
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi di jalanan bersalju Kota London, benda lembut tipis berwarna putih itu kini telah menutupi hampir sebagian badan jalan. Di dalam mobil tersebut terdapat Lyla dan juga Morgan.
Beberapa menit perjalanan Morgan masih bisa tenang, tapi selanjutnya Morgan merasa kesal karena Lyla ternyata tidak bisa menjadi seorang gadis yang baik dan tenang.
"Hei, bisa kau hentikan itu?" tanya Morgan kesal melihat Lyla yang sedari tadi mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, tatapannya menatap ke arah luar, melihat benda-benda tertinggal jauh di belakang mereka.
"Aku melakukan apa? Aku tidak mengganggumu!" ujar Lyla.
"Ya, kau memang tidak menggangguku, tapi aku risih dengan apa yang kau lakukan!" ucap Morgan, dengan terpaksa Lyla menghentikan kegiatannya dan duduk dengan tenang, tapi jujur saja dia merasa bosan karena tidak sampai juga di rumah.
"Apakah rumah masih jauh?" tanya Lyla.
"Hem," jawab Morgan.
Lyla merasa kesal karena Morgan menjawabnya seperti itu, sehingga dia memutuskan untuk bertanya kepada sopir saja.
"Tuan, apakah kita masih jauh untuk sampai ke rumah?" tanya Lyla mendekat pada sopir tersebut.
"Iya, Nona. Mungkin sekitar satu jam lagi kita akan sampai," jawab sang sopir.
Morgan mendengar Lyla bertanya seperti itu kepada sopirnya membaut dia merasa kesal.
"Hei, kau dibayar untuk mengendarai. Bukan untuk bicara!" peringat Morgan dengan nada dinginnya.
"Maaf, Tuan." Sopir meminta maaf, tapi Morgan masih saja kesal.
__ADS_1
Lyla yang mendengar ucapan dan sikap Morgan yang kasar menjadi kesal. "Hei, kau ini kenapa kasar sekali pada yang lain? Tidak bisakah kau berkata dengan lembut?" tanya Lyla.
Morgan menatap tak suka pada Lyla. "Aku hanya ingin dia fokus mengemudi. Bagaimana dia akan fokus jika mengemudi sambil berbicara? Jalanan ramai dan juga licin, dia harus banyak berkonsentrasi agar tidak terjadi kecelakaan," ucap Morgan ketus. Meski iya benar apa yang Morgan katakan barusan, tapi tidak berati jika dia boleh sembarangan berbicara kepada laki-laki bahkan sopir sekalipun.
"Tetap saja, kau tidak berhak bicara kasar seperti itu. Jika yang lain salah, tegurlah dengan baik. Jangan berkata seakan-akan orang lain sedang melakukan kesalahan yang tidak termaafkan," ujar Lyla. Morgan menatap Lyla tak suka.
Terlalu banyak bicara. Jika saja tak ingat dengannya yang baru saja sakit tentu saja dia akan menurunkan wanita ini di tengah jalan saja.
Sopir melirik kedua orang itu dari spion, dia terheran dengan Morgan yang sepertinya sedang mengalah dan tidak ingin berdebat, padahal biasanya meski tanpa bicara dia akan mengusir orang menyebalkan yang ada di sampingnya.
Perjalanan masih cukup jauh, Lyla tak tahan karena mengantuk. Dia membuka mulutnya lebar, rasa kantuk kini menyerangnya padahal rasanya dia cukup banyak tidur hari ini, termasuk saat tak sadarkan diri pagi tadi. Tanpa terasa akhirnya dia memejamkan mata.
Morgan melirik Lyla yang kini sudah tertidur dengan tenang, sangat tenang bahkan membuatnya merasa aneh.
"Hah!" Suara napas Morgan terdengar dengan sangat jelas, melihat Lyla yang tertidur dengan posisi seperti itu rasanya dia tidak akan nyaman. Bisa saja jika mereka melewati jalanan berlubang, kepala Lyla akan terantuk ke jendela mobil. Dia mendekat dan mengalihkan kepala Lyla untuk tetap tegak, tapi tak disangka jika malah terjatuh ke arah lengannya.
"Hei, bangun. Lihat kepalamu di mana?" ucap Morgan sambil menepuk pipi Lyla dengan pelan. Akan tetapi, dia tidak bangun sama sekali.
"Tuan, maaf jika saya lancang. Sebaiknya jangan bangunkan dia. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, udara juga tidak baik sekarang ini. Saya hanya takut jika dia akan sakit lagi mengingat cuaca sekarang ini begitu dingin," ucap sang sopir mengingatkan.
Morgan melihat Lyla yang hanya mengenakan kaos panjang saja. Iya, udara memang dingin akhir-akhir ini, dan dia juga baru saja sembuh. Akhirnya, Morgan membiarkan saja Lyla tertidur dengan bersandar kepadanya.
"Hah, jika saja bukan karena sakit sudah aku lempar kau ke luar!" gumam Morgan. Sopir tertawa kecil melihat apa yang terjadi di belakangnya.
Mobil itu telah sampai ke rumah.
__ADS_1
"Tuan, kita sudah sampai," ucap sang sopir melapor. Akan tetapi, tidak ada sahutan sama sekali dari belakang, saat dia menolehkan kepala sudut bibirnya tersenyum kecil. "Ah, sudah lah," ucapnya, kemudian keluar dari mobil itu dengan membuka dan menutup pintunya perlahan.
Seorang asisten rumah datang mendekat dan bertanya kepada sopir itu, tapi segera sang sopir menarik tangannya untuk menjauh dari sana.
"Tuan muda sedang tidur. Kita jangan ganggu," bisik sopir itu menarik tangan asisten tersebut yang masih kebingungan.
"Tidur? Di mobil?" tanya wanita itu dengan tidak percaya saat mendapatkan anggukkan kepala dari sopir tersebut. "Tidak biasanya Tuan Muda tidur di mobil."
Hingga sampai menjelang petang, Morgan baru saja terbangun dari tidurnya. Dia melirik ke arah sekitarnya dan menyadari jika mobil telah berhenti tepat di garasi mobil miliknya. Morgan menatap ke samping di mana kepalanya dan kepala Lyla saling bersentuhan, bersandar, dan tertidur.
"Astaga! Kenapa aku sampai tertidur seperti ini?" gumam Morgan pelan. Dia hendak beranjak, tapi sedikit bingung karena Lyla tidak bangun juga meski dia memanggil nama Lyla agar cepat keluar dari mobil ini.
Akhirnya Morgan pasrah, dia membiarkan Lyla bersandar lebih lama lagi di sana.
"Astaga! Mau sampai kapan dia tidur seperti ini?" ucapnya. "Hei, bangun! Ini sudah sampai!" Akan tetapi, Lyla tidak bangun juga. Morgan melirik Lyla, tak sengaja memperhatikan garis wajah wanita itu, matanya, hidungnya, bibirnya ....
Perlahan dia mendekat dan mencium bibir wanita itu dengan singkat. Hangat. Manis.
Apa yang aku lakukan? tanya Morgan pada dirinya sendiri. Dia lantas menjauhkan kepalanya dari Lyla dengan perasaan yang berdebar kencang.
Gila! batinnya. Morgan cepat mengalihkan kepala Lyla dari sana dan menyandarkan kepala Lyla dengan sangat hati-hati, setelah itu dia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke dalam rumah dengan langkah kaki yang sangat lebar.
"Kau sudah pulang?" tanya Gerald saat Morgan berjalan melewatinya. Akan tetapi, laki-laki itu tidak menjawabnya. Hanya berjalan dengan langkah yang lebar untuk pergi ke kamarnya.
Apa yang aku lakukan? Aku sudah gila kah? batin Morgan.
__ADS_1