
"Kau menemukannya? Apa dia kembali?" tanya Selvi menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi.
"Tidak. Tapi bisa jadi jika dia akan kembali."
"Jangan beritahu dia," ucap Selvi meminta.
Panggilan itu terputus, Selvi kembali menyandarkan dirinya sambil terus berpikir.
Suara ketukan di pintu terdengar, membuat Selvi mengangkat pandangannya.
"Kau sudah bebas?" Edward baru saja masuk.
"Ah, iya. Aku sudah selesai untuk siang ini."
"Makan siang bersama?" tanya laki-laki itu yang mendapatkan anggukkan kepala dari Selvi.
...***...
Di dalam ruangan Morgan, Gerald terdiam mendengar permintaan dari Selvi. Dia berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, jangan sampai dia tahu informasi ini," gumam laki-laki itu.
...***...
Morgan baru saja membuka mata, kepalanya sedikit pusing karena baru saja dia terbangun. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan dan tanpa sadar jika tadi saat bermain game dia malah tertidur lelap.
"Astaga. Bagaimana bisa aku tertidur di sini?" gumamnya. Morgan menatap hpnya yang masih menyala, memperlihatkan game yang tadi dia mainkan.
Dia berdiri, menguap, dan merenggangkan tangannya ke atas. Lumayan juga bisa tertidur meski hanya sebentar, tubuhnya lumayan segar meski kepalanya masih sedikit pusing. Dia melihat ke arah ranjang, masih ada gadis itu di sana.
"Astaga. Apakah dia akan tidur terus seperti itu? Mau sampai kapan? Dasar b4bi pemalas!" racaunya kesal. Jika saja wanita ini tidak sakit tentu saja dirinya masih berada di kantor untuk bekerja.
Laki-laki itu melihat ke sekeliling, pandangannya kini tertuju pada jam yang ada di dinding. Sempat tidak percaya dirinya telah terlelap selama hampir satu jam lamanya.
Dia kembali terduduk di kursi, ingin tahu sampai kapan gadis ini akan tertidur nyaman seperti Putri Salju.
"Heh, tidak akan ada pangeran yang akan menciummu. Kau bangunlah. Apa kau tidak takut akan berubah menjadi b4bi?" tanya Morgan. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari wanita itu.
"Astaga. Dia akan menjadi b4bi sebentar lagi dan akan berakhir di dalam panggangan!" gumamnya kesal. Dia kembali lagi memainkan hpnya.
__ADS_1
Tak lama seorang perawat masuk ke dalam sana untuk memeriksa keadaan Lyla, tapi dia terkejut saat membuka selimut dia hanya menemukan bantal guling yang ada di bawah selimut tersebut.
"Tuan, apakah pasien ada di toilet?" tanya perawat tersebut. Morgan mengangkat wajahnya dan melihat perawat itu.
"Dia tidak ada?" tanya Morgan lalu dijawab anggukkan kepala oleh wanita itu.
"Cek saja sendiri. Aku sedang sibuk," ucapnya. Perawat masuk ke dalam kamar mandi, tapi tidak menemukan Lyla di sana.
"Pasien tidak ada. Apakah dia pamit ke luar?" tanya perawat tersebut membuat Morgan kini benar-benar menghentikan ibu jarinya dari permainan game di tangannya.
"Apa? Tidak ada?"
Wanita itu mengangguk. Morgan segera bangkit dengan napas yang kini menderu.
Jangan-jangan ....
Morgan berlari ke arah luar, meninggalkan perawat yang kini menatap pintu yang telah tertutup itu dengan kebingungan.
Hais, dasar wanita pembuat onar. Lagi-lagi kau pergi. Awas saja kalau aku menemukanmu. Kau benar-benar akan aku kurung!" kesal Morgan berlari di antara lorong rumah sakit. Dia tidak mempedulikan beberapa orang yang melihatnya bingung, juga mengabaikan teriakan orang yang telah tertabrak olehnya tadi.
Sampai di luar rumah sakit, Morgan melihat ke kanan dan ke kiri, hanya melihat jalanan yang cukup ramai di sana. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Kesal rasanya lagi-lagi wanita itu menghilang.
Selvi yang masih di tengah makan siangnya bersama dengan Edward, terkejut mendengar penuturan dari Morgan.
"Astaga! Aku akan segera mencari tahu," ucap Selvi kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Apa ada masalah?" tanya Edward saat Selvi tersedak oleh minumannya.
"Lyla kabur lagi."
"Kabur lagi?" Edward terheran.
"Maafkan aku, Edward. Aku harus mencari tahu di mana gadis itu," ucap Selvi lalu buru-buru pergi dari sana.
"Tunggu! Aku akan bantu." Laki-laki itu juga meninggalkan makan siangnya yang masih banyak.
...***...
Morgan melihat ke kanan dan ke kiri, dia hanya melihat kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Tidak ada Lyla di sana.
__ADS_1
"Kemana wanita itu?" gumam Morgan dengan kesal.
Dia memutuskan untuk kembali, tapi saat merogoh saku celananya, dia ingat jika tadi datang kemari bersama dengan sopir, kemudian Morgan menghubungi sopirnya. Akan tetapi, dia dibuat kesal juga oleh laki-laki itu karena mobilnya tidak bisa melintas akibat seseorang yang sedang berusaha memarkir kendaraannya di dekat kendaraan mereka.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa keluar dari sini. Ada mobil yang menghalangi," ucap sang sopir yang membuat Morgan kini menendang udara kosong dengan kakinya.
"Sialan!"
Tanpa menunggu lagi Morgan berlari dengan cukup kencang ke sembarang arah. Udara semakin dingin, dia ingat jika Lyla hanya memakai pakaian dari rumah sakit saja. Dia bisa saja beku jika berada di luar ruangan di saat suhu udara mulai menurun sekarang ini.
Hampir setengah jam dia mencari, kakinya sudah lelah, napasnya juga sedikit sesak karena salju kini mulai turun perlahan. Udara hangat yang keluar dari mulutnya memperlihatkan asap tipis yang beradu dengan udara dingin siang ini.
Dering telepon terdengar dengan sangat nyaring. Morgan segera mengangkat panggilan yang berasal dari Selvi.
"Di mana kau? Dia masih ada di rumah sakit, tidak pergi ke luar," ucap Selvi yang membuat Morgan tersenyum tipis, lega. Meski lelah pada kakinya, tapi dia memutuskan untuk berlari saja, jalanan kini mulai macet dan dia tahu jika pada hampir jam makan siang akan banyak sekali hal yang menyebalkan di jalanan Kota London ini, apalagi saat hari sedang turun salju.
Pintu ruangan terbuka dengan suara yang keras, Lyla yang duduk di sana bersama dengan Selvi mengalihkan tatapannya ke arah pintu.
"Kau sudah kembali?"
"Apa yang kau lakukan? Kau membuatku khawatir saja!" teriak laki-laki itu sambil mendekat ke arah Lyla, mengabaikan pertanyaan dari adik ayahnya itu. Selvi sampai tercengang mendengar penuturan Morgan yang jelas mengatakan jika laki-laki itu menyebutkan kata 'khawatir' pada Lyla.
"Eh, untuk apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Lyla dengan sinis. Morgan tidak bicara lagi saat menyadari jika dia mengucapkan kata aneh.
"Kau ... kau sedang sakit, kakimu bisa patah dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini. Setidaknya jika ingin pergi, nanti. Jika lukamu sudah sembuh," ucap laki-laki itu menghindari tatapan dari dua orang wanita yang ada di hadapannya, kemudian memilih untuk pergi dari sana sebelum ada ucapan yang lain yang akan terucap dari bibir Selvi.
Keduanya kini saling berpandangan satu sama lain.
"Apa dia memang seaneh itu? Jelas aku sering mendengar dia mengusirku," ucap Lyla.
"Dia memang sedang aneh akhir-akhir ini," jawab Selvi setuju.
...****************...
Boleh mampir dulu sini, sebelum Lyla dan Morgan up lagi. Tapi nggak tau apakah nanti up lagi atau besok 🤣. Sabar yeee .... Mau lanjut Yumna sama Amara setelah ini, Nina yang ada di Babang Paijou, Sinta di .... Kira-kira ada yang mau mampir nggak ya ke sana B. inggrisnya Mimpi Indah (kode nih🤭) napen tetap sama.✌️
Kaget Nikah, karya kak Alya Lii.
__ADS_1