
Lyla terkejut dengan apa yang Morgan lakukan, dia sontak mengalihkan tatapannya pada Morgan sehingga tak sengaja hidungnya menempel pada pipi Morgan.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Morgan tak sadar dengan tatapan Lyla.
"Ya, aku mengerti. Tapi, bisakah kau menjauhkan tanganmu? Aku sesak napas," ucap Lyla.
Morgan kini mengalihkan tatapannya dan merasa canggung, dia melepaskan tangannya yang melingkar pada leher Lyla.
"Oh, maafkan aku. Aku tak sengaja," ucap laki-laki itu salah tingkah, dia membuang wajahnya ke arah lain dan menghindari tatapan dari Lyla.
"Kau ... cepat masuklah ke dalam mobil. Aku juga harus pergi ke kantor setelah mengantarmu," ucap Morgan sambil mengusap lehernya yang mendadak kaku.
Lyla masuk ke dalam mobil Morgan, memegangi dadanya yang berdebar dengan cukup keras atas perlakuan laki-laki ini tadi.
Apa yang dia lakukan tadi? Gumam Lyla pelan. Dia akan merasa sangat canggung sekali setelah ini, dan benar saja saat Morgan masuk hawa di dalam mobil mendadak menjadi panas baginya.
"A-Anda tidak perlu mengantarku jika sedang sibuk, Tuan," ucap Lyla yang ingin menghindari Morgan.
"Aku tidak terlalu sibuk. Kau tidak mau aku antarkan?" tanya Morgan tidak suka.
"Ah, bukan begitu. Aku hanya tidak mau mengganggu pekerjaanmu, Tuan. Jika kau sangat sibuk aku bisa pergi dengan menggunakan bus atau taksi," ucap Lyla dengan cepat.
Morgan tidak menjawab, dia menyalakan mobilnya dan pergi dari rumah menuju ke universitas.
"Kau tidak akan tahu bagaimana sampai ke sana."
"Aku tahu, hanya tinggal pergi saja ke halte bus terdekat dan mencari jalan menuju ke sana," ucap Lyla lagi.
"Tidak. Kau tahu kau bisa terlambat jika pergi dengan menggunakan bus. Dari sini tidak cukup satu bus yang kau naiki," ucap Morgan semakin kesal. Lyla terlalu banyak bicara.
__ADS_1
"Oh, ya? Berapa kali aku harus naik bus?"
"Bisakah kau diam?" bentakMorgan. Lyla langsung terdiam mendengar kekesalan Morgan.
"Aku kan hanya bertanya saja. Kenapa juga kau harus membentakku?" rajuknya kesal.
"Maaf. Kau mengganggu konsentrasiku. Kau tidak perlu pergi dengan menggunakan bis, aku masih bisa mengantarmu. Jika pun aku tidak bisa mengantarmu pergi, akan ada sopir yang mengantar," ucap Morgan akhirnya.
"Lalu, kenapa aku tidak diantar sopir sekarang ini?"
"Karena aku masih bisa mengantarmu."
"Tapi kau kan sangat--"
"Lyla!" tegur Morgan. Lyla kini diam. "Diamlah, jika tidak aku akan menurunkanmu di sini," ucap Morgan tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan yang ada di depan.
"Iya, aku diam sekarang!" kesal Lyla.
Krruuuukkk!
Morgan mengalihkan kepalanya. "Suara apa itu?" tanya Morgan terkejut. Dia melihat Lyla yang kini memegangi perutnya sendiri. Lyla tersenyum malu.
"Itu suara perutku. Sepertinya karena aku belum makan," ucap Lyla malu.
"Kenapa tidak makan?"
"Karena aku terburu-buru turun dan kau sudah tidak ada di meja makan. Jadi, aku belum makan," ucap Lyla lirih.
Morgan tertegun mendengarnya. Memang tadi dia tidak menunggu Lyla karena perutnya yang sudah sangat lapar sekali.
__ADS_1
Morgan menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. "Turun dan belilah makanan," ucap Morgan.
Lyla hanya tertegun melihat mini market yang ada di depannya. "Tidak usah, aku akan makan nanti saja di sana," tolak Lyla.
Morgan keluar dari dalam mobil dan dengan cepat berputar, membuka pintu, dan menarik tangan Lyla dari sana.
"Aku tidak suka dibantah!" tegas Morgan. Terpaksa Lyla mengikuti langkah kaki Morgan masuk ke dalam mini market tersebut dan memilih roti untuknya.
"Aku sudah selesai," ucap Lyla saat ada di dekat Morgan yang tengah memilih kopi instan.
"Hanya itu?" Kening Morgan berkerut melihat Lyla yang hanya menyodorkan satu bungkus roti kecil padanya.
"Ya, ini cukup untukku," ucap Lyla.
"Aku tidak yakin." Dengan cepat Morgan menutup kulkas dan menarik tangan Lyla kembali pada deretan rak dengan banyak roti di sana.
"Aku tidak mau kau kelaparan." Morgan memasukkan beberapa roti ke keranjang yang baru saja dia ambil.
"Eh, itu terlalu banyak, Tuan!" seru Lyla saat melihat lebih dari lima roti yang Morgan ambil.
"Seharusnya kau sarapan terlebih dahulu. Bagaimana kau akan bisa berpikir jika perutmu lapar?" ujar Morgan tidak perduli. Dia juga mengambil beberapa kotak susu untuk Lyla.
"Tapi tidak sebanyak ini juga. Aku cukup makan satu roti dan satu kotak susu saja," ujar Lyla tak enak hati.
"Ingat aku tidak suka dibantah, Lyla!" tegas Morgan lagi.
Lyla pasrah, wajahnya cemberut mengikuti langkah kaki Morgan menuju ke arah kasir.
"Aku bisa gemuk makan itu semua," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Bagus jika kau gemuk. Kau akan terlihat lucu."