
Suasana di ruangan itu tampak sepi, hanya ada beberapa maid yang berlalu lalang masih mengerjakan tugasnya di malam ini. Lyla masih memperhatikan sekitarnya, terkagum dengan semua yang ada di sana. Sungguh megah tempat itu, sepertinya bukan milik seseorang yang biasa. Apa lagi dia punya banyak sekali anak buah.
"Apa makanan ini tidak berkenan untukmu, Nona?" tanya salah seorang maid datang menghampiri Lyla. Sangat sopan sekali berbicara sambil menundukkan tubuhnya.
"Tidak. Aku hanya sedang tidak ingin sesuatu. Kau bisa pergi," ucap Lyla. Maid tersebut mengundurkan diri, tapi tidak pergi terlalu jauh dan memperhatikan Lyla dari salah satu sudut ruangan.
Suara derap langkah kaki terdengar dengan sangat jelas memasuki ruangan, seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam ruangan itu ditemani oleh beberapa orang laki-laki berbaju hitam dengan perawakan yang tinggi. Langkah kakinya tenang, bibirnya melengkung sedikit melihat Lyla yang hanya diam menatapnya.
"Kau tidak makan?" tanya laki-laki itu tanpa memperkenalkan dirinya. Dia duduk dengan tenang di kursinya dan hanya menatap Lyla yang kebingungan.
Lyla tak tahu siapa laki-laki ini. Dia tampan, tubuhnya juga tinggi berisi, rambutnya sedikit panjang untuk ukuran orang-orang yang suka kerapihan. Jas yang dia kenakan sangat rapi dan tampak mahal, mata tajam bak elang, hidung bak perosotan, juga bibirnya merah. Orang lain akan mengira jika laki-laki ini mengenakan lipstik, mungkin saja karena kulit tubuhnya yang pucat.
"Tidak mau duduk?" tanya laki-laki itu. Lyla tidak menggubrisnya, hanya menatap laki-laki tersebut dengan tajam. Tangannya bersiap untuk mengambil pecahan guci yang ada di dalam sakunya.
"Siapa kau? Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Lyla tanpa basa basi.
Alex menatap Lyla, masih dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku."
__ADS_1
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Lyla lagi ingin tahu.
"Duduk lah dulu. Aku akan memberitahumu," ucap Alex. Lyla melirik beberapa laki-laki yang ada di belakang Alex tengah menatapnya dengan tajam, apa lagi seorang yang menemuinya tadi di dalam kamar. Sadar ke mana tatapan Lyla, Alex menggerakkan tangannya dan memberikan isyarat untuk mereka pergi. Pun dengan beberapa maid yang ada di sana. Mereka paham dengan isyarat itu bahwa sang majikan tidak mau ada siapa pun yang ada di ruangan ini.
"Kau bisa duduk? Rasanya aku tidak enak hati jika membiarkan tamu yang ada di rumahku tidak aku sambut dengan baik," ucap laki-laki itu seraya mengambil anggur yang ada di hadapannya.
"Katakan saja. Jangan bertele-tele," ucap Lyla. Alex mengangkat satu alisnya dan tertawa geli. Seorang wanita tengah berkata ketus kepadanya.
"Jika kau tidak mau duduk, aku tidak mau memaksamu," ucapnya. Alex tak peduli, dia malah menikmati beberapa potong buah-buahan yang tersedia di atas meja makan.
Lyla menunggu beberapa saat lamanya, tapi laki-laki itu malah menikmati makanan tersebut tanpa mau berbicara lagi. Lyla mengambil kursi dan duduk tiga kursi di depannya, menunggu hingga dia menelan makanannya dengan baik.
Lyla hanya diam.
"Kau tenang saja, Nona. Aku tidak menaruh racun di makanan ini," ucapnya, kemudian menarik sepiring makanan dari sana. Lyla hanya memperhatikan saja.
"Kasihan sekali koki di rumah ini, masakannya diabaikan oleh seseorang," ucapnya kemudian memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Lyla masih memperhatikan, melihat Alex makan dengan lahap dan tampak menikmati membuat Lyla merasa sangat lapar kini. Air yang tadi dia minum di kamar mandi rasanya sudah pergi entah ke mana.
Susah payah Lyla menahan dirinya, sulit menelan saliva yang serasa menggumpal di tenggorokannya.
__ADS_1
Alex melirik ke arah Lyla. "Kau tidak tertarik dengan makanan ini?" tanya Alex. Lyla mengalihkan tatapannya ke arah lain, tapi dia memegangi perutnya yang kini berontak.
Suara perut Lyla terdengar dengan jelas ke telinga Alex. Laki-laki tampan itu menghentikan makannya dan menyimpan sendoknya di atas piring.
"Makanlah. Jika kau pikir itu beracun, apakah aku mau memakannya?" tanya Alex yang sudah menebak apa yang Lyla pikirkan.
Lyla memang sangat lapar sekali, dia juga sudah tidak tahan, perutnya terasa perih.
'Benar juga, jika ini beracun, tidak mungkin kan dia memakannya?' gumam Lyla di dalam hatinya. Dia tak segan lagi untuk mengambil makanan yang ada di sana. Setidaknya, dia tidak akan mati dalam keadaan perut yang kosong.
Alex tersenyum dengan sangat puas melihat wanita yang ada di hadapannya ini sudah mau makan dengan tanpa malu-malu, meskipun sesekali Lyla meliriknya dengan tatapan tajam, tapi hal itu bukannya membuatnya ingin marah, justru lucu melihat pipi Lyla menggembung karena makanan.
"Tidak akan ada yang merebut makananmu. Makanlah dengan tenang," ucap Alex memperingatkan. Lyla tak peduli, sebelum laki-laki ini mengeluarkan tembakan padanya, dia akan makan saja banyak-banyak.
Tiba-tiba saja, Lyla teringat dengan Morgan setelah mendengarkan ucapan Alex barusan. Morgan juga sering berkata seperti itu padanya.
Alex memperhatikan, keningnya mengerut karena Lyla tak lagi lahap makan seperti tadi.
"Aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya," ucap Lyla. Sulit juga menghabiskan makanan dengan pikiran yang tertuju pada seseorang yang jauh di negara lain. Perutnya kini sudah terisi penuh, tak apa jika laki-laki itu akan menghabisinya sekarang juga. Jika dipikir tujuan hidupnya sangat sulit saja. Tidak lagi diingat oleh Morgan dan juga sangat sulit untuk menemukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Jika kau mau mengeksekusiku, setidaknya tutup mataku. Atau, paling tidak bawa aku ke ruangan yang sangat gelap," ucap Lyla pasrah.