
Seorang laki-laki mendatangi Morgan yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut. Laki-laki tampan dengan rambut pirang tersebut tersenyum dan menyodorkan tangannya. Tubuhnya tinggi khas orang Amerika pada umumnya dengan tubuh yang besar dan kulit yang terang.
"Tuan Castanov?" tanya laki-laki itu. Morgan membalas jabatan tangan laki-laki besar itu dan balas tersenyum.
"Iya, benar."
"Masih ingat denganku?" tanya laki-laki itu lagi.
Morgan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia memang sudah banyak menemui orang-orang di kalangan bisnis, tapi dia tidak sampai melupakan orang-orang yang pernah dia temui jika urusan bisnis.
"Tuan Ed. Tentu saya ingat dengan Anda," ujar Morgan menganggukkan kepalanya. Tuan Edrick tersenyum senang karena Morgan masih mengingatnya, padahal pertemuan mereka terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Syukurlah, aku kira kau sudah melupakanku," ujar Edrick.
"Aku tidak mudah melupakan orang-orang," ujar Morgan sambil menunjuk tempat di dekat sudut matanya.
__ADS_1
Edrick tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. "Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Kau hanya sendirian?" tanya pria berambut pirang itu lagi.
"Iya, aku hanya sendirian saja."
"Oh, aku pikir pasanganmu sedang berada di toilet. Tidak biasanya seseorang datang sendirian di pesta yang penting seperti ini," ujar Edrick sekali lagi.
Morgan tertawa kecil dan mengambil minuman dari seorang pelayan pria yang melewatinya.
"Aku sedang bosan berhubungan dengan wanita. Sesekali pergi hanya sendirian, membuatku merasa bebas," ujar laki-laki itu. Edrick menganggukkan kepalanya, dia dan Morgan tidak jauh berbeda, sedang tidak menghendaki hubungan dengan wanita. Bahan, dia sempat dituduh oleh keluarganya telah belok menyukai sesama laki-laki.
Dari satu kali pertemuan dulu, Morgan sudah bisa menebak dengan sifat orang lain termasuk Edrick. Perangai pria ini sungguh minus dan tidak menyenangkan, maka dari itu Morgan masih ingat dengan laki-laki berambut pirang ini.
Mereka sedang berbicara satu sama lain saat seseorang datang dan memohon izin untuk berbicara dengan Morgan.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda, Tuan," ujar pria dengan pakaian rapi dengan jas hitam itu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Morgan, pria tersebut mendekatkan kepalanya ke dekat Morgan dan membisikkan sebuah nama pada pria itu.
Morgan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan ikut denganmu," ucap Morgan kemudian mengikuti laki-laki itu pergi dari luar ruangan tersebut.
Derap langkah kaki terdengar dari alas sepatu mahal beberapa orang tersebut, Morgan melirik dengan ujung matanya saat beberapa orang bergabung di belakangnya seakan sedang menggiringnya ke tempat lain dan takut jika di melakukan hal yang buruk. Seolah jika dia melakukan kesalahan, maka orang-orang itu akan menangkapnya dan menghukumnya.
Hingga sampai pada sebuah pintu mewah dengan ukiran yang indah, ada dua orang yang menjaga di sana, salah satunya membuka pintu besar tersebut dan menyuruh Morgan untuk masuk. Mereka menundukkan kepalanya dan menunggu hingga Morgan masuk ke ruangan itu.
Setelah masuk di ruangan yang remang itu, Morgan mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi dengan membelakanginya.
...***...
Assalamualaikum semua. Mohon maaf beberapa hari ini Othor nggak update🙏. Anak Othor yang nomor dua kecelakaan di sekolahnya dan harus dirawat di RS beberapa hari, tepatnya dari tanggal 29 mei kemarin. Makanya nggak bisa update karena repot urus segala sesuatunya. Boleh cek FB-nya, Trias Wardani ya 🙏, karena mau up foto di sini takut jadi pelanggaran😅
Mohon maaf sebanyak-banyaknya, untuk Dinda-Yoga dan Morgan-Lyla, tentu akan Othor lanjutkan lagi cerita mereka sampai tamat.
__ADS_1
Terima kasih dan mohon maaf sebesar-besarnya ya🙏.