Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
217


__ADS_3

Tepat saat itu, perut Alex terdengar berbunyi dan wajah Alex langsung memerah.


"Aku mau lanjut makan. Ternyata perut ini masih butuh makanan selain kue."


Jane tersadar dan mengangguk, dia juga lapar karena tadi menunggu Alex pulang dan sampai ketiduran. Beruntung setelah selesai masak dia mandi terlebih dahulu sebelum ketiduran, andai tidak tentu saja tubuhnya akan beraroma tidak sedap.


"Kau hebat dalam mengolah makanan, Jane. Apa kau tidak memikirkan untuk memiliki restoran sendiri?"


Jane langsung mengangkat pandangannya. "Aku tidak cukup hebat untuk itu."


"Tapi aku tidak pernah kecewa dengan masakanmu."


Wajah Jane menghangat, tersipu malu akibat pujian yang dilontarkan oleh Alex.


"Kau terlalu berlebihan. Aku beruntung karena kemarin bisa bekerja di restoran. Jadi, aku bisa menyimak apa saja yang dimasak di dapur jika waktu sedang senggang."


"Oh, begitu rupanya. Aku kira kau mengikuti kelas khusus. Jane, dari mana kau tahu aku berulang tahun hari ini?" tanya Alex menatap Jane.


Jane menjadi canggung. Jangan sampai Alex tahu jika dia tidak sengaja masuk ke dalam ruang kerja dan melihat kartu tanda pengenal Alex yang tertinggal di meja beberapa hari yang lalu.


"Aku mengingatnya saat kita akan menikah. Saat kita pergi ke kantor dan mendaftarkan pernikahan.”


“Oh, ternyata. Lalu, kapan hari ulang tahunmu?” Alex bertanya, tidak adil baginya tidak mengetahui kapan tanggal spesial Jane sedangkan Jane saja ingat dengan hari kelahirannya.


“Aku sudah melewatkannya dua bulan yang lalu.” Jane menunduk sambil memutar sendok di mangkuk supnya.


“Dua bulan yang lalu? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?” Alex bertanya dengan nada yang dingin, menatap Jane yang menunduk tidak menggubris tatapannya. Ini sungguh tidak adil sekali saat Jane bersusah payah menyiapkan semua ini untuknya, tapi dia tidak bahkan tidak pernah tahu kapan hari spesial istrinya..


“Kau sangat sibuk, dan aku juga tidak terlalu memusingkan hari itu. Bagiku hari apa pun sama saja. Aku bahkan pernah berharap jika aku tidak pernah dilahirkan di dunia ini.” Jane berkata dengan nada yang dingin, masih melihat air supnya yang berputar-putar.


Tiba-tiba saja Alex mengambil korek dan menyingkirkan lilin sehingga meninggalkan hanya satu saja dalam keadaan menyala.


“Selamat ulang tahun untukmu, Jane. Maaf, untuk hari ini kita harus berbagi. Aku akan mengganti kuemu dengan yang lebih baik di lain hari.”

__ADS_1


“Kau tidak perlu melakukan itu, Alex.”


“Tapi aku ingin. Meskipun kau mengatakan kau pernah berharap untuk tidak dilahirkan, tapi aku harap setelah ini kau bisa melihat apa yang Tuhan rencanakan sehingga kau dilahirkan ke dunia ini. Kau adalah kebahagiaan untuk mereka yang menyayangimu. Ibumu, kakekmu, paman dan bibimu, dan saudaraku. Dan aku juga senang kau menjadi temanku bercerita di rumah ini dan mendengar keluh kesahku,” ucap Alex.


Alex memerintahkan Jane untuk menutup mata dan berdoa, hingga kemudian wanita itu meniup lilinnya.


“Suapi aku kue,” ucap Alex lalu membuka mulutnya. Jane tanpa melakukan protes melakukan hal tersebut. Mata keduanya saling beradu beberapa detik, untuk kemudian mereka memalingkan wajahnya satu sama lain ke samping.


Dada Jane berdebar dengan cukup keras. Jarak mereka cukup dekat, padahal keduanya berada di seberang meja.


“Ayo kita lanjutkan makan.” Alex menepis rasa canggung itu dan mengambil sendoknya kembali setelah menyimpan kue di tengah-tengah meja. “Aku ingin tahu apa yang kau harapkan, Jane. Bolehkah?"


“Aku ... berharap kau hidup bahagia setelah aku tidak ada di sini.”


Kening Alex mengerut karena mendengar permintaan Jane. Bahkan wanita itu tidak meminta untuk kebahagiaannya sendiri? Gila! Wanita yang langka.


“Kau sungguh mendoakan seperti itu?” Jane mengangguk dan tersenyum. “Kenapa kau tidak mendoakan dirimu sendiri?”


“Seharusnya kau berdoa untuk kebahagiaanmu terlebih dahulu. Aku adalah seorang pria, aku lebih mudah menggapai kebahagiaanku sendiri. Apa kau pikir aku menyedihkan sehingga kau harus mendahulukan berdoa untukku?”


“Tidak.” Jane menggeleng, terlihat gemas. “Kau tidak menyedihkan sama sekali. Hanya saja sebagai seorang teman yang baik, aku hanya ingin mendoakanmu saja.”


Hati Alex tersentuh. Menghangat.


Di dalam kamar, Alex bersiap untuk tidur.


“Alex, kapan bibi akan pulang?” Jane bertanya soal Theresia yang sedang pergi ke luar negeri untuk melakukan show pertamanya. Wanita itu kini terkenal setelah dirinya memenangkan sebuah kompetisi mendesain pakaian. Mana disangka jika rancangan yang dibuat oleh Theresia membuat para juri sangat tertarik dan mengontrak wanita itu untuk satu tahun ke depan.


“Aku juga tidak tahu. Biarkan saja dia di luar sana. Dia wanita cerewet yang suka mengatur!” Tiba-tiba saja Alex menjadi kesal jika mengingat kakaknya itu. Sudah hampir tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu, bahkan telepon atau pesan pun jarang dia dapatkan jika bukan Alex duluan yang memulainya.


Jane tertidur miring, menatap Alex yang tidur berbaring di lantai dengan kasur yang tergelar. Dua tangannya menggantikan bantal, padahal dua buah bantal ada di samping tubuhnya yang hanya bertelanjang dada.


Jane tidak bisa tidak menelan ludahnya, dia hampir tersedak dan mimisan jika setiap malam disuguhkan pemandangan indah dari perut kotak-kotak milik Alex.

__ADS_1


“Apa yang kau lihat?” Alex memergoki saat pandangan Jane menelusuri tubuhnya. Segera setelah Alex menaikkan selimut, Jane tersadar dan bertanya.


“Jane, kau baik-baik saja? Kau seharusnya tidur, tapi kenapa kau malah menatapku?”


“Aku tidak apa-apa. Hanya saja apakah kau tidak akan masuk angin jika tidur tanpa pakaian?”


“Seharusnya kau sudah terbiasa, bukan? Atau, kau juga mau membuka pakaianmu?” goda Alex. Jane mendesis dan memalingkan wajahnya ke arah lain, telinganya panas sekarang ini. Alex memang keterlaluan, semakin hari kata-katanya bisa membuat Jane menjadi salah tingkah.


“Bukan itu maksudku. Kau tidur di lantai setiap malam dan kau selalu tidak mengenakan pakaian. Aku hanya takut kau sakit. Lalu apa yang harus aku katakan kepada bibi dan Laura? Mereka akan berpikir jika aku tidak mengurusmu dengan baik.”


Alex tersenyum, kemudian duduk sehingga kepalanya sejajar dengan Jane.


“Kalau begitu, aku ingin tidur di sini.”


Jane membulatkan matanya saat Alex mengambil bantal dan berpindah tempat, bahkan tubuhnya di dorong bak menggulingkan sesuatu yang berat.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau naik?”


“Kau bilang takut aku masuk angin kan, kalau aku tidur di lantai. Jadi, malam ini aku akan tidur di sini saja. Ah, ini sangat menyenangkan sekali. Nyamannya kasurku,” gumam Alex tidak peduli akan tatapan penuh protes dari Jane.


“Hei, bukankah kita sudah melakukan perjanjian? Kita tidak akan tidur di tempat yang sama, termasuk kasur kan?”


“Hemm. Jadikan malam ini adalah pengecualian. Bukankah kau menginginkan aku bahagia? Dan aku bahagia kembali tidur di kasurku yang empuk.” Alex tidak menggubris ucapan Jane dan menarik selimutnya lebih tinggi lagi.


Jane tidak bisa bertahan lebih lama di sana, dadanya bisa meledak apa lagi merasakan aroma dari tubuh Alex yang membuat hidungnya kembang kempis.


“Kalau begitu aku yang akan turun.”


Jane bersiap menarik selimutnya, tapi tangan besar Alex menangkap pinggangnya erat.


“Tidurlah di sini, Jane. Kau tidak perlu pergi.”


Jane terkejut, dentum di dadanya kian membuncah ramai bak bunyi genderang.

__ADS_1


__ADS_2