Cewek Berandal SMA 3

Cewek Berandal SMA 3
CBS3_Chapter113


__ADS_3

"aku lanjut lagi" ucap Vani


"Hmm" gumam Jack


"Golongan darah kita kan sama, rambutmu juga bukan di cat kan?" Tanya Vani. Jack mengangguk mengiyakannya, "JAWAB IYA DONG! INI INTEROGASI!"


"Iyaa" ucap Jack mengalah


"Yagami ya, keluarga mana? Kayaknya ngga masuk daftar keluarga Golden blood. Berarti darahmu keturunan mamamu ya? Trus kamu sama mamamu ikut ke keluarga papamu. Iyakan?"


"Nggak, golongan darah orangtuaku beda denganku"


"Whatt?" ucap Vani terkejut, "Terus, berarti kamu anak pungut dong!"


"Apa maksudmu?! Golongan darah bisa beda. Sampai akhir, orangtuaku bilang aku anak mereka, aku akan terus percaya" ucap Jack


"Ahahahahaa.. Jack anak pungut" ucap Vani sambil tertawa senang. Jack menatapnya dengan tajam, Vani langsung menghentikan tawanya, "Sorry sorry, aku ngga bermaksud singgung kamu" ucapnya, "Eh.. kamu bilang sampe akhir?"


"yaa.. sampai akhir akhir ini aku tanya, jawaban mereka masih sama" ucap Jack sembari mengalihkan pandangannya


("Dia jawab serius apa engga si?!") Batin Vani penasaran, "Jack, tunjukin foto keluargamu. Aku pen liat"


"Buat apa?"


"Kalau ngga sengaja papasan di jalan biar bisa nyapa lah" ucap Vani


"Nggak bakal" ucap Jack menyeringai


"Siapa tau aja kan"


"Nggak bakal ku kasih lihat ke kamu"


"Tcihh.. pelit" ucap Vani


"Tunggu.. kamu kesini cuma mau tanya soal ini?" Tanya Jack


"Iya" jawab Vani mengangguk


"Kamu nggak ngarang kan soal Agnes mau datang kesini?"


"Tenang aja, beneran kok"


"Awas aja sampai bohong" ancam Jack


"Oh ya satu lagi.." ucap Vani terhenti, "Siapa sebenarnya yang menyuruhmu?!" Saut Jack kesal


Vani terdiam, "Eee.. aku ngga tanya soal keluargamu, ngga penting juga buatku"


"Trus apa?!" Tanya Jack


"Ray ngga suka sama aku?"


"Tanya ke dia lah"

__ADS_1


"Aku tanya pendapatmu jirr"


"Menurutmu?!"


"Terakhir pas ultahnya disini, kamu jelek jelekin aku ya? Biar dia illfeel"


"Kutanya, Apa untungnya buatku?!" Tanya Jack ngegas


"Ahahahaa.. slow slow, becanda" ucap Vani sambil tertawa, "Oh ya, emang rasa suka bisa pudar?"


"Jangan tanya sesuatu yang kamu udah tau jawabannya!"


"Iya juga si, dulu aku suka Kai, sekarang engga"


"Tanya intinya aja, jangan bikin orang naik darah! Kesel lama lama ngobrol sama kamu" ucap Jack


"Oh pasti itu! Ray kesel gara gara ngobrol sama aku"


"Haha.. siapa juga yang nggak kesel"


'tok.. tok.. tok' Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Jack langsung berlari menghampiri pintu dan membukanya. Jack tersenyum menyambut kedatangan Agnes, "Kamu datang" ucap Jack senang


Agnes memasang senyumannya, "Iya, apa Vani di dalam?"


"Iya, masuk aja" ucap Jack ramah. Ia membawakan belanjaan Agnes dan mempersilakannya masuk ke dalam


"Yow" sapa Vani sembari mengangkat tangan kanannya. Agnes membalasnya dengan kedipan mata kirinya


"Ahahaha.. kamu benar, ini ruangan yang nyaman" ucap Jack senang


"heh?!" Vani berdiri dari duduknya, "Dulu pas aku kesini pertama kali, aku bilang ruangan kecil, kamu bilang itu penghinaan! Sekarang Agnes yang bilang, kamu anggap sebagai pujian. Pilih kasih ngga tuh?!"


"Aku emang puji ruangannya kok" ucap Agnes sembari menghampiri Vani dan duduk di hadapannya


"Denger tuh" ucap Jack. Ia menyiapkan makanan yang Agnes bawa di meja dapurnya


Agnes mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menunjukkannya pada Vani, 'bstt.. Van' panggilnya lirih. Vani menoleh ke arahnya dan melihat apa yang di tunjukan Agnes. Agnes mengeluarkan sebuah pisau lipat dan memberikannya pada Vani


"Woahh... Ini mamba?" Tanya Vani terkejut


Agnes mengangguk kecil dan tersenyum, 'hustt..'


'dapet darimana kamu?' tanya Vani lirih


'tadi pas kesini, ga sengaja liat iklannya di depan toko pisau. Trus mampir, masih sisa dua mamba knife limited edition. Auto beli lahh' ucap Agnes lirih


'berapa harganya?'


'lima juta, tapi untung aja dapet diskon'


"Ehemm.. kenapa kita jadi bisik bisik, harganya jadi berapa?"


"empat juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiahh" ucap Agnes senang

__ADS_1


"Ahahahaa.. ga guna jirr, yang kasih diskon pelit sumpah" ucap Vani


"Hemat satu rupiah" ucap Agnes dengan senyuman


"Buat apa beli ginian?"


"Ada deh"


"Dih.. paling juga buat motong ranting di jalan buat mainan"


"Ya nggak lah, aku dah besar kali"


Jack selesai menyiapkan makanan dan kembali menghampiri mereka berdua. Ia melihat pisau lipat yang Vani pegang, "Pisau?" Tanyanya sembari meletakkan makanan di atas meja


"Oh ini" ucap Vani sembari membuka lipatan pisau. Ia menodongkannya pada Jack


"Hey!" Seru Agnes


"Ahahaha.. becanda" ucap Vani sembari kembali melipat pisau itu


"Kenapa kamu bawa senjata tajam apartemenku? Apa kamu pembunuh bayaran?" Tanya Jack


Vani mengembalikan pisau itu pada Agnes, namun Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik kembali tangannya dan memasukkan pisau itu ke dalam sakunya, "Cuma mainan doang sans, aku ngga minat bunuh kamu" ucap Vani


"Kasih ke aku!" Ucap Jack


"Ngapain minta minta? Pisau mahal tau" ucap Vani bangga


"Kamu tau itu senjata berbahaya?!"


"Iya tau"


"Kalau tau, mana kasih aku!"


"Ngga"


"Vani"


"Ngga"


"Cepat kasih! Kamu tau kan kamu gampang emosi! gimana kalau kamu kebawa emosi trus tusuk orang?!" Ucap Jack


"Cuma pisau doang juga! Kamu juga punya tuh di dapur, jangan minta punya orang dong" Ucap Vani ngegas


"Hahhh.. yaudah, terserah!" ucap Jack mengalah, "Aku nggak ikut campur kalau kejadian sesuatu!"


"Haha.. siapa juga yang butuh ikut campurmu!"


"Udah kalian berdua" ucap Agnes


"Maaf aku kebawa emosi" ucap Jack


'tcihhh' Vani menyipitkan matanya dan menatap Agnes. Agnes tersenyum membalasnya

__ADS_1


__ADS_2