Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
91. Sebuah Rahasia


__ADS_3

Morgan sedang termenung melihat pemandangan yang ada di luar kantornya. Dia melihat ke kejauhan sana seakan ingin menembus awan-awan yang menggantung di langit. Pertemuannya kemarin dengan Renee membuat dia kembali memikirkan masa-masa yang dulu.


Apa aku salah tidak bertanya dulu kepadanya? gumam Morgan di dalam hati. Dia rindu dengan wanita itu, tapi hatinya merasa marah dan kesal jika melihat dia datang dengan tanpa rasa bersalah.


Tiba-tiba saja teringat akan keadaan mereka dulu. Dua orang yang saling mencintai dan juga berjanji untuk akan selalu bersama selamanya. Akan tetapi, apa yang Renee lakukan telah membuat luka yang dalam di hati Morgan. Semua sudah dipersiapkan dan undangan telah disebarkan, tanpa alasan yang pasti Renee dengan begitu saja meninggalkannya.


Morgan mendesah pelan, dia berpikir harus menemui Renee dan bertanya alasan apa wanita itu meninggalkannya kemarin.


“Ya, aku harus bertemu dengan dia,” ucapnya lirih kemudian kembali menatap awan biru di luaran sana.


Gerald masuk ke dalam ruangan tersebut dan menemukan Morgan tengah berdiri di depan jendela. Dia menyimpan berkas di atas meja kerja Morgan.


“Sepertinya sore nanti kau tidak bisa menjemput Lyla.”


“Kenapa?” tanya Morgan seraya mengalihkan tatapannya dari arah luar.


“Kita ada pertemuan mendadak. Kali ini kau harus ikut. Jika tidak, Tuan Vansco tidak akan mengampuni kita,” ucap Gerald dengan santai.


“Aku harus menjemput Lyla.”


“Suruh seseorang untuk menjemputnya. Kau tidak bisa terus-menerus mengurusi wanita itu. Apa kau merasa sangat bersalah dengan kejadian itu sehingga kau terus menerus menempel padanya?” tanya Gerald kesal. Tidak ada maksud lain, tapi dia merasa jika Morgan akan kehilangan banyak kesempatan jika dia tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


“Ya, aku akan pergi. Kau jemput dia.” Gerald kini mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan ucapan Morgan yang tanpa perlawanan sama sekali. Akan tetapi, dia tidak bertanya atau membantah ucapan sepupunya itu.


“Oh, oke. Baiklah jika kau akan pergi. Aku yang akan menjemput Lyla.” Gerald baru saja akan melangkah pergi dari ruangan itu, tapi Morgan berbicara sehingga menghentikan laju langkah kaki Gerald.


“Kau tidak boleh berbicara jika menjemput dia.”


Gerald membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Morgan dengan heran. “Kau … kenapa kau posesif sekali?”


“Jangan banyak bertanya. Lakukan saja!”

__ADS_1


"Apa kau sedang cemburu?" tanya Gerald dengan nada mencibir.


"Hentikan, aku tidak sedang cemburu!" ucap Morgan mengelak. Gerald tertawa kecil melihat sepupunya itu yang tampak salah tingkah.


"Oh, ya? Tidak? Tapi aku melihat jika kau seperti orang yang sedang cemburu, Sepupu!" ucap Gerald lagi.


"Diam, atau kau akan aku kirim untuk menyelesaikan Proyek Biru!" ancam Morgan, seketika Gerald menelan ludahnya dengan susah payah. Lebih baik dia pergi sekarang dari pada Morgan benar-benar mengirimnya untuk menyelesaikan Proyek Biru itu. Bukan apa-apa, Proyek Biru sangat menyebalkan baginya karena dia harus berada di sana dan memantau proyek tersebut tanpa bisa tidur sama sekali. Ya, proyek yang menyebalkan baginya!


“Oke, aku akan lakukan apa yang kau minta, tapi jika dia yang lebih dulu bertanya padaku, tentu aku akan menjawabnya dengan senang hati,” ucap Gerald sambil tertawa menang dan kembali membalikkan tubuhnya. Morgan yang mendengar itu segera menyingkir dari depan jendela dan menatap Gerald dengan kesal.


“Aku bilang kau jangan bicara dengannya, termasuk menjawab pertanyaan dia!” teriak Morgan marah. Gerald tak peduli dengan teriakan itu, dia mengangkat tangannya dan melambai tanpa menghentikan langkah kakinya.


“Hei, kau dengar aku tidak!” teriak Morgan. Gerald menutup pintunya dan tidak peduli dengan laki-laki yang kini menjadi berubah aneh.


“Hah, dia ….” Morgan mengusap wajahnya kasar, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena Gerald sudah berkata Tuan Vansco akan marah jika dia tidak datang di pertemuan kali ini.


“Ah, dasar bed*bah!” racau Morgan.


Dengan langkah yang cepat Gerald pergi dan menarik tangan wanita itu.


“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Gerald seraya menarik tangan Renee pergi dari sana.


Renee terkejut karena melihat Gerald yang ada di sana. Dia ingin menarik tangannya, tapi tidak bisa karena Gerald memegang tangannya dengan erat dan memaksanya untuk pergi.


“Lepaskan aku, Gerald!” seru Renee.


“Tidak! Untuk apa kau datang kemari? Bukankah aku sudah bilang padamu kemarin jika kau tidak perlu datang kemari lagi?” tanya Gerald tanpa menghentikan laju kakinya.


“Aku hanya ingin bertamu dengan dia dan menjelaskan kenapa aku pergi,” seru Renee.


Gerald melepaskan tangan Renee setelah dia membawa wanita itu ke basemen. Degan kasar Gerald melepaskan tangan Renee dan menahannya di antara mobil para karyawan.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Gerald?” tanya Renee seraya mengusap tangannya yang terasa sakit akibat ulah Gerald barusan.


“Aku hanya tidak suka kau ada di sini.”


“Tidak suka? Kenapa? Apa karena dulu aku menolakmu dan memilih bersama dengan Morgan?” tanya Renee dengan tatapan protes.


“Tidak. Bukan itu.”


“Lalu? apa hakmu melarangku untuk bertemu dengan dia?” tanya Renee lagi.


“Karena aku tidak suka kau datang kemari.”


"Tidak suka? Kenapa? Kau belum bisa move dariku?" tanya Renee dengan tawa kecil tanda mengejek.


Gerald berdecih dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Aku sangat mudah move on darimu. Tapi kau sedang berurusan dengan sepupuku. Aku yang akan maju untuk menghalangimu bertemu dengan dia," ucap Gerald lagi.


Renee tertawa kecil mendengarnya. "Benarkah? Meski aku tidak datang padanya, tapi Morgan yang akan datang padaku nanti," ucap Renee dengan percaya diri.


Tawa kini terdengar dengan sangat jelas di bibir Gerald. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap wanita yang sangat menyedihkan ini.


"Benarkah? Kau yakin sekali dengan itu. Aku tahu satu hal yang mungkin bisa mengingatkanmu kembali untuk tidak dekat dengan Morgan lagi. Apa yang akan Morgan pikirkan dan lakukan padamu jika dia tahu kau yang membuat adik kami bunuh diri?" tanya Gerald dengan berbisik di dekat telinga Renee.


"A-apa?" Renee menegang mendengar ucapan Gerald, membuat laki-laki itu tertawa renyah melihat wajah Renee yang pucat.


"Mana yang lebih baik? Kau pergi sendiri dengan aman, atau kau ingin Morgan yang menyeretmu dan membuatmu lebih sengsara lagi? Aku masih lebih baik dan murah hati membiarkanmu pergi dari sini," ujar Gerald sambil menatap Renee dengan jarak yang sangat dekat.


Renee menatap sorot mata Gerald yang seperti itu tanpa takut sama sekali. Dia merasa kesal, karena dihadapi ke dalam dua pilihan yang sama sekali dia tidak mau mengambilnya.


"Akh! Kau menyebalkan sekali!" teriak Renee seraya menolak dada Gerald cukup keras dan pergi dari sana.

__ADS_1


Gerald tersenyum kecut, tidak dia sangka harus memberi ancaman kepada wanita itu.


__ADS_2