
Lyla segera masuk ke dalam toilet dan bersembunyi di biliknya, memeluk tas dengan erat. Buku catatan yang Morgan berikan bahkan tertinggal di meja.
"Ah, bagaimana bisa dia ada di sini?" gumam Lyla takut.
"Bagaimana kalau dia marah soal kejadian itu? Duh, kenapa juga aku harus bertemu dengan dia di sini, sih?" gumam Lyla resah.
Dia adalah pemuda yang waktu itu bertemu dengan Lyla saat di supermarket dan menarik paksa kalungnya sehingga putus.
"Tapi kan dia juga yang salah karena telah mematahkan kalungku!" ucap Lyla. Akan tetapi, mendengar teriakan marahnya waktu itu dia merasa takut juga.
"Astaga! Bagaimana jika dia menuntut ganti rugi dengan ponselnya yang rusak?"
Lyla menjadi resah sendiri, dia akan tinggal di toilet saja satu atau mungkin untuk dua jam ke depan.
...***...
Morgan melanjutkan pembahasannya dengan Tuan Vansco. Sesekali dia melihat ke arah toilet, tapi Lyla tidak juga terlihat keluar dari dalam sana padahal sudah lewat sepuluh menit dari waktu Lyla berjalan dengan terburu-buru ke sana.
Apakah dia sakit perut? gumam Morgan di dalam hati.
"Hei, Kak Morgan! Ternyata kita bertemu di sini, " seru seseorang dengan membawa nampan di tangannya. Morgan yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya ke arah asal suara tersebut dan mengerutkan keningnya.
"Louis?" ujar Morgan heran.
Pemuda tersebut duduk di antara Morgan dan Tuan Vansco meski tanpa permisi.
"Aku tidak tahu jika kau ada di sini. Aku sangat senang sekali," ucapnya.
Morgan menatap Louis dengan kesal sehingga Louis kini hanya diam dengan penuh tanda tanya menatap Morgan.
"Apa?" tanya Louis bingung menghentikan sendok yang semakin dekat dengan mulutnya.
"Tidak bisakah kau pergi dulu? Lihat siapa yang berada bersama denganku," ucap morgan kesal.
Louis menatap Tuan Vansco dan tersenyum malu.
"Oh, kalian sedang meeting? Oke, aku akan pergi ke sebelah. Bisakah kita bicara nanti setelah kau selesai?" tanya Louis dengan penuh harap.
"Ya, sekarang kau pergilah," usir Morgan lagi.
"Oke."
Louis segera pergi menuju ke meja yang berdekatan dengan jendela, tepat di samping meja tempat Lyla tadi duduk.
"Dia adikmu?" tanya Tuan Vansco pada Morgan.
"Bukan. Adik temanku," jawab Morgan datar. Tuan Vansco menganggukkan kepalanya dan mereka kembali membahas pekerjaan yang belum selesai.
Louis menikmati makanannya dengan santai sambil menunggu Morgan selesai dengan orang itu sementara Lyla di dalam toilet masih menunggu.
"Sekiranya dia makan mungkin sepuluh atau lima belas menit juga sudha selesai, kan?" gumam Lyla sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Sudah hampir dua puluh menit dia di sana.
Satu pesan terdengar dari ponselnya, Lyla melihat nama Morgan mengiriminya pesan.
[Kau di mana?]
[Aku di toilet.]
[Apa kau baik-baik saja?] tanya Morgan.
[Ya, aku baik. Hanya sakit perut,] jawab Lyla.
__ADS_1
Lyla memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera keluar dari bilik toilet. Perlahan dia kembali ke dalam restoran sambil melirik ke kanan dan ke kiri melihat kalau-kalau laki-laki itu masih ada di dalam sana. Benar saja, ternyata laki-laki itu tengah duduk di tepi jendela tepat di samping mejanya.
"Astaga!" gumam Lyla, kemudian menunduk untuk bersembunyi di balik meja lainnya.
"Apa aku harus ke sana?" gumamnya pelan. Akan tetapi, dia malas jika berurusan dengan pemuda itu lagi.
Seorang pelayan melihat tingkah Lyla yang aneh, dia mendekat sebelum pergi menuju ke arah meja dan bertemu dengan pengunjung restoran.
"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya wanita itu membuat Lyla terkejut.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya ... sakit perut. Iya, sakit perut dan butuh pergi ke toilet sekarang," ucap Lyla, kemudian beranjak bangun dan pergi dari sana secepat mungkin.
Morgan sempat melihat Lyla pergi lagi ke toilet, membuatnya menjadi khawatir.
"Ada apa?" Tuan Vansco bertanya karena melihat Morgan yang menatap ke arah lain.
"Tidak apa-apa," jawab Morgan. Tuan Vansco merasa penasaran dan ikut melihat ke arah yang Morgan tuju.
"Apa adikmu masih di toilet?" tanyanya sambil melihat arlojinya. Morgan tampak khawatir terlihat di wajahnya.
"Entahlah, dia bilang sakit perut. Akan aku lihat nanti," ucap Morgan kembali fokus pada pekerjaannya.
Selang lima menit kemudian, Tuan Vansco mengakhiri pertemuan tersebut karena merasa tidak nyaman dengan kekhawatiran yang terlihat pada Morgan.
"Maafkan aku, Tuan. Aku harus melihat adikku di sana."
"Tak apa. Kita bisa bertemu lagi lain waktu. Lagi pula, ini juga sudah sore dan aku ada pertamuan lagi dengan yang lain," ucap Tuan Vansco lagi.
"Ya, aku mohon maaf, Tuan."
Tuan Vansco akhirnya pergi dari sana meninggalkan Morgan. Berkas-berkas yang ada di atas meja dia rapikan kembali.
Baru saja Morgan akan pergi, pemuda tadi mendekat dan duduk serta menahan tangan Morgan untuk kembali duduk di kursinya.
"Bicara apa? Cepat katakan."
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Dad menyuruhku untuk memberikan undangan padamu."
"Undangan apa?" tanya Morgan dengan kening yang mengerut. "Perusahaan kalian sudah mengadakan acara beberapa bulan yang lalu." Morgan mencoba untuk mengingat.
"Bukan perusahaan, tapi perayaan Mom dan Dad," jawab Louis.
"Mana undangannya?" Tadah tangan Morgan meminta.
Louis menggaruk belakang kepalanya dan kemudian tertawa kecil.
"Aku tidak membawanya kemari," ucap pemuda tersebut yang mendapatkan lirikan malas dari Morgan.
"Tenang saja. Aku punya satu di mobil akan aku bawakan untukmu," ucap Louis sambil tersenyum malu. Baru saja dia hendak pergi, sebuah panggilan terdengar di ponselnya.
"Ya, ada apa?" tanya Louis pada seseorang yang ada di seberang telepon.
"Kami sudah menunggumu sedari tadi. Kau kemana saja?" tanya kawan Louis.
"Aku ada urusan sebentar."
"Cepatlah datang, kami akan berangkat sekarang juga," ucap laki-laki itu lagi.
"Hem!" jawab Louis kesal. Panggilan itu diakhiri sepihak oleh Louis.
"Kakak, aku ada urusan dengan temanku. Bisakah undangan itu aku kirimkan nanti ke kantormu? Besok aku janji akan mampir ke kantormu. Spesial hanya untukmu," ucap pemuda itu. Morgan memutar bola matanya malas. Louis memang tidak bisa diandalkan.
"Kapan acara itu?" tanya Morgan.
__ADS_1
"Akhir pekan ini," jawab Louis.
"Oke, aku akan datang nanti."
"Baiklah, sebenarnya aku ingin bicara banyak denganmu, tapi ternyata aku juga sibuk sekali. Senang bertemu denganmu, Kakak. Oh, iya. Aku belum membayar makananku, aku terburu-buru. Bisakah kau bayarkan dulu tagihanku? Akan aku ganti nanti," ucap Louis sambil tersenyum dan menepuk lengan Morgan pelan, Louis kemudian pergi dari sana dengan langkah kaki yang cepat.
Morgan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Louis yang sudah sangat biasa itu.
Sampai Morgan selesai membereskan berkas-berkasnya, Lyla belum juga terlihat kembali dari toilet. Morgan memutuskan untuk pergi ke toilet karena mulai mengkhawatirkan Lyla.
Di depan pintu toilet, Morgan menunggu, tapi orang yang keluar dari sana bukanlah Lyla.
"Permisi, Nona. Apa di dalam sana ada orang lain lagi?" tanya Morgan saat mendapati wanita ketiga yang keluar dari sana.
"Entahlah, mungkin saja masih ada. Aku tidak melihat ke dalam bilik toilet satu persatu, Tuan," ucap wanita itu.
"Oke, terima kasih."
Wanita itu kemudian pergi dari sana. Morgan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Lyla.
...***...
Lyla masih duduk di atas toilet yang tertutup, dia masih menunggu dan bergumam bosan. Sekiranya kapan laki-laki itu akan pergi dan dia bisa kembali ke dalam sana.
Dering telepon terdengar dari dalam tas, Lyla segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan yang merupakan dari Morgan.
"Kau sedang apa?" tanya Morgan kesal karena sudah menunggu beberapa saat lamanya di depan toilet.
"Eh, aku sedang di toilet. Sakit perut," ucap Lyla, padahal dia sedang duduk di toilet yang tertutup sambil menahan dagunya dengan telapak tangan.
"Kau sudah setengah jam berada di sana, apa kau ada masalah pencernaan?" tanya Morgan lagi mulia khawatir.
"Eh, anu ... sepertinya karena aku banyak makan barusan. Aku sudah tidak apa-apa. Sudah selesai dan aku akan datang ke sana," ucap Lyla lagi kemudian mematikan panggilan itu sepihak.
Lyla keluar dari dalam toilet dan mencuci tangannya, kemudian keluar dan bertemu dengan Morgan di sana.
"Tuan di sini?" ujar Lyla bingung melihat Morgan yang bersandar seraya melipat kedua tangannya di luar pintu toilet.
"Kau lama sekali!" ujar Morgan kesal. Lyla hanya tersenyum meringis sambil mengedarkan tatapannya ke arah lain dan bernafas lega saat tidak melihat laki-laki yang tadi.
"Aman," ucap Lyla.
"Apanya yang aman?" tanya Morgan.
"Eh, itu ... perutku. Aman karena sudah tidak lagi merasa sakit," ucap Lyla sambil tersenyum.
"Yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Lyla.
"Tidak perlu, aku sudah sembuh. Perutku sudah tidak sakit lagi," ucap Lyla. "Anda sudah selesai?"
"Ya, sudah. Kita akan pulang sekarang." Morgan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana dan kembali ke mejanya.
Di meja, Lyla masih melihat-lihat siapa saja yang ada di ruangan tersebut. Hal itu membuat Morgan bingung dan bertanya, "Kau mencari siapa?"
"Aku tidak mencari siapa-siapa. Hanya aku lupa dengan buku catatanku. Rasanya aku meninggalkannya di ...." Lyla menunjuk, kemudian menemukan buku itu di mejanya tadi.
"Oh, aku lupa mejaku di sana," ucap Lyla. Padahal tadi dia mencari-cari keberadaan laki-laki tadi. Lyla segera mengambil buku catatan itu dan kembali pada Morgan.
"Aku sudah siap. Ayo kita pulang!" ucap Lyla dengan bersemangat.
Pada akhirnya dia ikut dengan Morgan hanya untuk makan saja.
Mobil melaju di jalanan yang ramai oleh kendaraan. Morgan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Dia sedang berpikir sekarang ini, tidak bisa bertemu dengan Renee karena adanya Lyla.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Besok aku akan bertemu dengan dia," gumam Morgan pelan.