Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
21. Gadis Yang Jelek


__ADS_3

Tidak sampai satu jam, Lyla telah selesai membuat bubur yang dia bisa, dengan bahan yang ada di kulkas dan juga peralatan yang ada di sana. Gegas dia membawa makanan tersebut ke arah kamar Morgan.


"Permisi. Aku masuk, ya."


Tanpa mengetuk, Lyla membuka perlahan pintu tersebut dan melongokkan kepalanya di dalam sana. Jangan sampai dia lengah dan tertipu yang membuatnya bisa rugi untuk yang kedua kali.


Morgan masih ada di atas ranjangnya, tengah berbaring miring dengan memeluk perutnya sendiri dan mengaduh kesakitan. Obat yang diberikan Lyla tadi tidak juga membuatnya merasa nyaman.


"Makan lah," ucap Lyla seraya menyimpan nampan dan air hangat di atas nakas. Morgan melirik sedikit, tak menyangka jika gadis ini telah berbuat baik kepadanya.


Saat Lyla hendak pergi dari sana, Morgan berbicara, "Bisakah kau bantu aku?"


Lyla terdiam kembali dan urung melangkahkan kaki. Tampak dia ragu dengan Morgan, masih takut jika laki-laki ini hanya berpura-pura untuk mendapatkan keuntungan darinya lagi.


"Aku tidak bisa bergerak," tambah Morgan. Lyla masih memperhatikan, wajah itu masih pucat dengan mata yang memerah.


Apa dia sungguhan sakit? gumam Lyla di dalam hati.


Morgan menutup matanya, tak berdaya.


Lyla menghela napas, menyeret kursi yang ada di dekat sana ke samping ranjang dan membantu Morgan untuk setengah berbaring dengan beralaskan bantal di belakang punggungnya. Meski dia benci dengan laki-laki ini, tapi Lyla sangat berhati-hati sekali membantu Morgan untuk duduk bersandarkan bantal.


Orang yang sakit harus ditolong, jangan membalas yang jahat dengan kejahatan pula karena jika kita melakukan hal yang sama, bukankah kita juga sama jahatnya? Itu yang diajarkan oleh ibu panti kepada Lyla dan anak panti yang lainnya.


Bubur yang ada di dalam mangkok dia ambil di ujung sendok, sedikit meniupnya agar tak terlalu panas di lidah laki-laki itu.


"Makan lah," ucap Lyla setelah duduk sedikit menjauh dari Morgan. Rasa benci yang ada di dalam hati dia singkirkan sedikit demi orang sakit ini.


Dia hanyalah orang sakit. Hanya orang yang sedang sakit! Lyla terus berkata di dalam hatinya, menyingkirkan rasa benci yang terkadang timbul di dalam hati dan seakan setan berbisik dengan kata-kata kejamnya, memprovokasi untuk meninggalkan laki-laki ini.

__ADS_1


Biarkan saja dia mati. Ingat apa yang telah dia lakukan kepadamu! Begitu lah kiranya apa yang dia dengarkan di telinganya saat Lyla tengah membuat bubur tadi, bahkan dengan jelasnya suara itu membisikkan sesuatu. Racun. Susah payah Lyla menepis suara itu dengan menggelengkan kepalanya cepat.


Morgan melirik Lyla dari ujung mata, membuka mulutnya sedikit saat Lyla menyodorkan makanan ke dekat mulutnya. Tangannya menekan perut agar tidak terlalu sakit.


Lyla menatap Morgan, sepertinya memang laki-laki ini tidak berbohong.


"Apa kau punya kayu putih?" tanya Lyla. Morgan hanya menggelengkan kepala pelan.


"Tunggu di sini. Aku akan carikan."


Lyla bergegas keluar dari dalam kamar tersebut dan pergi ke arah dapur. Dia ingat melihat benda itu bersama dengan obat-obat yang ada di dapur.


Lyla telah kembali ke dalam kamar, membuka tutup kayu putih sedikit kesusahan karena tangan kirinya terasa sakit sehingga dia harus menjepit botol kecil itu di antara lengan dan lututnya sementara tangan kanan dia gunakan untuk membuka penutup.


Morgan memperhatikan dari ujung matanya, terlihat Lyla sangat kesulitan dan juga meringis kesakitan saat melakukan hal itu.


"Anu ... maafkan aku, permisi sebentar," ucap Lyla setelah membubuhkan kayu putih di tangan kanannya.


Sedikit ragu Lyla mengangkat sedikit pakaian Morgan memasukkan tangannya ke dalam sana. Pandangannya dia buang ke arah lain, wajahnya mulai memerah. Bagaimana pun juga dia tidak pernah menyentuh laki-laki seperti ini, bahkan Denis yang berstatus sebagai kekasihnya pun tidak pernah. Hanya adik-adik di panti jika mereka sakit dan membutuhkan perhatian dari dia atau pun yang lainnya.


Dada Lyla berdebar saat menyentuh otot sixpack milik Morgan, terasa sekali di permukaan tangannya bentuk roti sobek tersebut. Begitu pun dengan Morgan, merasakan sentuhan lembut Lyla dan melihat wajah Lyla dengan seksama dan ....


Oh, sial!


Morgan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Jangan sampai dia berucap yang aneh karena melihat wanita ini. Wajah imut itu ....


Apa yang aku pikirkan? Dia tidak imut. Dia tidak imut! Racaunya di dalam hati.


Dari balik pintu, seseorang tengah mengulum senyuman. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Morgan dan memilih pergi kembali ke kamarnya. Niat untuk melihat keadaan Morgan dan mengajaknya makan malam dia batalkan saja.

__ADS_1


Diam-diam laki-laki sedingin tembok es itu telah berhasil mendapatkan perhatian dari Lyla.


"Huh, dasar munafik!" ucapnya sambil tertawa keras di dalam hati. "Bilang saja kalau kau sudah mulai menyukainya," gumam Gerald sambil pergi menjauh dari depan kamar Morgan.


Tidak ada yang bisa bebas menyentuhnya seperti itu, jadi Gerald bisa mengambil kesimpulan jika Lyla bisa menjadi pengganti Renee selanjutnya.


"Apa sudah terasa baikan?" tanya Lyla saat dia merasa cukup membalur permukaan perut Morgan.


"Ya, aku sudah baikan."


Mendapatkan jawaban seperti itu membuat Lyla menarik tangannya.


Suapan demi suapan Lyla berikan untuk Morgan, hingga dia merasa bubur yang ada di tangannya tidak perlu lagi untuk ditiup.


Sesekali Morgan tak tahan untuk memandang wanita yang ada di sampingnya.


Jelek sekali dia. Akan tetapi, lagi dan lagi dia melirik saat Lyla mendekatkan sendok ke depan mulutnya, tak sadar Lyla juga membuka mulut seperti seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya.


Cihh ... apa yang aku lihat?


Morgan membuang mukanya ke arah lain saat satu suapan terakhir telah berhasil masuk ke dalam mulutnya.


"Sudah habis. Aku akan kembali ke kamarku," ucap Lyla, kemudian berdiri dengan membawa nampan dan mangkok bekas Morgan barusan. Laki-laki itu tidak menjawab, bahkan mengucapkan terima kasih juga tidak.


Cih, apa yang aku pikirkan? Berharap dia mengucapkan terima kasih? Yang benar saja! batin Lyla dalam hati melihat Morgan yang bahkan membuang wajahnya ke arah lain.


Lyla berjalan dengan langkah yang cukup kasar. Ibu panti selalu mengajarkan untuk mengucapkan kata terima kasih jika telah dibantu atau ditolong. Akan tetapi, laki-laki ini tampaknya tidak mau membuka mulutnya sama sekali.


Pintu tertutup, Morgan kini mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Gadis itu tak lagi terlihat di sana. Rasanya ada yang aneh.

__ADS_1


"Dasar laki-laki tidak berperasaan! Apa bibirnya terjahit rapat? Mengucapkan kata terima kasih saja tidak!" ucap Lyla kesal sambil mencuci bekas makan Morgan.


__ADS_2