Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
25. Bos Yang Arogan


__ADS_3

"Nona, tuan muda pasti akan memarahi kita," ucap ibu dari Lian khawatir. Lyla tidak peduli, tetap membawa wanita itu keluar menuju mobil hitam dengan salah seorang sopir yang telah menunggu mereka.


"Biarkan saja. Aku tidak peduli jika dia akan marah. Dan aku juga akan pastikan jika dia tidak akan memarahimu, Bu."


Akhirnya wanita yang sudah menjanda semenjak Lian berusia sepuluh tahun itu hanya pasrah. Semoga saja dia tidak mendapatkan masalah nanti saat sang tuan muda pulang dari kantornya.


Lyla tersenyum senang karena akhirnya dia bisa melihat pemandangan yang ada di luar rumah tersebut. Halaman rumah itu sangat luas sekali, sehingga memakai mobil pun untuk menuju ke gerbang utama membutuhkan waktu yang cukup lumayan hingga sampai ke jalanan di luaran sana.


"Nona berani sekali menutup panggilan tadi," ucap Lian yang duduk di kursi depan.


Lyla yang tengah menikmati pemandangan jalanan penuh pepohonan, mengalihkan tatapannya dan tersenyum pada Lian.


"Ya, aku mau jadi wanita yang pembangkang. Jangan kau ikuti apa yang tadi aku lakukan, ya?" pinta Lyla sambil tersenyum malu.


"Dia tidak perlu diajari. Entah anak siapa sampai setiap hari bisa membuat kepalaku pusing," ucap sang ibu yang membuat Lian mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja aku anak Ibu!" seru Lian.


"Anakku? Anak dari mana? Sekolah saja kau alasan sakit perut, tapi kenapa kau ikut denganku berbelanja?" ujar sang ibu dengan nada yang kesal. Lian tertawa terkekeh mendengar ucapan dari sang ibu itu.


"Hehe, aku sakit perut, Bu. Ini hari haid pertamaku, perutku kram!" ucap Lian tanpa malu pada laki-laki yang tengah mengemudikan mobil di sampingnya.


"Alasan! Dengar Lian. Tuan muda sudah memasukkan mu ke dalam sekolah yang bagus, Ibu harap kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Lihat ibu mu yang hanya seorang asisten rumah tangga. Kau harus bisa jadi orang yang lebih baik dari Ibu."


"Iya, aku mengerti. Aku paham. Aku akan jadi dokter yang sukses, yang akan bisa membuat Ibu keluar dari rumah itu!" ucap Lian sekali lagi, tapi jawaban itu tidak lantas begitu saja membuat sang ibu menjadi puas.


Lyla tersenyum mendengar interaksi antara ibu dan anak ini. Lucu, persis seperti dirinya dan juga ibu panti, seringkali berdebat kecil yang justru kini membuatnya rindu dengan panti asuhan tempatnya dibesarkan.

__ADS_1


...***...


Sampai siang pun Morgan masih merasa kesal dengan perlakuan Lyla tadi. Dampaknya, laki-laki itu selalu marah-marah kepada hampir semua orang yang ditemuinya. Tidak terkecuali dengan Gerald, sasaran empuk karena dia yang selalu ada di samping sang tuan.


Dari dalam ruangan, terdengar Morgan tengah berteriak kepada seseorang di dalam sana, terdengar jelas sampai ke luar dari ruangan tersebut. Gerald yang hendak masuk mengurungkan niatnya dan memilih untuk duduk bersandar di meja sang sekretaris.


"Sudah berapa lama dia ada di dalam sana?" tanya Gerald pada seorang wanita cantik yang ada di sampingnya.


"Sekitar sepuluh menit," jawab wanita itu.


Gerald menghela napasnya dan akhirnya memutuskan untuk menunggu saja lagi.


Di dalam ruangan itu, Morgan tengah menatap kesal kepada dua orang yang sedang ada di hadapannya, hanya tertunduk takut tanpa bisa berbicara atau pun membela dirinya. Mereka itu jelas lebih tua dari Morgan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena orang yang ada di hadapannya adalah CEO dari perusahaan ini.


"Apa yang kalian bisa? Mengurus pekerjaan yang seperti ini saja kalian tidak bisa!" bentak Morgan dengan teriakannya yang keras. Kedua laki-laki itu hanya menunduk, melihat kertas-kertas hasil pekerjaannya hanya tergeletak di lantai akibat ulah Morgan. Padahal dia sudah susah payah mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, entah bagian mana yang membuat Morgan melihat kesalahan itu. Dia hanya bisa marah tanpa menjelaskan apa pun yang menjadi kesalahan mereka.


Gerald melihat dua orang yang baru saja keluar dari ruangan itu yang kemudian menganggukkan kepalanya saat melewati Gerald.


"Apa kau yakin akan bertahan di sini?" ucap salah seorang laki-laki yang sedang menekan tombol pada lift.


"Ya, aku akan bertahan di sini. Istriku akan melahirkan anak keduaku. Jika aku keluar dari sini, bagaimana masa depan kami?" ujar yang lain tampak bingung.


"Aku akan menerima tawaran dari Perusahaan H, meskipun gaji di sana lebih kecil, tapi menurut informasi, di sana lebih nyaman dan tanpa tekanan."


Sekilas Gerald mendengar percakapan kedua orang itu sebelum mereka masuk ke dalam lift.


Gerald masuk ke dalam ruangan Morgan, tampak laki-laki itu sedang menatap ke arah luar di mana langit hari ini terlihat sangat cerah sekali. Namun sayang, tak secerah hatinya yang bagai di selimuti oleh awan hitam dan bersiap untuk mengeluarkan suara menggelegar bak petir.

__ADS_1


"Jika kau terus seperti ini, makam semua karyawanmu akan habis," ucap Gerald.


Morgan mengalihkan tatapannya pada sang sepupu.


"Aku tak peduli!"


Gerald tertawa kecil dan menyandarkan punggungnya pada tepian jendela yang terbuka sedikit.


"Apa tidak bisa kau bersikap baik dengan mereka?" tanya Gerald dengan nada yang pelan, tapi tetap terdengar dengan sangat jelas di telinga Morgan.


"Jika mereka akan pindah ke Perusahaan H, silakan saja. Aku tidak pernah melarang mereka pergi ke mana pun!" ucap Morgan dengan kesal. Beberapa puluh orang telah resign dari perusahaannya dan ketahuan jika mereka pindah ke Perusahaan H yang merupakan rival dari Morgan.


"Dan kau akan kehilangan perusahaanmu?"


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukannya? Suruh mereka untuk setia di sini, gaji berapa yang mereka inginkan."


Gerald tak tahu lagi harus berbicara apa dengan laki-laki ini. Terlalu keras kepala sampai tidak bisa lagi mendengar apa pendapat dan saran dari orang lain.


"Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, lalu kau? Jika kau bertindak dengan sesukanya, bukankah kau sendiri yang akan rugi di sini?" ucap Gerald. Morgan berdecak kesal. Bukan gayanya untuk bermanis-manis di depan karyawan yang justru akan membuat mereka bertindak sesukanya.


Dari dalam saku bajunya, dia mengambil rokok dan mulai menyalakannya, asap tipis mengepul dari bibir laki-laki itu. Tiba-tiba ....


"Kenapa kau merokok?" tanya seseorang yang baru saja membuka pintu. Kedatangan orang itu yang mendekat membuat Morgan dan Gerald terheran. "Apa kau ingin sakit lambungmu kambuh lagi?" tanyanya, lalu merebut rokok yang ada di mulut Morgan dan mematikannya di dalam asbak.


...***...


Mari mampir ke sini, sambil nunggu Morgan-Lyla update lagi ya😘

__ADS_1



__ADS_2