
"Kau pikir aku percaya, kau hanya menghukumnya saja?" gumam Gerald saat baru saja keluar dari ruangan Morgan. Dia ingin tertawa melihat wajah datar itu. Ya, datar, tapi dalam tatapan matanya terlihat sorot yang lain.
"Dasar. Kita lihat saja sampai kapan kau akan seperti itu terus?" gumamnya lagi lalu pergi dari ruangan tersebut dengan senyuman bahagia.
"Makanan extra!"
...***...
Di kediaman Castanov, Lyla tengah duduk di ruang makan sedang mengompres pergelangan tangannya. Semoga saja dengan ini tidak akan bengkak lagi. Obat sudah dia makan setelah sarapan tadi, tapi efeknya belum terasa juga.
"Apa saya perlu antarkan ke rumah sakit?" tanya ibu Lian datang menghampiri dengan wajah khawatir.
"Tidak usah. Ini sudah tidak terlalu sakit," jawab Lyla.
"Tapi tanganmu bengkak seperti ini."
"Besok saja. Jika sampai besok masih sama, aku mau ke rumah sakit," ucap Lyla akhirnya yang membuat ibu Lian menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu istirahat saja di kamar. Jangan lakukan tugas apa pun lagi," pintanya. Lyla kali ini hanya mengangguk saja. Lagi pula, semua pekerjaan juga sudah selesai oleh yang lainnya.
"Oh, ya Bu. Apa Anda tahu di mana tempat untuk memperbaiki barang? Kalungku patah, aku ingin membawanya untuk diperbaiki," ucap Lyla.
"Ada, tapi masalahnya ... Tuan Morgan tidak mengizinkan Anda untuk pergi ke luar," ujar ibu Lian.
Lyla menghela napasnya pelan.
Benar, aku tidak boleh keluar dari sini.
"Tapi, kau bisa melakukannya untukku," ucap Lyla saat kemudian terpikirkan hal tersebut. "Bisakah aku meminta tolong? Tentu saja jika kau sedang pergi ke luar," ucap Lyla dan mendapatkan anggukkan dari pelayan tersebut.
...***...
Morgan masih sibuk dengan pekerjaannya, tapi pikirannya tidak bisa fokus dengan apa yang dia kerjakan, ujung matanya masih saja melirik rantang pink itu lagi dan lagi.
"Astaga! Apa aku harus membuangnya?" ucap Morgan yang sudah terlanjur kesal karena kehilangan fokus akibat benda itu.
Dia mengambilnya dan hampir membuangnya ke tempat sampah bersama dengan rantang tersebut. Akan tetapi ....
Masakannya tidak enak, kan? pikirnya.
__ADS_1
Dia kembali menarik rantang itu dan membukanya dengan jarak yang jauh, antisipasi jika wanita itu benar meletakkan racun di dalam makanannya, bisa saja kan racunnya dalam bentuk asap yang ketika dibuka asap itu akan membumbung tinggi dan meracuni pernapasannya?
"Tapi tidak ada tanda-tanda Gerald mati juga. Sepertinya ini aman" gumam laki-laki itu.
...***...
Sementara ucapan Morgan seperti yang menyumpahi, Gerald sedang mengusap telinganya yang mendadak panas.
"Apa ada yang merindukanku?" gumam Gerald sambil terus mengusap dan mengipasi telinganya.
...***...
"Heh, apa ini? Cuma nasi hitam?" gumam Morgan melihat warna nasi yang ada di sana, tampak tidak menggugah seleranya sama sekali. Nasi pucat dengan beberapa sayuran hijau, kacang polong dan wortel yang dipotong-potong kotak, serta ada sayuran hijau mentah dan potongan tomat yang ada di sana.
"Apa dia gila suruh aku makan nasi jelek ini?" ucapnya lalu menyimpan rantang itu di atas meja.
Morgan kembali pada pekerjaannya, tapi perutnya kemudian terasa perih, ingat jika tadi pagi dia hanya makan sedikit saja.
"Apa aku harus memakan ini?" gumam Morgan, tapi jika dia tidak memakannya, perutnya akan sakit lagi dan dia tidak bisa bekerja hingga sore nanti.
"Sial! Oke, aku makan dua suap saja lah," ucapnya, kemudian rantang tersebut dia tarik kembali dan mulai menghantarkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Uhuk! Huweekk!"
Morgan terbatuk hingga hampir muntah merasakan masakan tersebut yang asinnya luar biasa. Cepat dia lari ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan semua yang baru saja masuk ke dalam mulutnya di wastafel. Air mengalir dari sana kini membasuh mulut keasinan itu. Hingga hampir menangis Morgan dibuatnya.
Dada Morgan bergemuruh, wajahnya kini memerah, tangannya terkepal dan menghantam tepian wastafel itu lumayan keras.
"LYLA!!!!" teriak Morgan kesal dengan suara yang sangat keras.
Di luar ruangannya, Gerald yang hendak membuka pintu mengurungkan niatnya, dia kembali membawa berkas yang seharusnya diserahkan pada Morgan.
"Heh, dia kena prank!" gumam Gerald lalu mundur dari tempat itu.
"Tidak jadi masuk, Tuan?" tanya sekretaris yang ada di sana saat Gerald hendak melangkahkan kakinya pergi. Dia juga barusan mendengar suara teriakan dari dalam sana.
"Tidak. Jika tuan muda mencariku, bilang saja aku sedang ada di toilet," ucap Gerald, lalu dengan cepat pergi dari sana menuju ke lift. Wanita itu melihat heran Gerald yang pergi dari sana dengan cepat.
"Eh, ada apa? Aku harus menjawab toilet mana? Kan di kantornya ada kamar mandi," ucap wanita itu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Benar saja, tak lama dari setelah Gerald masuk ke dalam lift, tuan muda keluar dari ruangannya dengan wajah yang basah, juga dengan mata dan wajahnya yang merah. Langkah kakinya kasar berjalan dan menendang pintu ruangan yang ada di sebelahnya dengan sekuat tenaga.
Dia bernapas dengan kasar, sehingga terdengar dengan sangat jelas di telinganya sendiri.
"Gerald!" teriak Morgan saat tak melihat siapa pun yang ada di ruangan itu. Dia melihat rantang makanan milik Gerald yang ada di atas mejanya, segera mendekat dan melihat rantang makanan tersebut, masih utuh.
"Dasar gadis itu, benar-benar ...." Dengan tangan besarnya, dia membanting rantang tersebut dengan sekuat tenaga hingga isinya berceceran di mana-mana.
Tak mendapati orang yang dicarinya, Morgan kembali ke luar ruangan tersebut.
"Mana Gerald!" teriaknya pada sekretarisnya.
"T-Tuan Gerald---"
"Akh!" teriak laki-laki itu lalu pergi sebelum wanita tersebut bisa menjawab.
"Huft, selamat. Aku tidak jadi berbohong," ucapnya sambil mengelus dada.
Morgan mengambil ponselnya dan segera pergi menuju ke lantai bawah, mengetuk pintu mobilnya yang tertutup sehingga membangunkan sang sopir yang tengah mimpi indah.
"Apa kau tidur?" tanya Morgan kesal saat sang sopir berlari kemudian membukakan pintu mobil untuknya.
"Maaf, Tuan."
"Pulang ke rumah!" ucap laki-laki itu.
Mobil kemudian berlari dengan kecepatan tinggi karena Morgan yang memintanya.
Semoga saja tidak kena tilang dan harus bayar denda, batin sang sopir.
Sampai di rumah, Morgan segera berlari menuju ke lantai atas, mengabaikan tatapan keheranan dari para asisten.
"Lyla!" teriak Morgan setelah membuka kasar pintu kamar Lyla yang tidak terkunci. Tampak wanita itu tengah berada di atas kasurnya.
Kesal Morgan melihat wanita tersebut tengah tidur dengan nyaman.
Enak sekali dia. Dia pikir dia siapa bisa tidur seenaknya di rumah ini. Dasar wanita kampungan! Gumam Morgan di dalam hati, kemudian berjalan dengan langkah yang lebar dan menarik tangan Lyla hingga wanita itu terbangun dari pembaringannya.
"Ayah, kau kah itu?" gumam Lyla saat membuka mata. "Aku senang ayah datang," ucapnya sambil tersenyum, kemudian setelah itu tubuh Lyla limbung dan terjatuh hampir menyentuh lantai jika saja Morgan tidak menangkapnya.
__ADS_1