
"Makanan apa ini? Apa dia menyuruhku untuk hanya makan nasi kecap dan telur mata sapi saja?" gumam Gerald menatap makanan yang ada di piringnya. Ini persis seperti yang Lyla buatkan waktu itu sehingga dirinya hampir muntah.
"Jangan-jangan dia juga ingin meracuniku," gumam Gerald menatap makanan tersebut mencari hal yang aneh yang bisa saja membuatnya muntah atau sakit perut.
"Kalau kau tidak mau memakannya tidak apa-apa. Jangan dipandangi terus seperti itu, karena percuma saja. Makanan itu tidak akan berubah menjadi steik," ucap Lian yang kembali datang dan merebut piring yang ada di tangan Gerald.
Gerald terkejut melihat Lian yang duduk di meja makan dan bersiap untuk menikmati makanan itu.
"Hei, itu makananku!" seru Gerald tidak terima saat melihat Lian melakukan suapan pertamanya.
"Kau tadi tidak nampak berselera," ucap gadis itu acuh. Gerald mendekat dan mengambil alih piring dan sendok dari tangan Lian dan membawanya menjauh.
"Kau tidak boleh mengambil kembali apa yang telah kau berikan. Apa kau ingin lehermu jadi bengkak?" ujar Gerald berbicara dengan nada yang kesal. Sementara Lian menatap malas pada laki-laki itu.
Gerald enggan memasukkan makanan itu, tapi dia sangat lapar sehingga dia tidak lagi peduli.
Awas saja jika rasa makanan ini sangat buruk. Kau akan aku hukum!
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau punya pengalaman yang buruk dengan nasi goreng?" ucap Lian menahan tawanya. Ingat saat Lyla mengatakan jika dia juga memberikan makanan yang sama pada Morgan dan juga Gerald.
Gerald tidak mungkin berkata jika dia juga terkena prank. Jadi, dia hanya diam saja sekarang ini dan mulai menghantarkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Tidak buruk juga, ucap laki-laki itu saat merasai makanan di mulutnya. Ini sangat lebih baik dari saat dia makan yang Lyla masak.
"Hei, Tuan. Kau pasti tahu kan di mana Kak Lyla sekarang ini?" tanya Lian menyelidik.
"Siapa Lyla?" tanya Gerald tidak peduli, sedangkan Lian menatap sosok itu dan sekarang berpikir ingin membedah kepalanya dan mencari tahu di mana Lyla berada.
"Apa aku harus bicara dengan Tuan Morgan? Aku harus katakan kepadanya jika di masa lalunya terdapat hal yang menyenangkan juga bersama dengan seorang wanita yang pernah dia lecehkan," ucap Lian mengancam. Dia hendak pergi dari sana, tapi Gerald menahannya dengan kata-katanya.
"Coba saja jika kau berani." Gerald menyimpan sendok dan garpunya di atas piring, menempatkan kedua sikunya di atas meja, serta menautkan jari jemarinya satu dengan yang lain.
"Kau hanya akan memperburuk keadaan," ucap laki-laki itu dengan santai.
"Oh, ya? Kau yakin akan seperti itu? Aku pikir malah lebih bagus bukan jika Tuan Morgan kembali ingat masa lalu dan bersama dengan Nona Lyla. Aku pikir mereka saling mencintai," ucap Lian menatap Gerald dengan tidak suka.
"Ada satu hal yang tidak kau tahu dan untuk saat ini hanya kami saja yang tahu. Jadi, bukan berarti jika aku juga tega memisahkan mereka."
"Oke, jika memang itu menurutmu. Katakan saja padaku di mana dia dan berikan nomornya!" ucap Lian.
"Aku tidak bisa memberikan nomornya, tapi aku bisa pastikan kalau dia baik-baik saja sekarang," ucap laki-laki itu kembali mengambil sendok dan garpunya.
Lian bisa menghela napasnya dengan lega, tapi dia masih penasaran akan keberadaan wanita itu.
__ADS_1
"Kau tidak akan memberikan nomornya padaku?" tanya gadis itu lagi.
"Tidak. Aku tidak bisa memberikan nomornya padamu," ucap Gerald. Helaan napas terdengar jelas dari hidung Lian.
"Bisakah kau pastikan dia baik-baik saja?" tanya Lian berharap,
Gerald tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya, tentu saja. Kau tidak perlu khawatir dengan itu. Aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik sekali," ucap Gerald.
Lian beranjak bangkit dari sana.
"Terima kasih atas makanannya. Kau memasak enak sekali seperti ibumu," ucap Gerald membuat Lian tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya.
Gerald menatap kepergian Lian ke belakang sementara dirinya menghabiskan makanan tersebut.
...***...
Di tempat lain. Lyla dan Evelyn masih mencari keberadaan orang tuanya. Lyla memang merasa bingung dengan siapa mereka, kenapa mereka sepertinya orang yang sangat jahat jika didengarkan dengan seksama dari satu cerita ke cerita yang lainnya.
Evelyn baru saja selesai memasak untuk makan malam. Dia membereskan meja makan dan menatanya sedemikian rupa, tampak beberapa masakan lezat terhidang di sana.
"Hei, apa kau sedang sibuk? Ayo makan malam dulu. Aku sudah selesai memasak," ucap Evelyn dari ambang pintu yang dia buka sedikit.
"Ya, aku memasak sesuatu. Kau pasti akan suka. Ayo!" Evelyn menarik tangan Lyla hingga sampai di meja makan.
"Waah, kau pandai sekali memasak," ucap Lyla setelah mencicip satu masakan yang ada di sana. Makanan yang sederhana, tapi di tangan orang yang tepat tentu saja makanan sederhana itu bisa jadi sesuatu yang sangat lezat untuk yang lainnya.
"Dulu aku asisten koki, aku belajar dengannya hingga aku bisa memasak seperti ini," kenang Evelyn.
"Benarkah? Lalu kenapa sekarang kau bisa bekerja di bawah tangan Tuan Gerald?" tanya Lyla penasaran.
Evelyn tertawa kecil. Dia membayangkan hal yang miris yang pernah dia alami sebelumnya.
"Aku dilecehkan oleh koki utama. Bukan hanya sekali saja. Aku sudah melapor pada polisi, tapi aku kalah. Mereka menyuruhku berdamai, tapi itu bukan hal yang terburuk. Dia melecehkanku lagi beberapa kali dan juga mempermalukanku di depan yang lainnya, yang lebih parah lagi, dia membawa teman-temannya untuk menggarapku. Setelah mereka selesai, aku membunuhnya," ucap Evelyn. Lyla terkejut mendengar keterangan dari Evelyn. Wanita ini sangat berani sekali sehingga bisa melakukan itu, tidak seperti dirinya yang malah ingin mengakhiri dirinya sendiri.
"Aku dijebloskan ke penjara, dan saat itu Tuan Gerald datang padaku. Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Aku takut jika dia adalah orang jahat yang ingin memanfaatkan aku, tapi dia meyakinkan jika dia akan membantuku. Saat aku keluar dari penjara, dia membantuku untuk mencari siapa saja orang yang telah membuatku menderita waktu itu. Kau tahu apa yang dia lakukan? Semua orang yang membuatku menangis malam itu kami bunuh dan kamu potong-potong tubuhnya. Sebagian kami berikan pada buaya dan juga serigala di hutan," ucap Evelyn dengan tawa seram di bibirnya. Lyla yang mendengar itu menjadi hilang selera makannya, bahkan untuk menelan ludahnya saja dia merasa seperti menelan batu.
Evelyn tersadar saat Lyla menyimpan sendoknya di atas piring.
"Apa kau takut mendengar ceritaku?" tanya Evelyn merasa bersalah. Lyla hanya tersenyum saja dan duduk dengan tidak nyaman, tidak menyangka jika Evelyn dan Gerald ternyata sadis juga.
"Oh, aku tidak takut. Hanya saja itu ... di luar dari pemikiranku," ucap Lyla sambil tersenyum kaku. Evelyn tertawa keras, dia sadar jika Lyla saat ini sedang tidak nyaman berada di dekatnya.
__ADS_1
"Aku hanya sedang tidak waras dulu. Kau tenang saja. Aku melakukan itu juga kepada orang-orang yang jahat saja," ucap Evelyn sambil tertawa.
"Ayo, cepat habiskan makananmu dan tidurlah. Besok aku akan membawamu ke selatan. Aku berharap di sana akan ada informasi yang valid dan kita bisa bertemu segera dengan keluargamu," ujar Evelyn. Lyla mengangguk dan kembali makan meskipun rasanya seperti menelan daging mentah akibat cerita Evelyn tadi.
Selesai makan malam, semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Lyla tidur berdua dengan Evelyn.
"Eve, apa yang kau pikirkan tentang keluargaku?" tanya Lyla ingin tahu saat mereka telah berbaring bersama-sama.
"Entahlah, aku tidak bisa memikirkan apa-apa," jawab Evelyn.
"Apa kau yakin dengan yang dikatakan banyak orang jika keluargaku orang-orang yang jahat?" tanya Lyla.
"Menurutmu bagaimana?" Evelyn bertanya balik pada Lyla. Akan tetapi, Lyla hanya diam saja. Dia ingin tidak percaya, tapi semua yang orang lain katakan kepadanya adalah hal yang sama yang membuat Lyla berpikir jika keluarganya bukanlah orang-orang yang baik.
"Aku tidak tahu," jawab Lyla pelan.
Lyla tidak bisa berpikir sekarang ini, isi kepalanya terbang jauh justru pada sosok laki-laki yang kini ada jauh di tempatnya.
Apa yang sedang dia lakukan? gumam Lyla rindu.
Lyla bahkan tidak mendengarkan saat Evelyn bertanya kepadanya.
"Apa kau melamun?" tanya Evelyn menyenggol lengan Lyla.
"Eh, apa?" tanya Lyla terkejut. Evelyn menggelengkan kepalanya dan merebahkan dirinya dengan nyaman.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya bertanya saja besok kau akan sarapan apa," ucap wanita itu.
"Eh, benarkah kau bertanya itu tadi?" tanya Lyla.
Evelyn mengangguk, tapi memang tadi apa yang dia tanyakan adalah hal yang lain.
"Iya, aku tanyakan itu tadi."
"Oh, aku apa saja. Aku tidak pernah memilih makanan," ucap Lyla.
"Ayo kita tidur. Kita harus berangkat pagi sekali."
Evelyn menarik selimutnya hingga menutupi leher, begitu juga dengan Lyla.
"Eve, aku jadi ragu mencari mereka. Akankah orang tuaku masih ada? Aku sedikit takut," gumam Lyla mengeluarkan pemikirannya beberapa hari ini.
"Entahlah. Aku terserah padamu saja. Jika kau masih mau bertemu dengan orang tuamu, kau harus menghilangkan rasa takut itu," ucap Evelyn dan kemudian memilih tidur.
__ADS_1
Lyla hanya menatap langit-langit kamar yang sudah gelap. Tentu saja besar rasa ingin bertemu dengan mereka, tapi dia juga takut dengan bagaimana keluarganya nanti.