
"Mana Tante Selvi?" tanya Morgan saat tidak melihat Selvi bersama dengan ayahnya.
"Ibumu sedang di ruangannya."
"Dia baik-baik saja kan?" tanya Morgan menyelidik.
"Iya, sebenarnya dia sedikit emosional. Tapi, tidak apa-apa. Dia baik-baik saja," ucap Robinson lagi.
Morgan sedikit tidak yakin, biasanya Selvi selalu menjadi orang yang sangat antusias jika di keadaan sekarang ini, tapi kenapa dia sekarang tidak ada?
Saat Morgan akan bertanya lagi, Rachel masuk ke ruangan dan membawa bayinya serta, menidurkan anak itu ke dalam box bayinya, sementara Lyla yang hanya dibius setengah badan dan sudah bisa menggerakkan tangannya tersenyum senang saat melihat wajah bayinya yang cantik.
"Bagaimana perasaanmu? Jika ada yang tidak nyaman, kau bisa mengatakannya kepadaku," ucap Rachel mendekat dan berbicara dengan Lyla.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih kau telah membantu persalinanku. Aku senang kami selamat," ucap Lyla.
"Itu sudah menjadi tugasku. Istirahatlah dulu, kau sudah sangat hebat hari ini. Biar bayimu bersama dengan ayahnya." Rachel tersenyum dan pergi ke tempat Robinson.
"Selamat, Ayah. Kau telah menjadi kakek sekarang." Rachel mengulurkan tangannya, tapi Robinson memeluk Rachel dan mengatakan terima kasih kepada putri angkatnya itu.
"Terima kasih. Kau wanita yang sangat hebat."
Rachel menjadi malu akan pujian yang dia dengar dari ayahnya. "Sudah seharusnya aku berguna untuk orang lain, Ayah."
"Jadi, kapan aku bisa mendapatkan cucu darimu? Sudah waktunya kau juga harus memikirkan dirimu sendiri."
Rachel hanya tersenyum dan akhirnya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang suka wanita penyakitan sepertiku, Ayah. Lagi pula, lebih baik aku sendiri saja dulu, aku lebih tidak ingin menyakiti hati seseorang yang mungkin saja akan sangat terluka jika aku pergi terlebih dahulu."
Tatapan mata Rachel menampakkan kesedihan yang mendalam. Robinson tidak ingin mendengar hal itu dari mulut putrinya sehingga dia menegurnya dengan cara mencubit hidung Rachel yang mancung.
"Justru kau harus mendapatkan kebahagiaanmu di kehidupan yang singkat ini. Kau ingat apa yang Dokter Arnold katakan? Sesuatu yang membuat bahagia, akan memanjangkan umurmu," ucap Robinson.
Rachel tertawa kecil dan mengangguk. "Jika Tuhan memberikan seseorang kepadaku, tentu saja aku tidak akan menolaknya, tapi aku akan mengingatkan dia untuk tidak memberikan aku cinta yang penuh. Dia juga harus menyisihkan separuh hatinya untuk wanita lain andai umurku tidak lagi lama nanti."
Robinson menghela napasnya. Rachel memang sudah pasrah dengan apa yang terjadi kepada hidupnya, tapi Robinson berjanji akan membahagiakan putrinya ini dengan baik hingga akhir hayatnya.
Saat pembahasan itu, tiba-tiba saja bayi itu menangis lagi. Suaranya keras membuat ruangan tersebut menjadi riuh. Morgan langsung sigap mendekat pada putrinya dan hendak menggendongnya, tapi dia kebingungan karena ini adalah pengalaman pertamanya menggendong bayi. Morgan takut jika dia grogi dan bisa-bisa putrinya itu terjatuh dari tangannya dan membuatnya terluka.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mengangkat putrimu?" ujar Alex marah. Alex tentu saja sangat peduli dengan keponakannya ini dan tidak ingin dia menangis lagi. Sementara itu Morgan terlihat kebingungan bagaimana caranya mengangkat putrinya.
Di dalam benak Morgan. 'Apakah aku harus menarik tangannya dan kemudian menggendongnya? Atau, aku harus memiringkannya terlebih dahulu?'
Morgan masih bingung, Alex menatapnya tidak suka dan menyingkirkan Morgan yang terdiam mematung, padahal putrinya itu sedang menangis kencang.
"Kau bisa membuat suaranya serak. Apa kau tidak bisa menggendong anakmu sendiri?" geram Alex kemudian menggendong perlahan keponakannya itu tanpa ragu. Bahkan Alex mengopernya dari tangan kanan ke tangan kiri dengan mudah, tapi membuat Morgan yang melihatnya menjadi ngeri.
"Hati-hati," ucap Morgan sambil menyangga bayi tersebut.
__ADS_1
"Heh, kau pikir aku laki-laki yang tidak bisa mengurus bayi? Jangankan putrimu, di masa lalu aku juga pernah menggendong istrimu seperti ini!" celetuk Alex dengan nada kesal. Morgan melirik ke arah Lyla, dan wanita itu hanya mengangkat bahunya saja. Jelas Lyla tidak ingat seperti apa dirinya di masa lalu dengan Alex karena dia masih bayi.
Alex membawa bayi itu menjauh, membuat Morgan kehilangan, tapi dia tidak bisa protes karena pastinya akan mendapatkan pelototan tajam dari laki-laki itu. Alex duduk di samping Jane yang tersenyum senang akan hadirnya bayi itu.
“Dia cantik sekali,” ucap Jane kagum. Dia ingin menggendong bayi itu, tapi ragu karena seumur hidupnya belum pernah mengendong bayi kecil.
“Kau mau menggendongnya?”
“Bolehkah?” tanya Jane antusias, tapi merasa takut jika dia membuat bayi itu tidak nyaman.
“Iya, tentu saja. Dia keponakanmu juga,” ucap Alex. Alex dengan hati-hati memindahkan bayi kecil itu ke pangkuan istrinya dan memberitahu Jane harus bagaimana.
Dada Jane bergemuruh, kini bayi kecil itu ada di atas pangkuannya. Mulutnya terbuka, matanya menatap Jane lalu berkedip pelan. Perasaan Jane makin tidak karuan, rasanya ingin membawa bayi kecil ini pulang. Tatapannya tidak dia alihkan ke lain tempat, terlalu terpukau dengan makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna ini.
Dua orang itu sedikit sibuk, melupakan orang lain yang ada di ruangan itu dan membuat Morgan menjadi iri. Bahkan, dia saja belum sempat menggendong anaknya untuk pertama kali. Selain Rachel, Alex dan Jane adalah orang kedua dan ketiga yang menggendong putrinya. Bukankah seharusnya dia dulu yang menggendongnya?
Robinson datang dan tertawa kecil serta menepuk bahu putranya. “Lebih baik kau belajar banyak kepada pamanmu, dia lebih berpengalaman mengurus bayi,” bisik Robinson yang mengetahui tatapan cemburu putranya. Lyla juga sama, melihat tatapan cemburu sang suami kepada paman dan istrinya tersebut.
“Morgan,” panggil Lyla. Morgan mengalihkan perhatiannya dari sang putri kepada istrinya.
“Iya. Apa kau butuh sesuatu?” tanya Morgan.
Lyla mengangguk. “Iya, aku ingin meminta tolong. Tolong naikkan ranjang ini sedikit saja,” pinta Lyla.
“Baiklah.”
“Morgan. Apa kau senang memiliki seorang putri?” tanya Lyla.
Morgan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Iya, tentu saja aku senang. Senang sekali. Kau wanita yang hebat. Kau telah menjadikanku seorang ayah dan seorang suami yang bahagia. Terima kasih, Sayang.”
Lyla melirik Jane dan Alex yang sedang bersama dengan putrinya. Kedua orang itu tampak sangat senang sekali.
“Jane, Uncle, kalian tidak menunda untuk mendapatkan momongan, kan?” selidik Lyla. Jane dan Alex terkesiap, saling menatap satu sama lain.
“Ti-tidak. Tentu saja tidak. Kami memang belum memiliknya saja,” ucap Alex dengan cepat.
“Iya, kami hanya belum memilikinya." Jane menambahkan.
"Iya, kebahagiaan kalian akan berambah dengan adanya seorang anak. Jangan ditunda,” timpal Robinson.
Alex dan Jane menjadi malu.
“Ngomong-omong, siapa nama anak pertama kalian? Apakah kalian sudah memberinya sebuah nama?" Robinson bertanya kepada Morgan dan Lila.
"Kami sudah memikirkannya sedari lama. Tiffany Allea Robinson," ucap Morgan dengan bangga.
__ADS_1
Robinson terharu karena ada namanya di belakang nama cucunya. Dia kira Morgan akan memberikan nama Castanov kepada putrinya itu, tapi ternyata Morgan dan Lyla memberikan nama Robinson untuknya.
"Paman, kemarilah. Kau tidak ingin menggendong cucumu?" Alex bertanya, membuat Morgan lagi-lagi menjadi cemburu.
Robinson tidak lagi mau menunggu, mendekat dan menggendong cucunya dengan sangat hati-hati. Robinson juga belum pernah menggendong seorang anak kecil termasuk Rachel yang dulu dia temukan saat gadis itu sudah remaja dan selama itu Rachel dijaga oleh seorang nanny.
"Dia cantik sekali," gumam Robinson, sepenggal ingatan yang ada di kepalanya, Robinson seakan melihat mata yang sama dengan Morgan yang juga memiliki mata seperti Sarah.
Jane ingin sekali berlama-lama di rumah sakit, tapi Tuan Pierre menghubungi dan menyuruh Jane dan Alex untuk datang ke kediamannya.
"Aku ingin sekali lama di sini, tapi kakek menyuruhku untuk datang." Jane dan Alex pamit kepada tiga orang dewasa itu, sekali lagi tatapan Jane tertuju ke pada Tiffany. Berat rasa hatinya berpisah dengan anak kecil itu, tapi Tuan Pierre memerintahkannya untuk segera datang.
"Iya, tidak apa-apa. Pergilah dulu, kalian bisa datang ke rumah kapan saja dan bertemu dengan Tiffany nanti."
"Tentu saja, Keponakanku. Dan aku tidak peduli andai ada seseorang yang akan mengusir kami. Aku akan tetap datang untuk menjenguk keponakanku." Alex melirik suami dari keponakannya.
Morgan tidak peduli, akan dia kunci semua pintu dan tidak akan membiarkan Alex masuk meski hanya bagian depan mobilnya saja.
'Enak saja dia ingin menguasai anakku juga!' batin Morgan.
"Siapa yang akan mengusirmu, Uncle? Tidak ada yang akan mengusirmu. Kau adalah keluarga kami, kan Morgan?"
Morgan hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan istrinya.
Alex dan Jane benar-benar pergi dari sana. Barulah Morgan bisa dekat dengan putrinya dan memangkunya, tentunya dengan bantuan dari Rachel.
"Putriku. Tidak akan aku serahkan kau kepada yang lain," gumam Morgan pelan.
"Kau bicara sesuatu, Sayang?" Lyla bertanya karena tidak mendengat jelas yang Morgan ucapkan.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memuji putriku yang cantik. Tentu saja cantik, kau adalah putri dari ibumu." Tiffany ditimang-timang, tapi tetap dengan hati-hati.
Hingga sampai di rumah, Jane dan Alex hanya diam saja semenjak pulang dari rumah sakit. Jane yang biasanya ceria hari ini sedikit murung entah kenapa.
"Jane, apakah kau punya masalah? Kau tidak ingin pergi ke rumah Kakek?" tanya Alex seraya menanggalkan jas mahalnya.
Jane melamun, tapi segera menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak berpikir demikian. Aku hanya memikirkan Tiffany."
Kening Alex mengerut. "Ada apa dengan Tiffany?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja dia bayi yang lucu."
Alex setuju dengan ucapan Jane, Tiffany memng bayi yang sangat cantik dan lucu, apa lagi saat tadi anak itu mengerjapkan matanya, seperti boneka cantik saja.
"Iya, dia memang bayi yang lucu." Alex mendekat ke arah Jane yang sedang mengambil pakaian. "Jadi, bagaimana kalau kita membuatnya berdua. Untuk kita sendiri?" bisik Alex di dekat telinga Jane.
Jane terkejut, refleks membalikkan tubuhnya dan mendapati jika Alex ada tepat di belakangnya.
__ADS_1
"A-Alex--"