
Vani mencoba menggunakan rute lain saat berjalan pulang menuju rumahnya. Ia melewati gang asing dan menemukan sebuah tempat baru yang tentunya asing baginya. Ia mengamati sekitarnya, "Hmm.. Emang ada tempat begini ya? Kok aku baru tau si" Ucap Vani heran, "Jalan jalan dikit ah" Vani memutuskan untuk berkeliling tempat asing itu. Di tengah perjalanan, ia terhenti di samping sebuah sekolahan klasik karena melihat sesuatu yang mengganggu pandangannya
"Tcih, masih ada aja pembullyan" Ucap Vani kesal. Ia berjalan menghampiri segerombolan anak laki laki yang sedang mengerubungi seseorang, "Woy, nggak malu apa? Satu vs banyak gitu" Seru Vani. Segerombolan anak itu sontak menoleh ke arah Vani bersamaan. Mereka terlihat memiliki muka muka yang cukup polos, "Tampang gitu, yakin bisa jadi preman sekolah?" Tanya Vani
"Kalian pulanglah, aku akan menunjukkan trik lainnya lain kali" Ucap seseorang yang berjalan keluar dari gerombolan anak laki laki itu
"Besok ajarin juga triknya Lev" Ucap salah satu anak laki laki yang tergabung dalam gerombolan itu. Mereka semua membubarkan diri dan pulang kerumah masing masing
"Heh?! Nggak jadi berantemnya?!" Tanya Vani syok
Di sana hanya tersisa Vani dan seorang anak laki laki dengan tatapan dingin yang cukup aneh. Vani melihatnya berbicara sendiri. Anak itu tersenyum kecil dan nampak seperti sedang mengobrol dengan seseorang
'*Maaf, aku nggak akan lakuin lagi. *Lagian ini berawal dari perbuatanmu dulu kan? Bawa bekal ke sekolah sembarangan"
Vani hanya memperhatikannya dengan ekspresi datar, ("Ternyata mereka tadi kerumunin orang gila haha"), "Woy, kamu. Sebaiknya segera periksakan keadaan jiwamu, kayaknya ada gangguan"
Anak itu menoleh ke arahnya, "Aku?"
Vani mengangguk kecil
Anak itu berjalan menghampiri Vani, "Ada yang bisa ku bantu? Kamu tersesat?"
"Ha? Apa maksud?" Tanya Vani bingung
"Hmm.. Kalau nggak ada urusan, aku permisi" Ucap anak itu sembari melangkah pergi meninggalkan Vani
"Tunggu!" Seru Vani. Anak itu terhenti dan menoleh. Vani berjalan menghampirinya, "Kamu punya riwayat gangguan jiwa?"
"Mana mungkin!" Ucap anak itu
"Trus kenapa tadi kamu ngobrol sendiri sambil senyum senyum gitu?! Mau kubayarin berobat?!" Ucap Vani
"Aku nggak ngobrol sendiri"
__ADS_1
"Ha? Maksudmu? Kamu ngobrol sama setan gitu?" Tanya Vani
"Bukan setan, lebih ke roh manusia"
"Heh?! Kamu indigo?!" Tanya Vani terkejut. Anak itu hanya menjawabnya dengan anggukan kecil
("Njirr, dulu Jack juga ngaku gitu. tau taunya boong kan") batin Vani. "Alasan klasik di samping sekolahan yang klasik, aku udah sering ketemu tukang ngibul selama ini"
"Nggak masalah, toh aku nggak butuh kepercayaanmu. Aku permisi" Ucap anak itu sembari melangkah pergi meninggalkan Vani
("Waah, sombong amat") "Bodoamat deh" Vani kembali berjalan menelusuri trotoar asing. Ia terlalu asik mengamati sekitarnya hingga, 'Brakk..' "Eh?" Ia menabrak seorang anak SMA dan menjatuhkan 3 ice cream yang anak itu bawa. Anak itu menaikkan pandangannya perlahan dan menatap Vani dengan tajam, ("Njirr, tatapannya lebih tajam dari bambu runcing") "Maaf, kuganti ice creamnya" Ucap Vani dengan senyum kecil
"Terimakasih, nggak perlu" Jawab anak itu
("Aneh banget ni anak, biasanya abis natap gituan kan ngajak berantem. Dia malah ngucapin terimakasih. Padahal kelihatan marah banget gara gara ice creamnya jatuh") "Nggak bisa gitu, aku harus ganti. Atau mau ganti uang?" Ucap Vani
Anak itu kembali menatap Vani dengan tajam, "Nggak perlu"
("Dendam kayaknya ni anak") batin Vani, "Ku ganti traktir makanan deh, mau nggak?")
"Oi Valen! Mana ice cream kita! Lama amat si!" Seru seseorang dari kursi taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri
"Maaf aku menjatuhkannya, akan segera ku ganti!" Seru balik anak itu sembari berbalik dan hendak pergi menuju kedai ice cream
Vani menggapai tangan anak itu untuk menghentikannya, "Jangan pergi"
"Tolong lepaskan, mereka bisa marah padaku" Ucap anak itu
Vani mempererat cengkraman tangannya, "Tcih, ikut aku" Ucapnya sembari menarik anak itu pergi menghampiri 3 anak perempuan yang sedang duduk santai di kursi taman, "Woy kalian bertiga!" Panggil Vani ngegas. Ketiga anak itu menoleh kearahnya
"Hee? Siapa?" Tanya salah satu dari mereka. Ia melihat orang yang dikenalnya tertunduk di belakang Vani, "Valen, kamu yang bawa dia?! Owh, kamu mau dia bela kamu hah?!"
"Bukan Clara, jangan ganggu dia. Aku akan segera membelikan kalian ice creamnya" Ucap anak perempuan yang tertunduk di belakang Vani, "Tolong lepaskan tanganku, kamu lebih baik pergi sebelum terlibat jauh"
__ADS_1
("Kenapa aku bisa nyasar kesini si?!") batin Vani, "Aku peringatin kalian, jangan ganggu dia lagi!"
"Hah?! Siapa kamu ngelarang larang?!" Tanya anak yang di panggil Clara
Vani merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kartu pelajar, ia menunjukannya pada ke 3 anak dihadapannya. Ke 3 anak itu terlihat terkejut membaca identitas Vani
"Vani Osamu dari SMA Academy B? Woah, benarkah?! Kamu murid terpintar nomor satu di negara ini?!" Tanya Clara
("Njirr, dari kelas sepuluh sampai sekarang, baru tau SMAku namanya Academy B") batin Vani
"Keluarga marga Osamu, aku sering melihatnya di TV. Nggak nyangka bisa ketemuan langsung begini" Sambung salah satu dari mereka
Vani menyimpan kembali kartu pelajarnya dan tersenyum kecil, ("Wih, ternyata aku seterkenal ini. Keluargaku ada yang masuk tv kah? Emang muat?") "Ehemm.. Benar sekali apa yang kalian katakan. Kalau boleh tau siapa nama kalian bertiga?"
"Aku Clara, dia Winda dan yang ujung Sindy. Trus dia yang dibelakang kakak, namanya Valencia. Eh? Apa boleh panggil kakak?" Ucap Clara
"Nggak masalah, kalian dari SMA klasik itu?" Tanya Vani
"bukan kak, kita anak kelas sebelas dari SMA lima kota XX" Jawab Clara
"Kota XX? Kota sebelah kan? Ngapain kalian sampai kesini?!" Tanya Vani
"Beli Ice cream Kak"
"Njirr, beli ice cream sampai kesini segala?!" tanya Vani heran
________________
Chapter 23-26, hasil kolaborasi dengan novel author lainnya,
°Judulnya Gatau ( ken)
°Fourty Days (Violet, Levi)
__ADS_1
° Valencia (Valencia, Sindy, Clara, Winda)