
Lyla kembali ke kamarnya dengan cepat, dia menyandarkan diri pada pintu sambil memegang dadanya yang kini berdebar dengan sangat kencang.
"Apa yang tadi aku lakukan?" gumam wanita itu. Dia merasa aneh karena tidak bisa menghindar dari Morgan.
"Ah, astaga. Sepertinya aku harus menjauh dari dia," ucap Lyla kemudian kembali berjalan dengan cepat ke arah ranjangnya dan segera berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut hangat hingga ke kepala.
Malam sudah semakin larut tapi Lyla maupun Morgan tidak bisa memejamkan matanya karena teringat dengan kejadian tadi.
Morgan berkali-kali mengubah posisi tidurnya, tapi dia tetap saja tidak bisa tertidur sampai-sampai dia merasa lelah sendiri.
***
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah, tapi tidak membuat udara dingin yang ada pergi dari belahan bumi di mana Lyla dan Morgan berada. Salju masih menumpuk di luaran sana dan terdengar suara suara gaduh dari mesin pembersih menyingkirkan salju-salju itu dari jalanan di rumah Morgan.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Tampaknya kau tidak tidur dengan nyenyak semalam," ucap Gerald yang baru saja duduk di meja makan. Morgan masih menutupi mulutnya yang menguap, semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian itu.
Morgan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Gerald. Dia meneruskan memakan sarapannya.
"Apakah Lyla belum bangun?" tanya Gerald kepada asisten yang ada di sana. Lian mendekat seraya memberikan kopi dan sarapan untuk Gerald.
"Nona sudah bangun sedari tadi, Sekarang dia sedang bersiap-siap."
"Bersiap-siap untuk apa?" tanya Gerald dengan bingung seraya mengerutkan keningnya.
"Bukankah hari ini Nona Lyla akan pergi ke universitas?" Lian balik bertanya, jangan sampai dia melupakan itu.
"Hari ini?" Kali ini Gerald mengalihkan tatapan dan bertanya kepada Morgan. Akan tetapi, yang ditanya itu hanya diam saja.
"Jam berapa kita akan berangkat?" tanya Gerald lagi.
"Biar aku yang akan pergi."
"Apa? Apa kau tidak akan pergi ke kantor? Kau harus memimpin rapat perusahaan hari ini jam sepulu—"
"Kau lakukan saja rapat itu untukku," ucapnya memotong perkataan Gerald.
"Kau tidak bisa melakukannya."
"Kau bisa," ucap Morgan dengan tidak peduli.
"Hei, ini rapat yang penting untukmu!"
__ADS_1
"Kau juga tahu apa yang menjadi pembahasan rapat itu."
"Morgan!"
"Aku akan menambahkan cutimu tiga hari."
"Satu Minggu."
"Oke, deal," ucapnya kemudian menyesap kopinya dengan santai. Gerald menatap sepupunya itu dengan heran, pasalnya Morgan tidak terbiasa untuk memberikan pekerjaan begitu saja tanpa pengawasannya, apalagi ini adalah rapat penting. Bahkan semua hal yang berhubungan dengan perusahaan pun dia tidak pernah melewatkannya. Akan tetapi, kenapa sekarang ini dia ingin terlibat dengan hal yang seharusnya bisa diserahkan kepada orang lain?
"Ada apa melihatku seperti itu?" tanya Morgan masih tenang saat Gerald menatap ke arahnya. Organ kembali menyesap kopinya yang kini sudah menghangat.
"Apa kau sedang jatuh cinta?"
Morgan yang mendengar pertanyaan itu langsung tersedak oleh kopinya sendiri. Dia terbatuk sehingga merasakan lehernya yang sakit.
"Uhuk!"
Gerald masih tidak mengalihkan tatapannya dari Morgan. Dia yakin jika laki-laki ini sudah membuka hatinya kepada Lyla.
Morgan mengambil sapu tangan dan mengelap mulutnya yang basah. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak seperti itu."
"Jujur saja kepadaku."
"Untuk apa jujur kalau aku tidak merasa aku sedang ...." Morgan terdiam sejenak karena merasa sulit untuk mengucapkan kata selanjutnya.
"Iya kau sedang jatuh cinta."
"Jaga bicaramu. Aku tidak sedang seperti itu. Aku juga tidak tahu apa artinya. Semua perasaan itu sudah hilang dari hatiku," ucap Morgan kemudian berdiri dan meninggalkan Gerald seorang diri di sana.
"Huh, dasar keras kepala. Aku yakin dia sedang jatuh cinta sekarang ini," gumam Gerald, dia menatap kepergian Morgan hingga menghilang di balik pintu.
"Siapa yang sedang jatuh cinta, Tuan?" tanya Lian mengagetkan Gerald. Laki-laki itu sampai memegang dadanya yang kaget.
"Kenapa kau mengagetkanku?" Ucapkan gemas.
"Aku tidak mengagetkan, Anda saja yang seperti melamun," ucap Lian membela diri. Gadis kecil itu mengambil piring milik Morgan dan akan dia bawa ke dapur.
Gerald tersadar melihat gadis itu yang ada di sana pagi ini. "Hei, apakah kau tidak sekolah? Rasa-rasanya aku melihatmu selalu ada di rumah akhir-akhir ini," banyak Gerald.
__ADS_1
"Sekolahku sebentar lagi, Tuan. Ini baru jam 07.00, aku bisa berjalan dengan cepat sampai ke sekolah sebelum terlambat."
"Jam berapa kelasmu?"
"Tepat jam 08.00," jawab Lian. Gerald terdiam sejenak, dia tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang ada di sini sehingga tidak tahu apa saja kegiatan mereka.
"Kau yakin benar sekolah?"
"Iyalah, apa kau ragu kalau aku bersekolah dengan baik? Kau bisa lihat nilai-nilaiku. Meskipun aku tidak terlalu pintar tapi aku bisa menjaga nilaiku dengan stabil," ucap Lian kemudian membawa nampan berisi piring dan gelas kotor ke dapur.
"Hey, cepatlah ganti seragam. Aku akan mengantarkanmu pergi ke sekolah," ucap Gerard.
"Tidak perlu, Tuan. Jika kau mengantarku ke sekolah kau akan terlambat. Lagi pula aku bisa jalan kaki dari sini," ucap gadis kecil itu seraya terus berjalan tak menghentikan langkah kakinya.
Gerak merasa sebal atas penolakan itu. Ini masih pagi dan dia sudah ditolak oleh anak kecil. Dia berdiri dan mendekati Lian menarik tangan gadis itu sampai-sampai Lian terkejut.
"Kenapa Tuan menarik tanganku?"
"Aku bilang aku akan mengantarmu. Aku ada urusan dengan gurumu. Cepatlah ganti pakaian," ucap Gerald dengan tegas.
Lian merasa takut dengan tatapan tajam Gerald sehingga dia berpamitan untuk pergi ke kamarnya dengan cepat.
Lima belas menit kemudian Lian telah selesai mengganti pakaiannya, bersamaan dengan itu Lyla juga turun dari lantai atas.
"Apakah Nona akan pergi sekarang?" tanya Lian dan mendapatkan anggukan kepala dari Lyla. "Aku sudah menyiapkan bekal sarapanmu. Jangan lupa kau makan," ucap Lian memberikan kotak bekal makanan untuk Lyla dan satu lagi bekal makanan untuknya.
"Terima kasih, Lian. Kau juga akan pergi sekolah?" tanya Lyla .
"Iya aku akan pergi bersama Tuan Gerald." tunjuk Lian ke arah di mana Gerald berada, dengan menggunakan dagunya.
"Ada apa kau pergi dengan dia?"
"Entahlah, aku juga merasa bingung. Dia bilang harus bertemu dengan guruku. Ah, aku jadi khawatir jika dia meminta guruku memberikan les tambahan," ucap gadis kecil itu lesu.
Lyla tertawa kecil melihat wajah Lian yang tampak tidak bersemangat di pagi hari. "Kau harus sabar. Belajarlah dengan rajin."
"Kau juga, Kakak. Semoga lancar dengan urusanmu hari ini," ucap Lian.
"Apakah kalian akan terus mengobrol saja sepanjang hari? Kalian berdua harus cepat pergi ke sekolah!" tegas Morgan yang tiba-tiba saja ada di ruangan itu. Dia merasa sebal karena Lyla tidak keluar juga dari dalam rumah.
"Baik, Tuan," seru kedua wanita itu dengan serempak.
__ADS_1