
"A.. aaa.. bantu aku bangun" ucap Evano dengan ekspresi kesakitan
"Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Vani sembari membantu Evano berdiri. Ia menuntunnya menuju kursi untuk duduk
"Aw.. kaki kananku yang keseleo gara gara tolongin kamu pas jatuh dari tembok sekolah, kambuh lagi" ucap Evano sembari mengusap usap kaki kanannya. Vani memasang ekspresi datar memperhatikannya, "Ga usah detail juga, aku masih inget"
Evano menaikkan pandangannya dan menatap Vani, "Puftt. rambutmu... Miring sebelah, hahahahaa" ejeknya
"Kakak ketawain kak Vani?" Tanya Yukki yang tidak terima
Evano menoleh ke arah Yukki dan senyumannya memudar, "Bukan"
"Itu tuh Yukki tau yang buat kucirnya" ucap Yukki kesal
"Kakak ketawa karena lucu, artinya bagus. Kamu pintar buatnya" puji Evano sambil tersenyum
"Wah.. makasih. Yukki pikir kakak lagi ngejek" ucap Yukki senang
"Kenapa kamu gampang senyum ke anak kecil, tapi engga ke temen lainnya?" Tanya Vani
"Kamu iri enggak aku senyumin?" Tanya balik Evano
"ih mending ogah sih" ucap Vani
"Halah, bilang aja"
__ADS_1
"Dih kepedean"
"Kak Vani sama kakak satu sekolahan ya?" Tanya Yukki penasaran
"Iya, kita satu kelas" jawab Evano
"Tapi kita ngga temenan" sambung Vani
Evano menoleh ke arah Vani, "Apa maksudmu?"
"Hah?" Ucap Yukki terkejut, "Bukan teman? Kakak selingkuhannya kak Vani?"
"Selingkuhan?" Tanya Evano bingung
"Kenapa dia bisa jadi selingkuhan kakak?" Sambung Vani yang ikut bingung
"Kamu adiknya Ray?" Tanya Evano
"Kakak kenal kak Ray?" Tanya balik Yukki
"Cuma tau orangnya" jawab Evano
"Kak dengerin Yukki. Kakak cari orang lain aja. Kak Vani punyanya kak Ray. Sebelum terlambat loh, nanti kakak bisa sakit hati" jelas Yukki
"Kamu pintar ngomong ya. Tau darimana kata kata itu? Kamu kan masih kecil" ucap Evano sambil tersenyum
__ADS_1
"Tunggu, kalian bahas apa?" Tanya Vani sembari duduk di samping Evano
Yukki langsung duduk menengahi mereka di kursi, "Kak Vani nggak boleh deket sama cowok lain"
"Tenang aja, kakak akan pernah suka ke dia" ucap Evano
"Dih, siapa juga yang mau suka sama kamu" balas Vani
"Ngomong ngomong, kaki kakak udah nggak sakit?" Tanya Yukki
"Hmm.. mendingan" jawab Evano
"Udah tau sakit, bisa bisanya keluyuran jauh sampe kesini" ucap Vani
"Hey, aku nggak keluyuran. Aku kesini sama mamaku" ucap Evano
"Maaf ga nanya" ucap Vani
Di tempat yang sama, Ray baru saja keluar dari mall setelah lama memilih rice cooker yang cocok untuk digunakan di kamar asramanya. Ketika ia berjalan menuju halte bus, ia melihat Yukki, Vani dan seorang laki laki duduk mengobrol di sebuah kursi, ("Kenapa cowok itu lagi?") Batin Ray kesal, ("Apa yang mereka lakukan disini? Sama Yukki?") Ia menghampiri mereka dengan tatapan dingin tertuju pada Evano
"Kak Ray!!" Ucap Yukki senang
Ray terus menatap mata Evano seolah memberi peringatan untuk tidak mendekati Vani lagi, "Ayo pergi" ucapnya sembari menggandeng tangan Vani dan menuntunnya pergi
"eh?" Vani terlihat begitu bahagia, ("Apa dia udah balik lagi?") Batinnya senang. Ia langsung menggandeng tangan Yukki dan mereka bertiga berjalan pergi meninggalkan Evano. Vani sempat menoleh ke arah Evano dan memasang senyum kebahagiaan di wajahnya
__ADS_1
Evano membalasnya dengan senyuman kecil dan lambaian tangan, ("Baguslah, keliatannya masalah mereka udah selesai") Senyuman di wajahnya perlahan memudar, ia menurunkan pandangannya, ("Kenapa aku nggak ngerasa senang saat melihatnya pergi sama orang lain? Apa aku menyukainya? Nggak mungkin, dia bahkan bukan tipeku") Ia mendongak ke atas dan memandang awan yang tertutup dedaunan rindang, 'Haha.. ada ada aja pemikiranku' ucapnya lirih