
"Bagaimana makanan di sini, Tuan Castanov?" tanya Markian.
"Lumayan," ucap Morgan dengan singkat. Lyla melirik Morgan dengan kesal.
Tidak bisakah dia mengatakan yang lain? gumam Lyla di dalam hatinya.
"Syukurlah jika Tuan senang dengan makanan di sini. Memang itu adalah makanan terenak yang ada di sini," ucap Markian dengan bangga.
"Jam berapa kau pulang, Lyla?" tanya Morgan tak menanggapi ucapan Markian.
"Jam tiga. Masih ada satu jam pelajaran lagi," ucap Lyla.
"Aku akan menjemputmu nanti, jangan pulang sendiri apalagi pulang dengan orang lain," ucapnya lagi seraya melirik sinis pada Markian.
"Iya," ucap Lyla menurut. Markian mengalihkan tatapannya dan mend3sah tanpa terlihat, padahal dia tadi ingin menawarkan tumpangan untuk Lyla.
Huh, gagal sudah! batin Markian.
"Aku akan pergi sekarang. Terima kasih atas makanannya, Tuan Lenon." Morgan kini berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Lyla, ingat apa yang aku katakan, tunggu aku datang dan jangan pergi dengan sembarang orang," peringat Morgan. Markian menggaruk belakang kepalanya.
"Iya, Kakak. Aku akan menurut. Aku akan menunggumu saat pulang nanti."
"Aku akan pergi. Antarkan aku ke depan," ucap Morgan.
Markian berdiri. "Mari, Tuan. Aku akan mengan---"
"Lyla!" panggil Morgan dengan tegas, Lyla segera bangkit dari duduknya dan tersenyum pada Markian.
"Markian, aku akan mengantar Kakakku dulu. Terima kasih atas makanannya," ucap Lyla.
"Iya, tentu."
"Sampai ketemu di kelas nanti," kata Markian.
"Iya, sampai ketemu di kelas nanti."
Morgan merasa kesal dengan basa basi yang tidak perlu, sehingga dia berdehem dan memberikan tatapan tajam pada Lyla dan Markian.
Sadar dengan tatapan Morgan yang membuat tidak nyaman, Lyla segera menggandeng tangan Morgan dan pergi dari kantin tersebut.
"Ayo, Kakak. Kita pergi. Kau bisa terlambat untuk pergi ke kantor," ucap Lyla tanpa menunggu lama.
Markian melambaikan tangannya pada Morgan dengan senyuman tengilnya, tapi terhenti karena tatapan tajam nan sinis dari laki-laki itu.
"Heh, kakak dan adik berbeda sekali. Bagaimana bisa mereka memiliki sifat yang bertolak belakang?" gumam Markian seraya melihat punggung kedua orang itu yang kemudian menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Lyla dan Morgan keluar dari kantin, setiap langkah kaki mereka tidak luput dari pandangan banyak orang yang ada di sana, termasuk Angel.
"Siapa wanita itu?" tanya Angel pada Sarah.
"Dia anak baru yang ada di kelas kita."
"Yang tadi pergi dengan Lenon?"
"He-em."
Pandangan Angel tidak teralihkan dari Morgan, ingin tahu siapa gerangan wanita yang bersama dengan laki-laki yang tadi telah dia tabrak.
"Aku akan datang tepat jam tiga. Jangan pergi kemana-mana. Ingat?" peringat Morgan saat mereka sudah sampai di dekat Mobil Morgan.
"Iya, Tuan."
"Kakak. Selalu ingat jika kau harus memanggil kakak di sini," ucap Morgan dengan tegas.
"Tapi kita hanya berdua saja."
"Panggil aku kakak. Terlalu banyak telinga di sini dan aku tidak mau jika mereka tahu kau bukan adikku," ucap Morgan lagi.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu kakak selama aku di sini."
Morgan masuk ke dalam mobilnya. "Ingat---"
"Dan jauhi semua laki-laki yang mendekatimu. Kita tidak tahu mereka baik atau tidak," tambah Morgan.
"Iya. Aku akan menjaga jarak dari mereka." Lyla menjadi kesal juga, Morgan sudah seperti kakak yang sangat melindungi adiknya, padahal kemarin saja dia meminta untuk menganggapnya sebagai adik panti.
Morgan menyalakan mobilnya. "Hati-hati di jalan, Kakak!" seru Lyla seraya melambaikan tangan. Morgan tidak menjawab, dia menekan gas pelan kemudian membawa kendaraan tersebut meninggalkan tempat itu. Morgan melihat Lyla yang masih berdiri di sana dari spion di dalam mobilnya, sedikit senyuman tersungging di kedua sisi bibir Morgan. Geli rasanya dia bisa seperti itu lagi dengan orang lain.
"Hah, kenapa aku rasanya sangat posesif sekali?" gumam Morgan, kemudian tertawa geli.
"Kakakmu protektif sekali, ya?"
Lyla terkejut dan membalikkan tubuhnya, jeff berdiri di sana sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil yang ada di sebelah Lyla.
"Eh, Anda---"
"Jefferson Eddie, namaku. Panggil saja Jeff, atau Edd. Sesukamu saja," ucap laki-laki dengan perawakan tinggi dan besar itu, tampak otot lengannya terlihat dengan sangat jelas tanpa tertutup jaket tebal seakan hawa dingin ini tidak terpengaruh pada tubuhnya.
"Jadi, namamu Lyla? Kau adik dari Tuan Castanov? Aku tidak pernah mendengar adiknya itu perempuan," ucap laki-laki itu yang membuat Lyla menjadi pucat di wajahnya.
"Ah, itu ...."
__ADS_1
"Sepupunya, Jeff. Adik sepupunya." Suara Markian tiba-tiba saja terdengar di belakang mereka.
Jeff dan Lyla mengalihkan tatapannya pada laki-laki itu.
"Aku cukup kenal dengan keluarga Castanov dan aku tidak pernah melihat atau tahu akan dia," tunjuk Jeff dengan menggunakan dagunya.
"Ya, mungkin saja dia dari desa, atau dia ada di tempat lain sebelum ini. Kau tahu kan jika Keluarga Castanov sangat tertutup? Tidak ada yang tahu dan menyangka bagaimana yang ada di dalam sana," ucap Markian. Lyla hanya menunduk saja. Dia tidak pernah tahu apa-apa tentang Morgan dan keluarganya, apa yang akan dia katakan mungkin saja akan berbahaya untuk Morgan.
"Ayo, Lyla. Sebentar lagi kelas kita akan dimulai." Markian menarik tangan Lyla untuk pergi dari sana.
Jeff tersenyum kecil melihat dua orang itu kini pergi dari hadapannya.
"Jangan pernah dekat dengan dia. Meski dia memang temanku, tapi terkadang dia itu menyebalkan!" ucap Markian dengan menggerutu.
"Iya, terima kasih atas bantuanmu, Tuan Lenon. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika kau tidak ada," ucap Lyla.
Markian melepaskan tangan Lyla setelah yakin jauh dari pandangan Jeff.
"Kau tidak apa-apa, kan?"
"Iya, aku baik."
"Aku tahu kau bukan adik kandung dari Tuan Castanov, karena Tuan Castanov adalah anak tunggal." Lyla tersentak mendengar ucapan Markian.
Tunggal? Bukankah dia punya adik?
"Aku bertanya pada ibuku," bisik Markian. "Tidak apa-apa, kau tidak perlu takut aku akan membocorkannya. Meskipun mulutku jahat untuk orang lain, tapi aku akan menjaganya untukmu." Markian menggerakkan tangannya seakan sedang menarik sebuah resleting di depan mulutnya. Lyla tersenyum senang, dia percaya dengan laki-laki ini dari sorot matanya.
"Aku sangat bisa kau percayai," ucap Markian lagi.
"Terima kasih, Tuan Lenon. Aku sangat senang jika kau mau membantuku untuk menjaga rahasia ini," ucap Lyla. Markian menganggukkan kepala. Hasrat untuk mendekati Lyla dan ingin bercinta dengan wanita ini sirna sudah. Tidak ada rasa keinginan itu lagi.
Ah, kenapa dia sangat lucu sekali? Pikir Markian.
"Oke, Dear, mari kita pergi ke kelas!" ajak Markian seraya mengalungkan tangannya ke leher Lyla seakan mereka adalah adik dan kakak yang sangat akrab sekali.
"Tuan, tanganmu."
"Oh, maaf." Markian menarik tangannya dan menpuk tangan kanannya. "Nakal!" ucap laki-laki itu membuat Lyla tertawa melihat Markian yang lucu.
"Tanganku ini memang suka sekali memeluk orang, jadi kau jangan heran kalau aku seperti tadi."
Lyla menjauhkan dirinya dari Markian. "Oh, kalau bergitu, kita jaga jarak saja. Aku tidak mau dekat denganmu." Lyla mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Markian.
"Hei, kau akan tersesat jika jauh denganku. Kakakmu sudah menitipkanmu padaku, Nona!" teriak Markian. Akan tetapi, Lyla tidak berhenti melangkahkan kakinya dan semakin menjauh.
__ADS_1
"Aku bukan barang yang bisa dititipkan!" seru Lyla. Markian tersenyum geli melihat tingkah Lyla, tidak ada wanita yang menolak dirinya. Umm ... beberapa sebenarnya, tapi kebanyakan mereka mau sampai tidur dengannya.