Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
238


__ADS_3

Sampai di rumah Morgan memberitahu kepada Lyla tentang kabar bahagia yang didapatkan oleh Selvi dan Robinson. Lyla menjadi senang mendengar kabar berita itu.


"Benarkah? Aku sangat senang sekali mendengarnya. Apakah dia baik-baik saja? Apa dia ingin sesuatu? Kita harus bertemu dengannya besok!" ucap Lyla dengan antusias.


"Iya, ayo besok kita pergi ke sana. Dan sekarang ayo kita tidur. Aku sedikit mengantuk dan merindukanmu. Kapa kita bisa memulai lagi? Aku rindu sampai-sampai sakit kepala menahannya," ucap Morgan sambil mencium tengkuk leher istrinya.


"Kau masih harus bersabar, Morgan. Nanti, akan aku layani kau dengan sepenuh hatiku."


Morgan tersenyum dan sekali lagi mencium pundak istrinya. Dia menarik istrinya lebih dekat lagi dan membawanya berbaring bersama, tapi belum sampai tiga detik suara tangisan dari Tiffany terdengar dari alat di samping mereka.


Lyla segera bangkit dan melepaskan tangan Morgan yang melingkar di pinggangnya.


"Aku datang, Tiny!" teriak Lyla sambil berlari kecil.


"Sayang--" Morgan melihat Lyla telah menghilang di balik pintu yang terhubung ke kamar sang putri. Lagi-lagi dia ditinggalkan dan pastinya malam ini akan tidur sendirian lagi.


"Akh. Aku ditinggal lagi," ucap Morgan kembali berbaring sambil mengurut pangkal hidungnya yang berdenyut.


Lyla menimang Tiffany di gendongannya dan memberikan susu di dalam botol. Anak kecil itu minum dengan lahap dengan mata yang setengah tertutup. Terkadang mulutnya bergerak, melirik Lyla, dan tersenyum kecil.


"Oouh, kau malaikat kecilku yang paling cantik. Tetaplah lucu seperti ini, Nak," ucap Lyla mengusap pipi Tiffany lembut. Setelah Tiffany tertidur, Lyla merebahkannya dengan hati-hati di dalam boks-nya.

__ADS_1


"Kau sudah mengalahkan ayahmu. Dia pasti sedang kesal sekarang ini karena aku tinggal." Lyla terkekeh membayangkan wajah suaminya tadi, tapi semoga saja Morgan sudah tidur sekarang ini.


Saat Lyla kembali, Morgan sedang berada di luar kamarnya. Pintu balkon terbuka membuat udara dingin dan segar masuk ke dalam kamar itu.


"Sayang." Lyla memeluk Morgan dari belakang.


"Tiny sudah tidur?"


"Iya. Dia sudah tidur. Ke napa kau masih ada di sini? Tidak tidur?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Apa kau sakit?"


"Ayo, aku bantu agar kau tidak sakit lagi."


Morgan menolehkan kepalanya ke samping dan melihat rambut istrinya yang ada di belakang.


"Kau masih dalam masa pemulihan."


"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya."

__ADS_1


Morgan tersenyum senang karena mendengar Lyla akan melakukan cara yang lain. Cara yang bagaimana? Pikiran Morgan sudah melayang, cara apa yang akan dilakukan oleh istrinya untuk meredakan sakit kepalanya.


"Ayo!" Lyla menarik tangan Morgan masuk ke kamar mereka dan mendorong dada Morgan sehingga dia tidur telentang. Senyum Morgan tersungging lebar di bibirnya dan menantikan apa yang akan Lyla lakukan.


"Ahss ... sshhhh ...." Mata Morgan tertutup, bibirnya dia gigit menahan suara yang akan keluar dari mulutnya.


"Jangan ditahan, Sayang. Kau bisa melukai bibirmu," ucap Lyla sambil tersenyum geli.


"Ini ... ah. Kau bisa melakukannya lebih pelan lagi? Aku ...." Suara Morgan tertahan, tubuhnya tidak bisa diam karena perlakuan sang istri di atasnya. Morgan sampai memegangi seprai hingga kusut.


"Pelan? Aku tidak bisa melakukannya dengan pelan, Sayang. Bukankah lebih enak jika aku bergerak kencang."


"Lyla ...."


Lyla tidak peduli, menggerakkan tangannya naik dan turun sehingga Morgan mengeluarkan suaranya lagi.


"Tenang saja, aku akan buat pusingmu hilang. Tolong ambilkan balsam. Ku rasa ini kurang," pinta wanita itu menunjuk balsam yang ada di samping Morgan.


"Sayang, dari mana kau tahu ini akan menghilangkan pusingku? Aku rasa kau salah informasi," ucap Morgan sambil menahan rasa perih di punggungnya. Entah apa yang terjadi di belakang sana, dengan menggunakan sendok kecil, istrinya memperlakukan dia seperti semangkok eskrim. Lebih enak jika dijilat, bukan membuat tipis kulit tubuhnya.


"Aku bertanya kepada Jane, dan dia memberitahuku informasi ini. Teman Indonesia-nya, sering mengatakan dia tidak enak badan dan meminta Jane melakukan ini. Tenang sedikit, aku belum sampai ke bawah."

__ADS_1


Lyla mulai menyukai ini. Meski Morgan tidak bisa tidur tengkurap dengan tenang dan diam dia hanya ingin membantu suaminya agar tidak lagi merasakan tubuhnya yang sakit.


"Morgan, punggungmu seperti tulang ikan."


__ADS_2