
Suasana di bandara siang ini cukup sepi, dikarenakan Morgan dan Lyla hari ini akan kembali ke negaranya. Alex telah memerintahkan beberapa orang untuk meminimalkan penerbangan demi keselamatan sang keponakan.
Setelah beberapa saat mereka bersama, akhirnya dia harus rela melepaskan Lyla pergi.
"Aku akan sangat merindukanmu, Uncle. Datanglah ke sana nanti. Aku menantikan kedatanganmu," ucap Lyla sambil memeluk Alex.
"Iya, akan aku usahakan. Berhati-hatilah di jalan. Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi suatu hal buruk kepada keponakanku!" Tatapan mata Alex tertuju pada Morgan yang ada di depannya.
Morgan tersenyum dan menganggukkan kepala, mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana dan mengulurkan tangan kepada Alex.
"Pasti. Akan aku jaga calon istriku dengan baik. Jangan khawatir."
Alex menyambut tangan Morgan, kedua orang itu bersalaman dan bertatapan satu sama lain. Ada percikan dari tatapan mereka, Alex tidak bisa sepenuhnya percaya dengan Morgan, sehingga dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti mereka dengan tanpa terlihat dan menetap untuk memantau keadaan di sana.
"Pergi lah kalian. Aku sangat sibuk sekali hari ini."
Alex melepaskan pelukannya dari Lyla dan mengelus pipinya yang putih.
"Ingat, jika dia mengabaikanmu, jangan lupa untuk hubungi aku." Bisikan Alex terdengar jelas di telinga Morgan, tapi hal itu tidak membuatnya marah sama sekali. Morgan mengakui jika ucapan itu adalah bukti kasih sayang paman kepada keponakannya.
"Iya, Uncle. Jangan khawatir. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Senyuman Lyla membuat Alex ikut tersenyum.
Lyla sangat sedih kadang dia harus berpisah dengan Alex, tapi di setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Suatu saat dia pasti akan mengunjunginya lagi.
"Uncle, carilah pendamping. Agar aku tidak khawatir meninggalkanmu sendirian."
Alex tersenyum ketir. Soal jodoh, dia masih belum tahu. Beberapa hari yang lalu, dia melihat bunga mawar yang indah, tapi belum menyentuhnya, dia sudah terluka. Apalagi melihat Selvi yang tampak nyaman berbincang dengan Robinson.
Lyla dan Morgan masuk ke dalam pesawat, Alex masih menunggu di bawah dan melihat Lyla hingga menghilang di balik pintu.
"Ayo kita pulang!" Alex memberi perintah, beberapa orang bersiap dan mengelilingi Alex pergi dari sana.
"Kau tidak apa-apa?" Morgan menggenggam tangan Lyla, membuat wanita itu mengalihkan tatapannya dari punggung sang paman yang semakin lama semakin menjauh.
"Tidak. Ayo kita pulang."
Morgan mengangguk dan memerintahkan pilot untuk segera menerbangkan pesawat jet pribadi tersebut.
Pesawat itu tinggal landas, perlahan membelah udara dengan latar langit yang cerah dan awan putih yang menggantung di sana.
Di dalam area bandara, Alex menatap pesawat yang membawa Lyla pergi dan berharap dia selamat sampai tujuan.
"Ayo, kita pergi."
Alex meninggalkan area bandara tersebut.
Lyla menyandarkan kepalanya pada bahu Morgan dan mencari ketenangan di sana. Meninggalkan sosok keluarga yang baru saja dia temui membuat hatinya menjadi sedih, tapi dia juga sangat mencintai Morgan dan ingin bersama dengan kekasihnya ini.
"Tidur lah. Perjalanan kita masih sangat jauh."
...***...
__ADS_1
Mobil hitam mewah baru saja berhenti, segera orang yang berjaga di sana menekan sebuah tombol yang membuat pintu gerbang terbuka otomatis. Berjejer beberapa orang di kanan dan kiri, menyambut kedatangan mobil itu.
Pandangan Lyla ke samping, menatap luasnya hamparan rumput berwarna hijau dengan beberapa tanaman bunga yang tumbuh di sana.
Aku kembali.
Tangan Morgan menggenggam tangan Lyla, menelusupkan jemarinya yang besar nan hangat.
"Selamat datang kembali ke rumah."
Lyla tersenyum dan merebahkan kepalanya di bahu Morgan.
Pintu mobil dibuka Gerald dari luar, Lyla senang bisa bertemu dengan pria itu sekali lagi.
"Selamat datang kembali di rumah. Apakah perjalananmu menyenangkan?" tanya Gerald dengan senyuman yang kali ini semakin lebih baik dilihat oleh gadis itu.
"Sangat menyenangkan."
"Kak Lyla!"
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang gadis dari ambang pintu dan berlari secepat kilat memeluk Lyla tanpa memperhatikan jika Morgan ada di sana.
"Aku kangen sekali! Kau baik-baik saja, kan?" Lian menangis penuh haru, setelah mendengar Lyla akan kembali hari ini, dia tidak bisa tenang dan terus menunggu wanita itu.
"Li-Lian?"
"Aku khawatir kau pergi. Kau baik-baik saja, kan?" tanya Lian lagi.
"Aku baik-baik saja. Tapi, aku tidak bisa bernapas sekarang."
Akhirnya Lian tersadar dan melepaskan pelukannya dari Lyla.
"Maafkan aku. Aku hanya senang kau kembali." Lian melanjutkan tangisnya dan lega melihat keadaan Lyla yang baik-baik saja.
Lyla senang dirinya dikhawatirkan seperti itu oleh Lian, dia mendekap Lian dengan erat kali ini.
"Ah, ya ampun. Aku sangat berdosa sekali. Aku sudah membuat adikku khawatir rupanya. Maaf, ya."
Lian menganggukkan kepala dan balas memeluk Lyla.
Gerald melirik Morgan yang masih menunggu. Jika biasanya laki-laki itu akan marah jika wanitanya disentuh meski oleh sesama wanita, tapi kali ini dia tidak bereaksi seperti dulu.
"Ekhem! Kau harus membawanya ke dalam dan buatkan dia minuman."
"Oh, benar sekali, Tuan Gerald. Aku sampai lupa. Ayo, Kak Lyla!" Lian segera menghapus air matanya dan menarik tangan Lyla, mengajaknya masuk ke dalam mansion.
"Eh, anu ...."
Lyla tidak bisa menahan laju kaki Lian dan pasrah mengikutinya. Dia melirik Morgan yang terlihat datar, tapi tampaknya biasa saja.
"Ayo, akan aku buatkan makanan yang enak. Aku sudah membuat resep baru dan kau harus coba!" Lian sangat bersemangat sekali.
__ADS_1
Gerald mendekat pada sepupunya dan menyenggol lengan Morgan. "Ayo. Kita juga harus masuk."
Di dalam, Lyla bertemu lagi dengan ibu Lian. Mereka saling bertukar kabar dan saling tertawa mendengar cerita lucu dan yang lainnya. Tawa Lyla terdengar renyah sambil memakan kue yang telah dibuat Lian beberapa menit yang lalu.
"Ah, ini enak sekali. Tapi, masih panas." Lyla meniup rainbow cake yang ada di tangannya. Enak dan lembut sekali
"Aku buat banyak. Kau harus habiskan!" seru Lian sambil menyimpan satu loyang lagi kue yang baru saja dia keluarkan dari oven.
Rasanya Lyla tidak sanggup jika harus menghabiskan semua kue itu sendirian. Terlalu banyak, dan dia yakin jika perutnya tidak akan muat menghabiskannya.
"Kau mau makan mie buatanku? Aku sedang belajar mengkombinasikan rasa yang lain." Lian bersemangat sekali menawarkan mie dengan rasa varian yang baru
Gerald melirik sebal pada wanita lincah itu, sambil memainkan hp-nya, dia berkata, "Kau tidak seharusnya terlalu lelah. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk diam dan melakukan perawatan diri? Aku tidak mau melihat kau lusuh dan keriput di hari penting kita!" Nada suara itu terdengar ketus.
"Iya. Aku paham. Tapi, untuk hari ini jangan larang aku. Jangan membuat mood-ku hilang!" Lian berkata dengan kesal.
Lyla menjadi bertanya-tanya. Hari penting? Hari penting apa?
Tiba-tiba saja, dia baru sadar jika Lian kali ini cukup berbeda. Dari segi pakaian, dia tidak seperti sebelumnya.
"Anu ... maksudnya hari penting itu ... apa?" Akhirnya Lyla tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Eh, Tuan Gerald tidak memberitahumu?"
Lyla menggelengkan kepala atas pertanyaan Lian.
"Aku tidak tahu." Dia menoleh menatap Morgan untuk mencari jawaban, tapi pria itu hanya meminum kopi panasnya dengan tenang.
"Morgan tidak memberitahumu?" Gerald bertanya. Kali ini Morgan menoleh kepada Gerald dengan tatapan penuh tanya.
"Aku tahu apa?"
"Soal pernikahanku. Bukankah aku sudah bilang aku akan menikah?"
"Eh, jadi ... kau akan menikah dengan Lian, Tuan Gerald?" Lyla terkejut dan tidak menyangka, sementara Morgan hampir tersedak karena minumannya.
"Apa? Dengan dia?" Morgan menunjuk Lian setelah membersihkan sudut bibirnya dengan sapu tangan.
Gerald memberikan tatapan tajamnya kepada Morgan dan ingin menghajar pria itu saat ini juga. "Ish, kenapa kau tidak perhatian sekali denganku? Manusia macam apa kau ini?"
Morgan memang tidak tahu, karena sebelumnya dia mengira jika Gerald masih ada hati dengan Renee dan mungkin bukan gadis kecil ini yang akan dinikahinya, mengingat jika Lian terlalu kecil dan masih harus menyelesaikan sekolahnya.
"Jika aku tahu dia yang akan kau nikahi, aku akan melarangnya. Kau seperti pedofil!"
"Aku bukan pedofil. Dia duluan yang menyatakan perasaannya."
"Apa?" Lyla dan Morgan berkata bersamaan dan menatap Lian dengan terkejut. Sedangkan gadis kecil itu menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah.
"Kau—, mengerikan, Nona!"
Lian semakin malu mendengar ucapan Lyla. "Anu ... waktu itu aku hanya sedang tidak sadar saja. Itu karena ... aku ... aku cemburu karena dia terlalu perhatian kepada wanita itu. Aku tidak sadar menyatakan perasaanku." Lian ingin meleleh saat ini juga karena wajahnya yang semakin terasa panas. Apa lagi ditatap sedemikian rupa oleh tiga orang yang ada di sana.
__ADS_1
Aaah, aku harus bagaimana? Batin Lian.