Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
63. Toko Pakaian


__ADS_3

"Lalu kau bagaimana?" tanya Lyla menatap Morgan yang tanpa mengenakan masker.


"Aku tidak masalah, yang terpenting adalah kau," ucap laki-laki itu yang membuat perasaan Lyla menjadi hangat.


Pintu lift terbuka segera dua orang itu keluar dengan langkah kaki yang cepat. Lyla dengan diam mengikuti Morgan di belakangnya. Dia tidak mau sampai tertinggal karena langkah kaki laki-laki itu cukup lebar dan dia tidak bisa mengimbanginya.


Morgan melirik ke arah samping, dia melihat Lyla yang berjalan beberapa meter tertinggal di belakangnya. Kembali dia melihat tatapan orang lain tertuju kepada wanita itu. Tiba-tiba saja organ menjadi kesal. Padahal Lyla tidak memakai pakaian yang seksi sama sekali.


"Apa kau tidak bisa berjalan dengan cepat? Lambat sekali!" tanya Morgan membuat Lyla sedikit berlari mendekatinya.


"Kau yang berjalan terlalu cepat, Tuan. Kakiku lebih pendek darimu dan aku membutuhkan langkah yang lebih banyak untuk bisa mengimbangimu," ucap Lyla dengan kesal. Morgan memggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia tidak terbiasa menunggu bahkan untuk berjalan dengan wanita sekalipun.


"Ayo!" Morgan kembali melangkah kali ini dengan langkah kaki yang sedikit pelan, meski tetap saja Lyla harus berjalan dengan cepat agar bisa berada di samping Morgan.


Mereka masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang cukup besar. Satu orang pelayan mendekat dan menunduk menyapa mereka dengan ramah.


"Selamat datang di toko kami, Tuan. Adakah yang bisa kami bantu?" tanya wanita tersebut dengan senyuman di bibir. Dia terpana akan ketampanan dari wajah Morgan yang rasa-rasanya sedikit enggan untuk mengalihkan tatapan itu dari sana.


"Carikan pakaian untuk dia," ucapnya menunjuk dengan dagunya. Dia tidak banyak bicara, setelah itu duduk dengan nyaman di sofa yang tersedia di sana.


Lyla sempat terkejut dengan ucapan Morgan barusan. Dia kira mereka datang kemari untuk membeli pakaian Morgan.


"Bukannya kita kemarin untuk membeli pakaianmu?" tanya Lyla masih bingung.


"Apa kau tidak melihat ini toko pakaian untuk wanita? Kau kira aku akan memakai pakaian wanita?" ucap Morgan kesal. "Cepatlah cari pakaianmu, aku tidak punya banyak waktu di sini."

__ADS_1


Lyla mengikuti pelayan itu berjalan untuk memilih-milih pakaian. Semua pakaian yang dia pegang memiliki kualitas yang bagus. Lyla juga melihat label harga yang ada di sana. Dia terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan mata yang melotot.


"Ma-mahal sekali pakaian ini?" ucap Lyla tak sengaja. Reflek dia berkata seperti itu karena melihat satu lembar pakaian dengan harga yang selangit.


"Harga tersebut sesuai dengan kualitas bahan yang kami miliki. Nona bisa melihatnya sendiri, kain dengan kualitas tinggi serta jahitannya yang sangat rapi. Nona akan sangat cantik dan nyaman jika memakai pakaian ini," ucap pelayan tersebut sambil memperlihatkan baju itu kepada Lyla. Lyla hanya tersenyum malu, dia melirik ke arah Morgan yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Ah, sepertinya aku tidak akan terlalu cocok dengan baju itu. Itu terlalu mencolok buatku," ucap Lyla. Untuk dirinya memang pakaian itu terlalu berlebihan mengingat selama ini dia hanya memakai pakaian yang sangat sederhana.


"Apa Anda ingin yang ini? Ini lebih sederhana dan cocok untuk dipakai bersantai. Jika ingin dipakai untuk berlibur ke luar kota juga pantas," ucap wanita itu memilihkan pakaian yang lain untuk Lyla dan menyerahkannya. Lyla mengambil pakaian itu dan lagi-lagi matanya tertuju pada label harga yang ada di sana. Dia menahan nafas saat mengetahui jika harga pakaian tersebut setara dengan tujuh bulan gajinya di toko bunga tempat dia bekerja dulu.


Astaga kenapa harganya membuatku mual saja? batin Lyla.


"Bagaimana, Nona?" tanya pelayan tersebut.


"Tentu saja boleh. Silakan Anda memilih mana yang anda sukai," ucap pelayan itu dengan sopan sambil tersenyum. Lyla kembali melangkah, melihat-lihat pakaian yang lebih sederhana lagi, berharap jika dia mendapatkan pakaian dengan harga yang tidak terlalu mahal. Akan tetapi, semua tetap saja mahal baginya.


Perlahan-lahan Lyla berjalan mendekati Morgan sambil pura-pura memilih pakaian yang ada di rak. Dia menoleh kepada pelayan tersebut dan tersenyum, setelah mengalihkan tatapannya dia sedikit berlari menuju ke arah Morgan duduk.


"Tuan, apakah kita bisa pindah tempat?" tanya Lyla membuat Morgan menghentikan permainan pada gamenya.


"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan pakaian yang ada di sini?" tanya Morgan dengan mengerutkan keningnya.


Lyla tersenyum dengan malu.


"Bukan itu. Pakaian-pakaian ini sangat cantik." Lyla hendak berkata lagi, tapi dia melihat pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dia mendekat pada Morgan dan membisikkan sesuatu di dekat telinga Morgan. "Lebih baik kita mencari toko pakaian lain saja. Harga pakaian di sini sangat mahal," ucap Lyla.

__ADS_1


Morgan menarik nafasnya dan membuangnya dengan cukup kuat. "Aku bisa membayar semuanya. Bahkan jika kau mengambil semua yang ada di toko ini aku masih punya banyak sisa uang," ujar Morgan dengan nada yang dingin.


Lyla menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan itu maksudku, Tuan. Aku hanya merasa sayang saja jika membeli pakaian dengan harga yang mahal seperti itu. Mahal ataupun murah tetap sama-sama dipakai di badan, yang terpenting tidak tel4njang, kan? Lebih baik uang itu dipakai untuk hal lain saja yang lebih penting," ucap Lyla lirih.


Morgan menggelengkan kepalanya, diam diam dia tersenyum dengan Lyla yang memiliki pemikiran seperti itu. Gadis yang terlahir sederhana dan memiliki pemikiran yang dewasa memang berbeda dengan yang lainnya.


Morgan akhirnya bangkit dan berpura-pura mencari dompetnya.


"Maaf jika sudah merepotkanmu, Nona. Aku ingin sekali membeli pakaian di sini, tapi aku baru ingat jika ternyata aku meninggalkan dompetku di rumah," ucap Morgan. Rahang Lyla turun ke bawah mendengar ucapan laki-laki itu. Dia tidak menyangka jika Morgan akan berkata seperti itu.


Pelayan yang mendengarnya sedikit kesal, meski tidak menurunkan keramah-tamahannya tapi tampak dari wajah wanita itu sedikit memerah dengan senyum yang dipaksakan. Akhirnya mereka berdua keluar dari tokoh tersebut.


"Tuan, kenapa kau mengatakan itu? Apa benar dompetmu tertinggal? Lalu untuk apa kita jauh-jauh datang kemari?" tanya Lyla sedikit bingung.


"Aku membawa dompetku, jika pun dia tertinggal aku masih memilikinya di ponselku."


"Lalu kenapa kau mengatakan jika dompetmu tertinggal?" tanya Lyla


semakin bingung.


Morgan melirik wanita itu dengan kesal. "Bukankah tadi kau sendiri yang ingin pindah toko karena di sana mahal?" tunjuk Morgan tepat ke arah kening Lyla. Dia merasa kesal akhirnya berjalan lebih cepat dan meninggalkan wanita itu.


"Kenapa wanita sangat tidak konsisten? Tadi dia yang bicara ingin pindah toko, kenapa sekarang dia bertanya lagi?" gumam Morgan kesal.


Lyla terdiam sejenak memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan. Dia tersenyum setelah mendapatkan satu kesimpulan. "Apakah dia berbicara seperti itu agar aku tidak malu?" gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2