Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
19. Kuat Demi Bertahan


__ADS_3

Air hangat keluar dari shower, mengucur membasahi kepala dan tubuh Morgan. Tak lupa dengan shampo yang dia bubuhkan ke pada rambutnya. Busa tersebut kini terbawa oleh aliran air dan menuju ke lubang pembuangan. Morgan hanya menatap air yang melewati kakinya. Tubuhnya dingin tapi kepalanya terasa panas, kesal rasanya saat sesuatu tidak bisa dihilangkan dari pikiran.


Senyuman gadis itu terus menari-nari di dalam kepalanya, dan dia tidak bisa mengenyahkan bayangan gadis itu dari pikirannya. Gila rasanya, dia tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


“Dia memang penyihir yang jahat!“ ucap Morgan sambil mengepalkan tangannya yang berada di dinding.


“Dia pikir dia siapa bisa tertawa di dalam rumahku ini!“ ucap Morgan yang kesal karena kemarin wanita itu sempat keras kepala dan telah membuatnya kesal.


Morgan tidak ingin terlalu lama di dalam kamar mandi, dia pun segera menyudahi acara mandinya tersebut dan masuk ke dalam kamarnya untuk memakai piyama.


Morgan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, meskipun ini sudah terlambat untuk jam makan malam, tapi dia tidak bisa melewatkannya begitu saja. Terlalu banyak minum di masa lalu membuat lambungnya menjadi lemah, sakit jika dia tidak makan tepat pada waktunya. Dia berdecak kesal karena tidak ada seorang pun pelayan yang berada di dapur, masih terdengar di ruangan belakang mereka-mereka tertawa sedikit keras.


'Gadis itu benar-benar keterlaluan!' ucap kata hati Morgan. Biasanya para pelayan sudah berjajar saat dia pulang ke rumah untuk menyambutnya dan menyiapkan makan malam. Akan tetapi, malam ini mereka semua tidak mengerjakan tugasnya dengan baik gara-gara wanita itu.


Gerald juga baru saja selesai mandi, dia menuju ke arah ruang makan. Melihat Morgan yang hanya duduk di sana diam dan hanya saling mengaitkan jari jemari satu sama lain di atas meja di depan dagunya, dia kemudian mendekat dan terheran karena di depan laki-laki itu tidak nampak satu makanan pun.


“Apa kau sudah selesai makan malam?“ tanya Gerald kepada laki-laki itu. Morgan mendengkus sebal, menggebrak meja lumayan keras.


“Apa kau lihat ada makanan di depan sini? Mulai besok pecat mereka semua!“ Morgan marah, lalu berdiri dan kembali ke dalam kamarnya. Gerald hanya menggelengkan kepala melihat sikap atasannya itu.


“Astaga, laki-laki ini kenapa rumit sekali!“ Gerald lantas menuju ke arah kemari dan mengambil beberapa makanan yang ada di sana.


“Dia terlalu dimanjakan, apakah dia tidak bisa melakukan semuanya sendirian? Bahkan hanya makan saja harus disediakan,” gumam Gerald lalu memasukkan satu piring lauk pauk ke dalam microwave. Gerald kemudian membawa nampan berisi makanan ke dalam kamar Morgan.


Sementara itu di ruangan belakang semua orang yang ada di sana masih tertawa setelah mendengarkan cerita Lyla.


“Astaga! Aku melupakan sesuatu,” ucap ibu Lian yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh seketika. “Aku lupa jika mungkin tuan muda sudah pulang,” ucapnya lagi lalu dengan tanpa pamit pergi ke rumah utama dengan langkah yang tergesa.

__ADS_1


Semua yang ada di sana juga membubarkan diri dan hanya meninggalkan Lyla dengan Lian saja.


“Nona, apakah Nona masih akan tetap di sini? Aku juga harus membantu ibu di dapur,” ucap Lian dengan tak enak hati.


“Oh, oke. Aku masih ingin di sini sebentar lagi,” ucap Lyla. Lian pun pergi dengan membawa piring bekasnya makan, sedangkan Lyla menghabiskan makanan tersebut dengan cepat.


...***...


“Keterlaluan sekali mereka. Apa mereka pikir tidak dibayar sehingga bekerja sesuka mereka?“ ucap Morgan kesal saat Gerald menyuruhnya untuk makan.


“Ayolah, Saudaraku. Sesekali berikan mereka kelonggaran. Lagi pula aku juga jarang melihat mereka bisa tertawa seperti itu di rumah ini. Bukankah bagus bisa membuat gadis itu keluar dari dalam kamarnya?“ ucap Gerald. Tetap saja hal itu tidak bisa diterima begitu saja oleh laki-laki keras kepala seperti Morgan.


“Keluar lah dari dalam kamarku,” ucap Morgan tanpa mau berdebat lagi. Lelah tubuh dan pikirannya sehingga dia memutuskan untuk berbaring dan menutup matanya.


“Jangan lupa bawa makanan itu turun.“


“Kau tidak akan makan?“ tanya Gerald.


“Oke, jika kau ingin makan nanti carilah sendiri. Jangan sampai mengganggu orang yang sedang tidur,” peringat Gerald. Morgan tidak bersuara lagi, maka Gerald membawa nampan itu untuk dia kembalikan ke dapur.


“Dasar keras kepala!“ gumam Gerald setelah keluar dari ruangan itu.


Morgan membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Bayangan Renee tampak di pelupuk matanya, dia sangat merindukan gadis itu, cinta pertamanya yang bisa membuat semua dunianya dulu berwarna. Akan tetapi, entahlah, dia pergi tanpa kabar dan tidak bisa dia temukan hingga kini.


Morgan mengambil sesuatu di dalam laci nakasnya, sebuah album di mana ada banyak gambar dia dan juga Renee, mengusap permukaan foto tersebut dengan lembut.


“Kau ada di mana? Apakah kau tidak mau pulang ke sisiku? Aku akan memaafkan apa pun alasanmu pergi selama ini,” ucap Morgan pelan. Dia masih berharap jika wanita itu pulang dan bersedia menikah dengannya.

__ADS_1


...***...


“Tuan, Maafkan atas kelalaian saya. Saya tidak sadar dan tidak tahu waktu sampai-sampai melupakan waktu kepulangan tuan muda,” ucap ibu dari Lian memohon maaf saat Gerald masuk ke area dapur. Wanita itu sangat merasa bersalah sekali karena lalai dalam melakukan kewajibannya. Ini baru pertama kali, rasa takut mendominasi, bagaimana jika Morgan memecat dirinya? Lian tidak akan bisa sekolah lagi karena hanya pada Morgan lah dia menumpukan harapan untuk masa depan putrinya tersebut.


Wanita itu melirik piring di atas nampan, masih utuh dengan makanan dan juga minuman, tak tersentuh sama sekali.


“Lain kali jangan lakukan lagi. Ucapan dia tidak akan main-main setelah ini,” ujar Gerald. wanita itu mengangguk dan segera menyiapkan makan malam untuk sepupu majikannya ini.


“Apa dia makan dengan baik?“ tanya Gerald padanya.


“Eh, ya. Saya membuatkan mie, dan Nona Lyla makan cukup baik,” jawabnya. Gerald tersenyum puas. Sepertinya apa yang dia ucapkan tadi masuk ke dalam otak gadis itu.


“Lain kali, buatkan makanan orang biasa. Mungkin dia masih belum terbiasa dengan hidangan di rumah ini,” ucap Gerald lagi.


“Baik.“


“Apa Tuan Muda sudah tidur? Saya akan bawakan makan malam untuk Tuan Muda,” tanyanya lagi.


“Tidak perlu. Dia sudah tidur. Malam ini tidur lah saja. Biar aku yang akan urus dia jika dia lapar nanti,” ucap Gerald.


“Baik, Tuan.“


Lyla telah selesai dengan makan malamnya, dia kembali ke dalam dapur dan mencuci mangkok bekasnya makan.


“Apa kau makan dengan baik?“


Terkejut Lyla hingga hampir saja mangkok yang ada di tangannya terlepas. Gerald tiba-tiba saja ada di sampingnya.

__ADS_1


“Eh. Ya. Aku menghabiskan makan malamku,” jawab Lyla, lalu kembali membilas mangkoknya hingga bersih. Gerald memperhatikan gerakan tangan kiri Lyla yang tampak kaku.


“Bagus. Jika kau ingin protes dengan keadaanmu, kau harus dalam keadaan yang baik. Dia orang yang keras kepala, jika kau tidak kuat, maka kau yang akan gila." Gerald mengambil mangkok basah dari tangan Lyla lalu pergi dari ruangan itu. Lyla hanya terpaku mengartikan ucapan laki-laki tersebut.


__ADS_2