Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
164. Bertemu Pemimpin Black Eagle


__ADS_3

Lyla tidak menyadari jika Morgan pergi dari rumah itu. Dia masih menunggu Alex yang kini sedang diurusi oleh dokter yang baru sepuluh menit yang lalu datang ke rumah.


"Siapa yang mengeluarkan peluru?" tanya dokter kepada Mac yang ada di samping ranjang Alex.


Mac mencari keberadaan Morgan, tapi dia tidak melihatnya ada di sana, begitu juga dengan Lyla yang kini menyadari jika dia tidak melihat Morgan ada di sana.


"Paman Will, kemana Morgan?" tanya Lyla pada Paman Will yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Tuan Morgan pergi ke luar."


"Apa? Ke mana?"


Paman Wil menggelengkan kepala dan mengatakan jika dia tidak mengetahui ke mana Morgan pergi.


"Astaga. Ke mana Morgan pergi?" gumam Lyla yang kemudian mendatangkan rasa khawatirnya kepada laki-laki itu. Di saat keadaan yang genting seperti ini Morgan pergi dari sana dan tidak mendapati pengawalan sama sekali. Morgan juga tidak berpamitan sama sekali kepadanya.


"Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit. Mereka sudah mengirim helikopter. Bantu aku untuk memindahkan Alex," ucap dokter tersebut yang tampak seusia Alex. Laki-laki itu sudah memasangkan infusan darah ke tangan Alex. Keadaan Alex sampai saat ini masih belum sadarkan diri karena dia terlalu banyak kehilangan darah. Mac sudah mengatakan kepada dokter untuk membawa labu darah untuk Alex sebelumnya.


Sementara di rumah Lyla sedang khawatir akan keadaan Morgan, laki-laki tersebut melajukan kendaraannya dengan cepat menuju ke tempat kediamannya yang lain. Dia akan menemui anak buah Gerald yang berada di kota yang sama. Mereka akan bisa membantu Alex dengan kekuatan yang mereka miliki.


Gerald bukan hanya menjadi tangan kanannya, tapi Gerald juga memiliki pekerjaan lain di dunia selain bisnis putuh, tapi tidak sebesar Black Eagle maupun Red Dragon di negara ini. Kelompok ini lebih memfokuskan diri untuk membentuk dan mengeluarkan orang-orang yang ahli dalam pengawalan dan tidak jarang ada yang datang untuk meminta mereka menjadi pembunuh bayaran dengan bayaran yang tinggi. Keberadaan mereka tidak pernah tercium oleh polisi selama ini, itu lah yang membuat keberadaan kelompok milik Gerald eksis hingga sekarang.


Morgan melirik ke belakang, beberapa mobil diantaranya mengikuti kendaraannya dan Morgan tahu jika mereka pasti salah satu orang-orang dari kelompok Black Eagle. Melaju di jalanan yang ramai, Morgan berhasil untuk menyelip di antara mobil-mobil yang berjalan di jalanan ramai. Mereka bahkan tidak peduli jika ini masih siang dan tindakan mereka bisa membuat polisi mencium kejadian ini.


Suara tembakan terdengar, Morgan melirik dari spion, kaca belakang mobil retak sedikit.


"Sial!" decak Morgan kesal. Dia menghubungi seseorang yang ada di markas Gerald untuk meminta bantuan.


"Baik. Orang kami yang terdekat akan segera datang dalam waktu lima menit." Suara laki-laki di seberang telepon menjawab dan membuat Morgan ingin menghela napas lega. Akan tetapi, dia masih belum bisa melakukannya karena tiga mobil di belakangnya masih mengikuti dirinya dengan kecepatan yang sama kencangnya.


Kendaraan yang ada di depannya melaju dengan kecepatan rata-rata, membuat Morgan kesulitan untuk mendahului mereka, apa lagi di depan sana ada truk besar yang melaju.


Mobil musuh di belakangnya melaju, menabrak kendaraan Morgan dan sempat membuat Morgan kehilangan kendali atas mobilnya, tapi dengan cepat laki-laki itu kembali ke jalan yang benar.

__ADS_1


Tak jauh di sana, ada sebuah tikungan dan memaksa Morgan untuk berbelok ke sana. Mobil musuh yang tidak menyangka Morgan akan berbelok sempat kehilangan, tapi dengan cepat mereka menyusulnya kembali.


Tepat pada saat itu, suara panggilan terdengar, Morgan mengeluarkan hpnya dan melihat ada nama Lyla di sana.


"Maafkan aku, Sayang. Aku sedang sibuk sekarang ini." Dia menyimpan ponsel tersebut ke dalam saku bajunya tanpa ada niatan untuk mengangkat panggilan tersebut.


Satu tembakan lagi terdengar, kali ini memecahkan jendela mobil Morgan, segera laki-laki itu menunduk untuk mengamankan kepalanya.


"Sial!"


Morgan merutuki mobil ini yang disebut mobil anti peluru, tapi sekarang bahkan jendela belakang pecah karena beberapa tembakan.


Kendaraan itu saling berkejaran. Kini mereka berada di jalanan yang sepi. Keluar dari jalanan kota yang padat menuju ke tepi laut. Jalanan yang sangat panjang itu bisa membuat Morgan berlari lebih cepat lagi dan mengulur waktu hingga bala bantuan datang.


Suara tembakan terus terdengar, Morgan merutuki anak buah Gerald yang masih belum datang juga.


Tiba-tiba saja, terdengar bunyi ledakan besar, disusul api yang menjilat-jilat tampak dari spion. Salah satu mobil yang ada di belakangnya meledak dan terbakar.


Sebuah helikopter mendekat dan terlihat seseorang yang berdiri di helikopter sambil memanggul basoka di bahunya. Perlahan helikopter itu turun dan mobil yang dikendarai oleh Morgan berhenti.


"Itu hampir membuatku terbunuh."


"Untung saja aku sedang berada di dekat sini." Gerald menggerakkan kepalanya dan Morgan masuk ke dalam helikopter, melihat mobil yang lain sudah rusak parah dan menabrak pembatas jalan. Morgan tahu jika orang-orang itu sudah tewas. Dua mobil lain berhenti saat helikopter itu mulai mengudara kembali. Mereka dengan cepat menyingkirkan mayat dan mobilnya dengan sangat rapi.


"Morgan bukannya tidak tahu, Gerald tidak mungkin meninggalkannya seorang diri di negara ini. Dia pasti selama ini memantau keadaannya saat bersama dengan Lyla.


"Apa kau merindukanku?" Senyum Gerald terangkat di samping bibirnya.


"Cari tahu apa yang dicari oleh kelompok Black Eagle!" Morgan tidak menggubris ucapan sepupunya, tapi dia sangat yakin sekali jika apa yang dia ambil malam itu berhubungan dengan apa yang terjadi pada Alex.


"Black Eagle. Aku sudah memperhatikan mereka. Kau cari mati bersinggungan dengan kelompok itu."


Morgan hanya diam, jika dia tidak memikirkan perasaan Lyla tentang orang tuanya, tentu saja dia tidak akan nekat mengambil sesuatu dari pemimpin Black Eagle. Sialnya apa yang dia dengar sekarang lebih dari itu. Yang dia ambil bukan hanya tentang keberadaan ibu Lyla, tapi juga tentang transaksi penjualan obat terlarang dan penjualan manusia besar-besaran yang akan dilakukan beberapa hari lagi. Alex menipunya!

__ADS_1


Laki-laki itu pasti ingin menggagalkan transaksi tersebut dan menyabotasenya.


"Sial!" desis Morgan sambil mengepalkan tangannya erat hingga buku-bukunya memutih.


Bagaimana aku tidak menyadarinya?


"Kau menyedihkan. Dia menipumu, Sepupu!" Gerald tertawa puas melihat wajah Morgan kini yang mulai geram.


Dering telepon mengganggu perhatian Morgan dan Gerald.


"Tuan, apakah kita akan menyerang lawan?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Tidak perlu. Awasi saja pergerakan mereka. Tapi jika mereka menyerang, maka maju dan habisi semua!" perintah Gerald yang lalu dilaksanakan oleh bawahannya itu.


Morgan menatap ngeri pada sepupunya yang dia pikir adalah orang yang memiliki hati, jika ini di negaranya, dia bisa melakukan apa pun yang dia mau. Akan tetapi, jika memang keadaan memaksa, maka dia sendiri akan turun tangan untuk menghabisi orang yang jahat dan bisa mengancam keselamatan Lyla.


...***...


Alex sudah dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan helikopter, Lyla tinggal di rumah atas perintah Morgan. Paman Will melihat jam tangannya. Sudah dua jam Morgan pergi dan dia sudah memerintahkan kepada yang lain untuk menambah personel untuk menjaga kediaman ini.


"Paman, tapi aku ingin pergi ke rumah sakit." Lyla protes, tidak akan ada hal buruk yang menimpanya di rumah sakit, tapi Paman Will tetap menahan wanita itu untuk tinggal di rumah. Terlalu berbahaya jika pergi, apalagi rumah sakit juga tidak bisa menjamin keselamatan wanita ini.


"Tetaplah di sini, sampai Tuan Morgan kembali sebentar lagi."


Paman Will berharap semoga saja Morgan bisa menyelesaikan permasalahan ini.


...***...


Morgan dan Gerald sudah sampai di markas Black Eagle, dengan puluhan orang yang ikut dengan mereka tentunya. Gerald tidak ingin berhadapan dengan pemimpin Black Eagle, tapi Morgan keras kepala dan ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi.


Langkah Morgan dan Gerald terdengar dengan tegas menuju ke sebuah ruangan yang dijaga ketat. Dua orang bertubuh tinggi besar berjaga di luar pintu lengkap dengan senjata di tangan mereka.


Salah satunya menunduk, dan membukakan pintu. Mereka dipersilakan masuk, tapi tidak dengan pengikut mereka.

__ADS_1


Suasana di dalam ruangan terlihat tenang, hanya terdengar suara alunan lagu melow yang sangat pelan. Aroma rokok tercium di bawah hidung Morgan dan membuatnya ingin muntah.


"Tamu jauh rupanya. Aku tidak ingat telah mengundang seseorang," desis suara itu terdengar sinis sambil menyimpan pulpen di atas meja. Seorang pria berusia empat puluhan menatap Morgan dengan tatapan dingin.


__ADS_2