
"Kau harus menemaniku ke sebuah acara besok malam."
"Acara apa?" Tiba-tiba saja Jane merasa ketakutan akan permintaan dari pria itu. Bisa jadikan jika pria ini adalah orang yang jahat?
'Ke mana dia akan membawaku? Apakah dia bermaksud untuk menjualku? Membelah tubuhku, dan menjual organ dalamku?' Pikiran Jane menjadi semakin tidak karuan. Dia takut dan masih memikirkan nasib ibu dan adik angkatnya.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa sembarangan pergi dengan orang asing." Jane menolak permintaan dari pria itu.
"Kau tidak bisa pergi dengan orang asing, tapi kau sudah dua kali ikut bersamaan dengan kami. Apa bedanya dengan sebelumnya?"
Jane ingin berteriak kepada laki-laki itu. 'Tentu saja hal itu berbeda!' Kemarin mereka berdua, dan Jane rasanya tidak ingin percaya dengan pria ini, mengingat pada saat dia tidak sengaja menumpahkan kopi, Alex sangat marah sekali dan membentaknya.
"Kalau begitu aku ingin uangku sekarang juga. Aku tidak mau kau mencicilnya." Alex menadahkan tangan kanannya meminta uang yang telah dia keluarkan untuk Jane.
"Aku ... sudah aku bilang aku tidak memiliki uang sekarang. Aku pasti akan mengembalikannya, aku berjanji tidak akan kabur darimu."
Alex menghilangkan kepalanya dan mengeluarkan ponsel dari balik pakaian jas mahalnya.
"Sudah aku bilang aku tidak mau, Aku memiliki pilihan yang baru untukmu." Malik memperlihatkan sebuah rekaman yang masih berjalan di ponsel tersebut, Jane membulatkan matanya melihat benda itu di tangan Alex.
"Kau--"
Alex hanya menggerakkan kedua bahunya dan tidak peduli akan protes yang akan dilayangkan oleh wanita itu.
"Aku memiliki bukti yang nyata untuk bisa menjebloskanmu ke dalam penjara saat ini juga."
Jane adalah seorang wanita yang kuat, tapi saat ini dia telah menjadi rapuh karena terlalu banyak masalah yang menderanya. Mana dia sangka jika saat dia kembali ke negara ini dia malah bertemu dengan sosok Alex, dan kini pria itu meminta uangnya kembali.
"Kok bisa memilih salah satu. Aku menunggu dalam hitungan ketiga." Alex mengangkat tangannya dan mulai menghitung. Tepat saat dia mengangkat jarinya yang kedua, Jane akhirnya bersedia menerima tawaran tersebut. Menemani Alex ke sebuah acara lebih baik, daripada dia harus masuk ke dalam penjara.
"Aku akan ikut denganmu. Tapi setelah itu kau tidak akan menuntutku lagi, bukan?" tanya Jane. Dia harus memastikan jika Alex tidak akan mengingkari ucapannya sendiri.
"Ya, aku tidak akan ingkar janji. Kau bisa memegang ucapanku." Alex menggerakkan tangannya seperti gerakan menarik resleting di depan mulutnya, kemudian dia berlaga menguncinya dan mengambil tangan Jane, serta menyerahkan udara kosong ke tangan itu, seperti dia menyerahkan sebuah kunci.
"Jika aku mengingkarinya, kau bisa mencariku di tempat ini." Alex memberikan sebuah kartu nama ke tangan Jane. "Berikan ponselmu." Pinta Alex. Jane mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya dan memberikannya kepada pria tersebut. Alex segera mengambil ponsel itu dan menggerakkan jarinya dengan cepat di sana. Dia menghubungi nomornya sendiri, kemudian setelah ponselnya berdering Alex mematikan panggilan itu.
"Aku akan menghubungimu besok. Jadi, kosongkan jadwalmu," bisik Alex sangat dekat di telinga Jane.
Jane sedikit lemas pada lututnya setelah Alex pergi dari hadapannya. Dia sampai berjongkok dan memeluk lututnya sendiri. Andai dia tidak memiliki masalah lain, tentu saja akan dengan senang hati dia akan berdebat dengan pria itu. Akan tetapi, masalahnya sudah membuat pikirannya menjadi kacau. Jane sangat bingung sekarang ini sehingga dia tidak bisa melawan lagi.
Alex telah sampai ke rumahnya, Dia berjalan dengan riang dengan mulut yang bersiul mendendangkan sebuah lagu. Theresia yang melihat adiknya sedikit merasa aneh, tidak biasanya Alex berjalan riang seperti itu.
"Apa yang membuatmu senang hari ini?" tanya Theresia saat Alex melewatinya. Theresia menghentikan kegiatannya mengetik di atas laptop barunya.
"Tidak ada, Kakak. Tidak ada." Namun, dia itu masih mendatangkan sebuah lagu dan pergi ke arah kamarnya berada.
"Dia sangat aneh sekali," ucap Theresia sambil menggelengkan kepalanya. Jelas ada sesuatu hal yang membuat Alex seperti itu.
*
Keesokan harinya, Alex menghubungi Jane dan meminta wanita itu untuk datang ke sebuah salon ternama yang telah ditunjuk oleh Alex.
Pada jam dua siang, Jane telah pergi ke tempat yang disebutkan Alex di dalam pesannya. Bukan dia tidak pernah pergi ke tempat perawatan, tapi melihat tempat yang sebesar dan sebagus ini, ini adalah kali pertamanya.
"Selamat siang." Seseorang menyapa Jane yang baru saja masuk ke dalam sana. Jane menganggukan kepalanya dan tersenyum sopan. "Apakah ada yang bisa kami bantu?" Wanita yang tadi bertanya. Sementara pelayan yang lainnya menatap Jane dengan sinis. Jane datang dengan pakaian yang sangat biasa dan tubuh itu terlihat tidak terawat sama sekali. Jika dilihat dari pakaian dan juga kendaraan yang dipakai oleh Jane, tentu saja dia bukan dari kalangan yang berada.
Jane tidak suka saat ada orang lain menatapnya dengan sinis seperti itu, tapi kalian dia mengabaikannya saja.
Sekali lagi seorang pelayan bertanya kepada Jane.
"Kami menyarankan untuk anda ini adalah perawatan yang bisa beberapa orang pakai di sini."
Jane melihat-lihat daftar isi yang ada di sana. Beberapa paket perawatan tubuh dari harga termurah hingga harga yang paling mahal. Matanya membelalak melihat harga yang termurah pun masih jauh dari jangkauannya.
"Ada satu perawatan yang bisa dilakukan di sini, harganya murah jika anda ingin mencobanya."
"Berapa?" tanya Jane.
Pelayan itu memberikan sebuah kertas lain yang berisi paket perawatan termurah, tapi tentu saja dengan kalimat sinis dan tidak sedap untuk didengarkan. Jane ingin mundur, tapi dia ingat apa yang dikatakan oleh Alex agar dia datang ke tempat ini dan melakukan perawatan tubuh yang terbaik, sementara Jane tidak diberi tahu harus melakukan perawatan yang bagaimana dan dia juga hanya memegang beberapa uang dan tidak besar sama sekali.
Kalimat sindiran Jane dapatkan dari pelayan yang ada di sana, juga dari beberapa pelanggan yang sudah menunggu sebelumnya. Mereka menatap Jane dengan tatapan yang tidak suka.
Jane yang merasa tidak nyaman akhirnya keluar dari tempat itu. Dia akan pergi ke tempat yang lebih baik saja dari ini. Biarkan saja jika dia tidak menuruti perkataan Alex, tapi untuk tetap bertahan di tempat ini dia tidak sanggup juga. Toh, di mana saja perawatan pun bisa jadikan?
Jane menyeka air mata yang sempat terjatuh. Hatinya sakit mendengar hinaan yang ntar dari mulut salah seorang pengunjung yang ada di sana. Jelas sekali dia mendengar jika mereka mengatakan dirinya tidak pantas berada di tempat yang seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara itu mengagetkan Jane. Jane menoleh dan mendapati Alex sudah berdiri di dekatnya.
"Kau menangis? Apa yang terjadi?" Alex melihat mata Jane yang sembab dan hidungnya sudah memerah. Terlihat dengan jelas jika wanita itu sudah menangis.
__ADS_1
"Aku tidak mau masuk ke dalam sana. Jika kau memaksa sekalipun," ucap Jane. Kening Alex mengerut mendengar ucapan dari wanita itu.
"Apa ada seseorang yang mengganggumu?" tanya Alex.
"Mereka bukan hanya menggangguku, tapi mereka juga menghinaku. Oh, aku melupakan sesuatu. Yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran. Dan aku bodoh sudah memasukkan kata-kata mereka ke dalam hati."
Jane melepas kacamatanya dan sekali lagi banyak air mata yang mengalir ke pipinya.
Entah kenapa hati Alex merasa sedih dan sakit mendengar ucapan dari wanita itu.
"Ikut denganku." Alex menarik tangan Jane dan kembali masuk ke dalam tempat itu. Seorang pelayan yang tadi bersikap ramah kepada Jane kembali menyambut kedatangan dua orang tersebut. Sementara pelayan-pelayan yang lainnya dan juga pelanggan yang ada di sana menatap dua orang itu dengan tidak suka.
"Pasangan yang sangat serasi sekali." Tawa terdengar di dalam ruangan tersebut. Hati Alex menjadi marah mendengar ucapan itu.
"Terima kasih, Nyonya. Aku sangat menghargai sekali dengan doamu hari ini. Kau wanita yang baik hati sekali karena sudah bersedia untuk mendoakan kami orang yang tidak kau kenal. Jika begitu aku juga ingin mendoakanmu hal yang baik. Aku harap kau bisa menjaga lisanmu agar bisa menjadi orang yang sangat baik di kemudian hari. Dan aku berharap, kau tidak menyesali semua perkataanmu dan kau tidak perlu menangis untuk itu."
"Siapakah yang berani berkata seperti itu padaku?" Tunjuk salah satu wanita yang dimaksud oleh Alex dengan marah. Dia tidak terima dengan ucapan Alex yang seperti itu tertuju kepadanya. Pemuda ini jelas sedang menghinanya.
"Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya orang biasa yang sedang mendoakan kebaikan untukmu. Apakah yang aku lakukan itu salah?" tanya Alex kepadanya. Wanita tersebut semakin marah mendengar ucapan dari Alex.
"Pelayan, mengusir mereka berdua dari tempat ini. Mereka tidak layak ada di tempat ini."
Jane ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Alex. Sudah cukup baginya kesulitan yang dia rasakan, dan dia tidak ingin mendengarnya lagi dari orang lain. Sementara Alex bersikap tenang dan menatap wanita itu dengan tajam.
"Hah, sayang sekali ya. Tempat sebagus ini tapi para pelayanan yang ada di sini sangat buruk. Aku kecewa sekali."
Ucapan Alex barusan mengundang kebencian dari para pekerja yang ada di sana. Mereka melakukan protes kepada pria itu dengan nada yang marah. Sementara Alex bersikap tenang dan dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
"Aku kecewa. Di mana tanggung jawabmu sehingga kau merekrut pegawai yang buruk seperti ini?" tanya Alex pada seseorang yang ada di seberang telepon.
"Aku akan datang ke sana."
"Ya, lebih baik kau datang ke sini dan jangan sampai aku menunggumu lebih dari lima menit." Perintah Alex kepada wanita yang dihubungi barusan.
Semua orang terheran dengan apa yang Alex lakukan dan tidak tahu dia berbicara dengan siapa, tapi saat mereka mengusir Alex, pria itu malah duduk dengan tenang dan mengajak Jane juga untuk duduk.
"Tuan, lebih baik kita pergi dari sini. Aku sudah tidak nyaman dengan mereka."
Alex hanya menepuk lengan Jane dan memintanya untuk tenang.
"Aku lelah, kau bisa tenang dan menunggu sebentar?" tanya pria itu. Meski Jane tidak nyaman dengan tatapan dan cucian dari orang-orang itu, tapi dia menurut kepada Alex dan duduk dengan diam menunggu seseorang yang datang.
Tidak sampai lima menit sebuah mobil berhenti di depan salon kecantikan tersebut. Seorang wanita cantik turun dari mobil itu dan masuk ke dalam serta menemui Alex dengan wajahnya yang sedikit ketakutan. Para pegawai di sana mengenal wanita tersebut yang merupakan manajer dari tempat ini. Beberapa pelanggan juga sudah mengenalnya.
Semua orang yang berada di sana terkejut dengan perlakuan dari wanita cantik ini yang menundukkan kepalanya sangat rendah kepada pria muda itu. Mereka masih belum tahu siapa yang ada di hadapan mereka kini.
"Aku tidak tahu bagaimana standarmu saat menerima mereka bekerja di sini. Tapi, untuk selanjutnya jika aku melihat mereka masih tetap di sini, maka kau yang harus pergi."
Wanita itu tak kesiap dan kembali menundukkan kepalanya, hal tersebut membuat para pegawai yang ada di sana bertanya-tanya dan seketika mengikuti apa yang dilakukan oleh wanita itu. Mereka saling menyinggung satu sama lain dan bertanya-tanya, tapi tidak ada jawaban yang membuatnya pasti.
"Apakah dia pemilik tempat ini?" tanya salah seorang wanita kepada teman wanita yang lainnya.
"Aku tidak tahu. Tapi Grace saja sepertinya takut kepada pria ini," balas yang lain.
Wanita yang dipanggil Grace oleh anak buahnya itu semakin menunduk takut saat mendengar ancaman dari Alex. Dia jelas tidak mau menjadi wanita pengangguran jika dia melepaskan jabatannya di sini. Sering kejadian dia dapatkan di sini terhitung besar, dia juga masih bisa melakukan pekerjaan lain dan Alex tidak keberatan dengan hal itu asalkan tidak mengganggu kesibukan di salon.
"Baik, Tuan. Saya akan memecat mereka semua."
Para pegawai yang ada di sana sangat ketakutan mendengar Grace mengatakan hal tersebut. Mereka menyesal karena telah melakukan hal yang tidak baik kepada tamu mereka.
Alex menolehkan kepalanya saat Jane menarik tangannya. Alex mendekat saat Jane ingin berbisik.
"Kau." Tunjuk Alex kepada salah satu wanita yang berdiri di belakang Grace.
Wanita yang ditunjuk oleh Alex terkejut dan menoleh ke kanan kiri menatap temannya. "Saya, Tuan?"
"Kecuali kau. Selebihnya aku pecat dari tempat ini!" ucap Alex tanpa mau lagi mendengar apapun dari orang lain.
Para pegawai yang dipecat oleh Alex mencoba untuk mengatakan maaf kepadanya, tapi Alex sudah tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mereka dan tetap memecat semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Grace dan satu orang yang tadi ditunjuk oleh Alex.
Setelah semuanya keluar dari tempat itu, termasuk para pelanggan yang telah berani menghina Jane, Grace maju dan berkata kepada atasannya tersebut.
"Alex, apa kau yakin memecat mereka semua?" Grace melirik wanita yang ada di samping Alex. Bisa jadi jika wanita itu adalah penyebab Alex memecat mereka semua.
"Lalu, kau ingin menggantikan mereka?"
Grace segera menundukkan kepalanya. Dia jelas dingin posisinya yang ada di sana tergantikan oleh orang lain. Aku tidak peduli dengan para pegawai yang tidak memiliki tata bahasa yang baik. Aku heran denganmu, kau ini adalah wanita yang berpendidikan, tapi kenapa kau tidak bisa mencari pegawai yang sama berpendidikannya. Meskipun mereka memiliki pendidikan yang rendah, utamakan mereka memiliki etika yang baik."
Grace masih menunduk dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Alex. Dia tidak ingin menjawab atau melawan pria itu karena akibatnya akan bisa fatal untuknya.
__ADS_1
"Sekarang kau yang harus urus dia," ucap Alex menunjuk Jane dengan dagunya.
"Baik." Grace menuruti ucapan atasannya itu dan segera membawa Jane ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
Jane diperlakukan dengan baik sekarang ini oleh Grace. Meski Grace tidak tahu siapa wanita ini yang datang bersamaan dengan Alex. Dia tidak cantik sama sekali dengan kacamata tebal yang ada di wajahnya dan dia heran bagaimana Alex bisa menemukan gadis culun seperti ini.
Jane sedikit tidak enak hati dengan apa yang telah terjadi di dalam tempat ini. Ini semua terjadi juga karena kehadirannya. Seharusnya dia berpakaian yang lebih baik daripada ini. Akan tetapi, Jane sudah memakai pakaian terbaik yang dia miliki di dalam lemarinya.
"Nona, maafkan aku. Mungkin karena kehadiranku di sini yang membuat kekacauan ini."
Grace kini mengerti kenapa Alex bisa mengenalnya dan membawa wanita ini ke sini. Jane sangat sopan sekali dan mau mengakui kesalahannya, meskipun sebenarnya lebih banyak kesalahan dari para pegawainya yang menatap sebelah mata terhadap orang lain.
"Tidak apa-apa. Alex memang benar. Aku tidak becus untuk mencari pegawai yang baik dan lebih bisa menghargai orang lain. Ayo, aku yang akan mengurusmu sekarang. Aku minta maaf atas perlakuan dari bawahanku tadi. Kau pasti tidak nyaman karena perlakuan dari mereka."
Jane tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah sering diperlakukan seperti ini oleh orang lain."
Kini Grace semakin mengerti. Alex mungkin jatuh cinta dengan wanita ini dan dia ingin mengangkat derajatnya serta membawanya keluar dari kesulitannya. Hatinya kecewa dan juga terasa sakit, semakin dipikirkan semakin sakit rasanya.
Grace sudah menyukai Alex sejak bertahun-tahun yang lalu, tepatnya sudah enam tahun lamanya. Akan tetapi, Grace tidak pernah berkata jujur kepada pria itu karena sebelumnya Alex tidak pernah memperlihatkan minatnya terhadap perempuan. Bahkan Grace sempat mengira jika Alex adalah penyuka sesama jenis. Namun, dia tidak peduli akan hal itu, dan dia tetap menyukai Alex apa adanya. Sekarang melihat dia bersama dengan wanita lain, rasanya menyesal karena Grace tidak pernah mencoba untuk menyatakan perasaannya kepada Alex.
Hampir tiga jam lamanya Jane melakukan perawatan tubuh secara keseluruhan, Alex juga ternyata masih duduk di tempat itu dan tengah sibuk dengan ponselnya. Dia sedang menunggu seseorang untuk datang membawakan gaun yang telah dia pesan untuk dipakai oleh Jane.
"Kau masih di sini?" tanya Grace terheran melihat Alex yang duduk di ruang tunggu.
"Tentu saja aku di sini, aku sedang tidak memiliki pekerjaan."
Grace semakin heran melihat pria itu. Tidak biasanya Alex tidak memiliki pekerjaan. Setiap hari pria itu disibukkan oleh segala kegiatannya yang Grace sendiri tidak paham dia melakukan apa.
"Kau bisa membantuku untuk menyiapkannya?" Alex meminta.
"Mempersiapkan apa?"
"Aku ingin pergi ke sebuah pesta, tolong kau urus dia dengan baik. Anak buahku akan membawakan gaun untuknya, kau bisa bantu pilihkan?" tanya Alex.
"Tentu saja." Perasaan Grace semakin sakit tatkala dia harus menyetujui apa yang Alex inginkan. Dia menyesal seharusnya sekali saja dia menyatakan perasaannya terhadap pria itu. Entah jawabannya diterima ataupun ditolak, setidaknya dia sudah mencoba daripada tidak sama sekali.
Grace pasrah kali ini. Alex sudah memilih wanita ini, dan dia tidak akan mengganggu hubungan mereka.
Gaun telah datang, Grace membantu Jane memilih dan memakai gaun tersebut. Tidak lupa Grace juga mengganti kacamata Jane dengan softlens yang dibawakan oleh Alex. Riasan tipis di wajah Jane dan terakhir dia merapikan rambut Jane dengan sangat baik.
Jane, seorang gadis biasa yang tampak culun, kini dia berubah menjadi angsa yang sangat cantik. Tidak ada yang mengira jika wanita ini pada awalnya adalah seorang wanita yang tidak pernah dilirik oleh orang lain. Grace akui jika Jane adalah berlian dari tumpukan jerami. Kecantikannya yang alami terpancar jika dia ditangani dengan baik.
Jane sendiri tidak menyangka saat dia melihat wajahnya sendiri di depan cermin. Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya sudah berubah secantik ini.
"Kau cantik sekali." Grace sampai terang-terangan memuji Jane membuat pipi Jane tersipu malu.
"Aku cantik karena campur tanganmu. Tentu saja aku akan tetap menjadi seperti diriku yang biasa jika aku tidak bertemu denganmu, Nona."
Grace membawa Jane untuk menemui Alex yang masih duduk menunggu di ruang tunggu.
"Alex," panggil Grace membuat pria itu menolehkan kepalanya.
Alex terpanas saat melihat seseorang yang berada di belakang Grace. Matanya tidak berkedip, mulutnya terganggu melihat wanita cantik yang ada di belakangnya.
Dia hampir saja bertanya siapa gerangan wanita itu, andai Grace tidak menyebutkan nama Jane.
"Apakah kau tidak mau sekalian mengganti pakaianmu di sini?" tanya Grace kepada Alex.
Alex menggelengkan kepalanya dan mengatakan dia akan bersiap di rumah saja.
"Baiklah. Semoga acara kalian lancar."
"Terima kasih, Grace. Aku hargai semua bantuanmu hari ini."
"Sama-sama. Aku juga sangat senang sekali bisa membantumu," ucap Grace.
Alex membawa Jane untuk pergi dari tempat itu dan dia akan pulang ke rumahnya sebentar untuk mandi dan mengganti pakaian.
Jane duduk di dalam mobil Alex untuk ke sekian kalinya. Tidak seperti saat-saat sebelumnya dia merasa biasa saja duduk di sana, tapi kali ini dadanya berdebar dengan sangat kencang sekali karena dia merasa Alex beberapa kali mencuri tatap kepadanya.
"Apakah ada yang salah, Tuan?" Jane memberanikan diri untuk bertanya kepada Alex. Alex menjadi salah tingkah ditanya seperti itu oleh Jane. Dia tidak menyadari jika sedari tadi dia mencuri pandang kepada gadis itu.
"Tidak ada. Kau hanya tampak berbeda."
"Apakah aku tidak pantas dengan riasan seperti ini?" tanya Jane sedikit tidak nyaman. Bukan karena pakaian dan riasan sebenarnya, tapi karena dia tidak nyaman dengan tatapan dari Alex.
"Tidak bukan seperti itu. Kau pantas sekali dan berbeda tidak seperti biasanya. Jangan salah paham."
"Oh, baiklah." Jane kini memilih untuk diam dan memperhatikan jalan yang ada di depannya saja. Meski rasanya dia masih tidak nyaman ketika Alex diam-diam mencuri pandang kepadanya.
__ADS_1
Sampai di depan mansion Alex, Jane dibuat terperangah oleh besarnya tempat tersebut. Dia tidak menyangka jika rumah Alex sangat besar sekali seperti istana.
"Aku akan bersiap dulu. Tidak apa kan kau menunggu di sini sebentar?" titah Alex. Beberapa maid datang dan membawakan makanan serta minuman untuk Jane. Semua yang terhidang di sana terlihat sangat enak, jujur saja Jane tidak pernah sama sekali makan makanan seperti ini.