
"Tentu aja, aku ngga tidur beneran" ucap Evano
"Masa" ucap Vani. Ia menoleh ke arah Jack dan memasang senyuman, "Jack, bantu bawa Evano turun ke bawah sama pesenin taxi"
"Apa?!" Tanya Jack terkejut, ia menatap mata Vani dan emosinya langsung melunak, "Oke, cepat bangun" Ia berdiri dari duduknya dan menghampiri ranjang
"Nggak perlu, aku bisa sendiri" ucap Evano. Ia turun dari ranjang. Saat mencoba berdiri, kaki Evano tidak bisa melakukannya. Kakinya yang keseleo menjadi semakin parah karena sebelumnya dipaksakan untuk berlari
"Tuh kan, makanya tadi jangan lari. Tambah parah kan" ucap Vani
"Kamu yang seret aku lari!" Ucap Evano kesal
"Kenapa kamu selalu buat orang-orang disekitarmu celaka?" Ucap Jack
"Dia yang punya inisiatif nolongin aku trus jatuh juga" ucap Vani
"Dasar, pikirin juga perasaan orang yang udah tolongin kamu. Seenggaknya balas jasa mereka" ucap Jack sembari menghampiri Evano, "Jangan nolak bantuanku" Ia mengangkat tangan Evano dan merangkulnya. Ia menuntunnya berjalan menuju pintu depan, "Aku bawa dia kebawah. Jangan lupa tutup pintu pas keluar"
"Okeysip" ucap Vani
"Tunggu.. Headphoneku" ucap Evano tanpa menoleh
"Aku bawain" ucap Vani. Jack menuntun Evano keluar dari apartemennya dan membantunya turun ke lantai dasar
Vani menoleh ke arah Adira, "Aku juga turun sekarang"
"Tunggu sebentar" ucap Adira
"Apa?"
"Apa yang kamu tunjukin ke Jack?"
"Oh.. cuma tiket nonton"
"Kalian berdua mau nonton bareng?"
"Nggak, ini buat Jack sama temenku"
"Dimana itu? Eh bukan, film apa yang mau ditonton? Akhir akhir ini aku sering nonton juga, siapa tau aku belum nonton"
"Emm.. bentar" ucap Vani sembari mengeluarkan kembali tiket dari sakunya, "First love, bukan aku yang pilih ini, aku dikasih"
"Oh gitu" ucap Adira, "aku belum nonton itu. Besok mungkin aku akan nonton, kayaknya bagus. Oh ya, dimana lokasi bioskopnya?" Vani menunjukkan tiket itu pada Adira dan Adira melihatnya, "Emm.. bioskop ini, aku sering kesini sih" ucap Adira
"Kamu pergi nonton sendiri?" Tanya Vani
"Ajak teman. Eh.. temanmu mungkin udah sampai lantai bawah"
"Oiya, aku pulang dulu. Bye bye" ucap Vani. Ia berlari keluar dari apartemen Jack dan turun ke lantai bawah
Jack sudah memesankan sebuah taxi dan Evano sudah duduk di dalamnya, Vani berlari dengan cepat menghampiri taxi itu dan masuk ke dalam, "Makasih Jack, ntar ku kabari info lanjutannya"
"Oke" ucap Jack
__ADS_1
"Pak ke kompleks jalan sasageyou" ucap Vani
"Baik" ucap sopir taxi. Ia melajukan taxinya menuju alamat tujuan
Di perjalanan, Evano membuka obrolan, "Apa yang kalian berdua rencanain?"
"Kepo" jawab Vani
"Oh"
"Kenapa ngga tanya lagi?" Tanya Vani
"Kepo"
"Ga kreatif, ngikut aku"
"Suka suka" ucap Evano cuek
"Mau periksa kakimu dulu ngga?" Tanya Vani
"Kenapa tiba-tiba peduli sama kakiku? Apa kamu berubah gara gara dengar nasehat dari anak yang namanya Jack itu?"
"Ngga juga si, gimanapun juga kakimu sakit gegara aku. Tapi kalau kamu ngga mau yaudah"
"Kamu.. Benar benar Vani?"
"Apaan sih?! Gajelas anjirr" ucap Vani
"Kemarikan headphoneku"
'tutt.. tutt'
"Hallo Nes?" Sapa Vani
'yoo.. kemana aja, capek nunggu tau' balas Agnes dari telepon
"Tasku di bawa kan?"
'sans, ku bawa. eh.. kamu sama Evano?'
"Iya, ni lagi pulang. Kamu masih di sekolah kan?"
'gimana caramu ajak dia bolos?! Kenapa bisa bisanya dia mau bolos sama kamu'
Vani sedikit melirik ke arah Evano, "Gatau juga, ntar ku tanyain"
'wkwk.. dia masih sama kamu?'
"Hm.. iya"
'kamu seharian main sama dia? Ngapain aja?!'
"Kepo"
__ADS_1
'dahlah terserah.. buruan kesini, jemputanku dah dateng nih'
"Iyaiya sabar" ucap Vani mengakhiri panggilan. Ia menyimpan kembali handponenya ke saku seragamnya, "Pak.. mampir SMA bentar"
"Oh iya" ucap sopir taxi menurut
"Hmm.. kenapa pak sopir ngga tanya, aku pelajar apa bukan? Trus kenapa pelajar bisa di luar sekolah?" Tanya Vani
"Eh? Bukannya sudah waktunya pulang?" Tanya balik sopir
Vani tiba tiba tertawa, "Ahahahaha.. iya juga"
'yang benar aja' ucap Evano lirih sembari memalingkan pandangannya
Sesampainya taxi itu di sekitar sekolah, Vani membuka pintu dan keluar. Ia sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat Evano, "Tunggu bentar, ambil tas" Evano hanya mengangguk kecil. Vani menutup pintu taxi dan langsung berlari menghampiri Agnes yang sedang berdiri di samping mobil jemputannya, "WOYY!!" Teriaknya
Agnes menyadari kehadiran Vani. Ia melemparkannya tas yang ia bawa pada Vani dan Vani menangkapnya. Vani memakai tasnya dan berjalan perlahan menghampiri Agnes, "Kenapa lempar sih, kan mau aku samperin"
"Lama banget sih! Ngapain aja! Enak banget bisa bolos!" Ucap Agnes kesal
"Iri yaa" goda Vani
"Ngga naik kelas m*mpus kau. Pak Azka dah tau keknya"
"Iyakah? Gimana dia bisa tau?"
"Manaku tau. Tadi dia ke kelas, trus tanya murid yang belum ke kelas"
"Kamu ngga belain aku?"
"Udah, tadi ku bilang kamu sakit di uks"
"Kamu doain aku sakit?!"
"Ga gitu b*ngsad!" Ucap Agnes ngegas
"Ahahaha.. becanda becanda" ucap Vani sambil tertawa, "Oh ya.." Ia mengeluarkan dua tiket bioskop dari sakunya dan memberikannya pada Agnes
"Apa ini?" Tanya Agnes
"Itu.. kertas, buat di bakar"
"Hah?!" Tanya Agnes bingung, "Kita mau nonton?"
"Yoii.. kamu yang bawa tiketnya"
"tumben, ada apa?" Tanya Agnes penasaran
"Cuma nonton doang anjirr. Sekalian ucapan terimakasih karena udah bawain tasku" ucap Vani sambil tersenyum, "Oh ya, jan lupa dandan yang cantik"
Agnes sedikit terkejut, "Apa maksudmu? Kita.. nonton berdua? Kenapa nyuruh aku dandan?!"
Melihat ekspresi Agnes, Vani ikut terkejut, "Ngga ngga, bukan gitu. Aku normal, dan ngga nyimpang sama sekali! pakai pakaian sesukamu! Aku cuma.. cuma mau liat kamu kek cewek umum lain"
__ADS_1
"Hah!! Van jangan lanjutin.. Kamu bikin aku merinding" ucap Agnes sembari menjaga jarak dari Vani