Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
228


__ADS_3

Udara sangat dingin di kala pagi hari, Alex yang sudah lebih dulu bangun daripada Jane menyiapkan coklat panas untuk istrinya itu.


"Selamat pagi, Honey," sapa Alex setelah menunggu Jane hingga setengah jam lamanya. Jane tersenyum malu dan menutupi wajahnya dengan selimut. Tiba-tiba saja teringat pergulatan mereka semalam dan Jane menjadi malu.


"Selamat pagi, Alex."


Alex menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.


"Hei, buka selimutmu, aku sudah menyiapkan coklat panas. Ayo diminum," tawar Alex. Jane terpaksa memperlihatkan muka bantalnya karena tidak menyangka jika Alex akan bangun terlebih dahulu daripadanya.


Sambil menutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut, Jane bangun dan merasakan linu dan perih di tubuh bagian bawahnya.


"Sakit ya?' tanya Alex lembut.


"Iya, lumayan sakit."


Jane menerima secangkir coklat hangat dan langsung meminumnya. "Apa kau sudah bangun sedari tadi?"


"Tidak juga, aku bangun satu jam yang lalu dan sempat berjemur sebentar."


"Maaf, aku tidak tahu jika ini sudah siang."


"Tidak masalah."


Jane baru saja akan bangun, tapi tubuh bawahnya sangat sakit sekali.


"Tidur saja lagi, kau pasti kesakitan sekali. Maaf karena aku tidak bisa menahan hasratku sampai aku tidak bisa perlahan," ucap Alex.


"Tidak apa-apa, Alex. Aku baik-baik saja."


Saat Jane bergeser untuk memberikan tempat kepada Alex, Jane melihat bercak darah di atas alas tidurnya.


"Ini harus dimusiumkan."


"Hah? Apanya yang dimusiumkan?" tanya Jane bingung dan malu.


"Darah perawanmu."


"Jangan bercanda, Alex. Untuk apa seperti ini dimusiumkan. Itu adalah noda darah."


"Iya, memang benar. Tapi aku ingin memperlihatkannya kepada anakku kelak jika aku yang mendapatkan perawanmu, Jane."


Jane menjadi malu dengan ucapan Alex.


Alex tiba-tiba saja berbaring di paha Jane dan Jane susah payah menahan selimut agar tidak jatuh dan memperlihatkan buah dadanya.


"Jane. Aku senang sekali," ucap Alex.


"Aku juga sangat senang, Alex."

__ADS_1


"Ini adalah pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Aku tidak pernah menemukan hal yang baik ini dari wanita lain."


"Jangan bicarakan orang lain, Alex. Apa lagi mereka adalah wanita," ungkap Jane marah. Alex terkekeh mendengarnya dan meminta maaf.


"Jane. Aku sudah memberimu coklat panas."


"Iya. Lalu?"


Alex sedikit sebal karena Jane belum paham. "Berikan aku timbal balik."


Jane sedikit berpikir, mungkin yang dimaksud Alex adalah sarapan seperti yang biasa dia buat.


"Oke, minggir lah. Aku akan berpakaian dan menyiapkan sarapan sebagai ucapan terima kasih karena kau telah membuatkanku coklat panas."


Akan tetapi, Alex menarik tangan Jane sehingga Jane membungkuk dan mel*m*at bibir Jane dengan rakus.


"Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" tanya Alex kesal, tapi bibirnya tersenyum menatap Jane. "Aku ingin kau berikan aku timbal balik pagi ini, seperti semalam."


"Hah? Tapi Alex--"


Belum juga Jane berbicara, Alex sudah menerkam istrinya itu sehingga Alex berada di atas tubuh Jane. Alex langsung mencium bibir Jane yang manis karena minuman coklat tadi dan memainkan lidahnya di sana.


"Ayo kita sarapan bersama."


Alex menyibak selimut milik Jane dan langsung meraup buah ranum sang istri.


Jane tidak tahan. Ini masih pagi dan miliknya saja masih sangat sakit. Apakah Alex akan benar-benar memakannya sebagai menu sarapan lagi? Akan tetapi, saat Alex memulai memasukkan rudalnya, rasa sakit seperti semalam terasa lagi, tapi tidak sampai lama dan saat Alex bergerak ke atas dan ke bawah, Jane menikmatinya dengan suara laknat menyebutkan kenikmatan.


Alex senang karena Jane sudah bisa menikmatinya sehingga kali ini Alex bergerak intens dengan perlahan.


"Apakah Tuan dan Nona Jane tidak akan keluar untuk sarapan?" tanya seorang pengawal yang sudah menunggu kedua orang itu keluar. Sarapan sudah tersedia sedari tadi, sudah pasti mereka harus menghangatkannya lagi saat dua orang itu keluar.


"Sudah, jangan menunggu mereka. Kita tidak tahu apakah mereka akan keluar atau tidak.


***


Tiga hari mereka berada di puncak gunung, Jane yang benar-benar kelelahan tidak kuat lagi untuk berjalan turun sehingga Alex memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengirimkan helikopter ke puncak. Alex dan Jane melanjutkan acara berlibur mereka ke Pulau Bali.


Villa pribadi milik seseorang menjadi tempat yang disewa oleh Alex dan Jane untuk beberapa hari mereka di sana. Termasuk ada pantai pribadi yang tidak akan didatangi oleh orang lain. Suasana di sana sepi dan Jane menikmatinya.


Sore menjelang malam, Jane menikmati pemandangan di pulau dewata itu dengan takjub. Matahari tampak sangat indah sekali dan Jane tidak ingin melewatkannya sama sekali. Jika dia kembali lagi ke kehidupan biasanya, matahari sore tampak biasa saja dan bahkan sering membosankan.


"Jane. Aku mencarimu sedari tadi."


Jane menoleh dan melihat Alex yang datang mendekat.


"Kau sudah bangun?"


"Ya, aku tidak melihat kau di sampingku, jadi aku terbangun. Mau jalan-jalan sore?" tawar Alex sambil mengulurkan tangannya kepada Jane. Jane tersenyum dan menyambut tangan itu.

__ADS_1


"Ayo."


Mereka berjalan bersama di tepi pantai dengan pasir putih yang halus memijat telapak kaki mereka. Jane yang hanya mengenakan bikini terlihat seksi dengan kaki panjangnya yang jenjang, sedangkan Alex memakai celana pendek dan baju pantai tanpa mengancingkannya memperlihatkan otot perut sixpact Alex yang tampak menawan.


Bergandengan tangan dan berjalan dengan pelan. Sudah cukup jauh Jane dan Alex berjalan, tapi mereka masih enggan untuk kembali ke vila.


"Indah sekali kan?"


"Iya," jawab Jane.


"Jika di rumah, kita tidak akan bisa melihatnya lagi," gumam Alex."


"Andai kita punya rumah di tepi pantai. Pasti sangat indah sekali dan membahagiakan jika bisa melihat matahari terbit dan tenggelam. Eh, tidak. Meski hanya satu waktu saja juga rasanya akan sangat senang sekali." Jane hanya bergumam, tapi Alex menangkap ucapan Jane adalah sebuah keinginan yang harus dia wujudkan.


"Alex!" teriak Jane yang berlari menjauh dan mundur. Alex tersentak dari lamunannya dan melihat wanita itu tertawa kegirangan. Kakinya yang tanpa alas berlari di antara ombak yang berdebur. "Kemari, Alex! Kejar aku!" teriak Jane sekali lagi. Alex tertawa kecil saat melihat Jane yang berlari menjauh bak anak kecil yang kabur dari ibunya.


"Haha. Tunggu aku, Jane!" Alex pun ikut berlari dan mengejar Jane.


Langkah kaki Jane tidak terlalu panjang dibandingkan langkah kaki suaminya sehingga dengan cepat Alex telah sampai di dekat Jane dan memeluk pinggangnya erat.


"Kena kau!"


"Akh! Alex. Ampun!" Jane berteriak kegelian saat Alex memeluknya dari belakang dan menciumi lehernya. "Geli. Tolong lepaskan aku!"


"Tidak akan!" Alex terus saja menciumi tubuh Jane sehingga tanpa sadar mereka terjatuh di pasir putih yang agak dingin. Tatapan keduanya saling beradu, dan Jane bisa melihat wajah tampan dengan background langit yang mulai menggelap di belakang Alex.


"Jane, kau cantik sekali," ucap Alex. Jarak wajah mereka semakin tipis sehingga keduanya kini berciuman.


Tangan Alex menyelinap di balik bikini milik Jane dan menyerang ujung buah ranumnya.


"Alex, tidak!"


Jane tersadar dan menahan tangan itu.


"Why?"


"Kau harus tahu tempat, Sayang."


"Memangnya kenapa? Kita bebas di sini, tidak ada orang lain selain kita, Jane.


Jane termakan ucapan Alex dan membiarkan suaminya melakukan apa pun kepadanya. Pantai pribadi itu memang sangat luas dan tidak akan ada orang asing yang melihat apa yang mereka lakukan.


Alex sudah tidak bisa menahan dirinya. Kembali ke vila akan membutuhkan waktu yang lama. Bukankah di mana saja sama? Apalagi di sini tidak ada orang lain lagi.


"Ah, Jane!" Suara kenikmatan keluar dari mulut Alex saat dia mulai bergerak ke depan dan ke belakang. Kedua kaki Jane dia tahan di lengannya. Tubuh Jane bergerak seiring dengan dorongan yang dia dapatkan dari Alex. Suara hentakan dan kulit yang beradu terdengar seiring dengan debur ombak yang pecah di bibir pantai. Kedua lutut Alex menjepit pinggang Jane, membuat kedalaman di pasir ketika bergerak dengan kecepatan intens. Alex menahan pinggang Jane dengan kedua tangan dan memperdalam jangkauannya.


Jane tidak bisa menolak apa yang Alex lakukan. Lagi pula, bercinta di pantai adalah hal yang luar biasa yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dan ini terasa nikmat sekali, sampai Jane menyebutkan nama Alex berkali-kali.


Malam semakin larut, tapi dua orang itu terus bergerak dan melenguh bersamaan tanpa menghiraukan angin yang berhembus kencang. Pergulatan keduanya berlanjut hingga mereka pulang di jam sembilan malam.

__ADS_1


__ADS_2