
Morgan menyingkirkan Lyla dari pangkuan dengan perlahan dan membaringkannya di kursi di sampingnya. Tak lupa juga dia merendahkan sandaran kursi Lyla agar wanita itu nyaman di dalam pembaringannya.
Sejenak Morgan terdiam dan memperhatikan wajah Lyla yang teduh, cantik tanpa riasan yang berlebihan.
"Ah, apa yang aku lakukan?" gumam laki-laki itu kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari sana dengan cepat.
...***...
Sampai di rumah, Morgan membangunkan Lyla. Akan tetapi, Lyla tidak juga bangun meski dia membangunkannya dengan cukup keras. Lyla malah meracau tidak jelas dan bernyanyi meski matanya terpejam.
Morgan terpaksa menggendong Lyla di bagian depan, dengan sangat hati-hati sekali dia membawa wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi dengan Nona Lyla, Tuan?" tanya ibu Lian saat melihat Morgan baru saja masuk ke dalam rumah. Dia tampak khawatir melihat keadaan Lyla yang tak berdaya seperti itu.
"Tidak apa-apa. Dia hanya mabuk dan tertidur," ucap Morgan. "Tolong bukakan pintu kamarku," titahnya.
"Baik." Ibu Lian segera pergi mendahului Morgan untuk membukakan pintu dan menunggu Morgan untuk masuk ke dalam sana.
"Anu ... apakah Nona Lyla akan tidur di sini?" tanya ibu Lian dengan ragu dan juga setengah takut sebenarnya. Akan tetapi, tidak mau juga jika mendapati Lyla akan seperti waktu itu.
"Ya, aku lelah untuk membawanya ke lantai atas," ucap Morgan. "Kau tenang saja. Aku tidak akan macam-macam dengan dia," tambah laki-laki itu lagi. Tak ada alasan lagi untuk berbicara kembali, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya untuk pamit dari sana.
"Bisakah kau ambilkan pakaian tidurnya dan menggantikannya? Tolong. Dia pasti tidak akan nyaman tidur dengan menggunakan gaun," ujar Morgan.
Segera wanita paruh baya itu mengangguk dan pergi ke dalam kamar Lyla untuk mengambil pakaian tidurnya.
"Aku akan keluar." Kali ini Morgan pergi ke luar dari kamarnya dan membiarkan wanita tersebut menggantikan pakaian Lyla.
Tidak sampai sepuluh menit, ibu Lian sudah keluar dari dalam kamar dan melapor pada Morgan yang ternyata ada di dapur untuk mengambil minum.
"Sudah saya lakukan, Tuan," lapornya.
Morgan menganggukkan kepalanya dan menyimpan gelas bekasnya.
"Terima kasih." Kemudian dia pergi ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
Ibu Lian menatap heran pada Morgan yang pergi dari sana. "Tuan muda memang sudah berubah. Aku senang dengan ini," ucapnya sambil tersenyum dengan senang.
Morgan mengambil pakaiannya di walk in closet dan menggantinya di dalam kamar mandi. Dia melakukannya dengan cepat karena rasanya lelah dan juga mengantuk. Sofa yang ada di dalam kamar itu menjadi tempatnya untuk membaringkan diri di dalam kamar. Sofa kecil itu tentu saja kurang panjang untuk ukuran tingginya tubuhnya, dia harus melipat kakinya atau membiarkan menjuntai di sana.
Baru saja Morgan menutup mata dan akan terlelap, dia merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Kedua matanya terbuka dan melihat Lyla telah tidur dengan merebahkan kepalanya di dada. Morgan terdiam, mencoba untuk melihat Lyla, ternyata wanita itu tertidur dan memejamkan matanya.
"Astaga! Apakah dia berjalan dalam tidurnya?" gumam Morgan menyingkirkan rambut Lyla dari wajahnya.
"Hei, bangun. Kembali ke atas kasur," perintah Morgan. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Lyla bangun dan pindah dari sana. Suara dengkuran halusnya terdengar dengan sangat jelas di dalam malam yang sepi ini. Hanya detak jam yang terdengar dengan sangat jelas di dalam ruangan itu.
"Lyla!" panggil Morgan, tapi Lyla tidak juga menjawab. Morgan mengembuskan napasnya dengan cukup keras dan akhirnya dia mengalah saja. Dia berusaha untuk bangkit, tapi posisinya kini sangat tidak menguntungkan sama sekali. Dia bisa saja menjatuhkan Lyla dan bisa saja jika Lyla akan cedera di kepalanya, maka dari itu dia hanya diam saja dan pasrah.
"Awas saja kalau besok kau bangun dan berteriak. Akan aku sumpal mulutmu dengan kaos kaki," gumam Morgan, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Lyla, menahan wanita itu agar tidak terjatuh.
Morgan sangat mengantuk sekali, dia berharap bisa tidur, tapi bagaimana dia akan tertidur jika keadaannya seperti ini? Dia tidak terbiasa dengan seseorang di atas tubuhnya kecuali jika wanita itu bergerak naik turun.
"Hais. Kenapa aku berpikiran seperti itu?" gumam Morgan kesal. Dia malah memikirkan hal yang lain yang tidak mungkin akan Lyla lakukan terhadapnya.
"Astaga, Lyla! Kau selalu membuatku repot saja! Besok apa lagi yang akan kau lakukan, ha?" ujar Morgan pelan, tapi tidak ada kekesalan yang ada di dalam dirinya.
Morgan sedikit menunduk dan mendapati Lyla yang tertidur dengan sangat nyenyak sekali. Dia bagai anak kecil yang tidur di atas pelukan ayahnya.
Lagi-lagi helaan napas kesal terdengar dari mulut Morgan. Dia hanya menatap langit-langit tanpa bisa tertidur lagi, padahal tadi dia hampir saja masuk ke dalam alam mimpinya. Aroma wangi tercium dari rambut Lyla, wangi aroma sampo yang entah apa karena dia juga tidak pernah memperhatikan sampo yang dipakai oleh orang lain. Perlahan Morgan mendekat dan merasa penasaran dengan aroma tersebut hingga jelas saja ujung hidungnya menyentuh kepala Lyla. Satu detik saja, kemudian dia menjauhkan wajahnya dari sana seraya bertanya-tanya akan apa yang telah dia lakukan.
Morgan menunggu hingga beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia tertidur dengan sangat lelap sekali tidak peduli dengan Lyla yang ada di atasnya. Tangannya tetap erat melingkar di pinggang Lyla dan sesekali dia terbangun saat Lyla bergerak.
...***...
Gerald sudah menunggu hampir sepuluh menit lamanya, tapi orang yang ditunggu belum juga keluar dari dalam kamar. Sarapan sudah tersedia sedari tadi dan membuat Gerald merasa lapar.
"Apakah Tuan Muda belum juga bangun?" tanya Gerald pada maid yang ada di sana.
__ADS_1
"Saya belum melihatnya keluar dari dalam kamar, Tuan," jawab maid tersebut. Gerald menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar.
"Jam berapa dia pulang semalam?" tanyanya lagi. Maid tersebut menggelengkan kepala tanda tak tahu.
"Tuan Muda dan Nona Lyla pulang sebelum jam sebelas malam," jawab ibu Lian.
"Oh." Hanya itu saja jawaban yang diberikan Morgan.
Ibu Lian mendekat pada Gerald dan membisikkan jika Lyla ada di dalam kamar Morgan sekarang ini.
"Apa? Kau yakin?" tanya Gerald bingung seraya mengernyitkan keningnya. Pasalnya tidak ada orang lain yang pernah tidur di dalam kamar itu. Morgan tidak pernah membiarkan orang lain sekali pun itu dirinya untuk tidur satu kasur dengannya.
"Iya, Tuan. Apa mungkin mereka ...." Tangan ibu Lian bergerak, mengisyaratkan sesuatu yang Gerald pahami, sementara maid yang lain melihat itu dengan kening mengerut.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Kembali ke pekerjaanmu!" titah Gerald yang segera dilakukan oleh wanita tersebut.
Gerald segera mengambil sarapannya dan makan dengan wajah yang tanpa ekspresi.
...***...
Dua orang itu tertidur dengan bersisian di kursi sofa yang sebenarnya tidak muat dengan tubuh keduanya. Lyla berada di depan Morgan dengan tangan Morgan yang melingkar pada pinggangnya. Mereka tampak sangat nyenyak sekali dan tidak terganggu dengan aktifitas yang sebenarnya sudah terjadi semenjak pagi buta di rumah tersebut.
Hingga pada akhirnya, Lyla terbangun karena cahaya matahari yang menembus jendela kaca dan membuatnya silau.
"Astaga. Apa aku kesiangan?" gumam Lyla menghalangi cahaya silau dari luar sana. Dia hendak bangun, tapi sesuatu membuatnya terasa berat di bagian pinggangnya. Dada Lyla tiba-tiba berdebar saat melihat Morgan yang ternyata tengah tertidur dengan napas beratnya di belakang leher Lyla.
"Akh!" teriak Lyla sontak menyingkirkan tangan Morgan darinya, hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh dari atas kursi. Beruntung kepalanya tidak terbentur meja yang ada di sana.
Morgan yang mendengar teriakan itu segera terbangun di dalam tidurnya. Mau tak mau matanya terbuka saat mendengar teriakan wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" tuding Lyla yang masih belum juga beranjak dari lantai. Morgan mengusap wajahnya dan bangun mendapati hari yang sudah terang benderang. Dia menatap Lyla dengan malas.
"Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?" tanya Lyla sekali lagi.
Morgan berdiri dengan tenang dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Lyla mengedarkan tatapannya ke arah lain. Benar, itu bukan kamarnya!
"Eh, kenapa aku ada di sini?" gumam wanita itu. Dia bangkit dari lantai dan mencoba mengingat-ingat. Bagaimana bisa dia ada di kamar Morgan, dan lagi ....
"Kenapa aku pakai piyama? Mana gaunku?" Terkejut Lyla saat mendapati pakaiannya yang sudah berbeda dari semalam. Gegas dia memburu Morgan dan mengetuk pintu kamar mandi serta berteriak keras.
"Tuan! Hei, keluar kau dari dalam! Apa yang sudah kau lakukan? Mana gaunku? Kenapa aku ada di kamarmu?" tanya Lyla dengan teriakan keras memanggil nama Morgan.
Morgan mendengarnya, tapi dia malas untuk membukakan pintu karena dirinya tengah mandi sekarang ini.
"Hei, Tuan! Buka pintunya dan keluar sekarang juga! Apa yang kau lakukan sehingga aku berada di sini?" teriaknya. Namun, sampai serak suaranya pun dia tidak mendapati jika Morgan membuka pintu kamar mandi.
"His, menyebalkan sekali! Aku tidak akan keluar dari sini sebelum mendapatkan jawaban!" ujar wanita itu kemudian duduk di sofa seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Hampir setengah jam Lyla menunggu. Sebenarnya dia sudah lapar, tapi dia bertekad untuk mendapatkan jawaban kenapa dia sampai ada di dalam kamar ini dan juga gaun pestanya yang telah berganti dengan piyama.
Pintu kamar mandi terbuka, Morgan keluar dari dalam sana, segera Lyla bangun dan mendekat pada laki-laki itu.
"Kau masih di sini?" tanya Morgan dengan bingung.
"Ya. Aku masih di sini."
Morgan tidak bertanya, padahal Lyla masih berharap jika Morgan bertanya atau berbicara sesuatu lagi.
"Mana gaunku, dan kenapa aku ada di dalam kamarmu?" desak Lyla bertanya, dia mengikuti langkah kaki Morgan hingga ke depan walk in closet.
"Kau tidak ingat?" Morgan dengan tenangnya membuka lemari dan mengambil pakaiannya yang ada di sana.
"Ingat apa? Apa kita melakukan sesuatu semalam?" tanya Lyla tiba-tiba saja takut sehingga menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya, seperti itu lah."
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Lyla lagi.
Morgan memakai kaosnya dengan santai di hadapan Lyla.
"Semalam kau mabuk. Ingat?"
"Iya ... entahlah, aku sedikit lupa. Yang aku ingat semalam di pesta kau berbicara dengan Renee."
"Setelah itu?"
"Aku tidak tahu," ucap Lyla.
Morgan akan memakai celananya, tapi dia berhenti karena ada Lyla di sana.
"Semalam kau mabuk, aku yang membawamu pulang."
"Lalu, kenapa aku ada di kamarmu?" tanya Lyla penasaran, dia juga tidak berani menatap Morgan yang masih belum mengenakan pakaian.
"Kau tidak bisa aku bangunkan, dan aku lelah. Jadi, aku membawamu ke kamar ini," tutur Morgan. Lyla merasa tidak percaya dengan ucapan Morgan.
"Kau yakin hanya itu saja?"
"Hem, ya."
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan pakaianku?" tanya Lyla.
"Asisten yang menggantikannya."
"Kau tidak bohong, kan?"
"Bohong?" tanya Morgan. Lyla menatap mata Morgan yang menatapnya tajam, senyum tersungging di sudut bibir laki-laki itu. Morgan tiba-tiba saja maju dan membuat Lyla mundur beberapa langkah hingga kemudian punggungnya terbentur di dinding.
"Kalau aku yang menggantikan pakaianmu, apakah kau yakin aku akan menggantikannya dengan piyama? Kenapa aku mau memakaikannya? Bukankah itu sangat membuatku repot? Bukankah lebih enak jika kau tidak berpakaian saja?" ujar Morgan.
Lyla membuang pandangannya ke arah lain, tatapan dari Morgan membuatnya mati kutu. Benar juga apa yang dikatakan oleh laki-laki ini, akan lebih mudah jika tidak digantikan saja, atau mungkin dibiarkan tel*njang.
"Oh, ya sudah kalau memang seperti itu adanya. Tapi ... aku ingin bertanya lagi satu hal kepadamu," ucap Lyla.
"Apa? Sebanyak apa pun yang kau tanyakan aku pasti akan menjawabnya," ucap Morgan sambil tersenyum karena melihat wajah Lyla yang mulai memerah.
"Kenapa kita ada di sofa yang sama? Apa kau berniat untuk menggangguku?" tanya Lyla.
"Mengganggumu bagaimana?"
"Anu ... kau menidurkanku di sofa, lalu kau juga ikut tidur di sofa," ucap Lyla dengan lirih. Dadanya berdebar dengan sangat kencang memikirkan sesuatu hal yang memalukan. Bagaimana jika dia mengorok? Bagaimana jika dia mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya ketika tidur semalam?
"Kau salah. Aku menidurkanmu di atas ranjang, tapi kau yang pindah ke sofa dan tidur di sini." Morgan menepuk dadanya yang bidang.
"Apa? Tidak mungkin," ucap Lyla menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak percaya? Kau bisa tanyakan itu pada ibu gadis pelayan."
Lyla masih terdiam tidak percaya dengan apa yang Morgan katakan. Terutama dia masih mencari-cari kebenaran dari kata-kata Morgan tadi.
"Sekarang pergilah, aku akan memakai pakaian. Atau, kau akan membantuku memakainya?" ujar Morgan sambil mengangkat celananya sedikit tinggi sehingga Lyla bisa melihatnya dengan jelas.
Lyla tersadar dan menggelengkan kepalanya.
"T-tidak, terima kasih. Aku akan mandi saja dan bersiap untuk pergi ke universitas," ucap Lyla tersenyum meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih nan rapi.
Baru saja Lyla akan melangkahkan kakinya dari sana, tangannya ditarik oleh Morgan.
"Kau melupakan sesuatu," ujar Morgan.
"Apa?" tanya Lyla tidak mengerti.
Morgan tiba-tiba saja mendekat dan menarik kepala Lyla, dengan tanpa basa basi laki-laki itu mencium bibir Lyla, mel*mat, menggigit bibirnya, sedikit sehingga Lyla meringis dan membuka mulutnya. Morgan langsung mel*sakkan lidahnya ke dalam sana. Hal itu membuat Lyla menjadi syok.
__ADS_1