
"Oh iya bisa!" Ucap Vani, ("Hari apa sekarang? Kenapa ada penilangan di lampu merah begini?!") Batinnya. Ia segera menurunkan kaca mobilnya, 'hehe pak' sapanya ramah
"Oh kakak, bisa tolong tunjukkan sim dan stnknya?"
"Bisa pak bisa" ucap Vani. Ia menoleh ke kursi belakang dan berpura pura memeriksa sesuatu, "Heh? Mana dompetku!" Ucapnya. Ia kembali menoleh ke arah polisi itu, "Aduh.. dompet saya dirumah pak, stnk sama sim disana semua, gimana dong"
"kalau begitu kakak harus kami tilang" ucap Polisi
"Tunggu tunggu.. Apa aku telpon orang rumah trus suruh anterin stnk sama sim gimana?"
"Boleh, silakan menelepon"
Vani mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang
'Tutt.. tutt..'
'kenapa telpon?' ucap Jack dari telepon
"Kak Jack, aku kena tilang nih. Bisa minta tolong ambilin dompet di meja kamar ngga? Soalnya disana ada stnk sama sim punyaku. Trus tolong anterin kesini" ucap Vani
'rasain!' ucap Jack ngegas
'Tutt.. tut.. tut.' Jack langsung mengakhiri panggilannya
"Ahahahaha.." tawa Vani sembari menoleh ke arah polisi, "Kakakku emang gitu orangnya pak, apa aku boleh telpon kakakku yang lain?"
"Kamu berapa bersaudara emangnya?" Tanya Polisi
"Tiga, eh.. empat sama aku" jawab Vani
"Ya sudah, coba telpon lagi"
"Makasih pak" ucap Vani ramah. Ia menghubungi nomor lain
'tutt..'
__ADS_1
"Hallo kak Kai!" Sapa Vani
'Tumben manggil kak, ada masalah apa?' ucap Kaituo dari telepon
"Aku kena tilang, bisa tolong ambilin dompet di atas meja kamarku? Soalnya sim sama stnknya disana" ucap Vani
'sejak kapan kamu punya..' ucap Kaituo terhenti, "Oh!! Aku baru ingat Kak! Bukan di atas meja kamar! Tapi di atas meja makan, tolong cek disana ya!" Saut Vani
'hmm.. oke, kemana harus ku antar?' ucap Kaituo dari telepon
"Bentar bentar" ucap Vani. Ia menoleh ke arah Polisi, "Pak, ini daerah mana?" Tanyanya
"Kalau lama lama berhenti disini sepertinya tidak bisa, suruh kakakmu datang jemput kamu ke kantor polisi kota" ucap polisi
"Oke makasih pak" ucap Vani, "Kamu denger Kai? eh kak Kai"
'iya denger' ucap Kaituo dari telepon
"Okeysip, makasih. Jasamu nggak akan pernah ku lupakan" ucap Vani
"Oke, see you" ucap Vani
'see you'
'tut.. tutt.. tutt..' Panggilan berakhir
"Jadi, aku harus ke kantor polisi nih?" Tanya Vani
"Iya. Kamu tidak boleh berkendara jika tidak membawa sim, jadi saya yang akan mengemudikan mobilnya" ucap polisi
"Oh.. dengan senang hati" ucap Vani. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan berpindah duduk di kursi samping kemudi, "Silakan pak"
"Hmm" polisi itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi
'bromm' Ia mulai mengendarai mobil itu menuju kantor polisi. Beberapa saat menjauh dari lokasi penilangan, polisi itu sedikit melirik ke arah kaca samping mobil untuk mengecek keadaan di belakang. Setelah itu ia menghela nafas dan kembali fokus mengendarai mobil, ia sejenak menoleh ke arah Vani
__ADS_1
"Jangan tegang gitu, santai saja sama saya. "wahhh.. mobilmu keren gini, kamu anak pejabat ya?" Ucap polisi
"Eh?" Vani sedikit terkejut dengan perubahan sikap polisi itu, "Aku bukan anak pejabat"
"Bukan anak pejabat tapi ortumu orang kaya kan"
"Ortuku udah gaada"
"Oh.. maaf. Ahahahaa, jangan sedih gitu. Kelak juga bisa ketemu lagi kan"
"Iya, aku pengen liat mereka lagi" ucap Vani murung
"Jangan buru buru, kamu masih muda"
"Siapa juga yang mau mati muda, pak polisi duluan"
"Kamu doain saya mati?"
"Ahahaha.. dark banget pembicaraan kita"
"Wah.. masih nggak percaya saya bisa nyetir mobil sport mewah gini. Berapa harganya? Lima M ke atas ya?"
"Gatau, mobil ini aku minta ke om"
"Pasti lebih sih ini.. Om mu baik banget. Ponakan saya aja minta uang jajan kadang nggak saya kasih"
"Jahatnya"
"Ahahahaa.. kalau diturutin, saya yang di marahin mamanya. Soalnya dia jadi boros, jajan mulu"
"Kalau gitu bener dong ga kasih uang ke dia"
"Makanya itu, saya lebih sering kasih jajannya daripada uang"
"Bukannya sama aja pak polisinya yang jadi boros" ucap Vani dengan ekspresi datar
__ADS_1
"Ahahahaa.. kamu benar"