Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
219


__ADS_3

"Aku juga ingin memiliki anakku sendiri. Apa kau tidak tahu bagaimana aku melihat orang lain yang sedang mengandung dan menggendong anaknya? Aku iri, Robinson!" Mata Selvi basah, menatap Robinson dengan penuh kekecewaan.


"Kalau begitu, aku bersedia hidup hanya denganmu. Kita tinggalkan kota ini, biar kita hidup berdua di pulau. Aku tidak ingin mengambil resiko jika kehamilan membuatmu ada di dalam bahaya!" cecar Robinson. Perihal anak, Robinson juga mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Selvi, tapi dia sungguh tidak ingin kehilangan Selvi apa pun yang terjadi.


"Kau tidak mengerti, Robinson. Andai aku mati sekalipun, asalkan aku bisa melahirkan keturunan untukmu, aku tidak apa-apa. Aku juga ingin memberikan hal yang berharga untukmu." Selvi menangis lagi, tersedu sambil menutupi wajahnya, membiarkan air mata merembes dari celah di tangan.


Robinson segera mengambil Selvi ke dalam pelukan, mengelus punggung wanitanya dengan sayang.


"Kau lah yang berharga. Lebih dari apa pun, kau yang sangat berharga untukku. Aku tidak pernah menuntut soal anak, jadi jangan kau pikirkan hal itu. Andai kau mau memiliki bayi, ayo kita pergi ke panti asuhan untuk mengambilnya. Kita adopsi anak sebanyak yang kau mau."


Selvi menggelengkan kepala. Dia tetap Ingin darah dagingnya sendiri.


"Aku ingin dia memiliki wajah sepertimu."


"Dengan mengorbankan kesehatanmu? Tidak!" tolak Robinson.


"Kalau begitu cari ibu penggantimu biarkan dia mengandung anak kita."


Robinson tersentak, mendorong tubuh istrinya dan menatap Selvi, tidak menyangka jika wanita itu akan memiliki ide gila seperti itu.


"Jangan konyol! Kau memang gila!" baru kali ini Robinson mendengar kegilaan istrinya. Meski memang Selvi bukan orang kebanyakan dan seringkali berbuat kejam terhadap lawannya, tapi kali ini adalah hal gila yang bahkan Robinson sekalipun tidak bisa menyangkanya.


Selvi kembali menangis, dia memang konyol, dia memang gila. Akan tetapi, memang hanya itu yang ada di dalam pikirannya.


"Lebih baik kau diam dan mendinginkan otakmu! Aku tidak mau mendengarnya lagi di masa depan!" Robinson kemudian pergi meninggalkan Selvi yang masih menangis.

__ADS_1


Lyla melihat Robinson keluar dari kamar dengan keadaan wajah yang marah.


"Ada apa, Ayah?"


Lyla menyikut perut suaminya dan memberinya tatapan yang tajam.


"Kenapa kau bertanya!" Lyla mendesis kesal.


"Tidak apa-apa." Hanya itu yang Robinson ucapkan kemudian pergi dari sana dengan langkah yang lebar.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau seperti tidak mengenali ayahmu!" ujar Lyla.


"Sakit. Aku hanya mencoba memberi perhatian. Apa salah aku bertanya?" ucap Morgan sambil mengusap perutnya yang sakit.


Lyla memutar bola matanya malas. "Biarkan ayah sendiri dulu."


"Hati-hati. Ada apa?" tanya Morgan dengan cepat.


"Perutku sakit, Morgan."


Tiba-tiba saja sesuatu basah di bawah tubuh Lyla, mengalir dan membuat lantai menjadi basah.


"Sayang, kau basah. Apakah ini ketuban?" Morgan menjadi panik melompat untuk meraih Lyla.


"Sepertinya begitu. Apa aku akan melahirkan?" Wajah Lyla sudah pucat.

__ADS_1


"Tunggu di sini." Morgan pergi dan menggedor pintu kamar Selvi, tak lama wanita itu keluar setelah sebelumnya mengusap air matanya.


"Tolong, apakah Lyla akan melahirkan?" Morgan menunjuk Lyla yang kini sudah turun duduk di lantai.


Selvi segera berlari dan melihat keadaan Lyla.


"Ini ketuban. Bawa dia ke rumah sakit!" seru Selvi, dengan segera Morgan mengangkat tubuh Lyla dan menggendongnya di depan, sedikit susah payah, langkah Morgan berat karena bentuk tubuhnya yang sudah tidak seperti dulu. Apa lagi Morgan sudah jarang berolah raga sekarang.


Mobil keluar dari pelataran mansion, dengan kecepatan penuh Morgan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Tak lupa Selvi menghubungi Rachel yang kebetulan malam ini sedang bertugas jaga malam di sana.


Pelayan di rumah langsung mengetuk pintu ruang kerja Robinson dan melaporkan kejadian barusan, sontak Robinson terkejut dan segera mengambil mobilnya.


Panggilan terhubung kepada Morgan, ponselnya ada di tangan Selvi, dan istrinya lah yang mengangkat panggilan tersebut. Robinson menghela napasnya lega saat mendengar jika mereka hampir sampai di rumah sakit.


Di rumah sakit, Rachel sudah menunggu dengan beberapa orang perawat lain, membantu saat Lyla dikeluarkan dari mobil.


"Ketuban pecah pada pukul 20.37. Segera kosongkan ruangan untuk pemeriksaan!" lapor dan perintah Selvi, Rachel menanggapi dengan anggukkan kepala dan memberi perintah kepada yang lain. Brankar didorong hingga ke ruangan pemeriksaan.


Selama perjalanan menuju ruangan IGD, Morgan tidak melepaskan pegangannya pada tangan Lyla.


"Tolong tunggu di luar." Rachel menahan Morgan yang ingin ikut masuk.


"Tapi—"


"Aku akan menanganinya sebaik mungkin. Tunggu di sini." Perintah Rachel lagi, kemudian menutup pintu ruangan UGD. Rachel dibantu oleh Selvi menangani Lyla.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Jangan takut," ucap Rachel mencoba menenangkan Lyla. Rachel segera memeriksa. "Kau siap untuk melahirkan malam ini? Ini sudah pembukaan empat." Senyum Rachel mengembang, mencoba untuk membuat tenang pasiennya.


__ADS_2