
"Apa kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Lyla saat Morgan telah kembali ke meja makan, sementara Robinson hanya menatap putranya sejenak, kemudian melanjutkan sarapan paginya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Ini sudah biasa. Jangan khawatir," ucap Morgan sambil duduk di samping istrinya.
"Jangan khawatirkan dia, Laura. Ini tidak akan berlangsung lama, dokter bilang begitu," bisik Robinson di akhir kalimatnya.
Akan tetapi, Lyla merasa khawatir juga. Setiap hari Morgan seperti itu, apalagi saat pagi hari mengalami mual muntah yang cukup hebat.
"Iya, Ayah. Aku tahu, hanya saja aku khawatir jika seperti itu terus. Aku takut Morgan tidak tahan."
Mendengar kekhawatiran sang istri, membuat Morgan senang bukan kepalang, menggenggam tangan Lyla dan mencium punggung tangan itu.
"Kau memang istri yang terbaik, tidak seperti seseorang yang tidak pernah mengkhawatirkan aku."
Robinson memutar bola matanya malas, kemudian berdiri. "Aku sudah selesai. Jika kau sudah selesai, datanglah ke kantorku. Aku ingin bicara sesuatu," ucap Robinson.
"Hem, baiklah."
Robinson pergi dari sana, sementara Morgan dan Lyla melanjutkan acara sarapan mereka.
"Morgan, kau harus mengecek keadaanmu di rumah sakit. Aku takut ada apa-apa denganmu."
Morgan tersenyum kecil dan menggenggam tangan Lyla. "Aku tak apa. Sungguh. Benar ayah bilang, ini hanya sementara kan? Sebentar lagi, aku juga akan membaik."
Lyla merasa tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi jika memang seperti ini keadaannya.
Siang sebelum Morgan pergi ke kantor Robinson, terlebih dahulu dia pergi ke rumah sakit, meminta obat kepada dokter untuk mengatasi mual muntahnya.
__ADS_1
Saat berjalan menuju ke ruangan dokter kandungan, semua mata memandangnya kagum. Pria tampan itu tidak menghiraukan tatapan mereka dan tanpa mengantri masuk ke dalam ruangan.
"Kau tidak seharusnya masuk. mengantri lah!" tegur dokter wanita, dia adalah anak asuh Robinson yang telah dirawat sejak remaja dan sudah menganggap Robinson sebagai ayahnya sendiri. Rachel, meskipun segan dan hormat kepada Robinson dan mengakui jika Morgan adalah anak kandung pria itu, orang yang menaruh rasa hormat kepada Morgan, tapi dia juga tidak segan untuk menegur jika kakak angkatnya itu berbuat salah.
"Ah, maafkan aku Rachel--"
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Minta maaflah kepada pasienku," ucap Rachel sambil menunjuk pasiennya, seorang ibu yang sedang hamil besar yang duduk di depannya.
"I'm sorry, Mom. Mohon maafkan aku, tapi aku sedang terburu-buru."
Wanita yang tengah hamil itu menatap kagum wajah tampan Morgan, baginya tidak ada pria lain setampan suaminya. Namun, untuk hari ini ada pengecualian untuk pria tampan ini. Ingin rasanya dia menyentuh hidung Morgan, tapi urung dia sampaikan karena suaminya adalah pria yang pencemburu.
Rachel menaikkan kaca mata yang melorot di hidungnya. "Ada apa kau kemari, Tuan." Rachel masih belum bisa membiasakan panggilannya kepada Morgan.
"Panggil aku kakak sesuai yang ayah mau. Aku datang ke sini hanya untuk meminta obat." Morgan melirik pria yang ada di samping wanita hamil itu, dia kemudian mencondongkan tubuhnya ke dekat Rachel untuk berbisik. "Aku merasa tidak enak badan. Boleh aku minta obat untuk menghilangkan mual dan muntah?" tanya Morgan dengan suara yang pelan.
"Kau bisa mengantri, Kakak. Aku masih ada pasien di sini." Rachel tidak akan memberi Morgan kesempatan.
"Ayolah, aku harus bertemu dengan ayah. Dia pasti sudah menungguku. Apa susahnya berikan aku obat dan aku akan pulang sekarang juga."
Rachel menjadi sedikit kesal. "Setidaknya biarkan aku mengurus pasienku ini. Dia sudah menunggu semenjak pagi." Tatapan Rachel menyimpan kekesalan.
"Okay. Aku akan menunggu."
Morgan berbalik dan duduk di kursi sofa singel yang ada di ruangan itu. Duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan adik angkatnya yang sedang memeriksa pasien.
Sambil duduk, Morgan tidak melewatkan pemeriksaan wanita itu. Juga saat ikut melihat layar hitam yang terlihat wajah yang telah terbentuk sempurna, juga suara detak jantung dari alat yang dipegang Rachel.
__ADS_1
"Apakah anakku wanita, atau pria?" gumam Morgan tanpa sadar, tidak sabar rasnya ingin melihat wajah anaknya sendiri.
Suara yang berasal dari jantung bayi yang ada di dalam kandungan mendominasi di ruangan tersebut, rasanya menenangkan untuk didengarkan juga sangat menyenangkan sekali.
"Apa kau mau tahu jenis kelamin putramu?" tanya Rachel kepada ibu dan ayah si bayi.
"Ya, aku mau tahu." Sang suami yang menjawab.
Rachel juga melirik pasiennya dan mendapat anggukkan kepala dari wanita itu.
"Anda lihat di sini? Anak Anda perempuan." Baru saja Rachel menutup mulutnya, ayah si bayi berdiri tiba-tiba sehingga suara kursi yang terdorong oleh kakinya terdengar dengan cukup keras.
"Anak perempuan? Apa maksudmu anak perempuan!" seru pria itu dengan nada yang kesal. Rachel menolehkan kepalanya pada suami pasien tersebut dan melihat jika pria itu terlihat marah. "Lakukan aborsi! Seharusnya aku tahu dari awal jika anak itu perempuan!"
Istrinya menggelengkan kepala dan memeluk perutnya sendiri, air mata mulai keluar dari sudut matanya. "Tidak. Jangan!"
"Jangan? Kau tahu kan, aku akan dibunuh oleh ayahku jika tidak memiliki anak laki-laki. Apa hebatnya anak perempuan yang tidak bisa diandalkan apa-apa!" bentak pria tersebut dan membuat istrinya kembali menangis dengan kencang.
Morgan marah mendengar ucapan dari pria tersebut. Baik bayi laki-laki maupun bayi perempuan tidak ada bedanya.
"Tuan, apakah kau bisa menarik kata-katamu?" Rachel tidak terima dengan ucapan pria itu barusan.
"Kata-kataku yang mana?"
"Kau salah mengenai pemikiranmu, Tuan. Bukan hanya bayi laki-laki saja yang bisa diandalkan, tapi perempuan juga bisa untuk diandalkan."
"Kau mana tahu hal seperti itu! Diamlah jika kau tidak mau aku pukul!" bentak laki-laki itu kepada Rachel dan hendak mengangkat tangannya, tapi secepat kilat Morgan telah berada di samping Rachel untuk menahan tangan pria itu.
__ADS_1
"Hentikan!"