Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
26. Gadis Yang Gigih


__ADS_3

"Apa kau ingin sakit lambungmu kambuh lagi?" tanyanya, lalu merebut rokok yang ada di mulut Morgan dan mematikannya di dalam asbak.


"Kau punya penyakit lambung, apakah kau tidak bisa menjaga tubuhmu dengan baik?" tanya wanita itu menatap Morgan dengan kesal.


Morgan hanya terdiam melihat wanita itu, seenaknya saja datang ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan juga mematikan rokok miliknya. Satu lagi gadis yang suka memerintah.


"Kau sudah hampir mati dulu, apa kau ingin mati untuk kedua kalinya? Aku bawakan sarapan untukmu, kau belum sarapan kan?" tanyanya lagi sambil mengeluarkan kotak bekal makanan yang dia bawa.


"Kau tidak perlu repot untuk membawakan ku sarapan. Lebih baik urus saja dirimu sendiri."


"Aku tidak repot, dan aku senang menyibukkan diri untuk membuatkan sarapan untukmu. Aku membuatkan makanan kesukaanmu," ucap gadis yang bernama Ghea sambil tersenyum. Dia tidak peduli dengan penolakan dari Morgan.


"Ayo kemari, duduklah. Sarapan sudah siap dan aku ingin kau memakannya," ucapnya dan memaksa Morgan untuk duduk di kursinya lagi.


Sadar dengan tatapan dingin laki-laki itu, dia menarik kembali tangannya. "Maaf," ucapnya dengan nada yang lembut. "Ayo makanlah, aku sudah bersusah payah membuatkannya untukmu," pintanya lagi.


Morgan kini duduk kembali di kursinya. Akan tetapi, dia tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Dia hanya melihatnya dengan malas lalu mendorong wadah Itu ke hadapan Gerald.


"Kau saja yang makan. Aku sedang tidak ingin makan apapun.


Ghea tampak kecewa dengan penolakan Morgan, tapi kemudian dia tersenyum dan mengeluarkan yang lain dari tasnya.


"Aku sudah antisipasi jika kau tidak ingin makan itu. Aku juga bawa ini untukmu." Wanita itu menyodorkan sandwich yang tadi dia buat dari rumahnya. Dengan sifat Morgan yang seperti itu dia yakin jika laki-laki ini tidak akan mudah menerima sesuatu dari orang lain.


Morgan menghela napasnya dengan kasar. "Apa kau tidak lelah melakukan ini untukku?" tanya Morgan kepada wanita itu.


Dia tidak menjawab, sedikit ragu karena ada orang lain yang ada di sini. Maka dari itu Morgan menggerakkan tangannya dan memberi isyarat untuk Gerald meninggalkan mereka berdua.


"Katakan apa maksudmu melakukan semua ini?" ucap Morgan dengan nada yang dingin, tak lupa menatap Ghea dengan tatapannya yang tajam.

__ADS_1


"Jadi maksudmu aku melakukan ini karena aku ingin mendapatkan simpati darimu? Tidak! Aku melakukan ini karena ingat Renee ini adalah sahabatku. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja untuknya," ucap Ghea tertawa dengan ringannya.


"Jadi kau tahu di mana dia berada?" tanya Morgan yang membuat dia terkesiap.


"Aku tidak tahu di mana dia." 


"Kau yakin tidak tahu?" 


Ghea menganggukkan kepalanya. Morgan menatap kesungguhan yang ada pada wajahnya, terlihat sedikit murung daripada saat tadi dia menyiapkan sarapan untuknya.


"Jika aku tahu di mana dia pasti aku akan menyusulnya. Sepertinya dia sudah tidak sayang lagi kepadaku, dan dia sudah tidak peduli dengan hidupku di sini. Kau tahu 'kan bagaimana kami?" Dia tersenyum perih.


Morgan kali ini mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia mengingat bagaimana hubungan mereka berdua, seperti saudara meski mereka dilahirkan dari keluarga yang berbeda.


"Kau yakin tidak ada maksud lain menyiapkan ini semua untukku?" Morgan tahu pasti dengan wanita ini, dia sering mencuri pandang padanya meskipun di sampingnya ada Renee. Apalagi saat wanita itu baru saja menghilang, terlihat sekali jika wanita ini seperti ingin menggantikan posisi Renee di sampingnya.


"A-apa maksudmu? Aku hanya ingin berbuat baik saja. Apa aku salah melakukan ini? Setidaknya jika nanti dia menghubungiku, aku akan bisa menjawab bagaimana keadaanmu," ucap Ghea sedikit tergagap di awal kalimatnya.


"Jika kau masih mempunyai niat untuk mendekatiku, lebih baik kau urungkan saja niatmu. Atau jika tidak, aku akan membuatmu mundur dengan tidak berperasaan."


"Aku banyak pekerjaan. Maaf, karena tidak bisa mengantarkanmu pulang," ucap Morgan lalu mengambil berkas yang ada di atas mejanya.


"Oh, oke. Maaf telah mengganggu kesibukanmu. Aku akan pulang sekarang, aku harap kau habiskan sarapanmu." Ghea mengambil tasnya dan kemudian pergi dari ruangan itu.


Dia menutup pintu, menghela nafasnya dengan sedikit kesal. Lagi-lagi hatinya terluka karena mendapatkan penolakan, dan itu rasanya sangat sakit sekali. Akan tetapi, dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan perhatian dari Morgan. Setidaknya bisa dekat dengan laki-laki itu dan selalu ada di sampingnya.


"Sampai kapan kau akan seperti itu, Morgan? Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan jatuh juga ke dalam pelukanku," gumam Ghea lirik seraya menatap pintu ruangan tersebut.


"Apakah urusanmu sudah selesai?" tanya Gerald saat melihat Ghea berada di depan pintu.

__ADS_1


Ghea tidak menjawab dan pergi begitu saja dari sana.


"Lain kali jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin."


Sekretaris yang mendapatkan peringatan seperti itu menganggukan kepalanya dengan cepat. "Maafkan saya, Tuan. Tadi dia memaksa untuk masuk."


"Jika kejadian tadi terulang lagi, maka kau juga terpaksa untuk di depak dari perusahaan ini," ucap Gerald kemudian meninggalkan sekretaris itu yang menundukkan kepalanya takut.


Di dalam ruangan itu Morgan tengah fokus dengan pekerjaannya. Kotak bekal yang ada di sampingnya diabaikan begitu saja.


"Apa kau tidak akan memakannya?" tanya Gerald dan duduk di hadapan Morgan.


"Buang saja makanan itu," jawab Morgan tanpa peduli.


Gerald menarik kotak makanan tersebut dan mengambil roti lapis yang ada di dalamnya. "Sayang sekali jika harus dibuang. Dia akan bertambah sakit hati jika makanan yang susah payah dia kuat dibuang begitu saja," ucap Gerald lalu memakan makanan tersebut. Suara kunyahan laki-laki itu terdengar sangat jelas, mengganggu pendengaran Morgan.


"Emh … ini enak sekali. Sayang jika dibuang, lebih baik buang saja ke dalam perutku," ucap Gerald. Dia tidak peduli akan tatapan dari Morgan. Salahnya laki-laki itu berangkat bekerja tanpa menunggunya untuk sarapan terlebih dahulu.


"Bisakah kau makan di tempat lain?" tanya Morgan yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Gerald. Akan tetapi, laki-laki itu tidak mendengarkan dan tetap melanjutkan makannya hingga selesai.


"Aku kenyang," ucap Gerald sambil mengusap perutnya. Setidaknya lumayan bisa mengganjal perutnya hingga makan siang nanti.


Morgan menatap laki-laki itu dengan tatapan yang jijik.


"Apa kau tidak takut jika wanita itu menyimpan racun di dalam makananmu?" tanya Morgan.


"Racun cinta. Dia menyimpan racun cinta di dalam makananmu. Dan itu tidak berlaku untukku!" Gerald tertawa geli.


"Diam, kau!" bentak Morgan kesal.

__ADS_1


Masih dengan tawanya, Gerald bangkit dari duduk. "Apa kau ingin aku pesankan sarapan?" tanya Gerald.


"Terserah!" 


__ADS_2