Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
167. Kenyataan Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Katakan kepadaku atau kau akan menerima akibatnya!" Morgan tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam pria itu. Dia berbicara sangat dekat sekali dengan hidung laki-laki itu. Tanpa mengurangi rasa hormatnya sama sekali dengan pria yang usianya di atasnya.


Dia menghempaskan tangan Morgan, merapikan kerah bajunya, dan mengenyahkan debu yang ada di sana.


"Apa yang bisa kau lakukan di sini? Ini bukan daerah kekuasaanmu. Kau juga hanya pengunjung di negara ini. Dengan kuasaku, aku bisa menendangmu dari negara ini dan aku juga bisa membuatmu tidak akan pernah bisa lagi masuk ke negara ini. Bahkan presiden pun tidak akan bisa mengubah keputusanku," desisnya.


Morgan sadar akan hal itu, tapi dia tidak akan takut sama sekali dengan ucapan pria tersebut.


"Aku tidak peduli."


"Bahkan jika kau kehilangan semua milikmu?" ancamnya.


Morgan mengepalkan tangannya, asalkan Lyla kembali, dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kekasihnya itu.


"Anak buahku bukan orang yang mudah untuk mengembalikan sesuatu yang diambil. Jadi, aku sendiri tidak bisa melakukan apa pun setelah wanita mu ada di tangan mereka."


"Brengs*k!" teriak Morgan kembali memburu pria tersebut hingga kursinya terjengkang. Morgan mencekik pria tersebut dan menatapnya dengan bengis. "Serahkan wanita itu. Atau aku akan menghancurkan semua yang ada di sini."


Bukanya takut, laki-laki itu tertawa dengan sangat keras sehingga suaranya menggema di ruangan itu.


"Kau lucu sekali, Tuan. Kau sama saja dengan ayahmu. Apa lagi saat dia berlutut memohon aku melepaskan wanita yang dia cintai. Kau pasti tidak tahu kan, jika ibumu hanyalah wanita menyedihkan yang menunggu cinta suaminya hingga bertahun-tahun, hingga akhirnya dia melakukan bunuh diri, sedangkan pria konyol itu mencintai wanita yang telah menjadi milikku? Dia buta dan tidak bisa melihat berlian yang sesungguhnya. Orang tuamu menyedihkan, bukan?" ujarnya sambil tertawa lagi.


Mata Morgan membulat mendengar ucapannya. Cekikannya semakin kencang sehingga pria yang ada di bawahnya berubah merah wajahnya.


"Berhenti mengatai kedua orang tuaku. Kau tidak bisa memprovokasiku!"

__ADS_1


"Aku tidak memprovokasimu, tapi apakah kau pernah melihat ibumu tersenyum saat bersama dengan ayahmu?"


Ingatan Morgan kembali ke masa dulu, masa-masa di mana dia dan ibunya masih bersama. Ibu hanya tersenyum saat di dekatnya, tapi tidak saat dengan ayahnya. Saat makan malam pun, suasana sangat dingin. Di sekolah, saat pertemuan kedua orang tua, mereka tersenyum bersama, tapi tidak saling berpegangan tangan.


"Apakah kau pernah melihat keduanya bersama di dalam satu tempat yang sama? Kau yakin mereka selama ini tidur di kasur yang sama?"


Morgan tahu jelas jika sedang bersama pun, mereka jarang sekali berbicara. Mereka tidak pernah terlihat bersama, termasuk dalam sebuah pertemuan pesta dan sebagainya. Morgan juga tahu jelas jika setiap malam sang ayah sibuk di ruang kerjanya dan sering tidur di sana karena terdapat ranjang istirahat yang nyaman.


Jadi, apakah ini sebabnya ada ranjang itu?


"Berhenti berbicara!"


Namun, dia terus saja berbicara. Sesekali tertawa keras sehingga membuat urat-urat yang ada di wajah Morgan keluar berwarna biru. Apa yang dikatakan oleh pria itu nyata dan jelas sekali di dalam ingatan Morgan.


Seringaian terukir di bibirnya, membuat lekukan senyum kepuasan yang Morgan lihat dengan penuh emosi.


"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak pernah melihatmu. Kita juga tidak pernah bertemu!"


"Sembarangan? Apa kau tidak melihat persamaan di antara kita? Apa kau yakin kau cukup mirip dengan ayahmu? Aku tahu, kau punya tanda lahir di paha dalam bagian kiri. Apa aku harus menyebutkan bentuknya yang seperti awan? Entah, masih ada atau tidak. Semoga saja mereka tidak menghilangkannya."


Dia tertawa lagi. Sementara Morgan lemas mendengarnya.


Bagaimana bisa laki-laki itu tahu soal tanda lahirnya? Tidak mungkin kan dia benar ayahnya? Usianya masih muda bahkan tidak tampak keriput di wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Morgan melepaskan tangannya dari leher pria itu, mundur dengan teratur dan terduduk di lantai. Bukan hanya Morgan saja yang terkejut mendengar ucapan pernyataan tersebut dari pria itu, tapi Gerald juga sama terkejutnya.

__ADS_1


"Why? Kau tidak membunuhku? Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Andai kau tidak datang kemari, sudah pasti kau tidak akan pernah mendengar ini dariku. Tapi, jika kau memang berniat untuk membunuhku, maka hanya itu yang ingin aku katakan." Tuan Robinson berdiri dan melemparkan pistol kecil miliknya ke dekat kaki Morgan. "Kau datang ke sini untuk melawanku? Aku akan menyerahkan nyawaku dan akan bahagia jika aku mati di tangan anakku sendiri," ujar pria itu.


Morgan segera kembali kepada kesadarannya sendiri, dia mengambil pistol tersebut dan tidak ragu lagi untuk menodongkannya ke arah si Tua Robinson. Akan tetapi, tangannya bergetar dan telunjuknya sangat berat sekali untuk menarik pelatuk. Napas Morgan kencang dengan dada yang naik dan turun tidak teratur.


"Ayo."


Robinson merentangkan kedua tangannya, dia tersenyum senang jika sang anak bisa melakukan hal tersebut kepadanya.


Baginya, hidup di dunia ini sudah cukup di usianya yang sudah kepala enam. Akibat hidupnya yang teratur, pola makan yang baik, dan rutin berolah raga membuat tubuhnya fit dan orang lain tidak menyangka dengan usianya yan sebenarnya. Maka dari itu, Morgan juga menyangka jika pria tersebut masih berusia di bawah lima puluh tahun.


"Aku menunggu."


Tujuan Morgan datang kemari untuk mencari tahu keberadaan Lyla, juga meminta penjelasan tentang penyerangan yang dia lakukan kepada Alex, tapi ternyata takdir berkata lain. Apakah yang dikatakan Robinson adalah hal yang benar?


Tidak akan dia percaya begitu saja dengan ucapan pria ini. Bisa jadi kan jika dia hanya sedang menipu? Tapi, tidak ada orang lain yang tahu tentang tanda lahirnya, kecuali Selvi yang seorang dokter.


Morgan membuang pistol yang ada di tangannya.


"Katakan saja di mana Lyla, kenapa kau melakukan ini kepada mereka?" tanya Morgan dengan mengeratkan kedua rahangnya serta kedua tangan yang terkepal.


"Kau sudah mendengar sebelumnya, tapi aku sedih karena yang mengambil benda itu adalah anakku sendiri. Aku sudah memperingatkan pemuda itu agar segera mengembalikannya, tapi dia tidak mendengarku. Jadi, apakah aku salah jika aku menginginkan barangku kembali?" Robinson bertanya, tatapan matanya lembut kepada sang putra yang baru dia temui lagi setelah tiga puluhan tahun berlalu.


"Tapi kau tidak perlu sampai membuatnya hampir terbunuh."


"Itu resikonya bermain-main dengan kami."

__ADS_1


__ADS_2