
Lyla dan Alex melalui hari yang menyenangkan. Tidak Alex duga jika pergi ke jalanan juga bisa sangat menyenangkan sekali. Apa lagi melupakan pekerjaannya di kantor hanya untuk bersenang-senang sebagai orang biasa. Orang biasa dengan pakaian yang biasa. Tidak ada kertas kerja, tidak ada ruangan yang membosankan, tidak ada pengawalan ketat.
Dia ingat dengan apa yang Lyla katakan tadi saat di rumah sebelum mereka berangkat dan Alex memakai pakaian jasnya yang mahal.
"Kau terlalu mencolok. Bagaimana orang tidak akan melihatmu jika pakaianmu saja seperti itu. Kau harus menjadi orang biasa agar tidak menimbulkan niatan jahat orang lain, Uncle!"
Alex sempat berpikir bahwa itu tidaklah mungkin. Banyak orang yang berpikir untuk melakukan perbuatan jahat padanya, sering, sehingga dia memutuskan untuk menyewa banyak pengawal untuknya. Namun, kali ini dia hanya membawa Mac saja sesuai dengan permintaan Lyla.
"Sepertinya aku mulai menyukai penampilanku," ucap Alex saat melewati cermin besar seukuran dirinya saat mereka sedang berada di sebuah mall. Lyla mengajak Alex untuk menonton film sebelum pulang ke rumah.
"Haha, kau memang lebih baik jika pakai pakaian seperti ini. Kau memang tampan dengan jas mahal, tapi aku bosan melihatmu pakai pakaian itu terus."
Alex masih memperhatikan dirinya di cermin, juga di belakangnya Mac juga ikut memperhatikan penampilannya yang tak jauh beda dari sang atasan. Lyla memang tidak ingin kedua laki-laki itu memakai pakaian formal untuk keluar dan berjalan-jalan. Baginya terasa aneh saja saat pergi dengan pakaian seperti itu.
"Aku juga suka dengan penampilanku!" ujar Mac suka melihat dirinya sendiri di cermin yang dia lewati. Dia memakai kaos berwarna maroon dengan jeans hitam dan sepatu sport berwarna hitam. Tak lupa dengan topi yang sama dengan celana dan sepatunya. Tubuh kekar laki-laki itu tercetak pada kaos yang tampak pas di badannya.
"Haha, kau juga, Mac. Kalian sangat pantas dengan pakaian biasa. Kau tampan," puji Lyla.
"Iya, Nona. Aku akui memang aku sangat tampan hari ini. Berkat kau, Nona," ucap Mac.
Lyla senang, dia menarik tangan Mac dan menggandengnya sekalian agar mereka bertiga berjalan bersamaan.
Alex melirik Mac dengan tidak suka. Bisa-bisanya dia berjalan bersamaan dengannya dan Lyla.
"Ekhem!" Alex berdehem, melirik sebal pada asistennya itu. Mata Alex bermain dan mengisyaratkan laki-laki itu untuk mundur ke tempatnya semula.
Mac mengerti, mencoba untuk melepaskan tangan sang nona darinya.
"Ehm, Nona. Mungkin aku harus berada di belakang untuk mengawal kalian," ucap Mac dengan sopan melepaskan tangan Lyla dari lengannya.
"Aku tidak butuh dikawal. Aku lebih senang seperti ini. Seperti aku punya paman dan kakak di dalam hidupku."
Mac merasa tidak nyaman dengan tatapan Alex, tapi Lyla tidak mau melepaskannya. Dia harus bagaimana?
Sementara itu, Alex menatap kesal dan juga tidak bisa berbuat banyak. Lyla sangat senang dengan senyuman yang tersungging lebar di bibirnya.
"Kalian mau nonton film apa?" tanya Lyla saat mereka telah sampai di bioskop.
__ADS_1
"Bahkan di mansion, aku punya lebih banyak koleksi film terbaru," ujar Alex menatap malas beberapa poster yang terpasang di dinding.
"Membosankan jika kita hanya menonton sendirian saja," ucap Lyla.
"Terlalu berisik!"
Lyla melirik Alex dengan sebal. "Justru itu seninya. Jika restoran membuat makanan yang indah dan sedap di pandang mata, maka seni dari bioskop adalah keramaian yang dibuat saat kita menontonnya."
Alex memutar bola matanya malas. Keponakannya ini sudah pandai meniru ucapannya.
"Mac, aku mau menonton ini. Bagaimana denganmu?" tanya Lyla menunjuk sebuah judul yang terpampang di sana.
"Ya! Aku juga ingin menonton ini dari minggu lalu. Aih, akhirnya aku punya teman menonton juga!" seru Mac.
"Benarkah?" Mata Lyla berbinar senang.
"Iya, aku menonton spoilernya, dan aku ingin menonton film-nya."
Alex melirik Mac, jelas laki-laki itu tidak suka dengan film romantis sama sekali. Bahkan, sampai di hidupnya yang sudah berumur kepala tiga dia belum pernah berpacaran sama sekali.
"Benar-benar seorang penipu handal!" gumam Alex.
"Tidak. Aku hanya bersyukur jika kalian punya hobi yang sama."
"Kalau begitu aku yang akan memesan tiketnya. Aku minta uang!" seru Lyla sambil menadahkan tangannya.
"Biar Mac yang membeli tiketnya."
"Ah, tidak usah. Aku yang akan membeli tiketnya. Kalian tunggulah di sini."
Alex memberikan sejumlah uang yang ada di tangannya. Segera Lyla pergi ke loket dan memesan tiket di bangku tengah untuk mereka bertiga. Juga membeli makanan untuk di dalam ruangan bioskop nanti.
"Dasar penipu!" gumam Alex saat melihat Lyla yang sedang memesan tiket.
"Aku suka melihat senyumannya, Tuan. Jadi, maafkan jika aku tidak menjadi diriku sendiri untuk saat ini. Dia benar-benar adik yang manis dan aku suka melihatnya tertawa seperti itu. Ah, andai aku punya adik semanis dia," gumam Mac di akhir kalimatnya.
Alex melirik malas pada asistennya itu yang berubah di hari ini. Tak ada kesan dingin dan juga datar. Laki-laki itu mendadak berubah hangat untuk saat ini.
__ADS_1
"Awas saja kalau kau macam-macam dengan keponakanku!" ancam Alex.
Tak lama Lyla kembali mendekat dan membawa satu bungkus popcorn dengan ukuran yang paling besar, juga tiga minuman bersoda yang dia dekap dengan susah payah.
"Tolong ambil masing-masing satu," ucap Lyla pada kedua laki-laki itu.
"Untuk apa kau membelinya?" tanya Alex, sementara Mac mengambil dua minuman itu dan menyerahkannya kepada Alex.
"Tentu saja untuk kita nikmati sambil nonton di dalam. Apa kau tidak pernah menonton di bioskop, Uncle?" tanya Lyla menebak.
"Aku tidak pernah."
"Astaga! Kau sudah berusia berapa sampai tidak pernah menonton film di bioskop?"
"Aku punya bioskop sendiri," ujar Alex.
"Oh, iya. Aku lupa. Kau memilikinya di mansion. Bagaimana denganmu, Mac? Kau pernah menonton film di bioskop?" tanya Lyla pada lelaki itu.
"Iya, aku pernah sekali."
"Baguslah, setidaknya ada satu orang yang tidak kaku di sini," ujar Lyla dan menepuk lengan Mac dengan satu tangannya yang bebas. "Ayo kita masuk. Beruntung kita tidak perlu menunggu lama untuk menonton film ini," ucap Lyla sambil tersenyum dengan senang. Lyla berjalan meninggalkan kedua orang itu.
Alex menarik bahu Mac yang akan melangkah mengikuti Lyla, menatap dia dengan tatapan tak percaya. Seakan tahu dengan apa yang menjadi arti tatapan dari atasannya itu, Mac pun berbicara, "Aku bersumpah, meski aku belum pernah berpacaran, tapi setidaknya aku pernah mengikutinya sampai di bioskop. Dan itu menyakitkan, Tuan!" ujar Mac sambil mengelus dadanya.
Alex melirik Mac, kemudian menarik bahu laki-laki itu dan mendahului pergi dari sana untuk menyusul Lyla.
"Tidak percaya ya sudah!" gumam Mac kemudian mengikuti Alex ke dalam ruangan bioskop.
Film di mulai, ketiga orang itu duduk berdesakan dengan yang lainnya. Alex menyesal karena bukan dia yang memesan tiket. Jika saja dia yang memesan tiket akan dia pesan satu deret untuk mereka bertiga.
Alex melirik wanita di sampingnya, tampak dia tersenyum meringis padanya. Dia juga duduk dengan sangat dekat sekali dengan Alex, padahal di sampingnya masih ada lelaki dan mereka jelas sekali berpegangan tangan.
"Kau tampan sekali," bisik wanita tersebut tanpa menurunkan senyuman di bibirnya.
Alex tersenyum tipis, memilih untuk beralih mendekat pada sang keponakan yang sudah sibuk dengan popcorn-nya.
"Hei, bisakah aku berganti tempat?" tanya Alex pada Mac.
__ADS_1
Mac mencondongkan tubuh dan melihat Alex. "Kau tidak akan suka ada di sini, Tuan." Dia berkata sambil menggerakkan kepala agar Alex melihat siapa yang ada di sebelahnya. Seorang laki-laki kurus dengan poni menutupi alisnya, tampak tersenyum aneh dan menatap pada Alex, tangan dari laki-laki kurus itu bermain-main di atas paha Mac.
Alex kembali bersandar di kursinya, duduk dengan kaku dan tidak bisa bergerak. Sisi kiri lebih baik, setidaknya di samping kirinya itu adalah seorang wanita. Daripada Mac yang digoda seorang pria!