Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
94. Seorang Laki-laki Asing


__ADS_3

Pertemuan diadakan di sebuah hotel, Morgan dan Lyla masuk ke dalam sana dan dia harus menunggu karena Tuan Vansco ternyata belum sampai.


"Cih. Kenapa dia lama sekali?" ujar Morgan merasa kesal.


Lyla melihat jam yang ada di ponselnya dan jam itu menunjukkan jika mereka baru lima menit duduk di sana.


"Kita baru lima menit duduk di sini, Tuan. Mungkin dia masih berada di jalan dan terkena macet.


"Seharusnya dia pergi lebih cepat jika tahu jalanan akan macet," ucap Morgan kesal. Lyla mengusap lengan Morgan dengan lembut, dan hal itu membuat Morgan sedikit tenang.


Aroma makanan tercium dengan sangat jelas di hidung Lyla, dia merasakan lapar sekarang ini karena tadi saat di universitas dia hanya makan roti saja. Harga makanan yang ada di sana sangat mahal dan membuatnya merasa sayang mengeluarkan uang sebanyak beberapa dolar hanya untuk mengisi perutnya.


Morgan melihat Lyla yang menatap ke arah lain, pandangannya itu tertuju pada sebuah meja yang memperlihatkan dua orang tengah menikmati makanan di sana.


Apa dia lapar? gumam Morgan di dalam hati. Morgan masih memperhatikan, akhirnya dia mengangkat tangannya dan memanggil pelayan di sana.


"Apa Anda akan memesan, Tuan?" tanya pelayan wanita tersebut dengan ramah.


"Aku memesan makanan dan minuman terbaik yang ada di sini," ucap Morgan sambil menunjuk makanan yang ada di dalam daftar menu.


"Baik, Tuan." Pelayan tersebut pergi dari sana dan meninggalkan Morgan.


Lyla menundukkan pandangannya, dia memilih memainkan ponselnya yang telah dia unduh aplikasi menonton film, sementara Morgan juga membuka game di ponselnya.


Tak lama makanan yang dia pesan datang. Lyla mengalihkan tatapannya dari ponsel dan mau tak mau menatap pada makanan yang telah menguasai indra penciumannya. Susah payah dia menelan ludahnya dengan kasar. Serasa sulit untuk melakukannya karena makanan yang ada di depannya membuat pikirannya buyar.


Ah, ya ampun, sepertinya makanan itu enak, ucap Lyla di dalam hati. Akan tetapi, dia tidak berani karena makanan tersebut untuk klien Morgan, Lyla kembali menunduk lagi dan memainkan ponselnya.


Tiba-tiba, Morgan mengambil ponsel Lyla, membuatnya terkejut.


"Kau tidak boleh bermain ponsel saat akan makan," ucap Morgan kemudian memasukkan ponsel Lyla ke dalam saku jasnya.


"Eh, bukankah itu makanan untuk tamu?" tanya Lyla, antara senang dan bingung.


"Siapa yang bilang?" Morgan menarik piring miliknya dan mulai menikmati makanan tersebut. "Aku lapar dan tidak mungkin jika aku makan sendirian," ucapnya. Spaghetti itu masuk ke dalam mulutnya dan membuat Lyla senang mendengar hal itu.


"Jadi, ini untukku?"

__ADS_1


"Apa harus aku suapi agar kau percaya itu untukmu?" ucap Morgan ketus.


Lyla berdecak dengan kesal. Dasar tuan muda arogan, jika bicara tidak bisa dengan sopan.


"Baiklah. Aku akan makan juga, hanya untuk menemanimu makan siang. Eh, tapi ini sudah sore," ucap Lyla kemudian tertawa dan menarik piring miliknya.


Lyla mulai makan dan merasakan nikmat pada lidahnya, serasa makanan itu menari-nari dan membuat dia berada di surga. Oke, itu sangat lebay, tapi memang Lyla penggemar makanan dan dia menyukai makanan yang ada di sini.


Hampir setengah jam lamanya, orang yang ditunggu belum juga datang, Morgan tidak lagi merasa kesal karena ada Lyla yang menemaninya. Untung saja Lyla yang dia bawa, jika bersama dengan Gerald sudah pasti dia akan mengamuk jika keadaannya seperti sekarang ini.


"Kau mau eskrim? Eskrim di sini enak," ucap Morgan saat Lyla telah menghabiskan makanan.


"Benarkah?"


"Hem, lebih enak daripada di kedai es krim waktu itu," tutur Morgan.


"Ah, aku ingin. Tapi perutku sudah penuh," ucap Lyla sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang.


"Ada ukuran porsi kecil jika kau mau," ujar Morgan lagi.


"Oke lah, jika kau memaksa. Aku akan menerima tawaranmu, Tuan Morgan. Sepertinya aku masih bisa memasukkannya di sebelah sini," ucap wanita itu menunjuk perut bagian kirinya. Morgan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Lyla, ajaib sekali dengan perut wanita ini.


"Tidak mau?" tanya Morgan saat Lyla tidak juga mengambil eskrim tersebut untuk segera dinikmati.


"Aku mau!" Lyla mengambil mangkuk es krim tersebut sebelum Morgan meraihnya. Laki-Laki itu tertawa kecil melihat Lyla yang menikmati es krim tersebut bak anak kecil.


"Tuan Morgan, maaf saya terlambat datang," ucap Tuan Vansco yang kini telah ada di samping Morgan. Lyla yang baru saja memakan es krimnya segera menelan eskrim itu bulat-bulat, seketika dia merasa kepalanya membeku dan meringis tanpa suara.


Morgan yang melihat Tuan Vansco dan asistennya di sana segera bangun dan meraih tangan yang terulur itu.


"Apakah ada kendala saat datang kemari?" tanya Morgan datar.


"Iya, ada kecelakaan di jalan dan itu membuat kendaraan kami tertahan sebentar di sana," jawab laki-laki tersebut dengan tak enak hati.


"Oh, saya senang jika anda selamat sampai ke sini."


"Terima kasih." Tuan Vansco melihat wanita yang berbeda, bukan sekretaris Morgan seperti biasanya. Juga aneh karena ada mangkuk es krim di atas meja.

__ADS_1


"Dia sekretaris Anda?" tanya Tuan Vansco sambil menunjuk Lyla. Lyla segera bangun dan mengulurkan tangannya pada laki-laki tersebut, Tampak Tuan Vansco enggan untuk menerima uluran tangan wanita itu, membuat raut wajah Lyla sedikit kecewa.


"Dia adikku," ucap Morgan.


Tuan Vansco mengerutkan keningnya bingung, sejak kapan Morgan memiliki adik perempuan? Akan tetapi, saat Lyla akan menarik kembali tangannya, Tuan Vansco menjabat tangan Lyla.


"Aku tidak tahu anda memiliki adik perempuan," ucap laki-laki itu, tapi senyumnya tampak miring menatap Lyla. Bukan adik, tapi seseorang yang bisa menyenangkan Morgan, pikir Tuan Vansco.


"Kau bisa nikmati eskrim mu di meja depan jendela. Di sana kau bisa melihat keadaan yang lebih baik," ucap Morgan menyuruh Lyla. Lyla bingung sebenarnya, tapi dia menurut juga.


"Bagaimana dengan catatan?" bisik Lyla pelan, tapi masih terdengar dengan sangat jelas oleh Tuan Vansco.


"Kau tidak akan bisa mencatat jika eskrimmu masih tersisa banyak. Pergilah," ucap Morgan lagi tanpa menoleh pada Lyla.


"Baik." Lyla pergi dengan membawa catatan yang tadi dia bawa, juga dengan mangkuk es krim di tangannya. Tak lupa saat akan meninggalkan Morgan bersama dengan kliennya dia menundukkan kepalanya tanda hormat.


Lyla duduk di tempat yang tadi morgan tunjukkan, dia melihat morgan kini duduk di tempatnya bersama dengan dua laki-laki tampan itu. Tampak berumur lebih tua dari Morgan, tapi dari segi ketampanan sepertinya mereka sama-sama tampan. Mungkin juga jika keduanya ikut kontes ketampanan juri tidak akan bisa memilih siapa juaranya.


"Aku tidak tahu jika Anda memiliki adik perempuan," ujar Tuan Vansco mengulangi lagi. Morgan tidak suka ada laki-laki lain membahas soal ini, tentu saja dengan membahas Lyla di dalamnya.


"Aku kira kita ada di sini untuk membahas pekerjaan," ucap Morgan ketus. Tuan Vansco tertawa kecil dan meminta maaf untuk itu.


"Maaf, jadi mari kita bahas pekerjaan kita," ucap Tuan Vansco.


Lyla merasa bosan duduk di sana selama hampir satu jam lamanya, ternyata pertemuan antar petinggi perusahaan tidak semudah yang dia pikirkan selama ini. Dua laki-laki itu tengah membahas entah apa, dan Lyla tidak bisa jelas mendengarnya karena dia berada cukup jauh dari tempat mereka berbicara. Eskrim yang ada di mejanya kini sudah habis, dia hanya bisa memainkan ponselnya dan membuka media sosial untuk menepis rasa jenuh.


Dari kejauhan, Lyla melihat seseorang baru saja turun dari motornya. Jelas Lyla mengenali siapa laki-laki itu setelah membuka helm. Segera Lyla menundukkan kepalanya dan melirik ke arah luar di mana laki-laki tadi kini berjalan mendekat


"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Lyla sambil menutupi wajahnya dengan menggunakan buku catatan yang dia pegang tadi. Dadanya berdebar dengan sangat kencang tatkala melihat laki-laki itu semakin mendekat.


"Aduh, astaga! Jangan sampai dia kemari," ucap Lyla, kemudian dia memilih untuk bangkit dan pergi dari sana menuju ke arah toilet.


Morgan melihat Lyla yang setengah berlari terburu-buru, menghentikan pembahasannya dengan Tuan Vansco.


"Apakah ada masalah?" tanya Tuan Vansco saat Morgan berhenti berbicara.


"Tidak ada," ucap Morgan kemudian melanjutkan lagi pembahasan mereka.

__ADS_1


Lyla bersembunyi di dalam toilet, dadanya masih berdebar keras. Semoga saja laki-laki tadi tidak melihat dia berada di sana.


"Kenapa dia ada di sini? Bisa-bisa gawat jika aku bertemu dengan dia," ucap Lyla sambil menekan dadanya yang berdebar.


__ADS_2