
Lian terkejut saat Gerald menariknya ke dalam kamar. Dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi tentu saja tenaganya kalah jauh dengan tenaga Gerald yang mempunyai tubuh tinggi besar.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Ku mohon lepaskan aku!" teriak Lian sambil mencoba untuk melepaskan diri dari laki-laki itu. Akan tetapi, Gerald tidak berbicara sama sekali masih saja menarik Lian semakin dalam ke kamarnya.
"Tuan, aku mohon jangan lecehkan aku! Kau tidak mau ibuku mengutukmu bukan?" Mohon gadis itu sangat takut. Dia tidak mau nasibnya sama seperti Lyla yang harus hilang keperawanan oleh majikannya.
Gerald tidak mendengarkan, dia masih terus menarik Lian hingga masuk ke dalam kamar mandi.
"Siapa yang akan melecehkanmu?" tanya Gerald sambil melepaskan kerah baju belakang Lian. "Kau pikir aku suka dengan gadis kecil sepertimu?" ucap laki-laki itu lalu menuju ke arah tumpukan pakaian yang ada di sana.
"Kau lupa untuk membawa pakaian kotorku. Lihat di sana sudah menumpuk!" ucap laki-laki itu.
Lian hanya melongo saja dan juga malu. Dia sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap majikannya ini. Bagaimana bisa dia mengira jika Gerald akan melecehkannya? Dia lupa jika Gerald bukanlah Tuan Morgan yang dengan seenaknya mengganggu orang lain.
"Oh pakaian kotor ya? Aku kira---"
"Kau kira apa?" tanya Gerald menatap sinis. Lian tersenyum meringis dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak ada. Maafkan aku salah berpikir." Gerald menatap Lian dengan tatapan malas. "Hehe. Kalau begitu aku akan membawanya ke belakang."
Lian segera mengambil baju-baju yang telah menumpuk itu dan memasukkannya ke dalam ember, masih sambil tersenyum malu karena pemikirannya tadi. Wajahnya kini sudah memerah.
"Lain kali jika membersihkan kamarku lakukan dengan baik. Jangan sampai ada yang tertinggal," ucap laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Lian di dalam kamar mandi tersebut.
Sungguh Lian malu dengan keadaan yang seperti itu. Dia terkejut karena mendapatkan gerakan Gerald yang tiba-tiba saja menariknya ke dalam kamar.
"Ha, bagaimana besok aku akan bertemu dengan dia? Aku malu karena sudah salah paham," ucap Lian sambil menampar pipinya sendiri. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian keluar dari kamar mandi dengan cepat.
"Tuan aku sudah---" Lian terdiam, terpana dengan apa yang dia lihat di dalam kamar itu. Gerald tengah membuka pakaiannya sehingga memperlihatkan otot-otot perutnya yang sangat indah. Bak roti sobek menggemaskan di mata Lian.
"Bawa ini sekalian," ucap Gerald kemudian melemparkan pakaian yang baru saja dia lepas tepat mengenai wajah Lian.
"Baik," jawab Lian singkat kemudian pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
"Ya ampun, kenapa dia mempunyai otot yang sempurna seperti itu? Ah, rasanya aku mau sarapan roti sobek besok," gumam gadis itu sambil berlalu dari sana dengan langkah yang cepat.
Dari arah dapur mendekat sang ibu kepada anaknya.
__ADS_1
"Ada apa kau tadi berteriak-teriak?" tanya ibunya khawatir.
"Eh tidak ada. Aku tadi bertemu dengan kecoa," dusta gadis kecil itu. Dia tidak ingin mengatakan hal yang sesungguhnya karena bisa jadi jika sang ibu akan memarahinya karena pikiran kotornya yang tadi.
"Aku akan membawa ini ke belakang." Lian dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah ruang laundry.
"Ah, ada-ada saja anak itu. Membuatku khawatir saja!"
Sementara di tempat lain Morgan dan Lyla baru saja sampai ke suatu tempat. Dia mengambil masker yang ada di dashboardnya.
"Kita mau apa ke sini?" tanya Lyla kepada Morgan. Laki-laki itu sedang sibuk berkaca pada spion yang ada di depannya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Morgan itu kepada Lyla, seraya memasang topi berwarna putih pada kepalanya.
"Eh, apa?" Lyla menjadi bingung.
"Aku bertanya, bagaimana penampilanku? Apa masih terlihat mencolok?" tanyanya sekali lagi.
Lyla menjadi bingung dengan apa yang dimaksud Morgan. Dia melihat penampilan Morgan dengan Hoodie berwarna hitam ber-zipper di depannya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Tuan."
"Kau tidak terlalu mencolok, tidak apa-apa. Mereka tidak akan mengenalimu," ucap Lyla.
Morgan kemudian turun dari mobil dan membuka pintu di samping Lyla. "Turun!" perintahnya. Lyla menurut saja.
"Kita mau apa ke sini, Tuan?"
"Untuk membeli sesuatu," jawab Morgan.
Kedua orang itu masuk ke dalam lift dari lantai basement. Mereka hanya berdua saja, hingga akhirnya pada lantai pertama, ada beberapa orang yang masuk ke dalam sana.
"Permisi, Nona," ucap salah seorang pemuda yang masuk ke dalam sana, kemudian disusul oleh dua temannya yang lain.
Lyla merapatkan dirinya ke arah dinding, sedikit menjauh dari para pemuda itu sehingga lengannya menempel pada Morgan. Lift kembali berjalan naik. Lyla merasa tidak nyaman saat ketiga pria itu menatapnya dan saling berbisik kepada temannya yang lain. Memang mereka tidak berbicara, tapi tatapan dan senyuman mereka membuat Lyla menjadi takut.
Morgan melirik ke arah Lyla, wanita itu mengkerut seperti seekor marmut yang takut ditangkap oleh seekor kucing.
__ADS_1
"Sayang. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Morgan menggenggam tangan Lyla. Wanita itu tentu saja terkejut, siapa yang Morgan maksud dengan sayang? Akan tetapi, masa iya ucapannya itu ditujukan kepada tiga laki-laki itu?
"Eh, apa?" Lyla gelagapan.
"Aku merasa bersalah karena tidak bicara denganmu. Aku tidak sengaja mematahkan tangan Robert tiga hari yang lalu."
Lyla merasa bingung apa yang dimaksud oleh Morgan.
"Aku tidak terima dia menyentuh tanganmu waktu itu. Aku marah karena aku cemburu. Aku pikir tidak akan separah itu, ternyata tangannya patah padahal aku hanya memukulnya satu kali."
Ketiga pemuda yang ada di sana menatap Morgan dengan terperangah, serentak mereka menggeserkan dirinya menjauh dari Lyla.
"Kau tahu, Sayang. Aku juga sebal dengan teman Robert. Dia berani menatapmu terang-terangan, bahkan saat kau sedang bersama denganku. Rasanya aku ingin mencongkel mata mereka dan menjadikannya teman makan mie, dicampur dengan saus dan sambal yang banyak," ucapkan dengan nada yang kesal.
Para pemuda itu menelan ludahnya dengan susah payah, membayangkan makan mie instan dengan biji bola mata membuat mereka mual. Mereka saling bersenggolan satu sama lain. Salah satu dari mereka merambat berjalan ke dinding menuju ke tombol-tombol yang ada di lift.
"Pe-permisi, Tuan. Kami Ingin turun di lantai selanjutnya," ucap salah satu pemuda tersebut sambil meraba-raba tombol yang sebenarnya masih jauh dari jangkauannya.
"Oh, kalian tidak ingin menonton film? Aku pikir kalian ingin ke lantai atas," tanya Morgan kepada pemuda tersebut yang dijawab dengan gelengan kepala cepat darinya.
"Ti-tidak. Kami akan pergi dulu ke tempat lain. Silakan ada nikmati waktu Anda berdua," ucap pemuda tersebut. Setelah lift berhenti dan pintunya terbuka, gegas mereka berjalan dengan cepat meninggalkan Lyla dan Morgan di dalam lift tersebut. Pintu itu kembali tertutup.
"Cih, dasar mata keranjang! Aku heran dengan mereka, kenapa tidak bisa menjaga mata mereka dengan baik?" gumam Morgan yang terdengar jelas di telinga Lyla. Dia melepaskan masker dari wajahnya, mengambil satu lembar tisu dari saku baju dan menempelkannya di masker tersebut.
"Pakai ini."
"Eh, ada apa ini?" tanya Lyla yang tidak menyangka jika Morgan akan memasangkan masker tersebut kepadanya.
"Jaga dirimu dari pandangan orang-orang. Para laki-laki itu mata keranjang. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya," ucap Morgan sambil kembali menggenggam tangan Lyla dengan erat.
...****************...
...Boleh nggak sih bucin sama tokoh sendiri?😍...
...Astaghfirullahaladzim, siap-siap dikejar para readers ini!...
__ADS_1
Jiaaahhh. Panik nggak? Panik nggak?!!