Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
183.


__ADS_3

Pernikahan Morgan dan Lyla hanya berselang tiga hari setelah pernikahan Gerald. Dua orang itu menunda honeymoon mereka demi untuk menghadiri pernikahan Morgan. Meski kesal rasanya karena Gerald harus menunda acara kepergian mereka, tapi agar Lian tidak marah dan merajuk lagi. Menghadapi seorang wanita baru di dalam hidupnya bukanlah hal yang mudah. Gerald harus menyesuaikan diri lagi dengan adanya wanita baru di dalam hidupnya. Lian masih sangat muda dan Gerald harus sering mengalah karenanya.


Dua malam Gerald tersiksa karena masih belum bisa mencicip malam pengantin dikarenakan Lian tiba-tiba saja kedatangan tamu bulanan setelah malam selepas resepsi.


"Sayang, aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" seru Lian sambil berlari dan membenarkan antingnya yang panjang. Tampak gadis kecil itu tertatih mendekat pada suaminya yang tengah sibuk dengan layar datar di tangan.


Gerald melihat Lian yang memakai pakaian pink lembut, berjalan. Dia menutup layar datar itu. "Kau yakin mau memakai high heels?" Tunjuk Gerald pada sepatu dengan heels setinggi tujuh sentimeter.


"Sebenarnya ... aku tidak nyaman, tapi akan aneh jika aku pakai sepatu flat, bukan?" ujar Lian. Kakinya terasa sedikit saking akibat turun dari lantai dua rumah ini.


Gerald bangkit dan menyuruh Lian duduk, kemudian dia pergi lagi ke lantai atas dan kembali tidak sampai sepuluh menit.


"Pakai ini." Gerald berjongkok di depan Lian dan melepaskan sepatu heels istrinya.


"Tapi akan terlihat aneh, kan?"


"Lalu jika kau jatuh, apakah tidak akan terlihat aneh? Aku tidak mau kau mempermalukanku di depan para tamu yang lain."


Satu sepatu dipasangkan di kaki Lian, begitu juga dengan sepatu yang lainnya. Tampak nyaman kaki Lian sekarang. Diliriknya sang suami yang sangat serius memasangkan sepatunya, Lian tersenyum renyah dan membelai pipi Gerald


"Kau suami yang sangat baik sekali. Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Muaachh." Satu kecupan di berikan Lian di pipi kanan Gerald, membuat pria itu terdiam bak patung, tapi ada senyum terbit di kedua sudut bibirnya meski hanya sedikit.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya tidak ingin kau mempermalukanku saja." Cepat-cepat Gerald bangkit setelah memastikan jika sepatu flat yang dia bawa telah terpasang dengan benar. "Cepatlah, aku tidak mau terlambat datang ke sana." Perintah pria itu kemudian pergi dari hadapan Lian.


"Hei, sayang! Tunggu aku!" teriak Lian kemudian berlari menyusul suaminya. "Aku tahu, kau sedang memberikan perhatian padaku, kan?"


"Tidak, siapa yang bilang?"


"Jangan berbohong. Kau khawatir padaku, kan?" Lian mengikuti Gerald hingga sampai ke depan mobil


"Jangan terlalu banyak berharap. Kau pikir aku bagaimana? Kau masih butuh banyak usaha untuk bisa membuatku memperhatikanmu!" ujar Gerald kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Ish, dasar laki-laki kaku!" gumam Lian kesal, tapi dia tidak mengambil hati atas ucapan Gerald tadi. Selvi bilang jika Gerald bukanlah orang yang mudah bersama dengan perempuan, tapi dengan Lian adalah pengecualian sehingga dia menerima cintanya dan mengajaknya menikah cepat-cepat.

__ADS_1


"Lagipula, kita sudah menikah. Baiklah, Tuan Es Batu! Kita lihat saja. Kau akan aku buat bucin sebentar lagi!" gumam Lian sambil tersenyum menatap Gerald yang sudah ada di belakang kemudi.


"Hei, apakah kau tidak akan masuk?"


Lian terbangun dari lamunannya dan segera masuk ke dalam mobil.


"Iya, Suamiku."


"Apa yang kau pikirkan sampai memasang wajah bodoh itu?" Mobil telah dinyalakan dan mulai berjalan pelan. "Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh, kan?" Lirikan mata Gerald mencoba untuk mencari tahu sesuatu.


"Tidak." Lian tersenyum lebar sehingga matanya menyipit, tapi memang dia sedang merencanakan sesuatu untuk Gerald nanti.


***


Di dalam sebuah ruangan, dua orang pria sedang bersiap memakai pakaiannya. Gerald dengan tuxedo berwarna putih, sedangkan Robinson dengan tuxedo berwarna hitam. Dua orang itu sangat tampan dengan pakaiannya masing-masing.


Robinson melirik sang putra yang masih dirapikan oleh seorang wanita. Mereka mengurusnya dengan sangat baik.


"Aku baik."


Morgan terdiam dan menutup matanya saat sang perias membubuhkan sesuatu di bawah kelopak matanya.


"Kau tampak seperti panda lucu. Apa kau melakukan pesta lajang semalam?"


"Tidak."


"Lalu, dari mana mata panda itu?" Robinson masih penasaran, pasti ada cerita lucu di balik mata panda sang putra.


"Aku tidak bisa tidur dua malam ini."


Benar saja, Robinson tertawa mendengarnya. Baginya lucu saja jika ada pengantin pria yang tidak bisa tidur. Bukannya biasanya pengantin wanita yang tidak bisa tidur jika menghadapi hari pernikahannya?


Morgan membuka matanya dan melirik Robinson dengan sebal.

__ADS_1


"Hentikan tawamu! Apa yang lucu?"


"Tentu saja kau, Nak. Kau lucu sekali. Haha!" Robinson melanjutkan tawanya, sementara perias lain merapikan rambutnya. "Kau seperti wanita."


Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu ingin tertawa, tapi mereka menahannya karena tahu siapa Morgan Castanov. Bisa-bisa dia membuat mereka kehilangan nama dan pekerjaan jika sampai menyemburkan tawa.


"Apa kau bisa tidur nyenyak, sementara kau akan memasuki dunia kejam suatu pernikahan? Kau tidak akan mudah melanjutkan hidup, apa lagi kau tahu tanteku seperti apa."


Morgan ingin tertawa, tapi belum juga dia melakukannya, Robinson sudah menjawab, "Tidurku sangat nyenyak akhir-akhir ini. Apa lagi dengan Stevie yang selalu ada di sampingku. Kau tahu, dia hebat dalam urusan ranjang! Dia bisa membuatku lelah dan tidur nyenyak yang jarang sekali aku dapatkan sampai umurku sekarang."


Morgan terhenyak mendengar ucapan ayahnya. "Kalian sudah melakukannya?"


"Hu-um. Why?" tanya Robinson saat melihat wajah Morgan dengan kening mengerut.


"Menjijikkan. Kenapa kalian sudah melakukannya? Padahal kalian akan menikah? Kau tidak sabaran sekali!" ujar Morgan mencibir


Robinson tidak peduli, dia merebahkan kepalanya dan membiarkan penata rias memberinya krim pada wajahnya.


"Kami bukan anak kecil, kami sudah dewasa dan memiliki hasrat yang kuat. Daripada dipendam, lebih baik sama-sama dikeluarkan, bukan? Itu lebih enak dan nikmat daripada membuat sakit kepala. Lagipula, kau juga sama kan? Sebelum dengan Laura, kau juga pemain wanita!"


Morgan kesal dengan ucapan ayahnya yang memang benar seperti itu adanya.


"Diamlah! Itu hanya masa lalu."


"Ck, kau lebih parah dariku, Nak!"


Suara pintu diketuk dari luar saat dua orang itu telah selesai dengan persiapan mereka. Gerald masuk ke dalam ruangan itu dan melihat keduanya telah selesai.


"Paman, apakah kau sudah memarahinya?" tanya Gerald saat mendekat dengan keduanya. "Kenapa wajahmu kusut sekali?"


Baru saja Robinson akan menjawab, Morgan sudah pergi dari sana dan tidak peduli mereka membicarakannya. Tawanya menggelegar, membuat mood pengantin pria menjadi jelek.


"Awas saja kalian berdua. Lihat saja nanti!" gumam Morgan sambil keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2