Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
77. Perlakuan Manis Morgan


__ADS_3

"Apa yang kau pakai?" tanya Gerald terkejut melihat pakaian santai yang Morgan kenakan. Dia melihat Morgan dengan tanpa mengedipkan matanya, tidak biasanya Morgan memakai jeans biru dan kaos putih yang ketat sehingga mencetak dengan jelas otot yang ada di tubuhnya.


"Aku? Apa yang kau lihat itulah yang aku pakai," ucap Morgan dengan santai.


"Aku tidak buta. Aku bisa melihatmu dengan jelas. Maksudku, apakah kau tidak akan pergi ke kantor?" tanya Gerald ingin memastikan.


"Kau yang pegang saja pekerjaan di kantor, lagi pula tidak ada meeting kan hari ini?" tanya Morgan lagi.


"Astaga! Memang tidak ada, tapi apakah kau akan meninggalkan pekerjaan lagi hari ini?"


"Ya, aku harus mengantar Lyla pergi ke universitas. Ini hari pertamanya belajar," ucap Morgan, kemudian menarik piringnya dan menikmati roti lapis yang telah disiapkan oleh asisten barusan.


Gerald berdecak kesal, lagi-lagi pekerjaan banyak menanti dirinya. "Astaga. Kau bisa menyuruh sopir untuk mengantarnya. Tidak bisakah kau fokus dengan pekerjaanmu? Kau--"


"Aku akan datang nanti siang. Aku tidak bisa membiarkan Lyla pergi sendiri, terlalu banyak mata nakal yang melihatnya," ucap Morgan akhirnya, sedikit keriting telinganya untuk pagi ini dan dia tidak mau mood-nya hancur karena omelan Gerald.


Mulut Gerald terbuka mendengar ucapan Morgan, sejak kapan dia yang harus memastikan keselamatan para wanita? Bahkan, kekasihnya saja dia pernah mengabaikannya dan membiarkannya sendirian di jalan.


"Sungguh kau akan datang?"


"Hem."


"Baguslah. Kau harus datang karena aku ingin mengambil cutiku minggu depan," ucap Gerald.


Morgan menghentikan makannya dan menatap Gerald. "Kau akan pergi?"


"Iya, tentu saja aku akan pergi. Ingat jika aku belum mengambil cutiku tahun ini?" tanya Gerald kesal. Selalu saja dia membatalkan kepergiannya karena urusan yang ada di perusahaan.


"Oh, oke," ucap Morgan singkat yang membuat Gerald mengembuskan napasnya kasar.


Hanya itu saja jawaban darinya? Begitu saja? gumam Gerald kesal menatap Morgan yang kembali menikmati sarapan rotinya.


Lyla turun dari lantai atas dengan langkah yang sangat ringan, dia menghampiri dua laki-laki yang tengah serius berbicara.

__ADS_1


"Selamat pagi!" sapa Lyla seraya mengambil kursinya.


"Pagi!" ucap Gerald mengalihkan tatapannya dari Lyla dan tersenyum, dia melihat penampilan Lyla yang sangat manis dengan jepit rambut berbentuk hati berwarna silver di atas telinganya. Pakaiannya sederhana, dengan jaket berbulu di bagian lehernya. Akan tetapi, Morgan melihat Lyla dengan tidak berkedip.


"Woww. Kau ... sangat manis sekali. Apa kau sudah siap untuk belajar hari ini?" tanya Gerald saat Lyla duduk di kursinya.


"Ya, tentu saja aku siap!" seru Lyla dengan penuh semangat. Lyla melihat Morgan yang sedang diam memperhatikannya, dia juga melihat jika Morgan tidak memakai pakaian kerjanya.


"Tuan, apa kau tidak akan ke kantor?" tanya Lyla. Morgan tersadar dan memakan rotinya kembali.


"Tentu saja aku akan ke kantor, setelah mengantarmu pergi ke universitas," ucap Morgan.


"Kau pasti sangat sibuk sekali, aku tak apa pergi sendirian, lagi pula ada sopir yang mengantarku, kan? Atau, aku juga bisa pergi sendiri. Belikan aku kartu bus atau tiket kereta, aku tahu jalan menuju ke sana," ucap Lyla yang membuat Morgan menghentikan kunyahannya dan menatap Lyla dengan tajam.


"Tidak. Aku tidak sesibuk yang kau pikirkan. Aku bisa mengantar dan menjemputmu pulang," ucap Morgan lagi-lagi membuat Gerald ingin menggelengkan kepala dan menyeret laki-laki itu ke kantor sekarang juga.


"Oh. Kau bisa. Terima kasih karena kau mau repot-repot mengurusiku."


"Ya, tentu saja." Morgan memakan sarapannya dengan tenang. "Cepat habiskan makananmu."


"Uhuk!!" Lyla terbatuk karena tersedak oleh makanannya, dengan segera Morgan memberikan air minum untuk Lyla.


"Makanlah dengan baik, jangan terlalu terburu-buru," ucap Morgan seraya mengambil potongan roti yang tadi tersembur dari lengan jaket milik Lyla, juga menyingkirkan rambut Lyla yang menutupi hidungnya saat minum.


Gerald yang melihat itu menatap heran dan terpana. Morgan bisa semanis itu memperlakukan Lyla, di dalam hatinya kali ini dia tersenyum puas.


"Terima kasih," ucap Lyla setelah menyimpan kembali gelas yang hampir kosong ke atas meja.


"Berhati-hatilah jika makan, tenggorokanmu bisa sakit," peringat Morgan. Lyla mengangguk malu, dia memang terlalu cepat tadi.


"Aku hanya tidak ingin Anda menunggu lama," ucap Lyla.


"Santai saja. Aku juga belum selesai sarapan," tunjuk Morgan pada makanan yang ada di atas piringnya.

__ADS_1


Gerald melonggarkan dasinya yang membuat dirinya merasa sedikit sesak karena perlakuan Morgan barusan. Dia terlalu lembut memperlakukan Lyla seakan dia adalah wanita miliknya.


Eh ....


Gerald menatap Morgan dan Lyla yang saling melemparkan senyuman, alis laki-laki itu terangkat sebelah melihat betapa anehnya Morgan yang berbicara santai dengan Lyla.


"Ayo kita berangkat. Apa kau sudah selesai dengan sarapanmu?" tanya Morgan.


"Iya, aku sudah selesai," ucap Lyla kemudian bangkit berdiri. "Tuan, aku duluan," pamit wanita itu kepada Gerald.


"Iya, semangatlah belajar di sana. Ingat jangan sembarangan dekat dengan laki-laki karena mereka bisa saja singa buas dengan topeng kelinci," ucap Gerald memperingatkan dengan telunjuk tangan yang tertuju pada Lyla. "Kecuali laki-laki yang ada di sampingmu. Dia kebalikannya, kelinci yang bertopengkan singa," kata Gerald sambil tertawa senang.


Morgan melirik malas pada sepupunya, tapi dia sedang malas berdebat kali ini, hanya bisa berpikir hukuman apa yang akan dia berikan pada sepupunya ini nanti.


"Aku tahu, dia lebih baik dari seekor kelinci." Lyla masih ingin berbicara, tapi Morgan sudah menarik tangannya untuk menjauh dari sana.


"Sudah cukup basa basinya. Tidak penting kau meladeni dia berbicara," ucap Morgan kesal.


"Iya." Lyla mengikuti langkah kaki Morgan untuk menuju ke arah deretan mobil mahal berada.


Gerald menatap kepergian dua orang itu yang kini menghilang di balik pintu. Dia kemudian menghabiskan makanan yang ada di depannya. Gerald melihat ke arah kanan dan kiri, tidak ada gadis kecil itu di sana.


"Mana Lian?" tanya Gerald pada ibunya.


Wanita paruh baya itu menoleh dan menundukkan kepala. "Lian masih bersiap di kamarnya."


"Panggil dia."


Mendengar perintah Gerald, ibu Lian menjadi khawatir dan merasa takut. "Apakah putri saya membuat masalah?" tanya sang ibu.


"Iya. Sepatuku, masih ada di kamar. Aku sudah suruh dia untuk mencucinya tadi, tapi dia tidak datang untuk mengambilnya," ucap Gerald.


"Oh. Akan saya ambil nanti, Tuan."

__ADS_1


"Sekarang panggil dia. Aku masih ada urusan di dekat sekolahnya, sekalian dia aku antarkan," ucap Gerald. Ibu Lian masih merasa bingung, tapi pergi juga untuk menyusul putri tersayangnya.


"Apakah Lian membuat kesalahan?" gumam wanita itu.


__ADS_2