
Morgan terkejut dan terdiam mendengar apa yang Lyla katakan barusan, dia tidak menyangka jika keinginan Lyla sangat sederhana seperti itu. Bukan untuk keinginannya sendiri, tapi kenapa untuk orang lain?
“Kenapa kau tidak menginginkannya untukmu sendiri?” tanya Morgan ingin tahu. Lyla menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah cukup dengan kehidupanku. Entahlah, aku tidak tahu inginkan apa, tapi aku senang jika melihatmu tersenyum,” ucap Lyla.
Aneh itulah hal yang dirasakan dalam hati Morgan entah kenapa seperti ada wangi dari berbagai bunga yang tercium di bawah hidungnya padahal jelas sekali di sana tidak ada sama sekali bunga-bunga segar. Hatinya terasa aneh sekarang ini mendengar penuturan keinginan Lyla barusan.
Dua orang itu saling berpandangan, saling menatap satu sama lain tepat pada bola matanya, membuat Morgan dengan cepat menundukkan kepala. Dia merasa aneh dan juga ingin rasanya melompat-lompat.
“Sudahlah ayo cepat kita makan cepat habiskan makananmu dan aku akan mengantarkanmu pulang. Kau harus beristirahat,” ucap Morgan, Lyla menganggukan kepalanya dan kemudian kembali menghabiskan makanan tersebut dengan cepat.
Mereka pulang ke rumah, Morgan hanya mengantarkan saja sampai di depan. Dia tidak ikut turun.
“Hati-hatilah di jalan, Tuan. Hubungi aku jika kau sudah sampai di kantor,” ucap Lyla seraya melambaikan tangannya pada Morgan.
Morgan juga ikut membalas lambaian tangan Lyla, tapi kemudian dia sadar dan menurunkan tangan itu.
“Ya, tentu saja aku akan menghubungimu nanti. Jangan lupa dengan janjimu, siapkan saja bahan-bahannya nanti aku akan menghubungi jam berapa aku akan pulang,” ucapnya kepada Lyla.
Lyla tersenyum dan kembali melambaikan tangannya. Mobil Morgan kemudian pergi dan Lyla masuk ke dalam rumah saat mobil itu sudah tidak terlihat lagi di pandangannya.
Lyla masuk ke dalam dan berjalan menuju ke kamarnya.
“Kau sudah pulang, Nona?” sapa seorang pelayan sambil menundukkan kepala.
“Ya, aku sudah pulang. Aku pulang lebih cepat hari ini.”
Pelayan itu kemudian menganggukkan kepalanya dan berpamitan untuk kembali mengerjakan tugasnya.
Tidak lama berselang setelah Lyla membersihkan dirinya seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Segera dia bergegas membuka pintu itu.
“Nona Selvi datang mencari Anda,” ucap pelayan tersebut yang segera diangguki oleh Lyla.
“Tolong sampaikan sebentar lagi aku akan turun,” ucap Lyla kemudian pelayan itu undur diri dari hadapannya.
Tidak berselang lama Lyla turun ke lantai bawah dan dia menemukan Selvi berada di sana.
“Apa kabarmu, Sayang?” tanya Selvi seraya memeluk Lyla singkat.
“Aku baik, Nona. Apakah ada perlu Anda datang kemari tanya Lyla dengan bingung. Selvi segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Tidak ada apa-apa aku hanya ingin menjengukmu saja. Apa kau sudah makan siang?” tanya wanita itu Lyla menganggukkan kepalanya dan berkata jika dia sudah makan siang bersama dengan Morgan.
“Ah sayang sekali, aku pikir kau belum makan siang,” ucap Selvi dengan raut wajah yang sedih.
“Bisakah kau menemaniku makan siang? Kau boleh memesan kopi atau es krim,” ucap Selvi, Lila menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengganti bajuku dulu,” ucap Lyla. Selvi mempersilakan dan duduk di ruang tamu sementara Lyla kembali berlari ke lantai atas untuk mengganti pakaiannya.
Mereka kemudian pergi keluar rumah. Semua itu tidak luput dari tatapan seseorang yang iri terhadap Lyla.
...***...
Hingga sore menjelang Lyla baru saja pulang diantar oleh Selvi, kebetulan sekali ini adalah hari liburnya sehingga Selvi tidak pergi ke rumah sakit. Dia sangat senang sekali karena Lyla sudah berkenan untuk mendengarkan curhatannya hari ini.
“Terima kasih karena kau telah menemaniku, Sayang. Aku sudah lega sekarang ini.”
“Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu, Nona. Kau memberikan aku banyak sekali,” ucap Lyla sambil mengangkat tas pemberian dari Selvi. Selain makan siang mereka juga berbelanja dan Lyla memiliki bagian tersendiri karena sudah mendengarkan curhatan dari wanita itu.
__ADS_1
“Ah itu tidak seberapa, jangan kau merasa tidak enak hati karena aku juga sudah menculikmu beberapa jam. Aku harap Morgan tidak marah aku mengajakmu keluar,” ucap wanita itu.
“Dia sedang berada di kantor. Aku pikir juga tidak akan apa-apa karena aku sendiri kadang merasa bosan berada di rumah,” ucap Lyla.
“Aku akan pulang, terima kasih atas waktunya hari ini.”
Selvi kemudian pulang ke rumahnya.
Lyla berjalan menaiki tangga, seorang pelayan yang sedang membersihkan guci guci mahal melirik wanita itu tanpa henti. Kesal dan juga iri melihat nasib Lyla yang sangat bagus menurutnya.
Lyla beristirahat sampai sore hari, tadi sebelum beristirahat dia sudah meminta kepada salah satu pelayan untuk menyiapkan bahan-bahan untuknya membuat mie sore nanti saat Morgan pulang.
Sedari tadi dia menunggu Morgan mengirimkan pesa, tapi sepertinya laki-laki itu lupa karena dia tidak juga mengirimkan pesan sampai hari menjelang gelap.
“Apakah dia melupakannya?” gumam Lyla pada dirinya sendiri. Dia merasa bosan menunggu dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Morgan.
Suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas, Morgan yang masih berkutat dengan pekerjaannya melirik ponselnya dan melihat nama Lyla ada di sana. Dia segera mengangkat panggilan tersebut dan bertanya, “Ya ada apa?”
“Apa kau melupakan sesuatu, Tuan? Aku sedari tadi menunggumu mengirimkan pesan kau akan pulang jam berapa, apa kau tidak akan mencicipi masakanku?” tanya Lyla secara beruntun.
Morgan menepuk keningnya, dia melupakan suatu hal yang penting, padahal baru tadi siang Lyla mengatakannya
“Maaf, aku lupa. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan,” ucap Morgan.
Lyla menjadi malas dan mengeluh. “Jadi, bagaimana ini? Apa aku membuatnya besok saja?” tanya Lyla kesal.
Morgan mendengar nada kekesalan pada Lyla dan dia menjadi tidak enak hati. Akhirnya dia membereskan berkas-berkas yang ada di atas mejanya. “Aku akan pulang sekarang juga, kau bisa membuatnya mulai dari sekarang,” ucap laki-laki itu yang membuat Lyla senang. Dia segera beranjak dari kasur
“Aku akan membuatnya sekarang juga!” teriak Lyla kemudian turun dari tangga dengan kencang sehingga Morgan bisa mendengar hembusan napas Lyla yang cepat.
“Hei, berhenti berlari. Kau tidak boleh berlari seperti itu menuruni tangga, kau bisa terjatuh, Lila,” ucap Morgan.
Wanita itu tersenyum malu. “Iya, aku akan berjalan saja. Maaf, kau bisa mematikan teleponnya, aku akan menyiapkan bahan-bahannya sekarang juga,” ucap Lyla. Morgan menggelengkan kepalanya, dia tersenyum karena Lyla terdengar sangat bersemangat seperti itu.
Lyla berlari dengan bersemangat ke arah dapur. Dia kemudian mencari Ibu Lian dan menanyakan bahan-bahan yang tadi dia minta untuk disiapkan.
“Kau bersemangat sekali, Nona. Tuan muda pasti akan sangat senang kau membuatkan makanan itu khusus untuknya,” ucap Lian yang menunggu di seberang meja. Dia yang akan memberi instruksi untuk Lyla dari tempatnya duduk.
“Ya, aku hanya ingin membujuknya untuk kembali ke kantor tadi siang. Maka dari itu aku akan berjanji akan membuatkannya mie ini.”
“Apakah kalian tadi bertemu siang?” tanya Lian ingin tahu.
Lyla menganggukkan kepalanya. “Ya, kami tadi bertemu dan kami makan siang bersama,” jawab Lyla, tapi dia tidak menyebutkan jika mereka sudah menonton film. Bisa-bisa Lian sangat kepo dan juga bertanya banyak hal kepadanya.
“Hem … aku jadi penasaran kalian pergi ke mana siang tadi? Apakah ke restoran yang sangat mahal? Kalian makan makanan yang enak?” tanya Lian ingin tahu.
“Tidak juga, kami hanya memakan makanan biasa saja.”
“Tidak mungkin. Tuan Morgan tidak akan mau makan makanan seperti kita,” ucap Lian meragukan. Akan tetapi, Lyla hanya tersenyum saja yang mana hal itu membuat dia juga kini merasa yakin dengan perkataan Lyla tadi.
“Astaga. Aku tidak percaya dengan itu. Aku pikir Tuan Morgan orang yang sangat pemilih dalam hal makanan dan juga tempat,” ucap Lian.
“Tolong kau lihat caraku sampai akhir nanti, katakan saja jika aku tidak benar melakukannya,” ucap Lyla dan Lian hanya menganggukkan kepala saja.
Baru saja Morgan akan keluar dari pintu tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Morgan terkejut karena Renee datang kepadanya.
“Hai Morgan, apa kau mau pulang sekarang?” tanya wanita itu.
“Ya, seperti yang kau lihat,” ucap Morgan dengan ketus.
__ADS_1
“Sayang sekali, padahal aku ingin berbicara berdua denganmu,” ucap Renee.
“Kau bisa datang lagi besok.”
“Tapi ini adalah hal yang penting Morgan. Kita harus bicara supaya kau tidak lagi menuduhku telah menghianatimu,” ucap wanita itu dengan pandangan yang berkaca-kaca.
“Aku pikir sudah tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Renee. Semuanya sudah jelas saat kau menjauhiku,” ucap Morgan, tapi dia tidak mengatakan tentang apa yang dia ketahui dari Gerald tadi pagi.
“Kau yakin sudah tidak ada maaf lagi untukku? Aku benar-benar ingin kembali lagi padamu Morgan.”
“Kau sudah tahu aku memiliki kekasih dan aku akan menikahinya sebentar lagi,” ucapnya tanpa ragu Renee tersentak mendengarnya.
“Tidak mungkin, kau pasti berbohong dan hanya ingin melukaiku saja bukan? Aku memang pantas kau perlakukan seperti ini, tapi aku minta maaf Morgan kau tidak tahu kan siapa yang membuatku pergi darimu? Kenapa kau tidak tanyakan saja kepada tantemu dia juga ikut terlibat karena memintaku untuk pergi,” ucap wanita itu yang membuat Morgan menjadi terdiam.
Renee meneliti wajah Morgan dan dia berharap jika laki-laki itu percaya dan mau mendengarnya.
“Seharusnya sebelum kau pergi kau berbicara dulu denganku. Kau sudah pergi selama empat tahun dan sekarang kau ingin kembali lagi dan mengatakan jika kau pergi karena orang lain? Kau tahu aku bagaimana, dan kau juga pastinya tahu aku akan berpihak kepada siapa?” ucap Morgan dengan tegas.
Morgan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Renee di ruangan itu sendirian.
Renee mengepalkan tangannya sehingga kuku-kukunya yang panjang hampir melukai telapak tangan. Dia mengeratkan rahangnya dengan cukup kuat dan tidak terima jika benar Morgan akan menikah dengan wanita itu.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Seharusnya kau mendengarkan dulu penjelasanku Morgan.”
Renee kemudian pergi dari sana dengan hati yang luka. Kemarin dia sudah menemui Selvi dan berbicara dengan wanita itu, tapi ternyata dia wanita yang sangat licik sekali sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa percaya lagi denganku, Morgan?” gumam wanita itu.
Morgan mengendarai mobilnya pergi dari sana untuk menuju ke arah pulang. Akan tetapi, ketika dia hendak melajukan mobilnya di basement tiba-tiba saja Renee keluar dari balik mobil yang lain dan membuatnya tidak sengaja menabrak wanita itu.
“Akh!” teriak Renee kesakitan ketika terjatuh di lantai basemen.
Morgan boleh saja sudah tidak punya hati kepada wanita itu, tapi dia juga bukan laki-laki yang tidak punya hati saat melihat seorang wanita yang tertabrak dan kesakitan karenanya. Morgan turun dari mobil dan menghampiri Renee yang terduduk di lantai seraya memegangi lututnya yang berdarah.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Morgan sambil menunduk melihat keadaan wanita itu.
“Aku hanya ingin berbicara saja denganmu, tapi kenapa kau seperti itu? Kenapa kau menghindariku?” tanya Renee.
“Tapi itu bukan berarti kau bisa menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Apa yang membuatmu gila sampai-sampai membuatmu terluka seperti ini?” ucap Morgan dengan sedikit kesal.
“Aku terpaksa karena kau yang memaksaku,” ucapnya.
Morgan pergi ke mobilnya dan mengambil tisu, kemudian kembali lagi pada Renee yang masih terduduk dengan darah yang keluar dari lututnya. Dia mengusap darah itu membuat Renee meringis kesakitan
“Tolong pelan-pelan sedikit. Ini sangat sakit,” ucap wanita itu sambil menahan tangan Morgan. Morgan melihat luka yang ada pada lutut dan betis wanita itu cukup mengkhawatirkan, robek hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak, sehingga dia memutuskan untuk membawa Renee ke rumah sakit.
“Lukamu cukup parah, kita pergi ke rumah sakit,” ucap Morgan lalu mengangkat Renee di depan dan memasukkannya ke dalam mobil. Renee tidak menolak karena dia juga beruntung bisa bersama dengan Morgan sampai ke rumah sakit sehingga dia memiliki waktu untuk berbicara dengan laki-laki.
“Morgan, aku ingin memberitahumu sesuatu,” ucapnya saat Morgan sudah mengendarai mobilnya keluar dari perusahaan Itu. Morgan hanya diam tidak menggubris ucapan Renee.
“Sebenarnya empat tahun yang lalu aku pergi karena Tante Selvi yang menyuruhku pergi. Dia bilang aku ini wanita yang tidak baik dan aku adalah pengaruh buruk untukmu. Aku tidak tahu kenapa dia tidak bisa menerimaku. Padahal aku sangat tulus padamu, Morgan.”
Morgan masih diam menyimak ucapan Renee.
“Dia mengancam akan membuat hari-hari selama pernikahan kita menjadi buruk. Dia juga mengancam akan membuat hidup keluargaku menjadi tidak tenang. Kau tahu kan, aku tidak bisa melihat keluargaku hidup dalam tekanan seperti itu? Waktu itu aku bingung sampai aku memutuskan untuk pergi darimu,” Renee kini mulai menangis berderaian air mata.
“Lalu bagaimana dengan Marcel? Kau bisa menjelaskan bagaimana hubunganmu dengan Marcel sebelumnya?” tanya Morgan membuat Renee terkejut dan membulatkan matanya.
“Apa maksudmu? Aku tidak paham apa yang kau katakan, Morgan,”ucap Renee mengelak.
__ADS_1
Morgan mengeratkan pegangannya pada kemudi dan membawa mobilnya melaju dengan kecepatan yang tinggi sehingga Renee menyadari jika mereka mungkin bisa saja berada di dalam bahaya.
“Morgan, apa yang kau lakukan? Kau bisa membuat kita mati di jalan,” seru Renee dengan takut. Akan tetapi, Morgan tidak mendengarkan dan dia masih saja menekan gasnya sehingga mobil itu melaju di atas jalanan yang dingin.