
“Kau adalah tanggung jawabku,” ucap Morgan yang seketika membuat Lyla mengalihkan tatapannya. Rasanya dia tidak percaya mendengar laki-laki itu berkata. Apa kali ini dia benar-benar salah mendengar? Tanggung jawab?
“Eh, apa maksudmu?” tanya Lyla ingin mengerti.
Morgan mengalihkan tatapannya dan seketika itu juga melihat sholat mata Lyla yang kebingungan. “Kau tidak bodoh. Apa ucapanku tidak jelas untukmu?” ucap laki-laki itu sambil memberikan sentilan yang cukup keras pada kening Lyla.
“Aww!” seru wanita itu seketika langsung mengusap keningnya yang terasa panas. Dia juga menggeserkan duduknya menjauh dari Morgan. “Apa yang kau lakukan? Ini sakit!” ucap Lyla masih merasakan panas di sana.
“Aku hanya ingin mengetes saja siapa tahu isi kepalamu sudah rusak. Masa kalimat yang sudah aku sederhanakan kau tidak mengerti juga?” ucap Morgan. Lyla memberengut kesal.
“Tapi kau tidak perlu juga melakukan hal yang seperti itu ‘kan? Kau ini tega sekali!”
Entah kenapa wajah Lyla yang cemberut seperti itu malah terlihat menggemaskan di mata Morgan.
“Kenapa kau sangat keterlaluan sekali? Kau ini pria yang kasar. Pantas saja jika tidak ada wanita yang mau denganmu!” ujar Lyla dengan nada yang kesal. Mendengar hal itu Morgan menatap semakin tajam, tapi tidak membuat wanita itu menjadi takut. Dia malah balas menatap Morgan dengan sama tajamnya.
“Bukan tidak ada wanita yang tidak mau denganku.”
“Lantas?”
“Mereka yang tidak pantas untuk bersamaku,” ucap laki-laki itu dengan angkuh.
“Cih. Kenapa kau sombong sekali, Tuan. Jangan sombong seperti itu, siapa tahu saja jodohmu adalah wanita yang sama sekali tidak kau kehendaki. Jangan membuat wanita sakit hati lagi, do’a orang yang tersakiti itu sangat manjur!” ujar Lyla sambil menunjuk tepat di hadapan hidung Morgan.
“Itu tidak akan terjadi denganku.” Morgan menyingkirkan tangan Lyla dari hadapannya.
“Kau akan makan atau tidak?” tanya Morgan yang membuat Lyla mengalihkan tatapannya dari laki-laki itu. Dia ingin, tapi juga sekarang menjadi bimbang.
“Kenapa?” tanya Morgan saat melihat Lyla menjadi diam.
“Rasanya aku tidak tega memakan makananmu,” ucapnya kemudian berdiri sambil mendorong tiang infusnya ke arah di samping tempat tidur. Satu detik kemudian dia berbalik dan duduk di samping Morgan kembali dengan membawa mangkuk bekas makannya tadi.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mencicipi saja. Sudah cukup,” ucap Lyla seraya mengambil tiga sendok makan tersebut dan memindahkannya ke dalam mangkuknya. “Dengan begini kita bisa makan bersama-sama.”
Morgan terpaku dengan ucapan Lyla barusan, dia mengakui jika wanita ini memang berbeda dengan wanita yang lain, di mana biasanya mereka akan mengambil semua. Akan tetapi tidak dengan wanita ini.
“Kenapa kau ingin berbagi makanan denganku?” tanya Morgan tiba-tiba.
“Karena sebenarnya ini makanan milikmu, kau yang berbagi denganku. Dan aku ucapkan terima kasih karena aku tidak akan penasaran lagi.” Lyla tersenyum lebar kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan menutup mata. Morgan memperhatikan apa yang Lyla lakukan, matanya tidak berkedip memperhatikan wajah yang tanpa riasan itu.
“Aaminn,” ucap Lyla membuat Morgan mengalihkan tatapannya dengan cepat ke arah lain.
“Selamat makan!” ucap Lyla, kemudian menghantarkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
“Oh … ini sangat enak sekali,” ucapnya menyanjung makanan tersebut. Dia mengunyahnya dengan perlahan seakan tidak rela jika kehilangan momen tersebut. Hal itu diperhatikan oleh Morgan, tepatnya dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari senyum wanita itu dan kekagumannya terhadap Lyla.
“Ayo cepat makan lah. Tidak akan enak jika ini sudah dingin,” ucap Lyla menyodorkan makanan tersebut kepada Morgan.
Tanpa sadar Morgan tersenyum tipis dan mengambil piring miliknya kemudian ….
Lyla memukul tangan Morgan hingga sendok itu kini berhenti di depan mulutnya. “Apa kau tidak berdoa terlebih dahulu?” tanya Lyla dengan kesal.
“Iya, tentu saja. Kau harus berteima kasih kepada Tuhan karena telah memberimu makanan lezat ini,” ucap Lyla. “Ayo cepat! Tuhan akan marah jika kau tidak bersyukur dengan apa yang kau dapatkan selama ini,” titah Lyla lagi. Morgan merasa kesal karena lagi-lagi ada wanita yang mengaturnya, tapi akhirnya dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Lyla lakukan tadi. Akan tetapi, Morgan kini terdiam. Dia lupa dengan apa yang harus diucapkannya.
“Aku harus bicara apa?” tanya Morgan. Lyla melongo mendengar ucapan laki-laki tersebut.
“Berdo’alah.”
“Apa yang harus aku katakan pada Tuhan?” tanya Morgan lagi, sedikit malu, tapi dia tidak mau wanita ini terus mengomel marah.
Lyla menepuk keningnya sedikit keras, berpikir jika ada orang yang bahkan lupa caranya berdoa.
“Kapan terakhir kau berdo’a?” tanya Lyla, Morgan hanya mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
“Biar aku yang pimpin.” Lyla mengatupkan tangannya lagi dan mulai berdo’a, sedangkan Morgan hanya terfokus dengan mulut Lyla yang bergerak mengucapkan kata do’a.
“Ya Tuhan, tolong ampuni dosa orang yang ada di depanku ini. Berikan pencerahan untuknya agar dia selalu ingat untuk menyembahmu. Aamiin,” ucap Lyla mengakhiri do’anya.
Morgan menatap Lyla, serasa ada yang salah dengan do’a itu. “Kenapa jadi aku?” tanya Morgan sewot, tapi Lyla lanjut makan dengan santainya.
“Karena aku kasihan kepadamu, aku tidak mau Tuhan marah dan membuat hidupmu susah,” ucap Lyla sekenanya yang semakin membuat Morgan menjadi marah lagi. Dia abaikan saja tatapan Morgan yang seperti itu dan lebih memilih untuk menikmati makanan yang ada di depannya.
Morgan berusaha untuk berdamai saja, malas rasanya jika dia berdebat dengan Lyla, padahal biasanya dia adalah laki-laki yang tidak bisa pasrah. Dia memasukkan makanan itu ke dalam mulut. Aneh, dia sudah cukup sering memakannya, tapi rasanya sangat enak sekali. Apakah koki di kantin sudah berganti orang?
Ya sepertinya begitu. Orangnya sudah diganti dengan koki yang terbaik, gumam Morgan meyakini di dalam hatinya, padahal yang membuat masih sama dengan beberapa tahun yang lalu di mana dia pernah makan juga.
Setelah beberapa saat lamanya mereka telah selesai dengan makanan tersebut. Perut Lyla sudah terisi, dia cukup puas dengan makanan itu meski hanya merasainya sedikit.
“Apa kau ingin lagi?” tanya Morgan melihat Lyla telah selesai dengan makanannya. Sejenak dia terdiam, jujur saja ini sangat enak sekali, tapi malu juga jika bilang ingin lagi.
“Sudah, cukup.”
“Benar?”
“Humm.” Lyla mengangguk pasti. Nanti saja, dia akan mencarinya di tempat lain, tentunya dengan harga yang lebih murah sesuai dengan uang yang ada di kantongnya nanti.
“Enak sekali makanan ini, dan aku sudah kenyang,” ucap Lyla. Bersamaan dengan itu Morgan telah selesai dengan makanannya, dia menyimpan piringnya di atas meja kembali. Dia masih lapar, porsinya telah berkurang karena Lyla tadi, tapi rasanya malas lagi jika harus pergi ke kantin lagi.
“Kau harus berucap syukur karena telah mendapatkan makanan yang lezat hari ini.”
“He, lagi?” Morgan menatap Lyla dengan wajah yang bingung.
“Iya, di panti asuhan kami diajarkan untuk berucap syukur banyak-banyak, apa lagi setelah makan. Ayo, kepalkan tanganmu lagi,” ucap Lyla yang diikuti oleg Morgan.
...****************...
__ADS_1
Mampir sini yuk, Katya Kak Cimai