Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
65. Arti Layak Sesungguhnya


__ADS_3

Morgan berjalan dengan santai, sementara Lyla masih saja memikirkan berapa kisaran uang yang telah makin habiskan untuk pakaian dan sepatunya tadi. Sadar jika Lyla tertinggal di belakangnya, Morgan memutar tubuhnya dan memanggil Lyla.


"Apa kau selalu bergerak seperti siput?" tanya Morgan kesal. Lyla yang mendengar itu melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mendekat kepada Morgan.


"Apakah kita akan pulang?" tanya Lyla.


"Tidak. Kau melupakan tasmu, apa kau pergi kuliah tidak akan membawa tas?" tanya Morgan.


Mereka masuk kembali ke dalam toko tas. Lyla melihat tas yang ada di sana dengan merek yang dia sangat kenali, merek terkenal yang harganya dia tebak tidak ada yang murah di sini.


Dia sedikit berlari untuk menyusul Morgan. Rasa-rasanya ini berlebihan jika Morgan memborong lagi seperti yang dia lakukan seperti di toko pakaian dan toko sepatu tadi.


"Tuan!" panggil Lyla dengan cepat sebelum Morgan menunjuk beberapa tas yang ada di sana. Dia sampai menarik tangan Morgan yang sudah menunjuk ke arah tas yang ada di atas etalase.


"Ada apa?" tanya Morgan heran.


"Em ... anu. Bolehkah aku memilih tasku sendiri?" tanya Lyla sambil tersenyum memohon. Morgan mengerutkan keningnya bingung.


"Oke, kau mau yang mana? Cepatlah memilih ini sudah malam dan hampir tutup," ucap Morgan.


Lyla segera berjalan mengitari setengah toko dan memilih tasnya dengan cepat, jangan sampai margar memilih dan akhirnya membolong semua lagi. Ah, rasanya Lyla tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti. Semoga saja tidak seperti yang ada di film atau novel yang pernah dia baca, dia harus membayar semua yang telah dia dapatkan untuk diganti dengan keringat dan kerja keras lainnya. Siapa tahu kan seperti itu?


"Kau sudah selesai memilih tasmu?" tanya Morgan saat Lyla sudah kembali tidak sampai lima menit setelah pergi dari hadapannya tadi. Wanita itu tengah memeluk tas berwarna hitam yang baru saja diambilnya.


"Ya aku sudah selesai memilihnya, aku akan ambil yang ini saja," ucap Lyla.


"Kau hanya mengambil satu saja?"


Lyla menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, aku pikir satu ini juga cukup. Lagi pula kau juga belum mendaftarkan ke universitas, bukan?"


Perkataan itu membuat Morgan terdiam sejenak. Benar apa yang Lyla katakan memang dia belum membawanya ke universitas untuk mendaftar.


"Iya, besok kita pergi untuk mendaftarkanmu ke sana." Lyla tersenyum senang mendengar perkataan Morgan.


"Bungkus tas ini." Morgan memberikan tas tersebut kepada pelayan untuk dibungkus dan dibawa pulang. Tidak lupa dia juga memberikan kartu debitnya untuk membayar.


"Terima kasih," ucap Lyla sopan saat mereka selesai membeli tas tersebut. Pelayan membukakan pintu kaca untuk mereka berdua lewat.

__ADS_1


Selama perjalanan mereka untuk menuju ke eskalator, Lyla menatap tas yang dia bawa. Dia mobilitas yang paling murah yang ada di sana, tapi tetap saja angka-angka itu membuatnya shock.


"Sayang sekali aku harus membeli tas semahal ini, padahal bentuknya biasa-biasa saja. Kalau untuk makan anak-anak panti ini bisa untuk tiga bulan mereka makan," gumam Lyla sedikit menyesal. Akan tetapi, jika tidak seperti itu dia takut Morgan akan mengambil lebih banyak lagi.


"Hei, kau." Panggilan dari Morgan membuat Lyla tersentak dari kekaguman sekaligus penyesalannya, dia melihat Morgan yang berada hampir sepuluh meter darinya. Segera dia melajukan langkah kakinya dengan cepat ke arah Morgan yang kini sudah berwajah marah.


"Astaga, kenapa kau itu sering melamun. Hah?" Tunjuk Morgan di kening Lyla dan mendorongnya sedikit sehingga membuat Lyla condong ke belakang.


"Aku tidak melamun."


"Kau tidak melamun, tapi sedari tadi aku memanggilmu apa kau tidak mendengarnya?" tanya Morgan lagi. Lyla tersenyum meringis menyadari kesalahannya. Dia sangat syok dengan yang terjadi hari ini. Morgan menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar.


"Kau tidak melamun, tapi tidak mendengarkanku?" ucap Morgan kesal.


"Aku hanya sedang berpikir saja kalau tas ini mahal sekali."


"Itu tidak mahal. Bukankah kau membutuhkannya?"


"Aku memang membutuhkannya, tapi tidak perlu juga membeli dari toko-toko yang memiliki harga tinggi, kan?"


"Menurutku tidak seperti itu, Tuan. Jika kita ingin dipandang oleh orang lain kita harus berusaha keras. Mereka salah besar jika menilai kita hanya dari penampilan saja."


Morgan tiba-tiba saja tertawa terkekeh mendengar ucapan Lyla, membuat wanita itu menatapnya heran.


"Itu kau sudah tahu," ucap Morgan sambil mengelus puncak kepala Lyla. Lyla terpaku melihat apa yang Morgan lakukan kepadanya.


Ditatap sedemikian rupa oleh Lyla, Morgan menarik tangannya dan merasa canggung dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Apa kau lapar?" tanya Morgan seraya mengalihkan tatapannya dari Lyla.


"Tidak juga."


Morgan kira Lyla akan menjawab 'iya'. Kenapa tidak jawab saja seperti itu untuk menutupi kecanggungan ini?


"Tapi aku lapar!" ucap laki-laki itu kemudian menarik tangan Lyla untuk menuju ke lantai atas, masih ada sisa waktu satu jam sampai pusat perbelanjaan ini tutup.


Lyla seakan seperti terhipnotis hanya bisa mengikuti langkah kaki dari Morgan, dia menatap tangannya digenggam erat oleh laki-laki itu, sedangkan satu tangannya yang lain memegang paper bag berisi tas yang tadi mereka beli.

__ADS_1


Eskalator membawa mereka untuk naik ke lantai atas. Morgan tidak sekalipun melepaskan tangan Lyla.


"Tuan, aku bisa jalan sendiri," ucap Lyla saat mereka berada di tengah-tengah eskalator. akan tetapi Morgan tidak menggubrisnya dan tidak melepaskan pegangan tangan.


"Jalanmu terlalu lambat. Aku tidak mau kau sampai hilang di sini," ucap Morgan tidak peduli. Kini Lyla hanya diam dan menurut saja hingga mereka sampai di foodcourt.


Morgan hendak menarik sebuah kursi yang kosong, tapi Lyla menarik tangannya menjauh dari sana. "Lebih enak jika kita duduk di tepi jendela besar. Kita bisa sambil melihat pemandangan di luar, Tuan," ucap Lyla seraya menarik tangan Morgan hingga mereka sampai di sebuah kursi kosong yang ada di dekat jendela. Mereka berdua kemudian duduk di sana, Lyla menyimpan tasnya di kursi kosong di sampingnya.


"Kenapa tidak kau simpan saja di bawah?" tanya Morgan saat Lyla sangat hati-hati menyimpan benda tersebut.


"Tidak apa-apa. Disimpan di bawah aku takut akan mengotorinya," jawab Lyla.


Morgan mengedarkan pandangannya ke sekitaran di sana. Dia tidak melihat pelayan yang mondar-mandir di ruangan itu.


"Kenapa tidak ada pelayan di sini?" gumam Morgan.


Lyla ingin tertawa, sepertinya Morgan tampak kebingungan mencari-cari pelayan. "Tuan, apakah aku tidak pernah datang ke tempat yang seperti ini?"


"Aku tidak pernah."


"Pantas saja! Kita memesannya secara langsung di sana," tunjuknya ke arah meja kasir.


"Tidak ada pelayan yang melayani?" tanya Morgan dengan kening mengerut.


"Ini bukan restoran, jika kau tidak ingin kehabisan kau harus memesannya sendiri."


Mendengar ucapan Lyla membuat Morgan menjadi sebal. Kenapa bisa sampai ada tempat makan yang seperti ini.


Tiba-tiba saja Lyla berdiri. "Aku yang akan memesankan. Kau mau makan apa?" tanya Lyla.


"Samakan saja denganmu," ucap Morgan. Dia tidak tahu apa-apa saja yang ada di tempat ini, daripada membuatnya bertambah malu di hadapan Lyla lebih baik pesanan mereka disamakan saja.


"Oke! Aku minta uangmu." Lyla menadahkan tangannya.


"Aku tidak punya uang sepeserpun, Tuan," ucapnya memberi keterangan yang membuat Morgan mengeluarkan dompetnya. Dia kemudian pergi dari hadapan Morgan.


Morgan melihat tempat ini ke sekelilingnya, dia tetap saja merasa heran karena tidak melihat pelayan. "Sepertinya aku harus memberikan bintang satu untuk restoran yang seperti ini," gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2