
Di bawah sinar bulan dan banyaknya bintang yang berkelap kelip, Alex mencium Jane dengan lembut. Kelembutan yang diberikan oleh Alex membuat Jane merasa berada di awang-awang. Angin dingin yang menerpa tidak Jane pedulikan, yang Jane tahu sekarang ini adalah kehangatan dan perasaan yang menggebu di dalam hatinya.
Tiba-tiba saja Alex menjauhkan wajahnya dari Jane.
“Jane, ada yang gawat.”
Jane bingung. “Gawat apa?”
“Sesuatu di tubuhku bereaksi.”
Belum juga Jane bertanya lagi, Alex menarik tangan Jane dan membawanya pergi ke dalam tenda.
“Alex—“
“Jane.” Alex mendorong tubuh Jane sehingga tersudut ke tenda. Lampu yang masih menyala membuat bayangan kedua orang di dalam tenda itu bisa terlihat dengan jelas dari luar.
“Apa yang kalian lihat? Tutup mata dan telinga kalian!” perintah seorang pria kepada bawahannya karena mereka bisa melihat bayangan itu meski dari kejauhan. Semua orang yang ada di sana berbalik dan menutup telinga mereka.
Jane terkejut akan perlakuan Alex, terutama karena dia takut jika tenda mereka roboh. Akan tetapi, perlakuan Alex kemudian membuat Jane melupakan hal itu.
Alex sudah tidak tahan lagi, semenjak malam kegagalan mereka, pikiran Alex menjadi tidak menentu dan Alex menginginkan Jane sekarang ini.
Tangan Alex membuka pakaiannya, kemudian membuka dengan tidak sabar pakaian Jane.
“Alex, tolong matikan lampunya. Aku tidak mau sampai terlihat oleh orang lain.”
Alex segera mematikan lampunya, sehingga kini di dalam tenda itu hanya bayangan Jane saja yang terlihat.
“Apakah ini masih belum gelap?” tanya Alex. Jane menggelengkan kepalanya. Sudah tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, kan?
Jane mulai berbaring, menarik tangan Alex sehingga pria itu berada di atasnya. Kasur lipat yang telah dibawa oleh bawahannya menjadi tempat tidur ternyaman mereka saat ini. Suasana begitu dingin, tapi kulit dua orang itu yang menempel membuat keduanya menjadi hangat.
“Bolehkah aku memulainya?” tanya Alex meminta izin.
“Lakukan saja, Alex.” Jane benar-benar siap sekarang, mengabaikan rasa lelah siang tadi setelah perjalanan jauh ke puncak gunung ini.
Alex memulai, mencium bibir Jane dan kemudian ke lehernya. Tubuh Jane memanas, melengkung ke atas karena deburan ombak yang ada di dalam tubuhnya.
Ciuman Alex semakin turun ke bawah menuju dua buah kenyal bak squishy saat Alex genggam. Memainkannya di tangannya dan tidak lupa menggigit ujungnya dan mengisapnya serta menjilatnya bak permen.
“Ah, Alex.” Jane meremat rambut Alex, tidak sadar jika menekan kepala pria itu dan membuat ciumannya semakin dalam. Sesuatu bergelenyar di tubuh Jane dan membuat miliknya menjadi basah. Alex meninggalkan bekas berwarna merah di sekitaran sana.
Alex melancarkan kembali serangannya semakin ke bawah, kali ini menuju pusar Jane dan dengan gerakan memutar. Jane kembali melengkungkan tubuhnya bak busur panah, rasanya geli dan dia tidak bisa berhenti mengeluarkan suara halus nan meresahkan di telinga Alex.
“Akh!” Mata Jane membulat saat tangan Alex bermain di pusat intinya, memainkan sesuatu yang menonjol kecil di antara celah yang belum pernah terjamah oleh orang lain. Berputar, menarik, dan sedikit elusan yang membuat ribuan volt sengatan listrik mengenai tubuh Jane sehingga Jane tidak bisa lagi berpikir.
“Alex, tolong!”
Alex kembali bergerak turun, membuka kedua lutut Jane dan menjulurkan lidahnya di sana. Bak es krim, Alex menikmati makan malam yang menggoda dan penuh selera ini.
“Akh. Alex—“ Jane tidak bisa lagi berbicara, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Semua hal yang ada di otaknya mendadak kosong sekarang dan yang dia pikirkan adalah perlakuan Alex kepadanya. Apa yang Alex berikan adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Ummm. Emmm.” Alex terus memutar lidahnya di celah itu, sesekali menggigit lembut dan menarik kacang yang ada di sana. Juga di inti kenikmatan milik Jane, lidah Alex menyapu, mengusap, dan masuk keluar di sana.
Jane kelojotan penuh kenikmatan. Tangannya mencengkeram selimut dan pinggulnya bergerak tidak karuan. Rasa geli dan nikmat yang tiada tara di bawah sana. Jane merasa sesuatu hendak keluar dari sana.
“Alex, hentikan. Aku tidak tahan. Aku butuh ke kamar mandi.”
Jane mendorong kepala Alex, tapi pria itu mencengkeram kedua pergelangan tangan Jane dan menahan pergerakan wanita itu, lidahnya kembali menyapu dengan liar di bawah sana masuk keluar membuat geli nikmat, hingga akhirnya Jane tidak bisa menahan lagi apa yang dia rasakan.
“Alex, aku pipis.” Jane menjadi malu sekaligus kesal karena Alex, tapi Alex tidak berhenti, malah menyedot cairan yang keluar dari sana.
“Alex, hentikan!” teriak Jane akhirnya.
__ADS_1
Alex mengangkat wajahnya dan menatap Jane.
“Apa yang kau lakukan? Kau—“
“Kau tidak pipis, Sayang. Apakah aku harus menjelaskannya dengan sebuah materi penjelasan?”
“Lalu itu apa?”
Alex tertawa kecil, tapi sebelum Jane bangkit dia segera menindih wanita itu dan memerangkapnya di bawah tubuh polosnya.
“Itu adalah awal dari kenikmatan. Jangan lagi menjadi wanita yang polos, Jane. Kau sudah akan menjadi wanita dewasa malam ini.”
Alex tidak membiarkan Jane untuk berbicara lagi dengan mencium bibirnya dan memainkan lidah dengan lincah di dalam rongga mulut Jane, hingga akhirnya Alex mengarahkan miliknya ke tempat terpenting milik Jane yang belum tersentuh sama sekali.
Blessh.
“Akh—“ Jane langsung menutup mulutnya saat menyadari jika dia hampir saja mengatakan sakit. Jane menutup matanya agar tidak lagi menangis seperti malam itu, tapi kemudian Alex mengecup mata wanita itu kiri dan kanan.
“Aku akan melakukannya dengan pelan,” bisik Alex lembut di telinga Jane. Perlahan Jane membuka matanya dan menatap Alex yang sedang berada di atasnya, tersenyum dan tatapan itu lembut sekali.
“Tolong lakukan malam ini juga. Hamili aku, Suamiku,” ucap Jane dengan menahan air matanya. “Abaikan jika aku menangis. Ini adalah keputusanku untuk menyerahkan hidupku padamu.”
Alex tersenyum dan mencium bibir Jane lembut, kemudian mulai bergerak dan membuat ujung miliknya yang besar perlahan bergerak masuk.
Satu kali dorongan, Alex menahan rasa ngilu pada miliknya. Penghalang di dalam sana sulit untuk Alex tembus.
“Terus lakukan, Alex.” Jane memohon sambil memeluk Alex, mengabaikan kulitnya yang seakan dirobek saat benda itu mendesak masuk.
Alex bergerak pelan untuk kedua kali, tapi dengan gerakan mendorong. Jane memeluk Alex erat dan tanpa sadar menancapkan kukunya yang panjang di punggung Alex.
“Akh. Ouh.” Jane sampai menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan kalimat kesakitan.
Alex sempat berhenti, tapi Jane memintanya untuk lanjut bergerak.
“Arggh. Ini terlalu sulit, Jane.” Alex melirik Jane dan tidak tega, meski di kegelapan malam, tapi Alex bisa melihat wajah Jane yang merah dan kesakitan.
“Tolong lanjutkan saja. Atau, aku akan berubah pikiran dan tidak akan pernah memintamu lagi. Aku akan meminta orang lain untuk melakukannya dan kau akan menjadi yang kedua setelah itu!” Nada suara Jane terdengar kesal, tapi dia tidak akan bercanda dengan apa yang dia katakan barusan.
Tentu saja Alex tidak mau jika hal itu terjadi. Menjadi yang kedua? Oh, bahkan dia dan Jane sedang ada di dalam kondisi tidak berbusana sekarang ini.
“Akhh!” Jane berteriak saat Alex mendorong miliknya lagi keras seakan marah mendengar ucapan Jane tadi. Rasa perih, sakit, menusuk-nusuk di dalam tubuhnya seiring bergeraknya milik Alex yang keluar masuk.
“Ah, ini ... sempit sekali. Tolong bersabar sebentar,” pinta Alex lalu satu dorongan keras kembali dilakukan. Alex sudah tidak peduli dengan raungan Jane yang mulai meracau mengatakan sakit. Alex tidak mau ada orang lain yang memasuki tubuh istrinya untuk pertama kali.
“Alex ini sakit!”
“Akan lebih sakit lagi jika kau bersama orang lain, Jane. Aku tidak mau kau bermain bersama pria lain.”
Antara amarah dan napsu, Alex menusuk lagi dan lagi. Jane hanya bisa menahan kesakitannya dan menggigit bahu Alex, tapi di dalam hati dia senang karena Alex akhirnya tidak lagi melepaskan dia. Ucapannya tadi hanya lah sebagai pancingan agar Alex melakukannya dengan segera.
“Ah, Jane. Ini nikmat sekali.”
Ada rasa sakit, tapi lebih kepada nikmat saat milik Jane seakan memijat miliknya di dalam sana.
“Jane, ah ....”
“Alex.” Jane masih memeluk Alex, menutup matanya, dan menahan kesakitan itu. Tubuh bawahnya dikoyak berkali-kali dan terasa perih.
Hingga akhirnya, setelah beberapa kali berusaha masuk dan keluar, Alex menghentak dengan keras dan semakin dalam.
“Akh. Sakit!” Teriakan terakhir Jane menggema di gunung itu, membuat pengawal mereka berdiri gelisah di tempatnya. Sudah mereka duga, akan ada hal yang seperti ini mengingat yang mereka kawal adalah pasangan suami istri, tapi tidak mereka duga jika Jane masih kesakitan setelah sekian lamanya mereka menikah.
“Aku penasaran, bagaimana dia memperlakukan Nona Jane sampai Nona berteriak kesakitan. Padahal mereka sudah enam bulan menikah.”
__ADS_1
“Aku yakin jika itu bukan urusanmu. Berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak. Segera cari seorang wanita setelah kita turun dari sini. Aku dengar, wanita Indonesia itu nikmat meskipun sudah memiliki banyak anak sekalipun.”
“Sakit. Ah ... ouhhh ... Alex. Tolong perlahan.”
Alex yang mendengar itu memelankan laju gerakan pinggulnya dan menatap sang istri. Peluh sudah menetes di kening Jane akibat permainan mereka, padahal mereka baru saja melakukannya.
“Kita berhasil. Setelah ini kau akan merasakan kenikmatannya,” ucap Alex. Jane mengangguk dan mendapatkan perlakuan Alex yang mengecup kedua matanya silih berganti, peluh yang ada di kening Jane diusap oleh Alex dengan telapak tangannya.
Perlahan Alex bergerak kembali, Jane merasakan perih, tapi semakin lama rasa perih itu berubah. Jane mulai menikmati perlakuan suaminya.
“Alex.”
“Iya, Jane.”
“Bisakah bergerak lebih cepat?” pinta Jane.
“Dengan senang hati, Honey.” Alex mencium bibir Jane, seketika pagutan bibir mereka beradu dan lidah mereka membelit satu sama lain, saling mengecap, saling merasakan. Pinggul Alex bergerak dari ritme lambat kemudian menjadi cepat.
“Alex, ouh. Ah ....”
Mata Jane terpejam, mulutnya terbuka lebar. Rasa itu sangat nikmat sekali. Jane tidak lagi kedinginan, justru sekarang hawa panas yang dia rasakan saat ini.
Tubuh Alex terus bergerak seiring lagu malam yang diciptakan oleh suara hewan malan di sekitar mereka. Naik dan turun, selimut yang tadi menutupi tubuh mereka sudah tidak terpasang lagi di punggung Alex. Bayangan dari luar tenda mereka jelas terlihat saat Alex naik dan turun.
“Jane, kau nikmat sekali. Aku tidak pernah ... ah. Kau ....”
“Jangan banyak bicara, Alex. Lakukan lebih cepat!” seru Jane dan kemudian melenguhkan kenikmatan berkali-kali setelahnya.
Hempasan gelombang panas menerpa tubuh Jane lagi. Bagai ombak yang menggulungnya berkali-kali, tapi ombak kenikmatan yang membuat Jane menginginkannya dan tidak ingin Alex berhenti.
“Alex, aku mau pipis lagi.”
“Keluarkan saja, Honey. Aku menunggu,” ucap Alex, tapi bukan berhenti, Alex semakin mempercepat genjotannya sehingga saat Jane merasa di dalam perutnya bergejolak semakin panas, Alex menghentak semakin dalam dan menekan pinggang istrinya.
“Akh!”
Kedua orang itu berteriak bersamaan saat Alex menembakkan cairan yang terasa panas di dalam tubuh Jane. Rasanya nikmat sekali saat sesuatu itu meledak di bawah sana.
“Jane. I love you,” ucap Alex akhirnya.
“Cintamu kau ucapkan setelah malam panas kita? Kau keterlaluan! Seakan kau jatuh cinta karena tubuhku,” ucap Jane melirik Alex.
“Tidak. Bukan begitu, karena aku lebih yakin lagi untuk mengatakannya setelah ini. Dan mulai saat ini, aku adalah suamimu dan orang yang akan menemani hidupmu sampai akhir hayatku,” tutur Alex.
Jane tersenyum dan memeluk Alex, tapi saat sesuatu meleleh di bawah tubuhnya, Jane melepaskan pelukan itu.
“Alex, ada yang basah di bawah sana.”
Alex tersenyum dan berkata, “Tenang saja. Itu adalah sesuatu yang akan menjadi anak-anak kita kelak."
Jane tidak lagi menghiraukan selimutnya yang basah, kembali memeluk suaminya dan perasaan cinta Jane semakin nyata untuk pria itu.
*
*
*
Uhuk!
Kabur ah ....
Lariiiii!!!
__ADS_1