Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
144


__ADS_3

Alex kira Lyla akan mau dia ajak pergi ke restoran, ternyata gadis itu menyuruhnya untuk berganti pakaian biasa, dengan jeans dan kaos, serta jaket. Juga dengan Lyla yang memakai pakaian yang sama seperti Alex, celana jeans dan kaos putih yang pas di tubuhnya yang mungil.


Mereka kini ada di sebuah tempat dengan banyak makanan di pinggir jalan. Truk makanan berjejer dari ujung sampai ke ujung jalanan.


"Kau yakin kita mau makan di sini?" tanya Alex menunjuk truk makanan yang ada di depannya.


"Yups! Aku bosan makanan mewah setiap hari. Kau harus coba semua makanan ini, Uncle!" seru Lyla menarik tangan Alex untuk mendekat dan memilih makanan yang lezat.


Alex enggan, tapi melihat semangat keponakannya yang menggebu membuat dia mengalah juga.


Melihat gambar yang dipasang di depan truk membuat Alex bergidik, sepertinya makanan itu terlihat pedas untuknya. Alex membayangkan perutnya yang akan mulas.


"Aku mau pesan ini. Tugasmu untuk membayar," ucap Lyla kemudian mendekat pada penjual dan memesan Burrito, hidangan yang terdiri dari tortilla dan bagian dalamnya berisi bermacam kacang-kacangan, daging, selada, nasi, keju, guacamole, dan lain-lain.


"Uncle, apa kau mau memesannya juga?" tanya Lyla dengan senang.

__ADS_1


Alex menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku akan membayarkan saja milikmu."


"Ha, tidak seru. Kau pernah makan ini?" tanya Lyla pada Alex. Alex menggelengkan kepalanya.


"Sudah aku duga. Kau selalu makan di rumah dan restoran besar, mana tahu makanan rakyat seperti ini," ucap Lyla saat menerima makanan tersebut.


Alex menyerahkan kartu dari dompetnya, tapi penjual itu menolak dengan alasan mesin EDC-nya sedang rusak. Alex tidak membawa uang cash di dompetnya.


"Lalu, bagaimana kita membayar ini?"


"Uncle. Jangan kau membuatku malu di sini," bisik Lyla.


Alex juga bingung apa yang harus dia lakukan, dia menghubungi seseorang dan tak lama orang kepercayaan Alex datang dan menyerahkan uang cash untuk Alex.

__ADS_1


"Kau mengajak mereka serta?" tanya Lyla pada orang yang baru saja pergi dari hadapan Alex.


"Iya, mereka selalu ada di sampingku untuk menjaga kita di sini."


"Oh, pantas saja aku meras familiar dengan wajah itu."


"Iya, aku tidak mau ambil resiko saat kita keluar dari rumah."


"Untung saja ada asistenmu, kalau tidak, kita harus menjadi pengamen untuk membayar ini," ucap Lyla sambil tersenyum kecil. Alex menurunkan rahangnya dan menatap sang keponakan yang mungkin sudah gila.


"Mengamen di jalanan, bukankah itu berarti mereka meminta-minta?" tanya Alex.


"Ya, apa lagi yang bisa kita lakukan jika terdesak seperti ini? Aku pernah mencobanya dulu. Dan itu menghasilkan uang dengan cukup banyak tanpa harus melakukan pekerjaan yang berat," ujar Lyla. Alex tidak percaya dengan hidup Lyla yang berat seperti itu.


"Kau serius pernah meminta-minta seperti ini?" tanya Alex.

__ADS_1


"Hem! Itu saat dulu, saat aku masih sekolah SMP. Tidak ada yang bisa aku makan di panti, sehingga kami para gadis meminta bantuan seperti itu sambil menenteng kotak dan meminta belas kasihan dari orang-orang yang ada di jalan," jawab Lyla.


Alex tersentuh mendengar cerita Lyla. Andai sedari dulu dia bisa berdiri sendiri, pastilah dia akan mencari Lyla dan membawanya pulang ke tempat ini.


__ADS_2