Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
67. Hipnotis


__ADS_3

Sampai di rumah Lyla merasa bingung dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Baju dan sepatu yang tadi dia beli di pusat perbelanjaan sudah sampai ke rumah. Dia merasa bingung melihat entah berapa banyak tas tersebut.


"Nona, kau beruntung sekali," ucap Lian menyenggol lengan Lyla, tanpa gadis kecil itu tahu dengan hukuman apa yang akan Morgan berikan jika dia tidak bisa mendapatkan nilai yang bagus.


"Aku tidak menyangka jika Tuan Morgan akan royal membelikanmu barang-barang ini." Lian terkagum melihat sepatu bagus yang dia intip dari dalam tasnya.


"Aku bisa mati kalau tidak belajar dengan baik," gumam Lyla pelan.


Lian membantu Lyla membawakan barang-barang tersebut ke dalam kamar, mereka harus bolak-balik beberapa kali untuk membawanya.


"Kakak, ini akan disimpan di mana?" tanya Lian. Lyla menunjuk ke sudut di samping tempat tidurnya.


"Di sana saja dulu. Akan aku bereskan besok. Aku jadi bingung akan disimpan di mana ini semua. Tuan Morgan terlalu berlebihan," ucap Lyla bingung. Di kamarnya hanya ada satu lemari dan dia rasa tidak akan cukup untuk semua barang ini masuk ke dalamnya. Bagaimana dia akan menyimpan sepatu-sepatu itu?


"Oke. Katakan saja jika kau butuh bantuan ku besok. Aku ingin melihat semua yang Tuan berikan padamu." ucap Lian sambil tersenyum meringis. Dia sangat penasaran sekali bagaimana pakaian dan sepatu yang dibelikan oleh Morgan.


"Iya, baiklah. Kau boleh membantuku."


Lian pergi dari ruangan itu, sementara Lyla kembali membereskan barang-barang tersebut agar tidak terlihat berantakan. Dia mengeluarkan beberapa pakaian dan melihat harganya.


"Astaga, satu buah baju ini saja sudah membuatku mual. Apakah tidak apa-apa memakai pakaian seperti ini untuk kuliah?" gumam Lyla melihat seraya memperhatikan pakaian tersebut.


Lyla membaringkan dirinya di atas kasur, dia tidak menyangka jika Morgan akan memberikan banyak barang untuknya.


"Sebenarnya dia orang yang baik."


Lyla menjadi kepikiran, rasa-rasanya dia belum mengucapkan terima kasih untuk semua pakaian yang dia terima ini. Jadi, dia memutuskan untuk bertemu dengan Morgan sekarang.


"Dia sudah tidur belum, ya?" gumam Lyla ragu saat akan mengetuk pintu kamar Morgan.


Di dalam kamar, Morgan tengah menikmati malam di balkon. Dia mengenang kepergiannya tadi bersama dengan Lyla. Tidak menyangka jika ternyata menyenangkan pergi meski dalam waktu sebentar.


"Ternyata jalan-jalan itu menyenangkan juga," gumam Morgan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

__ADS_1


Suara pintu terdengar diketuk dari luar, tidak lama pintu itu terbuka setelah Morgan menyuruhnya masuk. Dia melihat Lyla yang masuk mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Morgan sedikit bingung dengan datangnya Lyla ke kamarnya.


"Aku belum mengucapkan terima kasih karena kau telah memberikanku banyak barang," ucap Lyla setelah dia sampai di samping Morgan.


"Oh, sama-sama. Kenapa ku belum tidur? Ini sudah sangat malam."


"Aku belum bisa tidur."


"Kenapa?"


"Karena aku belum mengucapkan terima kasih padamu."


"Ooh, hanya itu?"


"Iya, aku pikir hanya itu," ucap Lyla. "Apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku bukan bertanya soal itu, tapi itu," tunjuk Lyla pada apa yang Morgan pegang. sebuah rokok masih menyala mengepulkan asap tipis di tangannya.


"Kenapa kau merokok?" tanya Lyla mengubah wajahnya menjadi kesal.


"Karena aku ingin."


Lyla berdecak kesal mendengar jawabannya, dia lantas mengambil rokok itu dan segera mematikannya pada asbak yang ada di atas meja. Morgan terkejut dengan apa yang wanita itu lakukan.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Morgan marah. Rokok itu sudah rusak di dalam asbak.


"Ya ampun, Tuan Muda. Apa kau tidak peduli dengan kesehatanmu? Kau tahu kan jika rokok itu tidak baik?" ucap Lyla dengan berani. "Kau punya sakit lambung, seharusnya kau juga bisa menjaga tubuhmu yang lain. Bukankah merokok tidak baik untuk kesehatan paru-parumu? Astaga, aku yakin kau juga tahu akan hal itu," ucap Lyla kesal.


Morgan hanya diam saja meratapi rokoknya yang kini sudah tertekuk di sana.


"Aku bukan perokok berat. Aku merokok jika hanya ingin saja," ucap laki-laki itu kemudian mengambil rokok yang lain yang ada di atas meja, tapi ketika hendak menyalakan korek Lyla kembali merebut dua benda itu.

__ADS_1


"Tetap saja kau tidak boleh." Lyla memasukkan kembali satu batang rokok yang direbut ke dalam bungkusnya. "Dua barang ini aku sita. Apakah ada yang lain di kamarmu?" tanya Lyla ingin tahu.


"Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" Morgan tidak terima sehingga mencoba merebut dua benda itu dari tangan Lyla.


"Tidak mau. Kau bisa sakit jika merokok."


"Aku tidak akan sakit dengan hanya menghabiskan sebungkus rokok. Aku bahkan bisa menghabiskan lebih banyak dari itu," ucap Morgan kesal. Dia terus mendesak Lyla dan mencoba meraih rokok yang kini dia jauhkan di belakang tubuhnya.


"Berikan benda itu sekarang."


"Aku tidak mau memberikannya," ucap Lyla bersih kukuh.


"Lyla, berikan rokok itu kepadaku."


"Tidak!"


Morgan merasa kesal, dia tidak mudah menyerah untuk mengambilnya, dia maju sehingga Lyla terpaksa mundur dan kemudian terjebak karena punggungnya yang menyentuh dinding. Dia tidak bisa menghindar atau meloloskan diri karena di sampingnya terdapat meja yang menghalangi.


Lyla merasa takut saat Morgan terus saja mendekat ke arahnya. Wajah laki-laki itu sangat tampan sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Begitu juga dengan Morgan yang melihat mata bulat Lyla, serasa dia terhipnotis oleh kecantikan wanita muda ini. Tanpa sadar Morgan terus maju dan membuat Lyla semakin terdesak ke dinding yang dingin. Dia menahan tubuh Morgan dengan tangannya yang ada di dada laki-laki itu, tapi hal itu tidak membuat Morgan berhenti atau mundur sama sekali.


Mata Lyla bulat, hidungnya mungil dan mancung, serta bibirnya merah, kulitnya tidak terlalu putih, tapi itu yang membuat wanita ini terlihat berbeda. Manis menurutnya. Morgan tidak sadar dia semakin mendekat dan mendekat lagi. Tatapannya tidak bisa dialihkan karena sudah terkunci oleh wanita yang ada di depannya ini.


"Tu-Tuan ...." Dada Lyla berdebar, dia merasa takut tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa mengeratkan tangannya yang ada di dada Morgan.


Morgan mengeluarkan tangannya mengambil dagu Lila, memfokuskan pandangannya pada bibir yang merah itu meski tanpa lipstik sama sekali. Tanpa sadar dia mendekat dan semakin mendekati hingga jarak mereka hanya tinggal dua cm.


Dada Lyla semakin berdebar melihat Morgan yang seperti itu. Hangat nafas Morgan terasa sangat jelas di kulit pipinya. Otaknya seakan mati sehingga tidak bisa membuatnya memerintahkan anggota tubuhnya untuk bergerak, sehingga akhirnya setelah dia memantapkan hati otaknya kembali tersadar dan dia berhasil mendorong tubuh Morgan dengan kedua tangannya.


"Tuan, aku harus kembali. Ini rokokmu," ucap Lyla menyerahkan rokok tersebut ke tangan Morgan. dia kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamar itu.


Morgan hanya terpaku melihat punggung Lyla yang berjalan ke arah pintu hingga kemudian dia tidak terlihat sama sekali setelah pintu itu tertutup. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan baru tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia hampir mencium Lyla. Lagi!


"Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa aku bisa berbuat seperti itu?" gumam Morgan.

__ADS_1


__ADS_2