
"Walaupun berat? Kamu terpaksa?" Tanya Ray, ("Dia beneran terima keadaanku apa enggak?!")
"Kamu benar, terpaksa tingkat mythic. Tapi bakal ku coba jalanin pake senyuman, walaupun senyuman paksa" Jawab Vani sambil tersenyum
Jack menyangga kepala dengan tangannya di atas meja, "Woah.. Jangan jalin hubungan kalau didasari keterpaksaan" Ucapnya sembari menguap
"Kalau gitu, aku hindarin aja biar perasaan terpaksanya nggak kelihatan" Ucap Vani
"Ha? Ldr maksudmu?" Tanya Jack
"Sepertinya gitu" Jawab Vani, ("Apa itu ldr?")
"Tunggu, kamu terlalu berbelit belit" Ucap Ray bingung
"Intinya kamu terima tapi harus ldr?" Tanya Jack
"Bentar, Ldr paan?" Tanya balik Vani
"Hubungan jarak jauh" Ucap Jack
"Owh.. Berat si, tapi akan ku coba" Ucap Vani, "Tapi kalian yakin, orang orang bakal terima hubungan ini?"
"Hal wajar nggak akan jadi masalah, ya kan Ray?" Ucap Jack sembari menoleh ke arah Ray
"Em.. Iya sepertinya" Jawab Ray
"Kenapa kau gelisah?" Tanya Jack
"Aku ngga tau, semenjak kita bahas ini detak jantungku jadi nggak beraturan nunggu setiap jawaban" Jawab Ray, ("Aku masih nggak percaya dia buka hatinya buat aku")
"Jangan cemas Ray, kau bisa bahagia" Ucap Jack dengan senyum kecil
Vani memalingkan pandangannya, "Aku nggak liat!"
Mereka berdua kembali menoleh ke arah Vani, "Apaan?" Tanya Jack
"Aku masih nggak percaya sama semua ini. takdir emang kejam buatku, ketemu sama kalian berdua. Awal ketemu, ku kira kalian normal. Kalian bahkan nggak pernah bawa cewek sebelumnya, ternyata ini alasannya. Walau gitu, kalian bisa pilih buat tetap jalanin atau udahan. saranku udahan si, soalnya belok dosa b*go!!" Ucap Vani
"Hah?!" Ray dan Jack terlihat terkejut hebat mendengar penjelasan Vani
"Hah?! Apa maksudmu?! Dari awal kamu ngomong gitu, jelas salah jalan!" Ucap Jack
"Kalian berdua nggak lagi dalam hubungan cinta terlarang?" Ucap Vani
__ADS_1
"Oii oii! Jangan ngaco! kamu salah paham!" Ucap Jack ngegas
"Dari awal kamu bukan bicarain tentang hubungan kita?" Tanya Ray syok
"Kan kamu sama Jack, aku cuma orang ketiganya" Jawab Vani
Ray merobohkan badannya ke lantai, "Akh.. Damagenya lebih sakit sekarang, di beri harapan palsu sama orang yang disuka"
"Heh?" Vani terlihat bingung menghadapi situasi itu
Jack berdiri dari duduknya dan menghampiri Vani, ia menaruh tangannya di atas kedua pundak Vani, "Van, kamu harus pelajari ilmu kepekaan dariku, kemampuanmu sangat sangat buruk" Ia melepaskan tangannya dan menyentil dahi Vani dengan jari telunjuknya, "b*doh"
"Apa maksudnya?!" Tanya Vani bingung
"Aku sama Ray normal, suka sama cewek. Ingat itu!" Ucap Jack
"Tapi tadi kalian.. " Ucap Vani terhenti, "kamu salah paham!" Saut Jack
"Hehhh??!" Ucap Vani terkejut hebat
Jack menoleh ke arah Ray yang terbaring lemah di lantai, "Kau baik baik aja Ray?" Tanyanya
"I am fine" Jawab Ray
"Ray kenapa?" Tanya Vani bingung
"Apa maksudnya?" Tanya Vani
"Oh udah jam sembilan, sebaiknya kalian berdua pulang" Ucap Jack
"Jangan ganti topik!" Ucap Vani ngegas
"Ray, kau bisa pulang?" Tanya Jack
"Bisa" Ucap Ray sembari mengangkat tubuhnya dan terduduk, "Van, ayo pulang"
"Iya ayo" Ucap Vani, "Jack, kamu hutang penjelasan sama aku!"
"Terserah" Ucap Jack
"Harus loh!" Ucap Vani
"Jack, kita berdua pulang" Ucap Ray sembari berjalan menuju pintu depan
__ADS_1
"Hmm.. Hati hati" Ucap Jack
Mereka berdua keluar dari apartemen Jack dan berjalan menuruni anak tangga. Vani merasa penasaran kenapa Ray hanya terdiam dengan suasana suram mengelilinginya
"Ray? Kamu baik baik aja?" Tanya Vani
"Tenang aja" Jawab Ray
"Serius? Kenapa wajahmu murung dari tadi?"
"Tadi aku sempat lihat secercah harapan kecil, tapi sekarang sepertinya harapan itu hancur berkeping keping" Ucap Ray
"Heh?!" Vani menghentikan langkahnya
Ray ikut terhenti dan menoleh ke arahnya, "Kenapa?"
"Harapan kecil? Maksudmu? Kamu benar benar suka Jack?! Bukannya kalian bilang itu salah paham?!" Tanya Vani
Ray menghembuskan nafasnya dengan panjang, "Hahhh.. Dasarr, aku nggak tahu kamu beneran polos atau cuma pura pura"
Vani seketika langsung memasang ekspresi seriusnya\, "Jangan anggap aku b*doh\, b*go! Aku emang cuma pura pura selama ini\, biar kamu sama yang lain senang. Aku nggak mau di anggap terlalu pintar dan membosankan karena paham segalanya. Aku tahu semuanya dari awal"
("Dia ganti ekspresinya, sepertinya dia benar benar serius"), "Kamu serius? Apa yang kamu tahu?" Tanya Ray
Vani menunjuk jari telunjuknya pada Ray, "Ray, Kamu. kamu gey"
"Bukan Itu, astaga!" Ucap Ray kesal, ("Mana mungkin dia serius")
"Ahahahaa, iya deh percaya. ayo jalan lagi" Ucap Vani sembari mendahului jalan Ray
Mereka berdua sampai di halaman depan apartemen, Vani mengambil sepedanya dan mendatangi Ray, "Mau ku pesenin Taxi?" Tawar Vani
"Kamu naik sepeda dari rumah?" Tanya Ray
"Iya, mobil ku ada si dirumah. Kai juga lagi pergi pake mobilnya. Tapi ku ngga pake mobilnya, aku kan belum punya sim" Jawab Vani sambil tersenyum
"Sepertinya kamu udah dewasa, syukurlah" Ucap Ray senang
"Kenapa ucapanmu kayak orang tua yang bangga sama anaknya? emang aku anakmu?!" Ucap Vani
"Ahahahaa.. Mungkin aja, kamu percaya reinkarnasi?" Ucap Ray
"Heh? Emang Seriusan?" Tanya Vani
__ADS_1
"Aku bohong, dasar b*doh" Ucap Ray dengan senyuman
"Awas kamu ya!" Ucap Vani