannya sedari dulu mendapatkan kesulitan karena keegoisannya. Dia memang ingin pergi, tapi jika panti asuhan yang harus menjadi korbannya dia juga tidak menginginkan hal tersebut. Mau tidak mau Lyla menyetujui keinginan Morgan, lagi pula dokter juga mengatakan jika dia akan pulih hanya dalam waktu dua bulan dan selebihnya dia bisa pergi dari rumah terkutuk itu dan melakukan terapi sendiri.
"Ini kamar, Anda. Jika ada yang Anda butuhkan, Anda bisa panggil saya," ucap wanita setengah baya yang tempo hari menjadi saksi putus asanya gadis ini.
Wanita itu pergi dari sana setelah menundukkan setengah tubuhnya, Lyla hanya duduk di tepi ranjang seraya memperhatikan ruangan tersebut. Ruangan ini berbeda dengan kamar yang kemarin dia tahu, lebih indah dengan warna hijau lembut yang tidak membosankan, juga dengan seprai yang berwarna senada, seakan memang kamar ini sudah disiapkan untuknya.
"Hanya dua bulan, tidak lebih," ucap Lyla sambil mengusap pergelangan tangannya yang masih terbalut kain perban.
Sakit. Tentu saja tangannya sakit. Mungkin lebih baik jika dia mati saja kemarin. Kenapa juga laki-laki itu harus membawanya ke rumah sakit.
Seharian ini Lyla hanya diam di dalam kamar, dia sama sekali tidak ingin keluar dari dalam sana. Kamar telah menjadi tempatnya ternyaman sekarang, jauh dari gangguan dan juga keburukan yang mungkin kelak akan dia dapatkan di kemudian hari.
Suara ketukan di pintu terdengar beberapa kali, Lyla telah mengabaikannya sedari tadi.
"Nona, waktunya makan malam," ucap pelayan dari luar.
Lyla tidak beranjak, melirik ke arah makan siangnya yang masih utuh di atas nakas.
"Nona!" teriak wanita itu lagi. Terpaksa Lyla bangkit dan membuka kunci kamar tersebut. Ya, kunci adalah penyelamatnya sekarang ini. Dia hanya berpikir, bagaimana jika laki-laki itu masuk dan melakukan hal yang tidak menyenangkan lagi kepadanya.
Sedikit terbuka, Lyla tidak membiarkan siapa pun bisa dengan mudah masuk ke dalam ruangan ini.
"Makan malam Anda," ucap pelayan tersebut. Lyla melihat seorang wanita muda di belakangnya dengan membawakan nampan berisi makanan dan satu gelas susu.
"Terima kasih, tapi bawalah kembali. Aku belum lapar," ucap Lyla. Wanita itu melongokkan sedikit kepalanya dan melihat nampan makan siang di atas nakas, sepertinya belum tersentuh sama sekali.
"Tapi, Nona---"
__ADS_1
Bruk!
Lily menutup pintunya tanpa peduli dengan perasaan wanita itu.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, juga bujukan agar Lyla memakan makan malamnya. Dia hanya bisa menyandarkan dirinya pada daun pintu dan merosot ke bawah, memeluk lututnya sendiri dan menatap ke arah depan dengan pandangan yang kosong.
"Ibu, Ayah. Di mana kalian? Tidak lihatkah aku di sini seperti apa?" ratap Lyla sedih. Akan tetapi, semua itu percuma. Seberapa banyak dia memanggil, mereka juga tidak akan datang seperti biasanya. Lyla hanya bisa menangis dalam diam meratapi nasibnya yang sekarang ini.
Pelayan tersebut kembali turun ke lantai bawah, dia tidak berhasil memaksa gadis itu untuk makan malam.
"Apa dia tidak makan?" tanya Gerald saat berpapasan dengan wanita yang sudah menjadi pemimpin pengurus rumah tersebut selama hampir sepuluh tahun terakhir. Gerald melihat nampan berisi makan malam yang utuh di tangan seorang pelayan.
Bibi menggelengkan kepalanya. "Maafkan saya. Saya tidak bisa memaksa nona untuk makan," ucap bibi dengan merasa bersalah.
Gerald tidak banyak bicara, kini berjalan meninggalkan bibi untuk menuju ruangan kerja Morgan.
"Apa kau sudah tahu kabar terbaru Renee?" tanya Morgan saat Gerald baru saja sampai di depannya, mata laki-laki itu tidak beralih dari laptop yang ada di hadapannya.
Gerald masih tidak mengerti dengan laki-laki ini, Renee telah lama pergi, tapi dia masih saja menunggunya kembali.
"Bisakah kau fokus dengan semua ini? Tuan besar tidak akan mengampunimu jika perusahaan akan bangkrut karena mu," ucap Gerald kesal sambil menyimpan kasar semua berkas yang dia bawa. Dirinya diberikan tanggung jawab untuk membantu Morgan, memastikan laki-laki ini untuk serius dalam mengelola perusahaannya.
Morgan yang mendengar itu kini menghentikan gerakan tangannya pada laptop, menyandarkan punggungnya pada kursi, dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Suruh saja dia ambil alih perusahaan ini lagi," ucap Morgan dengan kesal.
Morgan yang sudah dijatuhi tanggung jawab besar dari semasa dia remaja, dipaksa berpikiran dewasa agar kelak bisa mengelola perusahaan besar milik keluarga, dan rasanya itu sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa dia tolak lagi.
"Aku hanya ingin tahu kabar dia," ucap Morgan lelah.
__ADS_1
"Aku belum menemukan dia ada di mana," jawab Gerald mengatakan yang sesungguhnya, dia sudah mengerahkan banyak anak buah untuk mencari informasi tentang keberadaan wanita itu, tapi sampai sekarang ini belum ada yang bisa dia dapatkan.
Morgan berdecak kesal dan membuang pandangannya ke arah lain, mengenang apa yang dulu dia dan Renee lewati. Sangat manis sekali, hampir tanpa ada masalah serius di dalam hubungan mereka, tapi kenapa Renee pergi tanpa alasan yang jelas?
"Gadis itu tidak mau makan malam," ucap Gerald membuyarkan lamunan Morgan.
"Apa peduliku?" tanya Morgan dingin.
"Dia harus meminum obatnya," ucap Gerald lagi.
"Biarkan saja jika dia tidak mau makan, maka dia akan lebih lama berada di sini," ucap Morgan tak peduli.
Gerald menyunggingkan senyuman yang hampir tidak terlihat. Morgan sedikit banyaknya peduli dengan gadis itu, jika tidak tentu saja dia tidak akan sampai membawanya pulang. Tepatnya, memaksanya pulang ke rumah ini. Tentu saja laki-laki itu akan menolak untuk mengakui jika dia peduli.
Dasar laki-laki keras kepala!
"Aku akan beristirahat. Jika kau butuh, hubungi saja aku," pamit Gerald, dia pergi tanpa menunggu jawaban dari Morgan yang kini hanya diam.
Akan aku buat kau melupakan Renee dengan perlahan. Tercetus ide di dalam kepala Gerald. Laki-laki itu harus bisa melupakan Renee, wanita yang telah meninggalkan Morgan tanpa sedikit pun pesan.
Gerald kembali turun ke lantai bawah, dia kini berjalan ke arah taman kecil di belakang rumah. Satu bungkus rokok dia keluarkan dari dalam saku kemejanya dan tak lama asap tipis mengepul dari sana.
Malam yang cukup dingin ditemani terang bulan yang membias membuat malam itu menjadi syahdu. Laki-laki itu kini diam dan mengingat semua masa lalunya. Sesuatu yang indah yang tidak bisa dia lupakan sampai sekarang.
...****************...
Jempolnya masih sepi. Like dong 🥺
__ADS_1