Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
224


__ADS_3

“Apa maksudmu?” tanya Jane bingung.


“Apa kau tidak mengerti? Ayo kita buat kakak untuk Tiffany. Aku yakin dia akan sangat senang jika memiliki saudara yang bisa menemaninya bermain. Dan kita tidak akan merasa iri jika memilikinya sendiri.”


“Hah? Memiliki—“


“Iya. Memilikinya sendiri. Apa kau masih belum mengerti juga?” tanya Alex gemas. Melihat wajah Jane yang seperti orang bingung membuat pria itu ingin menggigit pipi Jane. “Apa perlu aku jelaskan lagi? Ayo kita buat anak untuk kita sendiri. Yang cantik seperti Tiffany, atau yang tampan mirip denganku. Anakmu dan anakku. Anak kita,” ujar Alex menegaskan.


Jane tentu saja terkejut akan ucapan Alex ini. Dia tidak menyangka jika Alex berkata sembarangan. Apa dia sedang demam? Memiliki pemikiran seperti itu membuat Jane menempelkan punggung tangannya ke kening Alex.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Alex bingung.


“Apa kau demam?”


Mendengar pertanyaan dari Jane membuat Alex merasa kesal dan menepis tangan Jane dari keningnya.


“Jane, kau pikir aku bicara seperti ini karena aku sedang sakit?” gumam Alex.


“Maaf, tapi bicaramu melantur. Aku hanya takut kau sedang sakit. Ayo kita ke dapur, biar aku buatkan bubur untukmu.” Jane menarik tangan Alex, tapi justru Alex yang menarik tangannya sehingga Jane tersentak dan jatuh di pelukan Alex.


Cup.


Mata Jane membulat mendapati perlakuan Alex kepadanya. “Apa yang kau .... hmppttt!” Belum sempat Jane berbicara, lagi-lagi Alex mencium bibir Jane. Namun, kali ini dengan ******n yang panas sehingga membuat Jane seperti diguyur air es yang membekukan tubuhnya.


“Jane, ayo buat anak denganku,” bisik Alex, embusan napas dari Alex terasa hangat di hidung Jane. “Jika kita memulai hidup baru kita sebagai suami istri yang sebenarnya, apa kau mau? Aku ... aku bisa belajar mencintaimu. Aku juga akan belajar menjadi suami yang baik, dan juga ayah yang penyayang.”


Alex menunggu jawaban yang akan Jane berikan, tapi wanita itu tetap diam karena masih terkejut akan perlakuan Alex tadi.


“Jane. Bagaimana?” tanya Alex sekali lagi.


“Eh, anu ....” Jane menjadi bingung. Namun, entah kenapa dia malah menganggukkan kepalanya. Alex tersenyum senang dan langsung mengangkat Jane ke ranjang.


“Alex, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jane yang refleks melingkarkan tangannya ke leher Alex.


“Membuat kakak untuk Tiffany.”


“Hah? Sekarang?” tanya Jane tidak menyangka.

__ADS_1


“Yups!”


“Tapi ini masih siang—“


“Memangnya kenapa kalau siang? Apakah ada waktu yang lebih baik untuk membuat anak kita?”


Jane terlihat berpikir.


“Tidak, kan?” tanya Alex sambil tertawa terkekeh.


“Tapi—“


“Apa lagi?” tanya Alex sekali lagi sambil merebahkan Jane di atas tempat tidurnya. Ditatapnya sang istri yang juga menatapnya.


“Anu ... aku malu.”


“Wajar, karena ini adalah pertama untukmu, kan?” Alex tersenyum. Alex hendak mendekat lagi untuk mencium Jane, tapi wanita itu menahan dada Alex sehingga lagi-lagi Alex menatapnya bingung.


“Ada apa lagi? Kau tidak mau melakukannya sekarang?” Suara Alex terdengar sedikit nada tidak suka


“Bukan begitu, tapi ... bisakah kau matikan lampu? Tutup tirainya. Aku benar-benar malu jika terlihat olehmu,” ucap Jane sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tirai telah ditutup, tapi lampu di ruangan itu masih menyala. Alex duduk di hadapan Jane dan menatap istrinya itu dengan lembut.


“Jane, aku ingin bertanya sekali lagi. Kau yakin ingin melakukan ini? Aku tidak bisa mundur jika kau meminta berhenti di saat kita sudah melakukannya nanti. Dan kau akan terikat denganku sampai seumur hidupmu.”


Jane menganggukkan kepalanya. “Kau orang yang sangat baik. Aku yakin kau cukup takut kepada kakekku untuk mencampakkan aku,” ucap Jane. Alex memutar bola matanya malas mendengar Jane menyebut kakeknya.


“Jadi, kau pikir aku akan hidup denganmu karena kakekmu?”


Jane tersipu malu, hanya itu yang bisa dia katakan. Apakah dia memiliki keberanian untuk menyatakan rasa di dalam hatinya? Alex orang yang baik, juga perasaan Jane selama ini saat bersama dengan Alex, ada debaran pada jantung Jane yang sering membuatnya bingung.


“Emmm ... apa kita tidak jadi melakukannya? Kau terlalu banyak bicara dan membuatku lapar.”


“Haha, baiklah. Kau sudah tidak sabar rupanya. Apa kita harus mematikan lampu?” tanya Alex yang dijawab anggukkan kepala oleh Jane. Alex mengambil remote dan mematikan lampu di kamar itu sehingga yang terlihat adalah bayangan Jane yang samar.


“Alex, ini masih terang,” ucap Jane, tidak putih membuat suasana di dalam kamar itu masih dirasa terang olehnya.”

__ADS_1


“Jane, tidak mungkin kan jika aku mengganti tirainya terlebih dahulu? Aku akan kehabisan tenaga jika menggantinya.”


Alex sudah tidak sabar dan tidak ingin lagi bertele-tele, mendorong bahu Jane untuk berbaring di atas kasur dan mengungkung tubuh wanita itu. Tatapan keduanya saling bertautan satu sama lain.


“Kau siap, Jane?”


“Aku takut. Ini pasti akan sakit.”


“Hanya sedikit. Dan aku akan melakukannya dengan lembut.”


Tubuh Jane bergetar karena takut, tapi ciuman dari Alex membuatnya sedikit rileks. Lidah mereka saling membelit, bertautan, dan saling menghisap. Jane sudah bisa mengimbangi permainan Alex dengan cepat sehingga Alex kini tersenyum senang.


Ciuman itu lama kelamaan menjadi menuntut, Alex membuka gaun Jane satu persatu sehingga wanita itu sudah tidak mengenakan pakaiannya.


“Alex, aku malu.” Jane menutup tubuh bagian atasnya dengan tangan yang dia silangkan. Sementara tatapan Alex tidak teralih dari sana. Ternyata tubuh Jane terlihat sangat indah dengan dada yang bulat dan penuh.


“Tubuhmu indah, Jane. Aku suka.”


Perlahan Alex menyingkirkan tangan Jane dari sana sehingga buah ranum itu terlihat menggantung dan bulat sempurna, ujungnya berwarna pink lembut. Jane memalingkan wajahnya ke arah lain, wajahnya sudah memerah. Jane ingin bersembunyi sekarang.


Tanpa Jane duga, Alex mendekat dan mulai menciumi lehernya. Tubuh Jane menegang dan menggigit bibirnya sendiri saat sensasi aneh menyerang tubuhnya akibat dari hangat ciuman itu. Tangannya erat memegang seprai sehingga kusut.


Sadar akan suara Jane yang tertahan, Alex menghentikan perbuatannya dan menatap Jane.


“Jangan ditahan, Jane. Kau bisa mengeluarkan suaramu.”


Alex melakukannya lagi, tapi kali ini ciumannya semakin turun ke bawah hingga sampailah pada buah ranum yang tidak bisa dia tolak.


“Ah ....” Suara itu akhirnya tidak bisa Jane tahan lagi, saat Alex menyentuh ujung dadanya dengan mulut. Sensasi dari permainan lidah Alex membuat Jane tidak bisa diam, bergerak gelisah dan tanpa dia sadari melengkungkan tubuhnya ke atas. “Alex. Tolong ....”


Alex tidak memedulikan ucapan permintaan tolong Jane dan terus melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Hingga akhirnya, Alex membuka semua pakaiannya dan memposisikan tubuhnya di atas Jane.


Jane melotot saat tak sengaja melihat milik Alex yang besar.


“Alex, tunggu!” tolak Jane saat ujung milik Alex menempel di kulitnya. Jane menahan dada Alex.


“Ada apa?”

__ADS_1


“Aku bisa mati kalau ditusuk benda besar itu!”


__ADS_2