
'zrrsshhhh...'
Pukul 08.40, hujan masih saja turun begitu lebat. Kim telah sampai di kantor polisi dan ia langsung turun menerobos hujan menuju pintu masuk kantor polisi. Ia menghampiri seorang polisi yang bertugas di meja informasi, "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya polisi itu
Kim terlihat sangat khawatir saat itu, "Dimana Vani Osamu? Dimana adikku?!"
"Vani Osamu. Oh.. anak sma itu, dia adikmu?"
"Masalah apa yang dia buat?"
"Dia jadi tersangka pelaku utama untuk sementara waktu"
"Pelaku apa?! Apa kalian nggak salah tangkap orang?!"
"Adikmu diduga melakukan pembunuhan terhadap seorang mahasiswi di lorong kampus fakultas sains dan matematika"
"Nggak mungkin. Dimana dia, aku ingin menemuinya"
"Baiklah" ucap polisi itu. Ia menoleh ke arah polisi yang berada di sekitarnya, "Kamu, antar dia menemui Vani Osamu"
"Baik" ucap polisi lainnya, "Mari tuan" Ia memandu Kim menuju ruang penjengukan
"Tunggu, aku ingin menemuinya langsung di dalam sel" ucap Kim
"Baiklah, kalau begitu ke arah sini" ucap polisi itu. Ia merubah haluannya dan berjalan menuju sel sementara
Vani tengah asik mengobrol dengan polisi magang yang menjaga selnya. Saat melihat kedatangan Kim, ia langsung berdiri dari duduknya, "Khakim!" Panggilnya
Polisi yang membawa Kim menuju tempat itu menghampiri polisi yang berjaga di depan sel, "Buka pintunya, biarkan orang ini masuk menemuinya"
"Baik!" Ucap polisi magang itu. Ia segera membuka kunci pintu sel
Kim masuk ke dalam sel dan menghampiri Vani. Ia memegang kedua ujung pundak Vani, "Kamu gapapa kan?" Vani menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, "Syukurlah" ucap Kim lega sembari menarik Vani dalam pelukannya
__ADS_1
Kim melepaskan pelukannya dan mengamati Vani, "Lengan seragammu berdarah, kamu nggak terluka kan?"
"Engga kok, cuma noda" ucap Vani. Ia menurunkan pandangannya, "Khakim, maaf. Aku selalu bikin masalah buat Khakim"
"Tenang aja, kakak akan segera keluarin kamu dari sini" ucap Kim, "Bisa kamu ceritakan kejadiannya ke kakak?"
"Aku bolos tadi pagi buat dateng ke kampusnya Jack. Aku mau temuin dia. Pas di lorong fakultasnya, aku lihat Adira tusuk dirinya sendiri pake pisau. Aku udah kasih pertolongan pertama, tapi dia ngga bisa selamat" jelas Vani
"Kamu beneran lihat anak itu bunuh diri? Kamu nggak lihat orang lain disana?"
"Engga, keknya yang lain di kelas"
"Kamu udah bilang semuanya ke penyidik?"
"Dah"
"Sidik jari orang lain nggak ada?"
"Cuma ketemu sidik jari Adira sama sidik jariku"
"Ee.. mungkin"
"Mungkin? sebelumnya kamu nggak lihat anak itu bawa pisau?"
"Mamba knife kan pisau lipat. Jadi kecil bisa disakuin, gatau punya dia apa bukan"
"Kamu yakin itu pisau lipat mamba?"
Vani sekejap memahami sesuatu, "heh.. tunggu Khakim!", ("Gawat! Gimana kalau mereka cari tokonya?!") Sambung batinnya cemas
"Kamu tenang aja, mamba knife itu merk terkenal dan limited edition. Pasti ada catatan transaksi di tokonya. Kalau anak itu terbukti beli sendiri pisaunya, kasus ini kemungkinan akan ditutup dengan dugaan bunuh diri. Kakak akan temuin penyidik buat tanya soal ini" jelas Kim
"Tunggu, apa Khakim bisa langsung keluarin aku sekarang? Pakai cara lain. Ga perlu selidiki masalah pisau segala"
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa pisau itu kamu yang beli?"
"Bukan bukan, kalau ngga percaya liat transaksi pengeluaranku. Gaada tuh buat beli pisau"
"Ya udah. Kakak pergi dulu, kamu bertahan sebentar lagi disini" ucap Kim sembari berjalan keluar dari sel
"Yah kak, jan tinggalin aku disini sendiri" seru Vani, ("Gimana dong? Kalau beneran dicari ke tokonya trus Agnes terlibat? Gimana caraku bisa hubungin Agnes sekarang?!") Ia kembali terdiam, namun raut wajah yang terlihat panik tidak bisa di sembunyikan begitu saja
"Apa kamu sedang memikirkan orang lain yang terlibat juga?" Tanya polisi magang yang masih berdiri menjaga pintu. Vani tidak mendengarkannya, "Hey, Osamu"
"Hah? Apa?" Tanya Vani setelah tersadar dari lamunannya
"Hmm.. aku tebak, di tkp bukan cuma ada kalian berdua"
"Engga! Beneran! Cuma ada aku sama dia!" Seru Vani
"Santai aja, aku cuma asal tebak. Jangan bilang beneran?"
"Ngga!! Eh.. berapa lama lagi listrik nyala?"
"Tujuh menit lagi tepat pukul sembilan" ucap polisi magang sembari melihat jam di tangannya
"Ntar aku boleh pinjem hpmu bentar ngga?"
"Buat apa? Tahanan kan nggak boleh telpon sembarangan"
"Cuma telpon orang rumah bentar. Tasku masih di sekolah soalnya, ada barang penting yang harus di kasih ke orang rumah"
"Barang? Apa?"
"Privasi"
"Hmm.. oke, aku bantu kamu"
__ADS_1
"Okay nice, makasih ya" ucap Vani senang