Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
193. Dua Orang Yang Lain


__ADS_3

Morgan benar-benar tidak tahan dengan makanan yang dibuat oleh Selvi, ini tidak jauh berbeda dari makanan yang pernah dia makan dan tidak pernah bisa ditelan olehnya. Tidak beda dengan sekarang, rasanya masih sama.


"Ini enak sekali. Kau memang pandai memasak."


Morgan melirik sang ayah yang memakan makanan yang sama sepertinya, tapi dia tampak tidak ada masalah dengan itu dan sangat menikmatinya.


"Makanlah yang banyak, Anakku. Kau pasti akan menyesal, setelah kembali pada rutinitas yang biasa, kau tidak akan mudah mendapatkan masakan Mommy," ucap Robinson kemudian memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya tanpa masalah sama sekali. melihat dari raut wajahnya, pria itu seakan tidak keberatan dengan makanan ini.


Lyla melirik suaminya dan menyenggol kakinya.


"Kau melamun? Bagaimana rasanya? Apakah ini enak?" tanya Selvi. Rupanya melihat sang ayah yang makan dengan lahap membuat Morgan tidak mendengat panggilan Selvi tadi.


"Makanan ini--"


"Ini sangat enak sekali, Mom. Aku menyukainya, tapi akan lebih enak lagi jika kau menambahkan sedikit lada hitam dan rempah pada dagingnya."


"Benarkah?"


Lyla mengangguk. Selvi kembali makan dan ikut menganggukkan kepalanya. "Oh, pantas saja. Aku juga merasa masakan ini masih ada yang kurang. Baiklah, lain kali aku akan menambahkan lada hitam dan rempah." Selvi berbicara dengan semangat sekali dan melanjutkan makan siangnya.


Selesai makan siang, Lyla dan Selvi membereskan alat makan yang telah mereka pakai tadi, sementara itu Morgan dan Robinson duduk santai di depan cottage sambil menatap aut di depan mereka.


"Kau yakin baik-baik saja setelah makan?" tanya Morgan penasaran. Pasalnya dia baru saja kembali dari kamar mandi setelah memuntahkan apa yang baru saja dia makan. Apa yang Selvi buat lagi lagi-lagi tidak bisa diterima lambungnya. Urusan wanita itu lebih sering di rumah sakit sehingga dia tidak pernah masuk ke dalam area dapur. Sekalinya masuk ke dapur, maka seperti bencana alam setelahnya yang telah memporakporandakan tempat tersebut.


"Iya, aku baik-baik saja. Apa ada masalah?"


"Kau bisa makan masakannya?"


"Kenapa? Kau tidak bisa?"


"Kau harus memeriksakan lidahmu ke dokter. Lidah dan lambungmu bermasalah," ujar Morgan.


Robinson menyandarkan punggungnya danmelipat kedua tangannya untuk menjadi bantalan di belakang kepala.


"Aku tidak perlu memeriksakan diriku. Semua yang dia buat sangat enak bagiku. Apa yang bisa kau harapkan, Nak? Hidup selama puluhan tahun sendirian, dan aku mendapatkan pasangan di usiaku yang sudah tidak lagi muda. Hal yang buruk sekalipun akan indah di mata orang tua yang sedang jatuh cinta ini."


Morgan tidak habis pikir dengan ayahnya yang cenderung aneh. Segila-gilanya dia mencintai seseorang, makanan yang tidak enak tetap saja tidak enak di mulutnya.


"Apa kau pernah mengatakan bahwa masakan istrimu tidak enak?"


"Istriku tidak pernah memasak. Pernah dulu, dan dia hampir membunuhku karena masakannya itu?"


Kening Robinson mengerut mendengarnya, pasti ada hal yang belum dia ketahui yang terjadi pada putranya dan istrinya itu.


"Aku ingin mendengar ceritamu."


"Tidak. Siapa kau yang perlu endengar ceritaku?" tandas Morgan kemudian turun dari cottage sang ayah kembali menuju tempatnya. Akan tetapi, saat dia akan masuk ke dalam, sebuah mobil hitam mewah berhenti di dekat mereka dan satu persatu keluar dari dalam sana.


"Kak Lyla!" teriak Lian yang baru keluar dari mobil tersebut. Lyla yang masih membereskan tempat makan keluar dan tersenyum senang sekaligus terkejut akan kehadiran adik angkatnya.


"Lian!" Dua wanita itu berlari dan saling berpelukan satu sama lain dan melompat bak anak kecil.


"Kau ada di sini? Aku senang sekali kau ada di sini!" seru Lyla. Namun, berbeda dengan Lyla, Morgan menatap sebal pada ayahnya. Pasti mereka datang karena ajakan dari Robinson.


Morgan melayangkan tatapan protes pada sang ayah yang masih duduk bersandar. Pria tua itu hanya tersenyum lebar, seakan dari senyumnya itu dia tidak ingin membiarkan dia sendirian.


"Hah, tau seperti itu, aku akan membawa Lyla untuk pergi ke Greenland saja," gumam Morgan kemudian masuk ke dalam cottage-nya.


Terdengar suara seruan di luaran sana, Lyla, Lian, dan Selvi tentu saja. Suara tawa dari Robinson dan Gerald tanpa Morgan. Morgan memilih untuk berada di kamarnya dan tetap saja merasa kesal. Inginnya bulan madu tanpa orang yang dia kenali, hanya berdua saja dengan sang istri, tapi kenapa harus ada Gerald juga di sini?


"Akhhh. Dasar Pak Tua sialan!" decak kesal Morgan sambil menendang udara yang ada di depannya, tapi tempat yang tidak terlalu luas itu membuat kakinya yang panjang tidak sengaja menendang meja. Morgan meringis kesakitan karena rasa ngilu itu dan melompat-lompat kecil seraya memegangi kakinya yang sakit.


"Sialan. Argghhh, apa yang salah dengan hidupku ini? Mereka seakan tidak ingin membiarkanku hidup dengan tenang di sini," ucap Morgan yang masih kesal dengan keadaannya.


...*...


"Apa kalian sudah makan siang? Aku masih memiliki beberapa makanan jika kalian mau makan."


Gerald menyenggol lengan istrinya dan memberikan kode, mengingatkan kepada Lian atas pembicaraan tadi sebelum mereka turun dari pesawat.


"Ah, sayang sekali. Kami sudah makan. Gerald sudah membeli makanan sangat banyak sekali untuk bekal kami di dalam pesawat, karena aku pikir perjalanan sangat jauh dan aku tidak bisa jika tidak ada makanan. Perutku sudah hampir penuh, Tante." Lian mengelus perutnya yang memang sudah terisi. Apa yang dikatakan olehnya memang benar adanya, Lian yang tidak bisa jauh dengan makanan dan meminta suaminya untuk membeli banyak stok persediaan makanan ringan maupun mie instan, selain ada pula makanan yang telah disediakan oleh kru di dalam pesawat.

__ADS_1


"Oh, begitu rupanya. Oke, tidak apa-apa. Kalian bisa meminta makanan kepada maid jika lapar lagi," ucap Selvi. Gerald menghela napasnya lega. Saat melihat makanan tadi yang dibawa oleh Lyla, dia sudah tahu jika itu adalah masakan bibinya. Dia hanya tidak ingin pergi ke kamar mandi seperti waktu itu.


"Baiklah, Tante. Jika lapar, kami pasti akan meminta makanan ke belakang," ucap Lian. Lirik matanya tertuju pada suaminya yang tersenyum dan memberikan acungan jempol kepadanya.


Lyla pun melihat itu dan mendekat serta berbisik saat Selvi tidak ada di sana.


"Apa yang aku pikirkan sama dengan Gerald?" tanya Lyla. Lian terkekeh mendengarnya dan menganggukkan kepala.


"Aku tidak ingin suamiku merengek sakit perut karena makanan yang dimasak Tante Selvi. Memangnya, masakannya sangat buruk ya?" tanya Lian penasaran. Dia tidak tahu sama sekali mengenai hal tersebut karena dia tidak pernah merasakan masakan orang lain selain koki di rumah Morgan terdahulu dan masakan ibunya.


"Iya, sepertinya apa yang dikatakan oleh suamimu benar, meski aku tidak sampai pergi bolak-balik ke kamar mandi, sih. Mom harus lebih banyak belajar lagi dalam hal memasak,'' balas Lyla berbisik dengan suara yang sangat rendah sekali.


Lian jadi ngeri mendengarnya. Dia tidak ingin sampai sakit perut karena makanan itu.


"Ah, aku harus kembali ke tempatku, aku takut jika Morgan ada masalah di dalam sana," pamit Lyla.


"Cih, masalah apa? Masalah kesepian?" goda wanita itu. Lyla mengerucutkan bibirnya, antara ingin menjawab iya dan bukan.


Lyla juga berpamitan kepada yang lainnya dan segera kembali ke cottage miliknya. Dia melihat Morgan tengah duduk di kursi rotan di dalam dan meniupi kakinya yang terlihat memerah.


"Ada apa denganmu?" tanya Lyla segera mendekat dan berjongkok di depan Morgan.


"Tidak apa-apa, aku hanya tersandung meja tadi."


"Apakah ini sakit?" Baru saja Lyla akan menyentuh kaki Morgan, tapi pria itu segera menjauhkan kakinya dari tangan Lyla.


"Ini sangat sakit sekali. Jadi, agar tidak sakit, kau harus memelukku, Honey."


Tanpa meminta persetujuan dari istrinya, Morgan menarik tangan Lyla sehingga dia terjatuh di atas pengkuannya.


"Apa yang kalian bicarakan tadi sampai kau tertawa seperti itu?" tanya Morgan penasaran.


"Random saja. Kami membicarakan yang ingin kami bicarakan." Lyla juga tidak paham apa sebenarnya yang mereka bicarakan tadi di luar, tapi pembahasan itu cukup menyenangkan juga karena banyak hal yang mereka bicarakan.


"Kau bersenang-senang rupanya."


Lyla sadar jika itu merupakan sindiran juga untuknya. Ya, mungkin saja kan itu sebuah sindiran mengingat jika Morgan hanya sendirian di sini dan dia tidak segera datang tadi.


"Sekali lagi?" tanya Morgan. Lyla memutar bola matanya malas.


"Yang benar saja, Morgan!"


Morgan tertawa kecil dan menarik tangan Lyla untuk bangkit dari pangkuannya, hal itu membuat Lyla menjadi bingung padahal tadi dia menginginkan hal itu, bukan?


"Haha, tentu saja tidak. Aku hanya bercanda. Meski sebenarnya jika kai mau memberikannya untukku, aku akan sangat senang juga."


Lyla memberikan tatapan skeptis kepada suaminya.


"Aku ingin pergi berjalan-jalan di pantai, temani aku," ajak Morgan. Akan tetapi, dia ingat jika istrinya cukup lelah setelah perjalanan jauh dan dia sudah kurang beristirahat. "Eh, tidak usah saja. Lebih baik kita beristirahat saja siang ini dan kita akan pergi nanti saat sore," ucap Morgan.


"Eh, kenapa tidak jadi?"


"Aku baru ingat jika aku sangat lelah. Dan kau pastinya sama bukan?"


Lyla sedikit berpikir, mungkin pantai lebih baik daripada dia diganggu dan harus berurusan dengan tubuh polos suaminya lagi.


"Ayo, kita tidur sebentar. Hanya tidur. Aku janji tidak akan meminta jatah lagi untuk siang ini."


Morgan menarik tangan Lyla dan masuk ke dalam kamar mereka.


"Kau mau ke mana?" tanya Lyla saat Morgan kembali bangkit dari atas ranjang.


"Mengunci pintu. Aku tidak mau ada seseorang yang menerobos masuk saat kita sedang beristirahat."


Morgan pergi dan kembali tidak sampai satu menit kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Ranjang yang mereka pakai sedikit kecil dan membuat Morgan tidak begitu nyaman, masih lebih baik ranjang yang ada di dalam pesawat berukuran cukup luas dan dia bisa berguling ke kanan maupun ke kiri, tapi ranjang ini hanya cukup untuk mereka tidur telentang saja.


"Kau bilang kau akan tidur?" Lyla melihat keresahan suaminya yang tercipta dari gerakan tubuhnya.


"Ranjang ini tidak cukup besar untuk kita berdua."

__ADS_1


"Aku akan tidur di sofa." Lyla bangun dan akan memberikan tempat tidur ini untuk Morgan seorang. Morgan memang tidak terbiasa dengan tempat yang bukan kehendaknya dan Lyla tidak keberatan jika dia harus tidur di sofa.


"Tetap tinggallah di sini, aku tidak suka tidur sendirian."


"Tapi, kau bilang ranjang ini tidak cukup untuk kita berdua."


"Kau salah paham, Sayang." Morgan menarik tangan istrinya dan memeluknya erat. "Aku sedang mengeluh, tapi bukan berarti aku ingin kau pergi dari sisiku. Aku akan meminta kepada ayah untuk mengganti ranjang ini dengan ranjang yang cukup besar," ucap Morgan.


Lyla lebih mendekatkan dirinya pada sang suami dan ikut memeluknya erat.


"Tersera apa katamu saja, tapi aku minta satu hal padamu. Jangan berdebat dengan ayah, dia sudah tua. Seharusnya kita yang lebih muda yang harus mengalah kepadanya."


"Dia tua dari mana? Kau tidak dengar di luaran sana?"


Lyla pun mendengar suara ayah mertuanya yang tertawa terbahak bersama dengan tiga suara yang lain, tentu saja Selvi, Lian, dan Gerald.


"Mereka semua sedang berubah seperti anak kecil sekarang," ucap Morgan.


"Iya, kau benar, Sayang. Tapi tidak ada salahnya kan jika mereka seperti itu? Selama aku bersama denganmu, aku tidak pernah melihat atau mendengar Gerald tertawa dengan lepas, begitu juga dengan Tante Selvi. Yang selama ini aku lihat hanya sekumpulan orang-orang yang serius akan pekerjaannya. Jadi, jika mereka sekarang berubah, aku pikir itu hal yang wajar. Aku suka melihat mereka tertawa bersama-sama," ucap Lyla.


Morgan pun mengakuinya, dia juga sadar jika memang yang dikatakan oleh Lyla adalah hal yang benar.


"Iya, kau memang benar sekali," ucap Morgan.


"Morgan."


"Hemm."


"Apakah kau juga bisa berdamai seperti mereka? Jangan terlalu kaku dengan hidupmu. Aku ingin melihatmu lebih banyak tersenyum dan tertawa. Bukan hanya saat bersamaku saja, tapi setiap saat aku ingin melihatmu tersenyum dan hidup dengan bahagia."


Ditatapnya wajah Lyla yang sangat dia cintai, ucapan istrinya tidak pernah salah dan dia akan berubah sedikit demi sedikit.


"Sudah, ayo kita tidur jika kau memang tidak mau membuat anak lagi," ajak Lyla. Morgan terkekeh mendengar ajakan itu dan dia menarik selimut hingga menutupi dada dan mereka tidur bersama.


Sementara itu di luar, keempat orang sedang merencanakan untuk membuat barbekyu pada malam hari nanti dan tentunya ada ikan serta ayam bakar untuk menemani acara makan malam bersama. Itu pun, Lian yang mengusulkan karena dia sedikit ngeri jika sampai Selvi yang menyiapkan makanan lagi.


"Kami pamit untuk beristirahat." Gerald pamit kepada Selvi dan Robinson.


"Iya, kalian beristirahat saja. Aku akan meminta kepada yang lain untuk menyiapkan semua bahan untuk malam nanti."


Lian mengangguki ucapan Selvi, kemudian mengikuti langkah suaminya pergi ke cottage yang lain.


"Honey, ayo kita kembali ke tempat kita," ajak Robinson.


Selvi menurut dan mengikuti suaminya masuk ke dalam mobil. Kendaraan mewah itu pergi dari cottage dan menuju ke sebuah jalanan beraspal dan tidak sampai tiga puluh menit berkendara, akhirnya mereka telah sampai di seberang lain pulau tersebut di mana ada sebuah villa besar yang tinggi menjulang dengan pilar besar dan ukiran indah.


"Sayang, apakah kita tidak kejam terhadap mereka?" tanya Selvi saat mobil tersebut memasuki villa itu.


"Aku pikir tidak. Mereka harus dibiasakan dengan fasilitas seadanya."


"Lalu kau? Bukankah kau juga tidak bisa jika tanpa fasilitas mewah?" ujar Selvi. Villa itu terbuka dan di dalamnya terdapat barang-barang mewah keluaran terbaru. Sebuah tv besar menempel di dinidng dan juga karpet permadani mahal tergelar di atas lantai. Lantai villa tersebut terbuat dari bahan granit terbaik serta fasilitas mewah lainnya. Lukisan mewah dan patung dengan harga fantastis menghiasi area dalam vila tersebut.


"Honey, aku ini sudah tua, dan sudah sepantasnya aku menikmati hidup, kan? Memangnya kau mau tinggal di cottage tanpa adanya sinyal?" tanya Robinson melirik sang istri.


Selvi menatap suaminya dan tersenyum meringis sembari menggelengkan kepala. "Rasanya aku akan mati jika tidak ada WiFi."


"Kau benar sekali, Sayang. Aku pun seperti itu. Jadi, mari kita egois sebentar untuk saat ini dan biarkan para anak muda menikmati hidup yang sesungguhnya hanya bersama dengan pasangan mereka saja."


Selvi tersenyum dan membenarkan ucapan suaminya. Para anak muda sudah terlalu banyak mendapati fasilitas yang tidak pernah kurang, berbeda dengan zaman di mana mereka saat kecil dulu dan mereka tidak mudah untuk mendapatkan kemudahan seperti sekarang ini.


"Aku ingin bermain peran. Ayo kita buat scene yang lain," ajak Robinson menggandeng bahu istrinya.


"Aku akan berperan sebagai apa sekarang?"


"Terserah kau. Apakah kau mau menjadi dokter cantik, atau menjadi seorang dosen? Aku juga sudah menyiapkan baju macan yang kau mau," ucap Robinson sambil terkekeh. Tentunya baju macan yang bisa membuat gairahnya muncul dan dia akan pasrah menjadi mangsa macan cantik itu.


"Kau nakal sekali!"


Robinson dan Selvi masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang sangat luas sekali, di dalamnya tentu saja ada ranjang berukuran king size dengan cermin besar di bagian kanan ruangan tersebut. Sedangkan di sisi lain, ada beberapa kamera yang terpasang dan siap untuk merekam aksi panas mereka.


Rekaman itu hanya digunakan untuk dokumentasi pribadi mereka. Suatu kebetulan Robinson mendapat Selvi sebagai istrinya karena hobi mereka ternyata memiliki banyak kesamaan.

__ADS_1


Selvi juga tidak perlu khawatir, karena dia tidak pernah merekam percintaannya dengan pria lain sebelum ini.


__ADS_2