Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
154. Morgan Di Dalam Pesta


__ADS_3

Morgan bersama Lyla dan Mac sudah berada di sebuah aula yang merupakan tempat pesta diadakan malam ini. Tempat yang sangat luas dan juga indah dan dihias dengan sangat cantik sekali memanjakan penglihatan. Banyak orang yang berpengaruh datang di pesta ini.


Dua orang itu masuk dan mendapati tatapan takjub dari orang-orang yang ada di sana. Alex, pria tampan dengan sejuta pesona, tubuh tinggi berotot, rahang egas, dengan alis yang tebal. Sementara, Lyla wanita cantik yang kini menjelma menjadi seseorang yang anggun.


"Selamat datang, Tuan Cronwford."


Seorang laki-laki mendekat dan menyapa Alex yang datang bersama dengan Lyla, Mac tetap setia berada di belakangnya untuk menjaga kedua orang itu, di luaran sana Mac sudah menempatkan beberapa orang untuk berjaga bila mana sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Terima kasih karena Anda sudah menyempatkan diri untuk menghadiri pesta kecil kami," ucap laki-laki yang usianya jauh di atas Alex dan Lyla.


"Terima kasih Tuan Ramos. Anda sangat berbaik hati mengundang saya ke pesta menakjubkan ini. Bagaimana kabar Anda? Saya dengar bisnis berlian Anda sedang berada di puncak popularitas," ujar Alex.


Laki-laki itu tersanjung dengan pujian yang diberikan oleh Alex. Mereka berbasa basi sedikit.


"Siapa ini? Apakah Nona cantik ini pasangan Anda?" tanya Tuan Ramos.


"Iya, dia pasanganku malam ini."


Lyla mengulurkan tangan dan bersalaman dengan pria itu. Akan tetapi, tanpa Lyla sangka jika laki-laki itu mengambil tangannya untuk dicium. Sebuah hal biasa yang sering dilakukan oleh laki-laki kalangan atas untuk menghormati seorang wanita di sebuah pertemuan.


"Senang bisa bertemu dengan Anda, Nona. Anda sangat cantik sekali," puji laki-laki itu.


Lyla tersenyum senang dan sedikit menganggukkan kepalanya. Bersikap sopan dan elegan bukan hal yang sulit baginya mengingat dia sering melihatnya di televisi.


Tuan Ramos mendekat dan berbisik kepada Alex.


"Apakah setelah ini akan ada sebuah pernikahan?" tanya Tuan Ramos. Alex tersenyum dan memilih tidak menjawabnya.


"Semoga kalian langgeng. Aku memberikan restu untuk kalian. Silakan nikmati pestanya. Jangan sungkan," ucap laki-laki itu sambil menepuk bahu Alex dua kali dan memerintahkan Alex dan Lyla untuk menikmati pesta.


"Ayo," ajak Alex seraya membawa Lyla yang melingkarkan tangannya masuk ke tempat pesta itu.


Lyla jelas tidak mengenal siapa pun di sini, semua orang ini asing dan dia tidak tahu apa saja yang sedang mereka lakukan atau bicarakan.

__ADS_1


"Pasti sangat membosankan menjadi kalian," ujar Lyla membuat kening Alex mengerut.


"Membosankan kenapa?" tanya Alex.


"Pesta yang menyenangkan itu dengan suara berisik dari sebuah lagu dan banyak orang yang menari," ucap Lyla.


Alex membayangkan jika suasana seperti itu yang ada di sebuah bar.


"Hem, ya. Seperti inilah pesta yang diperuntukkan untuk kalangan atas, memang membosankan."


Alex mengambil sebuah minuman dari seorang pelayan yang lewat di dekat mereka.


"Ambil segelas minuman, tapi hati-hati, jangan meminumnya jika kau tidak mau mabuk. Cukup ambil saja dan anggukkan kepalamu dan tersenyum pada laki-laki pemilik pesta ini," ucap Alex dengan berkata sepelan mungkin.


Lyla paham, meski tidak begitu tahu kenapa harus seperti ini, tapi dia melakukannya juga saat seorang pelayan mendekat dan mengambil segelas wine darinya. Lyla melakukan hal yang sama yang dikatakan oleh Alex tadi.


Pria pemilik pesta tersenyum senang saat melihat apa yang Lyla lakukan.


"Berpura-puralah minum."


"Kau dilarang mabuk di pesta ini, Nona!"


"Owh! Oke. Sebenarnya siapa yang kita tunggu? Aku jadi penasaran," ujar Lyla.


"Seseorang, dia belum muncul di sini," ujar Alex.


"Oke."


Lyla menunggu dengan bosan. Alex sering kali berbincang dengan orang-orang pebisnis lainnya, memaksa Lyla untuk tersenyum hingga giginya mengering terkena udara. Kakinya juga sakit akibat memakai high heels dan sialnya tidak ada kursi yang tersedia untuk duduk.


Aku heran, bagaimana mereka bisa tahan tidak duduk selama pesta? gumam Lyla.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alex yang sadar jika Lyla sudah tampak tidak nyaman di sana.

__ADS_1


"Kakiku yang sedang tidak baik." Lyla berbicara pelan tanpa menghentikan senyumnya. Alex melirik kaki keponakannya, Lyla memakai sepatu berhak tinggi, pantas saja jika kakinya gemetar.


"Kau lelah?"


"Ya. Lumayan. Jika ada kursi aku sangat ingin duduk, Uncle!" ujar Lyla, kemudian tersenyum saat wanita yang ada di depannya bertanya. "Oh, benarkah? Aku senang mendengarnya, Nyonya!"


Senyum palsu, tapi tidak palsu dengan rasa pegal di kaki Lyla.


"Tuan, Nyonya. Mohon pamit sebentar. Aku rasa, kekasihku butuh beristirahat sebentar," pamit Alex kepada sepasang orang yang sedari tadi mengajaknya berbicara.


"Tentu, silakan."


Alex menarik tangan Lyla untuk pergi dari ruangan aula itu, melewati puluhan tamu yang menyapa mereka maupun yang menatap sinis. Tentu saja di dunia bisnis terlalu banyak topeng yang harus mereka miliki, dibalik senyum itu terkadang terdapat sebuah kebencian yang mendarah daging.


Lyla mengikuti langkah kaki Alex, dia ingin sekali melepas sepatunya dan bertel*njang kaki saja sekarang ini. Namun, tentu saja tidak bisa untuknya melakukan itu. Dia harus tetap bertahan hingga sampai di ruangan istirahat.


Sementara itu, Lyla sudah masuk ke ruangan istirahat bersama dengan Alex, seseorang datang bersama dengan asistennya. Pria dengan jas hitam mahal itu menjadi pusat perhatian di kalangan tamu yang merupakan pebisnis handal dari berbagai negara. Langkah kaki pria itu tegas dan membuat semua orang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pria tersebut.


"Siapa dia? Apa kau mengenalnya?"


"Tidak. Aku juga ingin bertanya hal yang sama kepadamu," jawab yang lain.


"Apakah dia Tuan Castanov? Iya, aku yakin dia orangnya!"


Mereka yang mendengar langsung mencari nama itu di ponsel pintar mereka, dan saat terlihat nama orang yang dimaksud, terpampanglah wajah seorang pria yang sama dengan yang mereka lihat sekarang ini.


"Dia pebisnis anggota termuda keluarga Castanov dari tanah Eropa."


Bisik-bisik terdengar lagi, semua orang yang tahu akan nama itu menyanjung dan memuji laki-laki yang sulit untuk mereka temui. Namun, malam ini dia ada di sini dan sinarnya terang mengalahkan sinar yang ada di ruangan ini.


"Siapa dia?" tanya seorang laki-laki berusia enam puluh tahunan yang duduk di kursinya, sebuah cerutu di tangan masih utuh. Sedari tadi laki-laki itu hanya duduk di kursinya di dalam sebuah ruangan yang terpisah, beberapa layar terpampang di depan wajahnya. Dari layar itu lah, dia bisa melihat segala aktifitas yang terjadi di aula tempat pesta diselenggarakan. Termasuk memperhatikan Alex yang datang bersama dengan Lyla.


"Aku ingin bertemu dengannya."

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian berdiri dan meninggalkan tempat tersebut dan berjalan dengan menggunakan tongkat kesayangannya.


__ADS_2