
Selvi baru saja menutup pintu ruangan Lyla, saat dia berbaik dia tidak sengaja menabrak seseorang sehingga makanan yang dibawa pria itu terjatuh.
"Ah, maaf," ucap Selvi sambil menunduk memunguti buah apel yang menggelinding di dekat kakinya.
Robinson serasa kenal dengan suara itu sehingga mengangkat kepalanya dan memandang mata berwarna biru milik Selvi.
"Kau--" ucap keduanya bersamaan. Selvi tidak menyangka jika dia bertemu dengan laki-laki yang pada dua puluh tahun lalu ditemuinya di depan sekolah Morgan. Wajahnya masih tetap sama seperti dulu, hanya saja tubuhnya lebih besar daripada waktu itu. Oh bahkan tidak ada kerutan di wajahnya.
"Anda di sini?" tanya Selvi sambil memberikan satu buah apel itu kepada Robinson.
"Ah, iya." Robinson jelas tahu siapa wanita ini, meski dia yakin jika Selvi hanya mengenalnya sekilas saja.
"Apa kau sedang menjenguk seseorang?" tanya Selvi. Selvi pun tahu siapa laki-laki ini karena dia sering melihatnya di depan sekolah Morgan waktu itu. Beberapa kali mereka bertemu dan akhirnya duduk berbincang bersama sambil menunggu Morgan dan Gerald keluar dari sekolahnya.
"Iya, aku ingin menemui putraku. Aku membawakannya makanan."
"Oh, begitu ya. Kau sudah bertemu dengannya? Syukurlah jika begitu. Tapi, kenapa dia di sini? Apakah dia sedang sakit?"
Baru saja Selvi akan berbicara lagi, Morgan keluar dari ruangan itu dan melihat keberadaannya serta sang ayah.
"Tante, kau meninggalkan ini. Ayah? Sedang apa? Masuklah, Lyla ingin bertemu denganmu." Di tangan Morgan terdapat ponsel Selvi.
Mulut Selvi terbuka mendengar Morgan menyebut pria tampan ini dengan sebutan ayah.
"Ayah? Jadi ...."
"Kalian sudah saling mengenal? Dia ayahku dan ini adalah adik dari ayahku." Morgan mencoba untuk mengenalkan dua orang itu.
"Aku sudah tahu, Nak."
"Tapi, aku tidak tahu jika kau adalah ayah dari keponakanku yang sebenarnya." Selvi sedih sekali dan merasa tidak berguna karena tidak mengetahuinya. "Jadi ... yang dulu selalu kau tunggu di sana adalah keponakanku?" tanyanya sambil mengelus sikunya. Ada rasa malu, canggung, dan tidak enak hati pada diri Selvi.
"Iya. Kau sudah mau pergi?" tanya Robinson.
"Iya, aku akan mencari hotel di dekat sini."
"Akan aku antar ke tempat yang bagus. Ini." Robinson memberikan makanan itu ke pada putranya. "Ayo, ikut denganku. Kau makanlah dulu." Kalimat terakhir diberikan Robinson kepada putranya.
"Eh?" Morgan menjadi bingung dengan kedua orang itu. Dia tidak tahu jika mereka sudah saling mengenal dan cepat sekali akrab.
Sementara ayahnya pergi dengan Selvi, Morgan kembali ke ruangan Lyla dan membawa makanan itu ke dalam ruangan.
"Kau tidak mengantarkan Tante Selvi?"
"Tidak, dia pergi bersama ayahku. Mereka sudah saling mengenal sepertinya," ujar Morgan kemudian mengeluarkan beberapa makanan yang dibawakan ayahnya.
__ADS_1
"Kau juga mau makan?" tawar Morgan kepada Alex.
"Tidak. Aku akan kembali saja ke kamarku.
"Baiklah. Ini bawalah bersamamu. Ayahku pasti akan makan di luar dengan tanteku."
Hati Alex terpotek, baru saja ada tangkai bunga yang hampir muncul dari tanah, kini sudah terguyur hujan lebat dan akhirnya busuk dan tidak jadi tumbuh. Apa lagi mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
"Uncle. Kau tidak apa-apa?" tanya Lyla.
"Aku tidak apa-apa. Aku akan kembali nanti siang," ujar Alex dan menggerakkan tangannya memerintahkan Mac untuk membawanya pergi dari sana.
"Hei, apa dia sedang patah hati?" tanya Morgan yang melihat wajah mendung paman Lyla saat dia pergi dari ruangan itu.
"Haha, sepertinya begitu."
"Apakah dia.punya pacar?" tanya Morgan lagi penasaran. Ingin rasanya menggoda laki-laki itu sejenak dan melihat wajahnya yang lucu.
"Aku tidak yakin."
...***...
Di sebuah restoran, Robinson membawa Selvi untuk makan siang di sana. Suasana di restoran itu masih sepi mengingat jika waktu makan siang sudah terlewati. Di luar restoran, orang-orang Robinson menunggu dan menjaga tempat tersebut dengan ketat, juga di dalam ruangan itu ada seorang yang memperhatikan gerak gerik semua pengunjung restoran dan hal itu tidak akan luput dari perhatiannya.
"Apa yang mau kau pesan?" Robinson memberikan buku menu kepada Selvi.
Kening Robinson mengerut mendengar ucapan wanita itu. Dia tidak pernah mendengarnya dari orang lain yang menyerahkan soal pesanan kepada seorang pria.
"Kau tidak mau memesan?" Tangan Robinson mengambil alih buku menu dari tangan Selvi dan mulai membukanya, melihat satu persatu makanan dan minuman yang ada di sana.
"Kau yang mengajakku. Jadi, aku hanya akan memakan apa yang kau pesan."
"Oh, menarik sekali," gumam Robinson sambil melirik Selvi. Robinson memanggil seorang pelayan dan menunjuk makanan dan minuman yang terbaik dan mahal di restoran itu. Sementara Selvi hanya duduk diam dan melipat kedua tangannya dengan satu tangan menopang dagu.
Melihat wajah Robinson yang garang, tidak membuat dia merasa takut. Dibalik kegarangan pria itu, ada sebuah kelembutan yang dia lihat di dalam hatinya. Sejak dulu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu dia mengenal Robinson, kini Selvi melihatnya semakin berwibawa dan semakin sedap di pandang mata.
"Kau melamun?" Pertanyaan Robinson membuat Selvi tersentak dan menjadi salah tingkah.
"Eh, apa?"
"Kau datang ke sini untuk menemui Morgan? Atau, ada urusan yang lain?"
Selvi tersipu malu, apakah dia akan menjawab datang ke sini untuk melupakan cintanya? Untuk melupakan sakit hatinya? Menghibur dirinya? Apa yang akan dikatakan oleh pria ini?
'Dia pasti akan menertawakanku.'
__ADS_1
"Ah, aku hanya ingin menjenguk Lyla. Dan juga keponakanku. Oh, tak apa kan jika aku masih menyebut Morgan keponakanku? Aku ... sudah sangat menyayanginya semenjak dulu," ujar Selvi dengan nada pelan dan tersirat kesedihan.
"Tentu saja tidak apa-apa. Kau bisa memanggil anak itu sesuka hati. Justru aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau telah mengiringi seluruh masa hidupnya. Membuat dia menjadi laki-laki yang hebat."
Selvi tersipu malu hingga wajahnya memerah.
"Ah, aku sudah menganggap Morgan sebagai putraku sendiri. Dan juga Gerald. Mereka tumbuh dengan baik dan rukun. Ya, meskipun terkadang mereka membuat ulah dan membuat kepalaku pusing. Aku pernah dibuat hampir mati oleh tingkah mereka," bisik Selvi. Bukan bohong tentang itu, tapi mereka berdua benar-benar telah membuat Selvi hampir mati saat keduanya dikejar musuh dan dia harus turun tangan serta membereskan kekacauan ini pada saat anak-anak itu masih remaja. Tentunya, kedua anak nakal itu tidak tahu siapa yang telah turun tangan membantu mereka.
"Ah, begitu rupanya. Lain kali, aku harus mengundangmu untuk makan malam, dan sebagai permintaan maaf serta ucapan terima kasih kepadamu."
"Tidak perlu. Aku senang karena dengan adanya mereka, hidupku lebih berwarna. Jika tidak ada mereka, aku yakin hidupku akan sangat kesepian." Selvi berkata dengan lirih.
Robinson melihat kesedihan yang ada di mata wanita itu, dan dia ikut merasakannya juga. Berpuluh tahun hidup sendiri dan melupakan hidup berpasangan karena hal yang sepele.
Makanan telah datang, Robinson mempersilakan Selvi untuk makan bersamanya.
...***...
"Terima kasih untuk makan siangnya." Selvi memberikan senyuman kepada Robinson sambil menundukkan kepalanya sedikit. Mereka telah sampai di sebuah hotel ternama, salah satu dari sekian milik Robinson.
"Aku yang harus berterima kasih. Kau telah menemaniku makan siang. Jujur saja, sudah berpuluh tahun tidak ada yang menemaniku makan siang. Terima kasih atas makan siang berkesan ini."
Wajah Selvi memerah mendengar ucapan terima kasih dari Robinson. Akan tetapi, dia tidak boleh terbawa suasana dengan ucapan seorang laki-laki, termasuk Robinson. Dia sering mendengarnya dari Edward, dan hal itu membuatnya tidak lagi menarik mendengar kalimat itu.
"Aku akan kembali ke rumah sakit untuk memastikan Morgan makan atau mengganggu kekasihnya. Dia selalu mengganggu kekasihnya bahkan saat wanita itu tertidur."
"Baiklah. Aku juga akan beristirahat."
Robinson dan Selvi berpisah di depan lobi hotel tersebut. Barang-barang Selvi dibawakan oleh dua orang petugas menuju ke lantai kamarnya
"Silakan, Nona," ujar pria muda itu membukakan pintu ruangan untuk Selvi. Sebuah kamar presiden suite tampak sangat luas dan indah, besar sekali lengkap dengan pantry dan fasilitas lainnya.
"Aku tidak memesan kamar ini." Selvi menjadi bingung.
Pria pelayan itu menundukkan tubuhnya beberapa derajat dan berkata, "Kami hanya diperintahkan untuk mengantar Anda ke kamar ini. Selamat beristirahat. Semoga Anda bisa beristirahat dengan baik."
Dua orang pria muda itu mengundurkan diri setelah menutup pintu ruangan tersebut.
"Kamarnya terlalu luas."
Selvi mulai melangkah dan melihat semua yang ada di sana. Baginya sudah terbiasa dengan hal seperti ini, tapi dia tidak menyangka jika kamar yang dia dapatkan adalah kamar utama di hotel ini.
"Ini akan menguras banyakisi dompetku. Tapi, aku tidak peduli!" teriak Selvi kemudian berlari dan melompat, menjatuhkan dirinya di atas kasur yang empuk. Terlalu empuk sehingga dia rasanya ingin tenggelam ke dasar kasur dengan ukuran king size tersebut.
"Nyamannya." Tangan Selvi mengusap dan mengelus seprai di bawahnya. Dia memutar tubuhnya setelah puas menghirup dan merasakan kenyamanan di sana. Tatapannya dia fokuskan ke langit-langit kamar dengan lampu putih yang terang. Tirai berwarna putih masih menutupi dinding kaca yang ada di sana.
__ADS_1
Pikirannya kembali ke masa-masa sebelumnya, gagal dalam perihal percintaan.
"Kenapa hidupku menyedihkan sekali?"